Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kesepakatan Bersama


__ADS_3

“Ibu memanggilku?” tanya Bern. Dia lalu berjalan mendekat ke arah ibunya yang sedang berdiri di depan balkon kamar.


Elea yang tengah melamunkan sesuatu hal sedikit terhenyak kaget saat Bern tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Dia kemudian menoleh, menatap dalam ke manik mata putranya yang terlihat begitu gelap. Saking gelapnya sampai membuat Elea tak bisa menyelami pikiran putranya yang dingin ini.


“Bu, ada apa?” tanya Bern lagi.


“Apa kau sudah makan, sayang?” sahut Elea balik bertanya.


Bern mengangguk. Matanya yang sipit terus memperhatikan lekat-lekat wajah sang ibu. Bern bisa merasakan kalau ibunya tengah mengkhawatirkan sesuatu, tapi dia tidak tahu apa itu.


“Karl dan Flowrence sedang apa? Tumben sekali mereka tidak mengekor di belakangmu,”


“Mereka sedang bersantai bersama Cuwee dan Tora, Bu,” jawab Bern.


“Ooh, begitu ya,”


Elea menghela nafas. Satu tangannya terulur untuk mengelus pipinya Bern. Sungguh, Elea sangat ingin menangis sekarang. Semalam dia lagi-lagi memimpikan sesuatu yang sangat buruk, dan mimpi itu erat kaitannya dengan Bern. Dalam mimpinya, Elea melihat Bern yang tengah menyiksa seorang gadis yang sudah berlumuran darah. Raut wajah putranya ini terlihat begitu bengis, sama sekali tak merasa iba meski gadis itu terus memohon ampun kepadanya.


Ya Tuhan, takdir macam yang sebenarnya sedang Engkau mainkan. Tidak bisakah Engkau menukarnya dengan hidupku saja? Aku rela melakukannya meski seumur hidup aku akan selalu tersiksa. Aku rela, Tuhan. Asalkan anak-anakku bisa hidup bahagia, bertukar nyawapun aku bersedia. Tolong melunaklah sedikit, Tuhan. Kasihani aku dan anak-anakku ….


Kedua sisi rahangnya Bern mengerat ketika menyaksikan sang ibu yang tiba-tiba meneteskan air mata. Sakit, ada bagian di dadanya yang terasa sangat sakit melihat sang ibu menangis tak bersuara seperti ini. Sebelah tangan Bern kemudian bergerak hendak menghapus air mata itu, tapi tangannya sudah lebih dulu ditepis oleh sang ibu. Bern mengerutkan keningnya, tak paham mengapa sang ibu menolak sentuhannya.


“Bern, apa kau menyayangi Ibu?” tanya Elea dengan suara tercekat.


“Tentu,” jawab Bern singkat, padat, dan jelas.

__ADS_1


“Kalau begitu bisakah kau berjanji satu hal pada Ibu?”


Bern tak langsung mengiyakan permintaan sang Ibu. Dia hanya diam tak menyahut, mencoba menebak ke mana arah pembicaraan yang di maksud.


Melihat kebungkaman Bern, Elea memutuskan untuk merebahkan kepalanya di dada Bern. Postur kedua putranya sama persis dengan suaminya, membuat Elea seperti sedang memeluk Gabrielle dalam versi remaja. Setelah Elea merebahkan kepalanya, dia bisa mendengar dengan sangat jelas detak jantungnya Bern yang begitu pelan. Rupanya Bern mampu mengendalikan emosi di situasi apapun. Buktinya sekarang Bern bisa begitu tenang meski Elea telah menunjukkan sikap yang sedikit berbeda.


“Apa Ibu baik-baik saja?” tanya Bern sembari mengelus pelan punggung sang ibu. Bern sebenarnya merasa tak nyaman dengan posisi ini karena dia takut di cincang oleh ayahnya. Namun apa daya, ibunya sendiri yang tiba-tiba memeluknya seperti sekarang. Memang sih tidak ada yang salah dengan sikap mereka, tapi menjinakkan banteng pemarah itu seribu kali jauh lebih sulit ketimbang menjinakkan Flowrence saat sedang merajuk. Sangat memacu andrenalin sekali bukan?


“Bern, apakah menurutmu seorang ibu bisa baik-baik saja di saat anaknya sedang ada yang terluka?” jawab Elea.


“Tentu tidak.”


“Dan itulah yang sedang Ibu rasakan sekarang,”


Raut wajah Bern terlihat begitu gelap ketika mendengar suara nafas berat yang keluar dari dalam mulut ibunya. Dia tahu, sangat amat tahu kalau ibunya sedang membahas tentang kecelakaan yang di alami oleh adiknya.


“Dulu saat Ibu masih kecil, Ibu mengalami kepahitan hidup yang sangat luar biasa hebat. Sejak Ibu hadir dalam kehidupan kakek dan nenekmu, Ibu tak pernah di inginkan oleh kedua buyutmu. Mereka menyiksa Nenekmu dengan begitu kejamnya, memperlakukan seolah beliau adalah seorang pelayan yang sangat amat hina. Hingga di suatu ketika, satu kecelakaan merenggut nyawa Nenekmu. Kemudian Ibu di tukar dan di asingkan di sebuah panti asuhan. Di sana Ibu di bedakan, Ibu di anggap sebagai seseorang yang tidak pantas untuk hidup. Lalu tak lama kemudian akhirnya Ibu bertemu dengan Ayahmu. Bersamanya Ibu baru merasakan apa yang di sebut kehidupan,” ucap Elea menceritakan tentang kisah sedihnya di masa lalu. “Bern, kau adalah yang tertua di antara Karl dan juga Flowrence. Maukah kau berjanji pada Ibu untuk selalu menyayangi mereka? Setiap kali Ibu memikirkan kalian bertiga, dada Ibu selalu terasa sakit dan juga sesak. Ibu takut kalian tidak bahagia, Ibu sangat takut akan hal itu. Jadi maukah kau berjanji pada Ibu akan selalu menyayangi dan juga melindungi kedua adikmu?”


“Apa ini akan membuat Ibu merasa bahagia?” tanya Bern lirih. Nafasnya seakan tercekat, hatinya teriris mendengar kisah pilu sang ibu. Ini memang bukan yang pertama kali dia mendengar, tapi cerita ini selalu menjadi titik terlemah dalam diri seorang Bern Wufien Ma.


“Ya, Ibu akan merasa sangat bahagia kalau kau bisa menjadi kakak yang baik untuk adik-adikmu,” jawab Elea sambil menitikkan air mata.


“Baiklah. Akan aku lakukan hanya demi kebahagiaan Ibu. Jangan takut lagi. Oke?”


Elea mengangguk. Dia tidak tahu apakah kesediaan ini memang benar-benar berasal dari dalam hatinya Bern atau hanya sekedar untuk membuatnya tenang saja. Namun di balik itu semua, Elea sungguh berharap kalau Bern tidak akan pernah menyakiti saudaranya sendiri seperti apa yang telah dia lakukan pada Flowrence. Biarlah jika memang Bern harus tumbuh menjadi orang yang serakah dan juga arogan. Selagi Bern tidak menyakiti kedua adiknya, maka Elea akan menerima semua kekurangannya. Garis takdir sudah tidak mungkin di hentikan. Jadi satu-satunya cara untuk meluluhkan api amarah yang berasal dari karma itu hanyalah dengan tetap memperlakukan Bern sama seperti kedua saudaranya. Elea telah mengambil keputusan kalau apapun yang dilakukan oleh Bern, dia akan terus berada di sisinya.

__ADS_1


“Bu, sepertinya aku harus segera pergi untuk melihat Karl dan Flowrence. Dengar, itu suara teriakannya Tora. Aku khawatir mereka menyiksanya lagi,” ucap Bern meminta izin untuk pergi ke luar. Karl dan Flowrence harus segera dihentikan. Karena jika tidak, Cuwee dan Tora pasti akan menjadi korban.


“Ya sudah sana. Dan lima menit lagi tolong bawa adikmu masuk ke rumah ya. Sudah waktunya untuk Flowrence meminum obat dan mengganti perbannya,” sahut Elea.


“Baik, Bu.”


Eles terus menatap kepergian Bern dengan pandangan mata yang sangat teduh. Ketika Bern sedang menunjukkan sikap sebagai seorang kakak yang baik, hati Elea selalu merasa tersentuh. Sikapnya memang dingin. Akan tetapi jika di bandingkan dengan Karl, Bern seribu kali lebih baik dalam memperlakukan Flowrence. Sungguh sangat di sayangkan orang sebaik Bern adalah pelaku di balik penderitaan adiknya sendiri.


“Sayang, apa sekarang kau sudah lega?” tanya Gabrielle yang tiba-tiba sudah muncul di samping Elea.


“Kak Iel, kapan kau datang, Kak?” tanya Elea kaget. “Darimana kau lewat? Kau tidak mungkin memanjat dinding seperti spiderman bukan?”


Gabrielle terkekeh. Segera direngkuhnya pinggang Elea ke dalam pelukannya. Gabrielle lalu membenamkan wajahnya ke ceruk leher Elea kemudian membaui aroma tubuhnya yang sangat wangi.


“Sayang, aku sudah memutuskan untuk memindahkan Flowrence ke sekolahnya Bern dan Karl. Namun sebagai syarat aku ingin Sisil ikut sekolah di sana juga. Bukannya aku ini kejam, tapi aku merasa kalau Sisil sedikit banyak bisa membantu Flowrence menjaga diri dari kebrutalan Bern. Dan aku harap kau tidak keberatan dengan syarat yang ku ajukan,”


Elea menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Dia lega karena akhirnya Gabrielle memberikan izin untuk Flowrence pindah sekolah.


“Mari kita tetap menyayangi dan mencintai Bern dengan setulus hati, Kak. Dia akan tetap menjadi putra kebanggan keluarga Ma meskipun nanti dia menyakiti saudaranya sendiri. Iya kan, Kak Iel?”


“Tentu saja. Bern adalah kebanggan keluarga Ma. Selamanya,” ….


Setelah itu Gabrielle dan Elea berciuman dengan di saksikan oleh senja yang mulai muncul di ufuk barat. Mereka kini telah sama-sama berdamai dengan karma mengerikan yang selama belasan tahun membayangi hidup mereka berdua. Biarlah, Gabrielle dan Elea telah sepakat untuk berserah diri kepada Tuhan karena mereka percaya bahwa tidak ada yang lebih indah dari warna pelangi yang muncul setelah badai mereda.


***

__ADS_1


__ADS_2