Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Benar Tertukar


__ADS_3

Setelah kesalahpahaman antara Karl dan neneknya terselesaikan, kedua sejoli ini di sibukkan dengan bazar amal yang waktu itu sempat di tentang oleh Karl. Greg yang melihat hal inipun merasa sangat lega sekali. Dia tak henti-hentinya mengucap syukur sambil terus memperhatikan interaksi antara Karl dengan Liona yang sesekali tampak saling goda. Jika biasanya Greg akan langsung kerasukan jin lima benua melihat istri kesayangannya di goda oleh pria lain, kali ini Greg dengan sangat lapang dada bersabar untuk tidak emosi. Sungguh suatu perjuangan yang besar sekali, bukan? Tentu saja.


“Kalau ingin marah, ya marah saja. Jangan di tahan-tahan, Ayah!” olok Gabrielle yang baru saja datang. Dia lalu duduk di sebelah sang ayah, tersenyum samar melihat keakraban yang terjadi antara Karl dengan neneknya. Tapi sedetik kemudian Gabrielle termenung diam. Pikirannya melayang pada satu percakapan yang tak sengaja di dengarnya tempo hari.


“Ada apa, Gab? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu,” tanya Greg tanggap akan keresahan yang dirasa oleh putranya.


“Ayah, ternyata apa yang kita lihat selama ini banyak yang hanya tipuan belaka. Yang kita anggap bodoh, ternyata tidak seperti itu kenyataannya. Dan yang kita anggap baik, dialah iblis yang sebenarnya!”


Greg tersentak.


“Kau sudah tahu semuanya?”


“Ya.” Gabrielle menjawab singkat. “Bahkan aku juga tahu kalau Flowrence putriku tidak sepolos yang kita lihat selama ini. Waktu itu aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan Elea. Flow … dia mempunya kemampuan yang sama sepertiku. Dia juga mewarisi kemampuan Elea, termasuk dengan Karl juga.”


Gabrielle lalu menceritakan semua rahasia yang dia ketahui pada sang ayah. Dadanya berdenyut, sakit karena dia yang paling terakhir mengetahui masalah ini. Sebenarnya Gabrielle bisa saja meminta penjelasan pada Elea, tapi tak dia lakukan karena tak mau menambah beban istrinya yang beberapa terakhir ini kesehatannya sedang tidak stabil. Karena sudah tak kuat menanggung sendirian, Gabrielle memutuskan untuk mendatangi ayahnya saja. Dia yakin betul kalau orangtuanya juga telah mengetahui permasalahan ini. Dan ya, dugaan Gabrielle sama sekali tak meleset. Dia adalah orang terakhir yang tahu kalau anak-anaknya mewarisi kemampuannya dan juga kemampuan dari Elea.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ayah? Saat ini aku merasa menjadi seorang suami dan juga ayah yang paling buruk di dunia,” tanya Gabrielle lirih. Dia kecewa pada dirinya sendiri.


“Gab, jangan bicara seperti itu. Ayah tahu kau merasa kecewa, tapi ini bukanlah akhir dari semuanya. Kesalahpahaman antara Karl dan Ibumu berhasil terselesaikan dengan baik, jadi kau tidak perlu merasa risau lagi. Sekarang kita hanya perlu memikirkan bagaimana cara mematahkan kutukan lain yang masih berjalan mengitari anggota keluarga kita. Terutama Bern dan Flow. Kita masih belum tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua. Benar tidak?” sahut Greg sembari menepuk bahu Gabrielle. Dia bisa merasakan bagaimana putranya ini merasa begitu sedih atas apa yang terjadi.


Gabrielle diam tak menjawab. Dia bingung harus berkata apa sekarang.

__ADS_1


Sementara itu di butik, Elea dan Flow sedang duduk gelisah menantikan kedatangan Jackson. Pria itu baru saja menelpon dan mengatakan telah menemukan data-data yang waktu itu mereka minta.


“Bu, bagaimana jika seandainya posisi Kak Bern dan Kak Karl benar tertukar? Apa yang akan Ibu lakukan?” tanya Flow lirih. “Hanya ini satu-satunya hal yang paling masuk di akal, Bu. Wanita itu menyebutkan kalau anak sulung Ibulah yang seharusnya menanggung karma dari perbuatan Nenek Liona, sedang putra sulung Ibu adalah Kak Bern. Jika benar mereka telah tertukar, mungkinkah Ibu akan memaafkan orang-orang yang terlibat?"


"Ibu belum tahu, sayang. Yang terpenting sekarang kita cari tahu dulu kebenaran itu. Jika benar kedua kakakmu telah tak sengaja tertukar, barulah Ibu akan berfikir akan melakukan tindakan apa selanjutnya," jawab Elea seraya menghela nafas panjang. Dia kemudian menoleh, menatap seksama ke wajah putrinya yang terlihat murung. "Flow, kau baik-baik saja, Nak? Wajahmu terlihat murung. Sesuatu terjadikah antara kau dengar Oliver?"


"Tidak ada hal buruk yang terjadi di antara kami berdua, Ibu. Aku hanya merasa sedih saja memikirkan masalah di keluarga kita," sahut Flow memaksakan senyum.


Aku sedih karena sebentar lagi Kak Bern akan terjebak dalam jurang penyesalan, Ibu. Tapi sebisaku aku berusaha akan untuk menyelamatkan hubungannya dengan Amora, termasuk juga menghentikan Kak Karl agar tidak membunuh kunci dari semua kesalah-pahaman ini. Wanita itu, entah ada di mana dia sekarang. Andai aku bisa dengan mudah menemukannya, maka semua musibah ini tidak akan pernah terjadi. Hanya dia yang memegang kunci dari kebenaran antara Kak Karl dan Kak Bern.


Tok tok tok


"Ayah," panggil Flow. "Ayo masuk. Ibu sudah menunggu di dalam."


Jackson mengangguk. Sebelum melangkah masuk, dia menarik tangan Flow kemudian mendekapnya dengan sangat erat. Di tangan Jackson ada sebuah berkas yang berisi data-data para dokter dan perawat yang beberapa tahun lalu ikut terlibat dalam kelahiran baby BKF.


"Ayah, you okay?"


"Tidak Flow, Ayah tidak sedang baik-baik saja."


"Kak, ada apa?" Giliran Elea yang bertanya. Dia kemudian berjalan menghampiri kakak dan juga putrinya yang masih saling memeluk di depan pintu. Elea lalu mengelus dada, merasa sesak saat sebuah pemikiran buruk melintas di kepalanya. "Apa Karl dan Bern ... tertukar?"

__ADS_1


Sebelum menjawab, Jackson mengurai pelukannya terlebih dahulu. Dia lalu menggandeng tangan Flow dan Elea lalu mengajak mereka untuk duduk bersama.


"Di dalam berkas ini, ada data-data dari semua dokter dan juga para perawat yang waktu itu bertanggung jawab atas kelahiranmu. Akan tetapi mereka semua sudah meninggal dan mati dengan cara yang sama. Yaitu kecelakaan. Namun, masih ada satu yang tersisa. Namanya suster Lian. Dia adalah perawat yang waktu itu bertugas memandikan ketiga anakmu, Elea. Sepertinya suster ini adalah kunci dari semua permasalahan yang sedang kita hadapi," ucap Jackson menjelaskan.


"Yang Paman katakan memang benar. Aku pernah melihat wajah wanita ini di dalam mimpiku. Akan tetapi aku tidak tahu di mana dia berada sekarang. Yang muncul di dalam mimpiku hanyalah sebuah ruangan putih di mana terdengar seperti suara deburan ombak. Emmm, rumah di tepi pantai mungkin," ucap Flow menceritakan tentang mimpi yang dilihatnya. "Ayah, Ibu. Kita harus segera menemukan wanita ini sebelum ada yang membunuhnya. Dan besar kemungkinan orang yang mengetahui keberadaannya hanyalah Kak Karl. Kecelakaan yang Ibu Levita alami, juga dengan yang waktu itu terjadi padaku dan Sisil, adalah dia yang merencanakan. Jadi besar kemungkinan yang membunuh para dokter dan perawat itu adalah Kak Karl juga. Kalau kita tidak segera menghentikan kemarahannya, aku takut karma yang akan dia tanggung akan semakin bertambah besar!"


Rasanya tulang di tubuh Elea seperti di lolosi semua. Putranya, ya Tuhan. Separah inikah?


"Flow, kau jangan melakukan apapun. Cukup temani Ibumu di sini dan biarkan Ayah saja yang mengurus semuanya. Kasihan Ibu. Ya?" ucap Jackson mencegah agar putrinya tidak pergi kemana-mana. Firasatnya seolah berkata akan terjadi hal buruk jika gadis ini di biarkan pergi keluar.


Di cegah seperti itu oleh sang ayah tak membuat Flow berangguk patuh. Dia dengan lemah menggelengkan kepala, menyatakan kalau dirinya menolak untuk tetap tinggal.


"Ayah, aku tidak bisa terus berada di sini. Ada hal penting yang perlu aku lakukan. Tolong jangan melarangku pergi ya?"


"Memangnya kau mau pergi kemana, sayang?" tanya Elea gelisah.


"Aku hanya akan pergi untuk menyelamatkan seseorang, Bu. Jangan khawatir. Masalah ini pasti akan segera terselesaikan jika suster Lian berhasil kita temukan dalam keadaan hidup. Karenanya mari kita berbagi tugas saja. Oke?"


Setelah berkata seperti itu Flow pamit pergi. Dia menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk menahan diri agar tidak menangis. Waktunya sudah tiba. Dan hal pertama yang ingin Flow lakukan adalah mencari tahu di mana Kak Karl berada.


***

__ADS_1


__ADS_2