Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kepalsuan Flowrence


__ADS_3

Jackson dan Kayo melangkah cepat menuju kamarnya Flowrence setelah mendapat laporan dari pelayan kalau putri mereka sejak pagi tadi menolak untuk keluar dari dalam kamar. Mengingat kalau Elea yang masih belum pulang dari rumah sakit, Jackson akhirnya meminta agar tidak ada orang yang melaporkan hal ini pada Gabrielle. Setelah itu dia dan Kayo bergegas datang kemari untuk memastikan keadaannya Flowrence.


“Selamat pagi, Tuan Jackson. Selamat pagi, Nyonya Kayo,” sapa para pelayan yang tengah berdiri cemas di depan pintu kamar majikan mereka.


“Pagi,” sahut Kayo dengan sopan.


“Apa Flow masih belum mau membuka pintunya?” tanya Jackson.


“Belum, Tuan Jackson. Nona Muda sama sekali tak mau membukanya meskipun kami sudah berusaha membujuknya dengan berbagai macam cara.”


“Ya sudah kalau begitu biar aku saja yang membujuknya. Kalian lanjut bekerja saja.”


“Baik, Tuan Jackson. Kalau begitu kami permisi.”


Jackson mengangguk. Segera dia berjalan mendekat ke arah pintu kamar Flowrence kemudian mengetuknya. Jujur, ini adalah kali pertama Flowrence bersikap seperti ini. Hal tersebut tentu saja membuat Jackson dan Kayo merasa sangat heran karena tidak biasanya Flowrence mengunci diri seperti sekarang. Sungguh aneh.


Tok tok tok


“Flow, ini Ayah Jackson, sayang. Buka pintunya ya. Kita bicarakan baik-baik apa masalahnya. Jangan takut. Oke?” ucap Jackson dengan lembut meyakinkan Flowrence agar bersedia keluar dari dalam kamar.


“Iya sayang. Kita bicarakan baik-baik ya apa masalahnya. Ibu khawatir sekali padamu, Nak. Buka pintunya ya Flow,” timpal Kayo ikut membujuk.

__ADS_1


Sekali bujukan tak menunjukkan respon apa-apa. Tak menyerah, Jackson kembali mengetuk pintu sambil mengucapkan kata-kata untuk membujuk. Hal ini terus Jackson ulangi beberapa kali hingga pada akhirnya pintu kamar perlahan-lahan terbuka. Gelap, itu pemandangan yang pertama kali Jackson dan Kayo lihat begitu masuk ke dalam kamar putri mereka. Sambil mengedarkan pandangan, Jackson samar-samar seperti mendengar suara isakan lirih dari arah sudut samping lemari. Tersadar kalau yang sedang terisak adalah Flowrence, segera Jackson menghambur ke arah sana kemudian berjongkok di lantai ketika dia melihat seseorang yang tengah meringkuk dalam gelap.


“Astaga, sayang. Kau kenapa? Apa yang membuatmu jadi seperti ini?” cecar Jackson syok sambil menangkup wajah Flowrence yang basah air mata. “Kau kenapa sayang, hm? Ayo cerita pada Ayah.”


“Hikss, Ayah. Tolong aku. Aku takut, Ayah. Tolong aku,” ….


“Takut? Tolong? Apa kau sedang di ancam oleh seseorang? Siapa? Ayo beritahu Ibu, Flow!” cecar Kayo langsung naik pitam mendengar Flowrence yang langsung meminta tolong begitu Jackson menemukannya. Jiwa seorang ibu di dalam hati Kayo membara seketika.


Tubuh Flowrence terus bergetar hebat. Sedari semalam dia sama sekali tidak memejamkan mata. Flowrence terus di teror oleh beberapa penglihatan mengerikan yang membuatnya hampir menjadi gila. Malam tadi ketika Flowrence baru akan memejamkan mata, tiba-tiba saja dia melihat sekelebat bayangan yang menampilkan tentang kakak pertamanya yang telah berhasil masuk ke dalam jebakan yang di buat oleh kakak keduanya. Belum lagi dengan rentetan wanita yang meninggal dengan cara begitu mengenaskan di kediaman sang kakak, membuat Flowrence lepas kendali seketika. Dan saking tertekannya Flowrence menghadapi hal ini, dia menangis sambil meringkuk menjambaki rambutnya sendiri ketika bayangan-banyangan lain kembali muncul di kepalanya. Flowrence tertekan, sangat amat tertekan hingga rasanya dia seperti akan mati detik itu juga.


“Flow, sekarang tarik nafasmu perlahan kemudian hembuskan. Ulangi beberapa kali sampai perasaanmu menjadi tenang. Tarik lalu hembuskan. Oke?”


Jackson dengan sabar membimbing Flowrence untuk menenangkan diri. Setelah itu dia juga mengelus punggungnya Kayo yang terlihat sangat emosi setelah mendengar Flowrence meminta tolong pada mereka. Tak lama setelah itu Jackson dibuat terkaget-kaget saat Flowrence meminta maaf padanya dan kepada Kayo.


Aku tidak bisa bertahan lagi. Aku tidak kuat.


“Sayang, kau kenapa meminta maaf?” tanya Kayo terheran-heran.


“Ayah, Ibu, maukah kalian mendengarkan kebenaran yang selama ini aku sembunyikan dari semua orang?”


Jackson dan Kayo saling berpandangan. Setelah itu mereka sama-sama menganggukkan kepala, memberi izin pada Flowrence untuk menyampaikan apa yang di pendamnya. Namun sebelum itu Jackson dengan penuh perhatian menggendong Flowrence kemudian membaringkannya di atas ranjang. Baru setelahnya dia dan Kayo mendengarkan curahan hati putri mereka dengan seksama.

__ADS_1


Di mulai dari Flowrence yang bisa melihat kejadian di masa lalu dan di masa sekarang, dia menceritakan semua beban yang di pendamnya selama ini. Flowrence juga memberitahu tentang siapa orang yang menanggung karma buruk di keluarganya. Andai saja mampu, Flowrence pasti tidak akan membuka aib ini. Akan tetapi pada kenyataannya dia tidak sanggup dan memilih untuk menceritakan semuanya sekarang. Mungkin ada sebagian dari kalian yang bertanya-tanya mengapa bukan orangtua kandungnya saja yang mendengar hal ini. Flowrence tidak bodoh, dia mana mungkin tega menyaksikan Ayah dan Ibunya berada dalam kesedihan jika mereka tahu kalau penjahat yang sebenarnya adalah Karl dan orang yang melahirkan karma tersebut adalah Nenek Liona. Juga karena kebetulan Ayah Jackson dan Ibu Kayolah yang muncul sekarang. Jadilah Flowrence memutuskan untuk berbagi cerita ini kepada mereka saja agar tekanan yang ada di hatinya bisa sedikit berkurang.


“Flow, j-jadi selama ini kau … kau ….


“Iya Ayah, Ibu. Selama ini aku hanya pura-pura bodoh dan idiot agar bisa menutupi semua rahasia ini. Awalnya aku pikir aku akan sanggup bertahan sampai akhir, tapi pada kenyataannya tidak. Aku benar-benar tidak kuat lagi menahan beban ini. Aku tidak sanggup,” ucap Flowrence menyela perkataan ayahnya yang tergugu. Setelah itu dia menatap kedua tangannya dengan seksama, memikirkan tentang keputusan berat yang semalam telah di ambilnya. “Ayah, Ibu. Bisakah kalian membantuku menggagalkan rencana jahatnya Kak Karl? Dia … dia sudah hampir sampai pada tujuannya. Kita harus secepatnya menemukan satu rahasia penting yang di sembunyikan oleh Kak Karl. Tolong bantu aku ya?”


“Apa yang harus kami bantu, Flow? Katakan saja. Jika memang bisa Ayah dan Ibu pasti akan membantumu,” sahut Kayo yang sudah lebih dulu tersadar dari keterkejutannya. Kayo tahu, sangat amat tahu kalau putrinya benar-benar sedang butuh pertolongan. Dia paham betul betapa tersiksanya orang-orang dengan kelebihan seperti ini.


“Tolong bantu beritahu Ibu tentang siapa aku sebenarnya. Hanya Ibu saja, tidak dengan Ayah. Aku tidak mau Ayah tahu kalau orang yang membawa karma itu adalah Nenek Liona. Dia pasti akan sangat sedih sekali nanti,” ucap Flowrence lirih. "Aku yakin Ibu pasti bisa membantu kita menemukan rahasia yang di sembunyikan oleh Kak Karl. Harus orang ini yang membongkar rahasia itu, Bu. Hanya dia saja."


“Baiklah. Kau tenang saja, nanti Ibu yang akan mengurus ini semua. Ibu janji Ibu juga akan membantu menemukan rahasia yang di sembunyikan oleh kakakmu. Jangan khawatir, kau tidak sendirian, sayang."


“Janji jangan beritahu Ayah ya, Bu?”


“Iya sayang. Ibu janji hanya Ibu Elea saja yang akan mengetahui tentang hal ini. Kau tenang saja!”


Terdengar helaan nafas panjang dari dalam mulutnya Jackson saat dia melihat istri dan anaknya saling berpelukan. Sungguh, tak pernah Jackson menyangka kalau apa yang selama ini Flowrence tunjukkan adalah sebuah kepalsuan belaka. Membaca pikiran orang dan mampu melihat masa lalu dan masa depan, benar-benar tak bisa Jackson bayangkan betapa tertekannya Flowrence dalam menghadapi semua itu seorang diri. Wajarlah jika tadi Jackson menemukan Flowrence yang sedang meringkuk ketakutan di sudut lemari dalam kondisi menangis dan sangat berantakan. Ternyata ini penyebabnya.


Saat Kayo dan Jackson baru berhasil menenangkan Flowrence, terdengar satu deringan ponsel yang ternyata adalah panggilan dari Bern. Flow yang melihat hal itupun langsung duduk tegak kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa saat akan menjawab panggilan tersebut. Di hadapan ayah dan ibu angkatnya, Flow memperlihatkan tentang bagaimana selama ini dia berpura-pura menjadi gadis bodoh.


Ya Tuhan, Flow.

__ADS_1


***


__ADS_2