Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ruh Gentayangan


__ADS_3

Di saat Gabrielle dan Elea tengah berada di pemakaman Grandma Clarissa, di kediaman Young terlihat Ares yang sedang duduk di sisi ranjang. Dia senantiasa menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri sejak Grandma Clarissa di nyatakan meninggal dunia.


"Sayang, bangunlah. Aku mohon," lirih Ares sembari menciumi telapak tangan Cira yang terasa begitu dingin seperti es. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan anak dan istrinya sejak tadi.


Patricia yang saat itu tidak di izinkan ikut pergi ke pemakaman karena harus menjaga baby Cio hanya bisa menatap sedih ke arah Ares dan juga Cira. Saat ini dirinya sedang berada di dalam kamar mereka. Mencoba untuk berbagi kesedihan yang tengah di rasakan oleh kedua orang ini.


"Res, apa tidak sebaiknya kau panggil dokter saja? Cira sudah cukup lama tak sadarkan diri, aku khawatir bayi kalian kenapa-napa," ucap Patricia sambil menepuk-nepuk bokong Cio yang sedang berada dalam gendongannya.


"Dokter Reinhard bilang bayi kami baik-baik saja, Nona Patricia. Justru keadaan Cira-lah yang lebih mengkhawatirkan. Dia sangat terpukul dengan kepergian Nyonya Clarissa, dan ini di khawatirkan akan berimbas pada kesehatan mentalnya," sahut Ares dengan raut wajah yang begitu sendu.


"Kalau begitu kau carikan psikiater saja, Res. Jadi begitu Cira bangun, di sampingnya sudah ada dokter yang langsung bisa menanganinya. Entah itu kesehatan mentalnya yang terganggu atau apapun itu, tetap saja akan berimbas pada kesehatan bayi kalian. Ingat, Res. Kandungan Cira masih belum terlalu kuat menerima tekanan batin yang dia rasakan sekarang. Dia bisa saja mengalami pendarahan jika kau tidak sigap membuat pencegahan!" ucap Patricia terus mengingatkan Ares akan bahaya mental jika tidak di tangani secara benar oleh dokter profesional. "Di rumah sakit milik Gabrielle bukankah ada banyak dokter yang di pekerjakan? Mintalah salah satu dari mereka untuk datang kemari. Cepatlah!"


Merasa kalau perkataan Patricia ada benarnya juga, Ares dengan cepat langsung mengambil ponselnya. Dia kemudian menghubungi pihak rumah sakit, meminta agar mereka mengirimkan satu psikiater ke kediaman keluarga Young.


Di saat yang bersamaan, Levita yang baru saja sampai langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya Cira. Dia lalu mengedarkan pandangan ke semua sudut ruangan guna mencari keberadaan seseorang. Ya, Levita mencari Elea. Dia panik setengah mati saat Reinhard menelpon dan mengatakan kalau Grandma Clarissa telah meninggal dunia. Levi yang saat itu baru saja melewati morning sickness-nya tanpa babibu lagi langsung meluncur kemari. Dia bahkan mengabaikan penampilannya yang sangat amat berantakan di mana dia masih mengenakan piyama tidur.


"Patricia, Ares. Mana Elea? Kenapa aku tidak melihat penampakannya di kamar ini?" tanya Levi sambil berjalan cepat ke arah ranjang. Dia berdecak lirih ketika mendapati wajah Cira yang begitu pucat bagaikan mayat.


"Nyonya Elea pergi ke pemakaman bersama Tuan Muda, Nona Levita. Beliau ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Nyonya Clarissa," jawab Ares pelan.


"Astaga, Elea itu kan sedang hamil. Kenapa dia di biarkan pergi ke pemakaman sih? Wahhh, Gabrielle benar-benar tidak tahu yang namanya tempat keramat ya. Bagaimana kalau jin-jin yang ada di sana sampai jatuh hati pada bayi-bayi Elea kemudian memutuskan untuk ikut pulang bersamanya nanti? Gila!" umpat Levita jengkel.


"Levita, Gabrielle tidak sebodoh itu membiarkan Elea pergi tanpa membawa perlindungan apa-apa. Lagipula di sana juga ada Bibi Liona dan Paman Greg. Aku bahkan ragu para setan berani untuk sekedar mengintip Elea. Memangnya mereka berani melawan kekejaman Bibi Liona yang tidak ada obat itu?" timpal Patricia dengan santainya.

__ADS_1


Levita dan Ares termangu. Benar juga apa yang di katakan oleh Patricia barusan. Ibunya Gabrielle terlalu bar-bar, harusnya sih para setan yang tinggal di pemakaman tidak menyinggungnya. Jika mereka nekad, ibunya Gabrielle pasti akan melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka jera sampai hari kiamat tiba. Hahahahaha. (Hanya sekedar candaan gaes, jangan terlalu serius bacanya 😁)


"Oh ya, Res. Sudah berapa lama Cira tidak sadarkan diri seperti ini?" tanya Levita sambil menatap iba pada wanita hamil generasi pertama yang tengah berbaring di ranjang.


"Sejak Nyonya Clarissa menghembuskan nafas terakhirnya," jawab Ares. Dia lalu kembali menggenggam tangan Cira seusai menyimpan ponselnya di dalam saku jas. "Nyonya Clarissa sudah seperti ibu kandungnya Cira, dan dia sangat amat terpukul dengan kejadian ini. Untung saja tadi aku datang tepat waktu. Jika tidak, bayi kami pasti kenapa-napa saat Cira terjatuh ke lantai."


"Tapi Reinhard sudah memeriksa keadaan Cira 'kan?" Dia dan bayi kalian aman-aman saja 'kan?" cecar Levita beruntun. Dia panik sendiri jadinya.


Ares mengangguk. Dia lalu terkesiap ketika merasakan satu pergerakan kecil di tangannya. "Sayang? Kau sudah sadar?"


Mendengar kata sadar, Patricia dan Levita buru-buru mendekat ke arah Cira. Mereka berdua menatap seksama ke arah kelopak mata Cira yang mulai bergerak-gerak. Jujur, keadaan sekarang benar-benar sangat mencekam. Mereka seperti sedang menunggu manusia srigala terbangun yang mana akan langsung menerkam dan mengoyak daging di tubuh mereka.


"Sayang?" panggil Ares sembari mengelus pipi Cira yang hanya diam sambil menatap langit-langit kamar. "Sayang, hei ....


"Aku tidak tahu, sayang," jawab Ares. "Apa kau ingin aku menanyakannya pada Ibu, hm?"


Cira mengangguk lemah. Dia kemudian menoleh, menatap wajah suaminya dengan di barengi cairan bening yang menetes dari sudut matanya.


"Aku sebatang kara lagi sekarang."


"Sssttt, jangan menangis. Percayalah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Sekarang Mama sudah tidak sakit lagi, dia sudah tenang bersama dengan orang-orang yang dia sayang. Kau yang ikhlas, ya?" hibur Ares sambil menyeka air mata di pipi Cira. Hatinya sakit sekali melihat istrinya terluka seperti ini.


"Iya Cira, Ares benar. Kau harus bisa mengikhlaskan kepergian Grandma Clarissa supaya dia bisa tenang di alam sana. Grandma sudah berusaha bertahan semampu mungkin, dan sekarang sudah tiba saatnya untuk dia benar-benar beristirahat. Kau jangan sedih, masih ada Ares dan kami semua yang akan menyayangimu di sini!" imbuh Patricia ikut merasa sedih melihat keadaan Cira yang begitu tidak berdaya.

__ADS_1


Tanpa di sangka-sangka, tiba-tiba saja Cira tersenyum manis sekali. Ares yang melihat senyum tersebut pun merasa sangat heran. Benaknya mulai diliputi kekhawatiran yang besar, dia takut kalau Cira sedang berpikir yang tidak-tidak karena tidak kuat menahan tekanan batin.


"Sayang, jangan menakutiku. Kenapa kau tersenyum, hm? Ada apa?"


"Ares, terima kasih sudah mau menerima dan mencintaiku yang sebatang kara ini. Tanpamu aku pasti tidak akan pernah merasakan yang namanya di cintai begitu dalam oleh seorang laki-laki. Terima kasih banyak ya. Aku mencintaimu," ucap Cira penuh ketulusan.


Levita yang sedang panik semakin bertambah panik melihat sikap Cira yang lain daripada biasanya. Kesal karena merasa seperti sedang di takut-takuti, Levita dengan cepat mencubit paha Cira yang tertutup selimut. Hal ini terus dia lakukan sampai akhirnya Ares menarik tangannya dengan sangat kuat.


"Apa-apaan kau hah!" bentak Ares tak terima.


"Ck, apalagi memangnya. Pikiran istrimu sedang tersesat, jadi aku berusaha untuk menyadarkannya. Bagaimana sih!" sahut Levita kesal.


"Dengan cara menyakitinya?"


"Itu bukan menyakiti, Ares. Aku hanya mencubit pahanya saja."


Setelah berkata seperti itu Levita langsung menatap tajam ke arah Cira. Dia lalu tersenyum jahat ketika melihat ibu hamil generasi pertama ini tengah meringis kesakitan saat Ares mengelus bekas cubitan di pahanya.


"Yakk, Cira. Apa maksudmu bicara seperti itu pada Ares, hah? Kau berniat b*nuh diri supaya bisa menyusul Mama-mu itu? Iya? Hah, dasar bodoh. Untuk apa kau repot-repot mencari kematianmu sendiri kalau pada akhirnya kita semua akan mati juga. Lagipula ya, kalaupun kau berhasil mati, selamanya kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Grandma Clarissa. Karena apa? Karena orang yang mati b*nuh diri arwahnya akan selalu bergentayangan. Ruhmu hanya akan sengsara saja karena Tuhan dan bumi menolak untuk menerimamu. Akan tetapi kalau kau begitu ingin mati, aku sarankan kau sebaiknya pergi menemui Jackson saja. Dia itu mantan seorang Jack-Gal, siapa tahu dia bisa memberikan kematian indah padamu. Dasar payah kau. Huh!"


Ketiga orang yang ada di sana diam mematung setelah mendengar perkataan Levita. Terlebih lagi Cira. Dia yang awalnya memang memiliki keinginan untuk b*nuh diri sampai lupa dengan tujuannya sendiri setelah di sadarkan secara tak kasat mata oleh pelakor ini.


Aku rasa jika aku terus berada di dekatnya Levita lama-lama aku pasti akan mati juga. Astaga, baru kali ini aku di buat kikuk oleh tujuanku sendiri. Kau benar-benar sangat cocok dengan statusmu sebagai pelakor dalam rumah tangganya Elea dan Tuan Muda Gabrielle, Levita, batin Cira syok.

__ADS_1


*****


__ADS_2