Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Nafkah Batin


__ADS_3

Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi yang berasal dari salah satu kamar di kediaman keluarga Ma. Saat ini suasana terasa begitu sunyi, dan hanya suara air tersebut lah yang menjadi penghias bunyi-bunyian di rumah tersebut. Dan aura yang tercipta di sana sarat akan kesedihan dan juga luka menganga yang masih sangat baru.


"Hikssss," ....


Lirih, tapi terdengar dengan sangat jelas di sela-sela gemericik air ada suara isak tangis seseorang. Isakan tersebut terdengar cukup memilukan, yang ternyata berasal dari menantu kesayangan dari keluarga ini. Ya, itu suara isak tangis Elea. Dia baru saja kembali dari pemakaman sang nenek dan langsung memutuskan untuk mengguyur tubuhnya di bawah air shower.


"Hiksss," ....


Lagi. Dan suara isak tangis itu pun kembali terdengar.


"Gabrielle, apa tidak sebaiknya kau masuk ke dalam saja untuk menemani Elea? Ibu takut dia kenapa-kenapa," ucap Liona dengan raut wajah yang begitu cemas.


"Dia tidak mengizinkan aku untuk masuk ke dalam sana, Ibu. Elea sudah mengatakan ini sejak kami berada dalam perjalanan pulang kemari," sahut Gabrielle tanpa melepaskan pandangan matanya dari arah kamar mandi.


"Tapi dia menangis," ....


"Aku tahu, Bu. Aku juga sangat khawatir kalau di dalam sana Elea nekad melakukan sesuatu untuk menyakiti dirinya sendiri. Dan ketakutanku jauh lebih besar dari yang Ibu rasakan. Sungguh!"


Liona terdiam. Dia kemudian menoleh ketika merasakan sebuah elusan lembut di pinggangnya.


"Tenanglah. Sekarang Elea sedang sangat sedih, jadi kita harus memberinya waktu untuk menenangkan diri sendirian. Biarkan saja dia mengeluarkan kesedihan itu di dalam sana, yang penting kita harus tetap terus memantau dari luar. Ya?" hibur Greg. Dia sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan menantunya itu, tapi Greg harus bisa bersikap tenang di hadapan anak dan juga istrinya. Bisa gawat nanti jika mereka semua sampai terbawa suasana hingga mengurangi kewaspadaan di sana.


"Aku hanya sangat khawatir pada menantu kita, Greg," sahut Liona pelan.


"Aku pun. Tapi kita juga harus menghargai waktu yang dia inginkan. Tidak apa-apa, yakin dan percaya kalau menantu kita bukanlah orang yang berpikiran pendek. Elea hanya butuh waktu untuk sendiri, dia butuh ketenangan."


Walaupun sebenarnya hati Liona sangat amat cemas dan tidak tenang, tapi dia memilih untuk mendengarkan apa yang di katakan oleh Greg. Mungkin memang benar kalau menantunya itu sedang ingin sendirian, jadi dia harus bisa memakluminya.


Cukup lama Gabrielle, Liona, dan juga Greg berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mendengarkan suara isak tangis Elea dari dalam sana. Hingga tak berapa lama kemudian pintu kamar mandi perlahan-lahan mulai terbuka. Setengah mati Gabrielle menahan keinginan hatinya agar tidak meringsek masuk ke dalam sana ketika Elea tak kunjung memperlihatkan wajahnya. Dia takut.


"Sayang?" panggil Gabrielle harap-harap cemas.

__ADS_1


Hening.


"Elea, kau baik-baik saja kan, sayang? Kenapa tidak keluar?" tanya Liona.


"Ibu ....


Deg deg deg


Suara Elea terdengar begitu lirih. Dan hal ini membuat dada Gabrielle beserta kedua orangtuanya berdebar dengan sangat kuat. Tak mampu menahan desakan rasa khawatir dan juga penasaran, Gabrielle akhirnya memaksa untuk mendekat ke arah Elea. Pikirannya sudah campur aduk sekarang.


"Sayang, aku ....


"Kak Iel, jangan mendekat!" seru Elea dari dalam kamar mandi.


"Kenapa tidak boleh?"


"Hiksss, mata dan hidungku bengkak parah gara-gara menangis, Kak Iel. Aku malu, nanti kau mengejekku buruk rupa!"


Gabrielle, kau marah tidak jika Ayah mengumpat pada Elea? Ya Tuhan, kita bertiga menunggu dengan sangat gelisah tapi Elea dengan santainya mengatakan kalau dia malu untuk keluar karena mata dan hidungnya membengkak. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, tapi tetap saja Ayah merasa sangat kaget dengan ucapan spontannya itu. Astaga istrimu, Gabrielle. Bisa tidak sih kau memintanya untuk sedikit mengurangi ketengilannya itu?


Gabrielle dan ibunya saling melempar pandangan begitu mendengar isi pikiran Greg. Setelah itu keduanya tersenyum sambil memijit pinggiran kepala. Ingin heran, tapi itu adalah Elea. Jadi ya sudah, mau tidak mau mereka harus mau menerima kejutan ini.


"Kak Iel, bisakah kau saja yang masuk ke dalam sini? Aku tidak mau Ayah Greg dan Ibu Liona melihat penampakanku. Bisa?" tanya Elea dari balik pintu.


"Tentu saja sangat bisa, sayang," jawab Gabrielle dengan cepat. Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menemui istrinya.


Dan begitu Gabrielle sampai di dalam, dia di buat ternganga-nganga melihat bentuk tubuh Elea yang tercetak dengan sangat jelas karena bajunya yang basah tersiram air. Dadanya, pinggangnya, anunya, juga itunya. Membuat pikiran Gabrielle jadi travelling kemana-mana.


"Kak Iel, aku butuh kau. Bisakah?"


Sengaja Elea mengundang suaminya untuk masuk kemari karena dia ingin menikmati waktu bersama pria yang begitu di cintainya ini. Tidak munafik, bercinta adalah salah satu tindakan yang paling ampuh untuk menenangkan pikirannya sekarang. Lagipula Gabrielle adalah suaminya, jadi Elea rasa sah-sah saja jika dia menagih nafkah batin detik ini juga.

__ADS_1


"Sayang, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Gabrielle sambil menelan ludah. Satu tangannya tanpa sadar mulai melepas dasi di lehernya. Sementara matanya terus saja tertuju ke arah dua gundukan yang terlihat semakin berisi semenjak Elea hamil. Ini benar-benar cobaan. Dan Gabrielle bisa gila jika tidak mendapat pelepasan sekarang.


"Aku akan baik-baik saja setelah kau menyentuhku, Kak. Aku butuh kehangatan, dan itu hanya kau yang bisa memberikan," jawab Elea.


"Dengan senang hati."


Walaupun n*fsu di dalam diri Gabrielle sudah sangat menggebu-gebu, dia masih tetap berusaha untuk mengendalikan diri. Gabrielle sadar kalau Elea mengajaknya bercinta karena ingin menutupi kesedihannya, bukan karena dalam kondisi yang sama seperti yang sedang Gabrielle rasakan. Jadi sebisa mungkin Gabrielle mencoba untuk menahan keinginan diri, meski pada kenyataannya junior di bawah sana menolak untuk bergerak lambat.


Tok tok tok


"Gabrielle, Elea. Kalian tidak apa-apa 'kan?"


Gabrielle yang baru saja ingin menyentuh buah melon favoritnya langsung memejamkan mata begitu mendengar suara ibunya dari luar kamar mandi. Dia kemudian menarik nafas, mencoba menormalkan letupan birahi yang sedang terjadi di dalam tubuhnya.


"Temui Ibu dulu, Kak. Katakan pada mereka kalau kau sedang ingin mengunjungi anak-anak kita. Ini darurat, jadi mereka harus segera pergi dari depan kamar mandi ini. Jika tidak, maka jangan salahkan kita kalau Ayah dan Ibu akan mendengar sesuatu yang membuat telinga menjadi gatal!" ucap Elea sambil menahan senyum.


"Hmmmm, baiklah!"


Dengan sangat tidak rela Gabrielle terpaksa menghentikan kegiatan tangannya. Dia kemudian menatap ke arah pintu sebelum akhirnya membukanya.


"Gabrielle, kenapa kau lama sekali di dalam? Apa yang sedang kalian lakukan? Elea baik-baik saja bukan?" cecar Liona tak sabaran.


"Ayah, Ibu. Elea memintaku untuk mengunjungi anak-anak kami. Jadi aku sarankan sebaiknya Ayah dan Ibu segera pergi saja dari sini sebelum kalian mendengar kata ah-uh-ah-uh dari dalam kamar mandi. Permisi!"


Sungguh, Greg dan Liona sangat ingin menjahit mulutnya Gabrielle yang sangat tidak ramah itu. Di luar kamar mandi mereka berdua merasa sangat cemas karena Gabrielle dan Elea tak kunjung keluar. Tapi siapa yang menyangka kalau kedua orang ini malah sedang asik saling berkunjung dan mengunjungi anak-anak yang bahkan masih sebesar kacang polong. Tidakkah kalian ingin pergi ke nirwana jika memiliki anak seperti Gabrielle dan Elea? Oh my God.


"Honey, kita pergi sekarang. Ruangan kamar ini sudah tidak steril lagi untuk kita berdua!" ucap Greg ketika telinganya mulai mendengar sesuatu yang bunyinya cukup familiar.


"Inilah akibatnya jika menuruni gen dari dirimu, Greg. Lama-lama bisa gila aku!" sahut Liona seraya melangkah keluar dari dalam kamar putranya.


Heh, kenapa aku yang salah ya? Aneh.

__ADS_1


******


__ADS_2