Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Salah Tingkah


__ADS_3

📢📢📢 Bom komentarnya bestie 💜


***


"Syuutttt syuutttt ... syuutttt!"


Sisil cuek saja saat ada orang yang bersiul pelan dari arah belakang. Dia sudah hafal, sangat-sangat hafal siapa pelakunya.


"Sisil, tolong jangan mengabaikan aku seperti ini. Aku tahu kau sebenarnya sadarkan kalau aku yang ada di belakangmu?" protes Flowrence saat Sisil tak menghiraukan keberadaannya. Pipinya yang cubby tampak menggembung bulat, yang mana membuat Flowrence jadi terlihat sangat lucu seperti ikan buntal.


"Seperti ada yang bicara, tapi kenapa aku tidak melihat siapapun di sini ya?" ucap Sisil masih berpura-pura tak menyadari keberadaan sahabatnya. Dia terus melihat kesana kemari seolah sedang mencari keberadaan seseorang.


Bibir Flowrence mengerucut sebal melihat kelakuan Sisil yang menganggapnya bak makhluk tak kasat mata. Tak terima di kerjai seperti itu, Flowrence pun segera memikirkan cara untuk membalasnya. Dia lalu menyeringai licik begitu teringat dengan kelemahannya Sisil.


"Russel, kau sudah makan siang belum? Kalau belum mau tidak kau makan siang bersamaku?"


Begitu nama Russel di sebut, secepat kilat Sisil langsung menggaet lengan Flowrence. Dia lalu merapihkan penampilannya terlebih dahulu sebelum ahirnya memasang senyum termanis yang dia punya.


"Selamat siang, dokter Russ ....


Flowrence terkikik pelan sambil menutupi mulutnya ketika Sisil termakan jebakannya. Dia lalu memamerkan cengiran khas miliknya saat Sisil menatapnya dengan begitu galak.


"Flowrence, kau mengerjaiku!" geram Sisil sambil memutar tubuh membelakangi Flowrence. Dia jengkel dan juga malu.


"Hehe, siapa suruh kau mengabaikan aku tadi. Jadi ya sudah aku kerjai saja dirimu. Dan benar kan kau langsung sadar kalau aku ada di sini setelah aku menyebut nama Russel. Dasar bucin parah kau, Sil. Baru mendengar nama Russel saja kau sudah kegirangan seperti akan bertemu dengan pangeran Inggris. Gatal sekali!"


Flowrence langsung mengaduh kuat saat Sisil mencubit lengannya. Ekor matanya lalu tak sengaja melihat seorang dokter yang sangat tampan tengah berjalan ke arahnya. Sambil mengusap-usap bekas cubitannya Sisil, Flowrence melambaikan tangan pada dokter tampan tersebut. Dia juga tak mengindahkan cibiran pedas yang dilontarkan oleh Sisil.


"Heh, jangan kau pikir aku akan kembali terjebak oleh permainanmu ya, Flow. Sekarang aku sudah kebal, jadi aku tidak akan tertipu lagi olehmu!" ucap Sisil dengan sangat yakin.


"Woaahhhh, Russel. Kau sungguh sangat tampan mengenakan jas dokter seperti itu. Pantas saja semua dokter dan perawat wanita di rumah sakit ini tergila-gila padamu. Pesonamu memang gila-gilaan, Russ!" puji Flowrence seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sungguh takjub akan ketampanan sepupunya satu ini, meskipun ketampanannya Russel masih kalah jauh jika di bandingkan dengan ketampanannya Oliver, calon suaminya. Hehe.

__ADS_1


Sisil memutar bola matanya jengah mendengar bualan Flowrence yang terus membanggakan ketampanan Russel. Oya, sedikit pemberitahuan untuk kalian semua. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Sisil memutuskan untuk mengambil jurusan medis dengan menempuh pendidikan sebagai seorang perawat. Kenapa perawat? Karena Russel adalah dokter. Jadi Sisil berkeinginan menjadi seorang perawat agar nantinya bisa selalu menemani Russel saat memeriksa pasien. Dan setelah dia lulus kuliah, Sisil langsung diminta khusus oleh Russel untuk bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Mujur sekali bukan nasibnya? Namun sayang, sampai detik ini Russel tak kunjung mengungkapkan perasaannya meski dokter tampan itu selalu memperlakukan Sisil bak seorang kekasih. Hmmmm.


"Russel, hatiku sakit sekali. Bisakah kau mengobatinya?" ucap Flowrence sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


"Flow, tolong berhenti bicara yang ....


"Memangnya hatimu sakit karena apa, Flow? Apa Oliver penyebabnya?"


Tubuh Sisil menegang seketika begitu dia mendengar suara yang sangat familiar dari arah belakang tubuhnya. Sadar kalau Flowrence sedang tidak mengerjainya, Sisil memberanikan diri untuk berbalik. Dia lalu menelan ludah saat manik matanya bertabrakan dengan manik mata Russel yang tengah berdiri di hadapannya.


Ya Tuhan, ternyata Flowrence benar-benar sedang bicara dengan Russel. Bagaimana ini?


"Sil, kau kenapa?" tanya Russel heran melihat wajah Sisil yang tiba-tiba berubah menjadi merah padam.


"O-oh, itu dok. Saya ....


"Bicara biasa saja. Saat ini kita sedang tidak bertugas, jadi kau tidak perlu bicara formal padaku. Oke?"


"Sil, lihat. Aku tidak bohongkan kalau tadi itu aku sedang bicara dengan Russel. Kau sih selalu berpikiran buruk padaku, sekarang kau malu sendirikan begitu Russel mucul di hadapanmu."


Tuhan, bisakah kau menolongku untuk membungkam mulut gadis di sebelahku ini? Aku malu sekali, Tuhan. Tolong aku ....


Russel hanya tersenyum saja mendengar ucapan Flowrence. Setelah itu satu tangannya terulur mengusap pipinya Sisil yang terlihat semakin merah setelah menjadi korban kejahilan Flowrence.


"Kita sudah saling mengenal satu sama lain sedari lama, tapi kenapa kau masih salah tingkah terus setiap kali Flowrence menggodamu. Kenapa, hm? Apa sungguh semalu itu?" tanya Russel. Ekor matanya kemudian melirik ke arah gadis yang masih sangat di sukainya itu. Ya, Russel masih mencintai Flowrence. Dan rasa itu semakin bertambah besar saja setiap harinya.


Manisnya.


"B-bukan begitu, Russel. Aku hanya ... hanya ....


"Hanya malu," celetuk Flowrence menyela perkataan Sisil.

__ADS_1


Plaaakkkkk


"Uhhhh, kenapa kau kasar sekali sih, Sil. Nanti kalau Russel jadi tak menyukaimu bagaimana?"


Tak tahan terus di goda oleh Flowrence, Sisil akhirnya kabur melarikan diri dari hadapan Russel setelah pria ini menertawakan ucapan Flowrence. Russel yang melihat kepergian Sisil hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala. Sisil sudah dia anggap seperti adik sendiri, jadi melihat sikap malu-malu gadis itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi Russel. Sungguh.


"Nah, Russel. Kenapa kau tidak mengejar Sisil? Kalau dia sampai melompat dari atas gedung rumah sakit ini bagaimana?" tanya Flowrence heran melihat sepupunya masih berada di sana.


"Itu berarti kau yang harus bertanggung jawab," jawab Russel seraya meng*lum senyum. Tangannya sudah sangat gatal ingin mengelus puncak kepalanya Flowrence, tapi berusaha dia tahan karena tak mau membuat gadis ini merasa tidak nyaman.


"Kenapa aku?"


"Karena kau yang membuat Sisil kabur dari sini."


"Benarkah?"


Flowrence termangu. Takut kalau Sisil benar-benar melompat dari atas gedung rumah sakit, Flowrence memutuskan untuk menyusulnya saja. Dia tidak mau kehilangan satu-satunya sahabat yang dia miliki di atas muka bumi ini. Flowrence tidak mau.


"Kau mau kemana?" tanya Russel sambil mencekal pergelangan tangan Flowrence yang ingin pergi dari hadapannya. Jujur, Russel tidak rela. Dia masih sangat merindukan gadis ini.


"Aku mau menyelamatkan Sisil dulu, Russ. Kalau dia mati, nanti tidak ada orang yang akan mentraktirku makan di akhir bulan. Kan sayang," jawab Flowrence dengan raut wajah yang begitu khawatir.


Russel cengo. Awalnya dia pikir Flowrence ingin menyusul Sisil karena benar-benar mengkhawatirkannya, ternyata bukan. Russel jadi tergelitik sendiri memikirkan sikap polos gadis ini yang masih tetap sama seperti dulu.


"Em, begitu ya. Karena aku juga tidak mau kehilangan orang yang sering memberiku makanan gratis, bagaimana kalau kita pergi sama-sama saja untuk menyelamatkan Sisil. Kau setuju tidak?" tanya Russel menawarkan diri untuk ikut terlibat dalam pemikiran konyolnya Flowrence. Biar saja. Bagi Russel menghabiskan waktu dengan gadis ini sangatlah amat berharga. Tak peduli meski terkadang Russel sampai malu sendiri karenanya.


"Baiklah. Mari kita selamatkan orang baik itu dari kematian. Sebentar lagi Sisil gajian, jadi dia tidak boleh mati sekarang. Ayo!"


Setengah berlari Flowrence mengajak Russel pergi mencari Sisil. Dia sama sekali tak menyadari kalau pria yang sedang dia tarik tangannya sedang menahan senyum karena bahagia. Bagaimana tak bahagia. Tangannya ditarik oleh gadis yang di sukainya, sudah pasti hal ini membuat perasaan Russel menjadi sangat amat membuncah.


Tuhan, bisakah Engkau menghentikan waktu sekarang juga? Aku ... ingin lebih lama berada di posisi seperti ini bersama Flowrence. Rasanya bahagia sekali. Sungguh.

__ADS_1


***


__ADS_2