
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Bern menautkan kedua alisnya sambil menatap sesosok anak manusia yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Dia yang baru akan berangkat ke kantor terpaksa harus menunda sedikit waktunya karena kedatangan tamu yang tak di undang. Dan jujur, Bern kesal. Sangat amat kesal dengan kemunculan anak manusia satu ini.
“S-selamat pagi, T-Tuan Muda,” sapa Amora tergagap. Dia merasa seperti sedang berhadapan dengan beruang madu yang sangat mengerikan. Sungguh.
“Kau manusia atau jin?” tanya Bern dengan dinginnya. Ekor matanya kemudian melirik ke arah ransel usang yang dibawa oleh gadis di hadapannya.
“S-saya manusia, Tuan. Saya dikirim kemari sebagai jaminan,” jawab Amora dengan polosnya.
“Jaminan?”
Amora mengangguk. Dia buru-buru menundukkan kepalanya saat pria bernama Tuan Muda Bern ini menatapnya lekat. Tampan sih, tapi sayang sikapnya begitu dingin dan sarkas. Amora takut, tapi belum setakut yang dia rasakan ketika sedang disiksa oleh ayahnya. Suasana mengerikan ini masih jauh lebih mending karena setidaknya Amora tidak di sakiti.
Karl, aku akan membunuhmu nanti.
“Kau pergi saja. Aku tidak butuh apapun sebagai jaminan!” usir Bern sambil menahan kesal. Dia yakin sekali kalau gadis ini pasti kiriman dari adiknya. Sungguh sangat keterlaluan bajingan satu itu. Bisa-bisanya Karl meminta anaknya Tuan Kendra untuk dijadikan jaminan. Ini gila. Tuan Kendra juga. Bagaimana bisa seorang ayah menyerahkan putrinya begitu saja hanya demi menyelamatkan perusahaannya? Karl dan Tuan Kendra sepertinya sama-sama sakit jiwa. Haihhh.
“Tapi Tuan, Ayah bilang apapun yang terjadi saya harus tetap tinggal di rumah ini. Karena jika tidak … jika tidak ....
“Jika tidak apa? Bicara yang benar!” sergah Bern semakin jengkel melihat gadis ini yang bicara terputus-putus. Tak mau lagi berurusan dengan anak orang, Bern memutuskan untuk mengabaikan gadis ini saja. Masa bodo. Toh bukan Bern yang memintanya untuk datang ke rumah ini.
__ADS_1
Bruukkkkk
“Tuan Muda!”
Amora duduk bersimpuh di lantai sambil memegangi kaki Tuan Muda Bern yang ingin pergi meninggalkannya. Dia lalu memberanikan diri untuk mendongak, menatap penuh memelas ke arah pria yang kini tengah menatapnya dengan sangat tajam.
“Singkirkan tanganmu. Jangan menghalangi jalanku!” teriak Bern meradang.
“Tuan Muda, tolong izinkan saya tinggal di sini dan melayani anda. Jika saya kembali ke rumah, saya mungkin akan langsung di bunuh oleh Ayah. Saya tidak punya tempat tinggal lain, jadi tolong izinkan saya untuk melayani anda di rumah ini. Ya?” bujuk Amora. Mau bagaimana lagi, apapun yang terjadi Amora harus berhasil tinggal di rumah besar ini karena dia sudah di usir dari rumah tepat ketika dia akan datang ke rumah ini. Nasibnya sangat miris sekali bukan?
Bern meradang. Segera dia membungkukkan tubuh kemudian mencekik leher gadis ini dengan kuat. Setelah itu Bern menariknya untuk berdiri, sama sekali tak peduli meski wajah gadis ini sudah memerah karena kesulitan bernafas.
Aneh. Kenapa gadis ini tidak menangis ataupun memohon ampun dariku? Dan apa ini. Banyak sekali luka lebam di leher dan wajahnya. Apa benar gadis ini putrinya Tuan Kendra? Atau jangan-jangan gadis ini hanya seorang pelayan yang diminta untuk menggantikan salah satu putrinya yang telah disepakati sebagai jaminan? Sial. Berani sekali Karl dan Tuan Kendra mempermainkanku. Awas saja. Aku tidak akan sudi menolong Airan Group jika gadis ini benar-benar adalah seorang pelayan.
“Hiksss,”
“….”
“Hiksss,”
“….”
“Hikssss,” ….
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanya Bern terheran-heran melihat sikap gadis ini. Saat dicekik diam saja, tapi begitu Bern melepaskan cekikannya dia malah menangis sesenggukan. Bern jadi bertanya-tanya apakah mungkin gadis ini menyukai kekerasan atau bagaimana. Sikapnya aneh sekali.
“Nama saya Amora, Tuan Muda. Saya adalah putri keempat di keluarga Shin,” jawab Amora lirih. Dia berusaha sebisa mungkin menghentikan tangisannya, tapi tidak bisa. Air matanya seperti tidak mau berhenti menetes. Mungkin karena hatinya terlalu sakit, makanya Amora tidak bisa mengendalikan diri seperti ini.
“Putri keempat di keluarga Shin? Jadi kau bukan pelayan?”
Saya memang bukan pelayan, Tuan Muda. Tapi saya besar di bawah kasih sayang para pelayan. Saya mungkin adalah putri bungsu di keluarga Shin, tapi sedari kecil saya tak pernah mendapatkan hak sebagai Nona yang terlahir dari keluarga terpandang.
Sebelah alis Bern tertarik ke atas melihat kebungkaman Amora. Sadar kalau dia akan terlambat sampai ke kantor, Bern akhirnya memutuskan membiarkan Amora tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Tunggu setelah nanti Bern meminta penjelasan pada Karl, barulah dia akan mengurusnya.
Oya, sepertinya emak lupa memberitahu kalian semua kalau Bern itu tinggal seorang diri di rumahnya. Para pelayan hanya datang untuk membersihkan rumahnya saja, setelah itu kembali ke kediaman orangtuanya. Rumahnya Bern juga tidak di jaga oleh para pengawal karena dia lebih memilih menjaga keamanan rumah menggunakan kecanggihan teknologi di mana hampir setiap sudut rumahnya telah terpasang kamera tersembunyi. Dan bagi para tamu yang datang dengan membawa niat buruk, bisa di pastikan mereka akan langsung mati di tempat karena Bern sengaja memasang banyak senjata khusus yang akan langsung membidik setiap kali ada gerak mencurigakan di sekeliling rumahnya. Kalian tenang saja. Senjata-senjata itu telah diredam, jadi sebanyak apapun menembak tidak akan ada orang yang mendengar suara tembakan.
“Aku tidak mengerti kenapa kau bisa seperti ini. Namun yang jelas, aku baru akan mengurusmu setelah kembali dari kantor. Pegang ini!” ucap Bern sembari melemparkan kunci rumah pada Amora. “Ingat ini baik-baik. 171012.Itu adalah sandi untuk masuk ke dalam rumah!”
Setelah itu Bern bergegas pergi menuju mobil. Sebelum menyalakan mesin, Bern menyempatkan diri melihat Amora lewat kaca spion. Keningnya mengerut. Dia bingung sendiri melihat reaksi gadis itu yang entah kenapa terlihat sedih, kecewa, juga bahagia di saat yang bersamaan. Bern jadi penasaran mengapa Tuan Kendra bisa memiliki seorang anak yang di tubuhnya ada banyak sekali luka. Mungkinkah Amora ini adalah anak yang tidak diinginkan? Entahlah, Bern tak tahu dan tidak ingin tahu.
Sepeninggal pemilik rumah, Amora segera masuk ke dalam rumah. Mungkin karena selama ini Amora tinggal di sebuah rumah yang sangat mewah, dia tak terlalu kaget ketika melihat betapa megahnya kediaman Tuan Muda Bern. Sangat bersih dan juga wangi. Sepertinya pemilik rumah ini adalah orang yang sangat menyukai kebersihan. Hmmmmm.
“Rumah ini memang lebih mewah dari rumah Ayah, tapi kenapa aku merasa kalau rumah ini begitu kosong dan menyedihkan ya? Apa jangan-jangan Tuan Muda Bern juga memiliki kisah hidup sepertiku?” gumam Amora bertanya-tanya sendiri. Dia lalu berkeliling melihat setiap sudut rumah.
Ibu, Ayah dan ketiga saudariku telah mengusirku dari rumah. Kini aku hanya bisa berharap pada kebaikan hati Tuan Muda Bern saja. Tolong bantu aku meluluhkan hatinya ya, Bu. Buat agar Tuan Muda Bern tidak mengusirku pergi dari sini. Karena jika hal itu sampai terjadi, Ayah dan ketiga kakakku hidupnya tidak akan bahagia. Tolong bantu aku ya, Bu ….
***
__ADS_1
(Ayo tebak 171012 itu apa )