
Di lain tempat, tepatnya di atas kapal pesiar mewah ada sepasang kekasih yang tengah menikmati makan malam mereka dengan di iringi pemain musik yang begitu lihai memainkan keahlian mereka. Sesekali pasangan itu terlihat saling menyuapi. Sungguh suatu pemandangan yang begitu membuat hati merasa iri. Namun, siapalah yang tahu bahwa di dalam hati keduanya saat ini tengah di penuhi oleh jutaan pertanyaan yang seolah sulit untuk ditemukan jawabannya. Bibir boleh saja tersenyum, tapi tatapan mata mereka tak bisa menyembunyikan adanya suatu kesedihan yang begitu dalam. Entah apa sebabnya, hanya mereka yang tahu.
"Apa kau suka kejutan ini?" tanya Oliver seraya menatap penuh puja pada wanita yang sedang memejamkan mata mendengar suara alunan musik yang begitu syahdu.
"Asal ada kau bersamaku maka tidak ada alasan untuk aku tidak menyukainya," jawab Flow. Dia lalu membuka mata, tersenyum dalam ke arah pria tampan yang tengah menatapnya. "Oliver, malam ini bisakah kau membiarkan aku menjadi diriku sendiri? Aku lelah berpura-pura. Satu malam saja. Ya?"
"Kenapa harus meminta izin? Kau bebas melakukan apapun yang kau mau saat sedang bersamaku," sahut Oliver dengan tenang menyikapi keanehan di diri kekasihnya yang tiba-tiba berubah sangat drastis. Flow yang ada di depannya sekarang sangat jauh berbeda dengan Flow yang selama ini dia kenal. Meski begitu, Oliver sama sekali tak memiliki niat untuk mempertanyakan. Biar saja. Selama itu bisa membuat Flow merasa bebas untuk mengekspresikan diri, maka Oliver akan berpura-pura tak mengindahkan keanehan tersebut. Yang penting kekasihnya bahagia. Itu saja.
Begitu mendapatkan izin, Flow langsung menyeka mulutnya kemudian berdiri. Dia lalu membisikkan sesuatu ke salah satu pemain musik, setelah itu berjalan mendekat ke arah Oliver. Sambil menyunggingkan senyum termanis yang dia miliki, Flow mengulurkan tangan pada Oliver. Dia bermaksud mengajak pria ini untuk berdansa bersama.
"Do you want dance with me?"
"Tidak terbalikkah?"
Oliver terkekeh. Dengan senang hati dia menyambut uluran tangan Flow kemudian ikut berdiri. Segera dia melingkar satu tangan ke pinggang gadis cantik ini kemudian mulai bergerak mengikuti alunan musik.
"Ada apa, hem?" bisik Oliver.
"Aku hanya ingin mengukir kenangan seindah mungkin denganmu malam ini," sahut Flow lirih. "Oliver, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Apa kau percaya dengan reinkarnasi cinta?"
Kening Oliver mengerut. Dia agak bingung dalam mengartikan jenis pertanyaan yang di maksud oleh Flow.
"Reinkarnasi cinta? Jujur, aku agak kurang paham dengan kosakata ini. Karena yang aku tahu hanya ada reinkarnasi manusia, bukan cinta. Jadi bisakah kau menjelaskan apa maksudnya?"
"Reinkarnasi cinta itu adalah semacam ikatan di masa lalu yang belum terselesaikan sehingga terbawa hingga ke masa sekarang," ucap Flow menjelaskan. "Aku pernah membaca kisah tentang seorang peri yang telah di kecewakan oleh seseorang yang sangat di cintainya pada masa itu. Karena mereka berasal dari dua alam yang berbeda, hubungan mereka di tentang oleh masing-masing penghuni alam. Namun karena si peri terlalu mencintai seseorang ini, dia rela menanggung beberapa siksaan menyakitkan demi agar bisa terus bersama dengan cintanya. Akan tetapi tanpa dia sadari sebenarnya seseorang itu tidaklah tulus mencintainya. Si peri merasa kecewa, lalu mengorbankan diri untuk melindungi alamnya saat seseorang itu melakukan penyerangan. Dia lalu meninggal di pangkuan seseorang tersebut. Karena ketulusannya itu, dewa memberinya keistimewaan berupa utuhnya inti jiwa milik peri tersebut sehingga dia bisa berenkarnasi kembali. Sedangkan untuk seseorang itu sendiri, dia di dera sesal berkepanjangan. Dewa mengutuknya dengan membiarkannya hidup kekal hingga sekarang!"
"Lalu ... apa yang terjadi dengan seseorang itu?" Oliver merasa penasaran. Dan secara tak sengaja dadanya tiba-tiba berdenyut kuat sekali. Dia sampai menahan nyeri karenanya. Aneh.
"Aku tidak tahu," jawab Flow.
Karena kelanjutan dari kisah mereka kita yang akan meneruskan. Jadi maaf Oliver, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu.
Flow tersenyum kecut. Dia lalu merebahkan kepala ke bahu Oliver, merasai betapa sedihnya hati karena malam ini akan menjadi makan malam terakhir untuk mereka berdua. Kemalangan itu sudah semakin dekat, dan Flow harus siap dengan segala kondisi buruk yang akan terjadi kapan saja.
"Oliver, jika suatu saat aku melupakan kisah kita maukah kau tetap memperjuangkan aku? Aku tidak mau berakhir sama seperti si peri yang harus menelan pil pahit sebagai balasan atas perasaannya. Kita saling cinta, bukan?"
"Hei, sayang. Kenapa sejak beberapa terakhir kau terus saja mengulang-ulang kalimat ini?" kaget Oliver. Dia lalu menciumi rambut Flow sebelum lanjut berbicara. "Sayang, sekalipun kau menderita penyakit Alzheimer, aku akan tetap mencintaimu sama seperti sekarang. Jadi tolong jangan pernah bertanya seperti itu lagi ya. Aku sedih, karena aku selalu menerima apapun keadaanmu. Oke?"
"Beruntung sekali aku mendapatkan pasangan sepertimu. Hehehe,"
__ADS_1
Oliver yang merasa khawatir seketika ikut tertawa saat Flow memaksakan diri untuk tertawa. Agak aneh, tapi ya sudahlah. Oliver tak mau mempermasalahkan.
Kenapa rasanya sakit sekali seperti aku akan di tinggal pergi? Ada apa ini? Hatiku terasa begitu gelisah. Flow tidak mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk meninggalkan aku, kan?
Mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Oliver, Flow mencoba memecah suasana sedih dengan membahas tentang Amora. Ya, Amora. Seseorang yang akan dia selamatkan dengan cara menukar kebahagiaannya bersama Oliver.
"Oliver, kau tahu tidak kalau sekarang Kak Bern sudah mempunyai kekasih? Namanya Amora. Dia gadis yang sangat cantik dan juga baik hati sekali. Waktu itu Kak Bern menghubungiku dan meminta agar aku membawa Amora pergi jalan-jalan. Amora lucu sekali kalau kau mau tahu," ucap Flow dengan antusias.
"Benarkah?" Oliver agak kaget saat tahu kalau si beruang kutub itu diam-diam telah memiliki kekasih. "Kalau boleh tahu Amora itu berasal dari keluarga mana, sayang?"
"Ummm kalau tidak salah Amora itu bermarga Shin. Iya Shin. Dia anaknya Tuan Kendra Shin."
"Kendra Shin? Pemilik Airan Grup?"
"Mungkin. Aku tidak tahu kalau masalah itu. Kau kan tahu sendiri kalau aku hanya mengerti bagaimana cara menghabiskan uang. Bagaimana sih!"
"Hehehe, iya-iya maaf. Lalu apa saja yang kalian lakukan waktu itu?"
Dengan penuh semangat Flow menceritakan kegiatan apa saja yang pernah dia lakukan bersama Amora. Dan secara tidak langsung, obrolan mereka berhasil mengalihkan ketakutan Flow dari kemalangan yang sebentar lagi akan segera menimpa hidupnya. Sedang Oliver sendiri, dia berusaha untuk terus menerka gerangan apa yang sedang mengganggu pikiran kekasihnya. Dia tentu tahu kalau Flow-nya tidak sedang baik-baik saja.
Semoga saja bukan hal yang buruk. Hmmm.
__ADS_1
***