Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kabar Buruk


__ADS_3

Tiga hari berlalu ....


"Res, Ares!" teriak Cira dari dalam kamar mandi.


Ares yang saat itu sedang mengancingkan baju tidak segera datang saat Cira memanggilnya. Bukan tak sempat, tapi saat ini kepalanya sedang menjepit ponsel yang terhubung dengan seseorang. Yap, Ares berpakaian sambil menerima panggilan. Itulah asalan mengapa dia tidak langsung menjawab ataupun mendatangi Cira yang memanggilnya dari arah kamar mandi. Dia sedang sangat sibuk sekarang.


"Kemana dia. Apa yang sedang dilakukannya?" gumam Cira.


Menyadari akan kesibukan suaminya, Cira pun memutuskan untuk keluar sendiri dari dalam bathup. Tadi itu dia sedang berendam air hangat, tapi dia lupa membawa baju handuk ke dalam kamar mandi. Karena itulah Cira memanggil Ares karena ingin meminta tolong untuk mengambilkan baju handuk tersebut. Namun karena suaminya sedang sangat sibuk, Cira tak ingin lagi mengganggunya. Dia cukup mengerti dengan kejadian ini.


Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Ibarat kata, tidak ada satupun orang yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi di detik dan menit hidup mereka ke depannya. Tak terkecuali Cira dan Ares. Andai saja waktu bisa di putar kembali, mereka pasti tidak akan berpikir setenang itu bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Mereka pasti akan lebih memilih untuk menunda apa yang sedang mereka kerjakan ketimbang harus melewati kejadian yang menjadi babak baru dalam kisah cinta mereka.


Brruuugggghhhhhh


"Aaaaaaaaaa .... A-AREESSSSSS!"


Ponsel di tangan Ares langsung terlepas begitu saja saat dia mendengar suara benda jatuh yang sangat kuat dari arah kamar mandi. Di tambah lagi Ares juga mendengar suara jeritan Cira yang begitu kencang dari arah sana. Membuatnya langsung berlari cepat dengan jantung berdebar kuat.


"Sayang, ada apa? Suara apa itu yang jat ... ASTAGA! CIRAAA!" teriak Ares syok melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Saat ini, detik ini, istrinya yang sedang hamil tua terkapar di lantai kamar mandi dengan darah menggenang di sekitar bagian bawah tubuhnya. Untuk beberapa saat pikiran Ares seperti terhenti, dia benar-benar sangat syok melihat pemandangan mengerikan tersebut.


"R-Res, s-sakit!" cicit Cira dengan suara yang mulai melemah. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.


Sungguh. Andai saja Cira tahu kalau kakinya akan tergelincir seperti ini, dia akan lebih memilih untuk tetap menunggu kedatangan Ares di dalam bathup saja. Niat hati tak mau mengganggu kesibukan suaminya, kini malah harus berakhir dengan kejadian seperti ini. Satu yang Cira khawatirkan, bayinya. Tubuh Cira menghantam lantai dengan sangat kuat karena dia terjatuh tepat begitu kakinya menginjak lantai. Bahkan rasa sakit yang tercipta serasa mampu menghancurkan semua tulang-tulang yang ada di tubuhnya. Sangat menyakitkan.


"S-sayang, k-kau ...

__ADS_1


"B-bayi kita, Res. C-cepat tolong,"


"Bayi?"


Bayi, bayi, bayi


Astaga. Barulah Ares sadar kalau darah yang menggenang itu berasal dari kandungan istrinya. Tanpa membuang waktu lagi Ares pun segera mengangkat Cira ke dalam gendongannya kemudian membawanya keluar dari dalam kamar mandi. Sebelum keluar kamar, Ares menyempatkan diri untuk mengambil selimut guna membungkus tubuh Cira yang saat itu tidak mengenakan apapun. Setelah itu barulah dia keluar sambil berteriak kencang memanggil siapapun yang bisa dia mintai bantuan.


"Ares, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Junio yang kebetulan saat itu berada tak jauh dari kamarnya Ares. Dan sedetik kemudian bola mata Junio seperti akan terbang keluar melihat tetesan darah yang berasal dari bawah tubuhnya Cira. "Astaga, istrimu kenapa, Res. Darah apa itu!"


"Tolong aku. Cira terjatuh di kamar mandi, dia pendarahan," jawab Ares sambil terus berjalan cepat menuju tangga. Dia sangat panik karena keadaan Cira semakin melemah. Ares takut istrinya ini kenapa-napa.


"Oke, santai. Aku akan segera menyiapkan mobil untukmu!" sahut Junio tanggap.


Tanpa menunggu lama Junio pun langsung berlari turun ke lantai bawah. Dia lalu memberitahu Patricia dan juga ibu mertuanya tentang apa yang terjadi pada Cira. Sontak saja kabar buruk tersebut langsung mengundang kegaduhan yang sangat besar di keluarga Young. Bahkan Bryan yang saat itu baru memakai celana kerjanya langsung berlari keluar setelah di beritahu kalau Cira mengalami pendarahan hebat karena terjatuh di kamar mandi.


"Cepat siapkan mobil!" teriak Bryan. Mendadak tubuhnya terasa kaku melihat banyaknya darah yang menetes dari tubuh Cira. Dia terkenang dengan Sandara.


"Junio sudah menyiapkan mobil untukmu, Res. C-cepat bawa Cira ke rumah sakit sekarang!" ucap Patricia ikut panik melihat keadaan Cira yang sudah hampir hilang kesadaran. Matanya sampai berkaca-kaca menyaksikan saudaranya berada dalam kondisi berbahaya seperti itu.


"Tolong beritahu Tuan Muda ....


"Jangan pikirkan yang lain. Keselamatan Cira jauh lebih penting, Res!" sentak Yura sambil menangis. "Gabrielle biar Bibi yang urus. Sekarang cepat pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan Cira dan bayi kalian. Cepaatttt!"


Ares mengangguk. Dia lalu menatap wajah Cira yang semakin memucat. Sakit sekali, rasanya jantung Ares seperti di cabik-cabik sekarang. Sambil menahan tangis Ares akhirnya membawa Cira masuk ke dalam mobil. Dan tanpa menunggu lama Junio pun langsung memacu mobil menuju rumah sakit terdekat.


Sepeninggal Ares ke rumah sakit, Yura langsung jatuh terduduk di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya di sana, membiarkan semua orang menatapnya penuh rasa khawatir.

__ADS_1


"Sayang, tenanglah. Cira dan bayinya pasti baik-baik saja. Jangan menangis ya," ucap Bryan berusaha menenangkan istrinya yang sedang menangis histeris.


"Bagaimana aku bisa tenang, Bry. Wajah Cira begitu pucat, dia seperti orang yang sedang sekarat!" sahut Yura. "Ayo kita susul mereka ke rumah sakit, Bryan. Aku mau menemani Cira di sana, aku mau ke sana."


"Baiklah. Mari kita pergi ke rumah sakit bersama-sama, tapi tolong beri aku waktu untuk berganti pakaian dulu. Ya?"


Yura mengangguk. Sedangkan Patricia, dia tak kalah panik seperti sang ibu. Hanya saja rasa panik Patricia teralihkan oleh suara tangis baby Cio yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia kemudian segera mengambil Cio dari gendongan pelayan lalu membawanya mendekat ke arah sang ibu yang masih menangis sesenggukan di lantai.


"Bu, nanti aku menyusul belakangan saja ya. Cio baru bangun tidur, aku harus memandikan dan memberinya makan dulu sebelum pergi. Tidak apa-apa 'kan?" tanya Patricia.


"Tidak apa. Kau uruslah dulu mana yang perlu di urus. Biar Ayah dan Ibu saja yang pergi menemani Ares di rumah sakit," jawab Yura.


"Semoga saja Cira dan bayinya baik-baik saja ya, Bu. Tadi darahnya banyak sekali, aku sampai pusing melihatnya."


"Kita berdoa yang terbaik untuk keselamatannya ya," ucap Yura kemudian mengelus pelan pipi gembul Cio yang hanya diam sambil menatapnya. "Anak tampan, Nenek pergi dulu ya. Saudaramu akan segera lahir, jadi Nenek harus ada di sana untuk menyambut kehadirannya. Oke?"


Cio mengerjapkan mata saat sang nenek berkata seperti itu padanya. Hingga tak lama kemudian Bryan pun keluar dari kamar setelah selesai bersiap.


"Patricia, kau hubungilah Gabrielle dan Elea. Beritahu mereka tentang apa yang baru saja terjadi pada Cira!" ucap Bryan sembari membantu Yura untuk berdiri. Dia lalu memapahnya keluar.


"Baik, Ayah!"


Masih dengan menggendong Cio, Patricia segera menghubungi nomor Elea. Perlu waktu beberapa saat untuk dia bisa menekan nomor milik adiknya karena sekarang tangan Patricia sedang bergetar dengan cukup kuat. Dia terserang panic attack setelah melihat keadaan Cira yang berlumuran darah.


"Halo?"


"Gabrielle, Cira pendarahan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit terdekat," ucap Patricia begitu mendengar suara Gabrielle dari dalam telepon. "Tolong kabarkan hal ini pada Bibi Maria dan Paman Digo. Junio dan Ares sekarang sedang menuju rumah sakit, sementara Ayah dan Ibu mereka baru saja berangkat. Cepatlah, Cira mengeluarkan banyak darah tadi!"

__ADS_1


Klik. Panggilan langsung di putus sepihak begitu Patricia selesai bicara. Setelah itu Patricia menarik nafas sebanyak-banyaknya, tubuhnya serasa lemas. Tak kuat menahan rasa gemetar di tubuhnya, Patricia akhirnya meminta tolong pada salah satu pelayan agar membantu memandikan Cio. Dia takut anaknya jatuh kalau memaksa untuk tetap memandikannya sendiri.


*****


__ADS_2