
Di dalam hotel, semua mata terus tertuju ke arah wanita cantik yang selalu berada di sisi pemilik acara. Mereka di buat penasaran karena wajah wanita tersebut tertutup masker sehingga tidak bisa di kenali dengan jelas. Juga dengan sambutan luar biasa dari seluruh anggota keluarga Ma yang baru pertama kali ini mereka lihat.
"Hei, dari penampilan wanita itu sepertinya aku tidak terlalu asing. Dimana ya aku pernah melihatnya?" gumam salah seorang konglomerat yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi antara si wanita misterius dengan keluarga Ma.
"Iya, aku juga berpikiran sama denganmu. Apa jangan-jangan wanita itu adalah putri dari salah satu rekan bisnis kita? Dari pancaran auranya dia terlihat begitu berwibawa dan juga berkasta. Hati-hati. Sejak dulu keluarga Ma di kenal sebagai keluarga yang mengejutkan. Bisa saja kan kalau wanita itu adalah ranjau yang sengaja di pasang untuk memancing seseorang?"
"Kau benar juga. Sepertinya kita harus menjaga jarak darinya. Kita tidak kenal siapa dia, dan bisa jadi wanita itu adalah kematian untuk karir kita. Akh, aku heran kenapa semua orang yang terhubung dengan keluarga ini selalu membuat orang lain ketar ketir sendiri. Dari zaman Nyonya Liona, Nona Grizelle, dan sekarang wanita itu. Benar-benar keluarga yang tak tersentuh!"
Ya, baguslah jika mata orang-orang ini bisa jeli dalam mengartikan kalau kehadiran Elea adalah kematian untuk mereka. Itu sangat betul. Karena apa? Karena Elea adalah puncak keluarga Ma. Berani menyentuhnya, maka tamatlah hidup kalian. Karena bukan hanya keluarga Ma saja yang akan bergerak, tapi ada keluarga Young, Bangsawan Wu, juga dengan keluarga-keluarga yang lainnya.
"Kak Iel, apa aku terlihat aneh karena tidak melepas masker? Lihat orang-orang itu. Mereka terus menatapku seolah aku ini adalah sepotong pizza yang lezat," bisik Elea merasa risih ketika ada seorang wanita yang terus melirik sinis ke arahnya. Bukan takut, tapi Elea mual. Ada semacam dorongan yang memaksa Elea untuk mencongkel bola mata wanita itu. Aneh kan?
"Mereka itu yang aneh, sayang. Bukan kau," sahut Gabrielle sambil mengedarkan tatapan membunuh ke arah orang-orang yang terus menatap istrinya. Dia benci kecantikan istrinya menjadi konsumsi manusia lain.
"Kak," ....
"Hm. Kenapa, sayang?"
"Aku ingin mencongkel mata wanita itu. Apa boleh?"
Gabrielle ternganga. Bahkan ayah dan ibunya yang saat itu tengah mengobrol dengan para tamu sampai menoleh saking kagetnya mendengar keinginan Elea. Ini janggal, tidak biasanya Elea menunjukkan sikap bar-bar seperti ini. Apalagi sekarang Levi sedang tidak ada di sini. Sudah pasti keinginan Elea membuat semua orang merasa sangat heran. Ada apa?
"Sayang, kau ....
"ELEA!"
Gabrielle dan Elea langsung menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara teriakan dari arah sana. Ekpresi berbeda nampak muncul di wajah keduanya begitu tahu siapa yang datang.
"Yes, akhirnya pelakor itu datang!" pekik Elea kegirangan.
"Jangan dekat-dekat dengannya, sayang. Malam ini kau milikku," cegah Gabrielle tak rela saat Elea berniat pergi menghampiri si pelakor.
"Iya, Kak. Aku hanya ingin menyapa Kak Levi saja."
__ADS_1
"Dari sini kan bisa."
"Mana boleh begitu, Kak Iel. Ini adalah urusan para wanita, laki-laki tidak boleh ikut campur."
Setelah berkata seperti itu Elea langsung pergi meninggalkan suaminya. Dia dengan begitu semringah menghampiri wanita yang kini tengah mengobrol dengan salah satu tamu.
"Kak Levi," bisik Elea.
"Ekhmmn ... yang sebentar lagi menjadi mama muda," sindir Levi seraya berdehem pelan. Tak lupa dia bicara sambil mengawasi Gabrielle. Sebelum datang kemari Reinhard sudah memperingatkannya agar tidak sembarangan membuka mulut karena Gabrielle masih belum tahu tentang kehamilan Elea. Jadilah dia sedikit was-was, takut kalau pria tengik itu mendengar kabar rahasia ini.
"Bagaimana? Kak Iel tokcer bukan? Dia langsung membuatku hamil kembar tiga," tanya Elea penuh bangga.
"Tokcer apanya. Kalian bahkan harus menunggu waktu selama satu tahun demi untuk mendatangkan calon perusuh ini," jawab Levi seraya menatap perut Elea yang masih datar. Sedikit sulit di percaya, dengan perut sesempit itu apakah mungkin bisa di diami oleh tiga buah kepala sekaligus?
"Yang penting aku hamil kembar tiga."
"Cihh, begitu saja sombong kau."
"Tentu saja aku harus sombong, Kak Levi. Jika tidak, maka hidupku tidak akan tenang. Hehehe."
Sepeninggal Reinhard, Levi terus saja menatap perut Elea. Dia heran apakah dengan tubuh semungil ini Elea mampu membawa ketiga calon anak-anaknya selama sembilan bulan? Levi khawatir pinggang teman kecilnya yang minimalis ini akan patah berkeping-keping.
"Kenapa, Kak? Sedang mengatur rencana untuk menculik salah satu bayiku ya?" tuduh Elea curiga.
Jtaaakkk
"Kau pikir dengan cara apa aku mencuri bayi yang baru sebesar biji polong itu, hah!" geram Levita sembari mengelus kepala Elea yang baru saja dia jitak. Untung saja Gabrielle tidak lihat, bisa panjang urusannya jika pria tengik sampai tahu.
"Kak Levi Kak Levi, kalau iri itu bilang saja. Jangan malah menganiayaku seperti ini. Kalau kepalaku sampai bocor lalu bayi-bayiku ikut keluar karena terbawa arus darah bagaimana? Kau pasti akan di jadikan sate bakar oleh Kak Iel!"
Levi mengerjapkan mata. Dia kemudian menghela nafas, berusaha menekan emosinya agar tidak terpancing.
"Oh ya, Kak Levi. Kira-kira kapan kau hamil? Aku tidak sabar ingin menjodohkan putriku dengan putramu nanti," tanya Elea dengan sorot mata penuh arti.
__ADS_1
"Kalaupun aku hamil dan melahirkan seorang putra, aku tidak akan membiarkan anakku menikah dengan anakmu, Elea. Kasihan, hidupnya pasti akan sangat tertekan nanti," jawab Levi sarkas.
"Kenapa memangnya, Kak?"
"Heh, kenapa?"
Levi tertawa sumbang. "Sudahlah, aku malas membicarakan masa depan denganmu, Elea. Karena aku sendiri tidak tahu apakah aku mampu bertahan hidup atau tidak jika setiap hari tensi darahku selalu kau buat naik, naik, naik dan naik terus."
Elea mengulum senyum. Bukan tanpa alasan kenapa dia bicara seperti itu. Flow, calon princessnya itu akan berada dalam satu bingkai yang sama dengan anaknya Levita. Akan tetapi Elea belum bisa melihat gambaran tersebut dengan jelas karena wajah anaknya Levita tertutup kabut. Tak ingin membuat pelakor ini mati cepat, dengan santai Elea mengajaknya pergi mencicipi makanan yang di sediakan di sana. Sesekali juga dia menoleh ke arah suaminya untuk memastikan kalau dirinya baik-baik saja di tangan si pelakor.
"Perbanyak makan buah dan kacang-kacangan, Elea. Reinhard bilang itu bagus untuk perkembangan otak bayi-bayi-bayimu," ucap Levi penuh perhatian.
"Baik, Kak."
Levi menoleh.
"Tumben sekali kau patuh. Ada apa?"
"Karena aku sedang bahagia," jawab Elea seraya mengunyah makanan.
Hmmm, enak sekali. Apa aku bawa pulang ke rumah saja ya semua makanan ini? Kan lumayan makan gratis.
"Oh, jadi kalau sedang bahagia kau bisa menjadi patuh ya?" tanya Levi.
Elea mengangguk. Tangannya tak bisa berhenti mengambil kue demi kue yang tertata rapi di atas meja. Eittsss, jangan salah. Kue-kue ini di peruntukkan khusus untuknya saja. Biasalah, suaminya kan limited edition. Kalian tahu sendiri bukan?
"Dan kalau aku sedang tidak merasa bahagia, aku akan mencari tumbal. Itulah kenapa aku tak bisa hidup tanpamu, aku butuh teman yang bisa kuajak untuk berbagi nasib burukku. Aku baik sekali bukan?" ucap Elea seraya tersenyum tanpa dosa.
Sabar Levita, sabar. Elea sedang hamil, nanti bayinya menangis kalau kau berteriak. Sabar, sabar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
📢 GENGS, SEKEDAR PEMBERITAHUAN. BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, TOLONG DI PAHAMI PERSYARATANNYA YA AGAR NANTI PAS PEMILIHAN PEMENANG KALIAN NGGAK SALAH PAHAM. SEKALI LAGI DI BACA BAIK-BAIK YA, TERIMA KASIH 💜
__ADS_1