
Oliver, Andreas, Cio, Reiden, Bern, dan juga Karl duduk melingkar sambil bersedekap tangan. Saat ini mereka sedang berada di kantin rumah sakit, sengaja berkumpul untuk melakukan meeting darurat sekaligus mengisi perut mereka dengan makanan. Insiden tadi lumayan menguras energi.
"Karl, jelaskan pada kami semua kenapa tadi kau bicara kasar pada Bern dan juga Oliver!" ucap Cio sambil memicingkan mata ke arah Karl. Sebagai yang paling tua, Cio di tunjuk untuk memimpin jalannya sidang ini.
"Namanya juga sedang emosi, wajarlah kalau aku tak sadar sudah berlaku kasar pada mereka," jawab Karl santai. Dia lalu melirik bergantian ke arah Oliver dan juga kakaknya. "Aku, Kak Bern dan juga Oliver adalah yang paling dekat dengan Flowrence. Di antara kami berempat ada ikatan batin yang sangat kuat. Melihat Flowrence terluka seperti itu, sudah pasti emosi kami sama-sama meluap. Dan hasilnya ya seperti tadi. Kami kehilangan kontrol!"
Oliver berdecih. Sedangkan Bern, dia hanya diam mendengarkan. Setelah mendonorkan darah tubuhnya jadi terasa sedikit lemas. Jadi Bern memutuskan untuk tidak banyak bicara demi menghemat tenaganya.
"Seingatku kau tidak sampai lepas kendali seperti ini saat dulu Flowrence hampir mati gara-gara tak sengaja terinjak oleh Tora, Karl. Lalu kenapa reaksimu sekarang begitu berbeda? Kau aneh, sikapmu membuatku curiga!" tanya Oliver terus terang mengungkapkan kecurigaannya. Dia merasa ada yang salah dengan diri Karl.
"Ck, tolong garis bawahi ucapanmu, Oliv. Yang menginjak Flowrence itu Tora, sedangkan yang terjadi sekarang adalah Flowrence di celakai oleh sekelompok orang asing. Dari sini saja kau sudah bisa merasakan perbedaannya bukan? Tora sama saja dengan Lan, apakah mungkin untukku melukainya? Tidak, Oliver. Aku bisa di panggang hidup-hidup oleh Ibu jika sampai melukai Tora karena Ibu bilang Tora adalah simbol kelahiran kami bertiga. Mungkin waktu itu Flowrence tidak sengaja terinjak olehnya karena dia yang tidak bisa diam. Kau kan tahu Flowrence itu tubuhnya kecil, bisa saja kan Tora tidak melihat keberadaannya lalu menginjaknya. Sementara para bajingan itu, heh. Mereka melukai Flowrence sampai separah itu. Wajarlah jika aku lepas kendali. Benar tidak?" tanya Karl terus membela diri.
Oliver terdiam. Dia lalu melihat ke arah Bern.
"Bern, apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat setelah mendonorkan darah untuk Flowrence,"
"Hanya sedikit lemas," jawab Bern.
"Oh, kalau begitu kau istirahatlah."
Bern mengangguk. Dia lalu melipat kedua tangannya di atas perut kemudian memejamkan mata. Hal ini kemudian membuat para sepupunya berdecak heran. Sikapnya Bern terlalu dingin dan acuh, mungkin. Tapi Bern sebenarnya adalah orang yang peduli dan juga hangat. Pikirannya hanya terlalu menginginkan apa yang di punyai oleh keluarganya, hingga membuatnya tumbuh menjadi sesosok remaja yang tak tersentuh.
"Hei, ngomong-ngomong kita semua belum pergi menjenguk Russel. Aku jadi penasaran apakah dia masih hidup atau tidak!" seru Cio sambil menggosok-gosok dagu bawahnya.
__ADS_1
"Nenek Abigail ada di sana," sahut Andreas.
"Owh,"
Sedetik kemudian ....
"Apa? Nenek cantik itu sudah sampai di rumah sakit?" pekik Cio sambil membelalakkan mata. "Sialan. Bagaimana bisa aku lupa untuk memberikan sambutan? Wahhhh, lihatlah betapa bodohnya aku. Harusnya orang yang pertama kali dilihat oleh Nenek Abigail adalah aku. Kenapa aku bisa teledor begini sih!"
Reiden menarik nafas sedalam mungkin sebelum akhirnya dia meninju perutnya Cio. Kesal, itu sudah pasti. Entah kenapa sepupunya ini sama sekali tak merasa jera mengganggu istri orang. Padahal waktu itu Cio sempat mendapat hukuman dari Kakek Mattheo karena ketahuan sedang menggoda Nenek Abigail. Benar-benar mata keranjang anak satu ini.
"Cio, apa Kakek Mattheo harus sampai membunuhmu dulu agar kau berhenti mengganggu Nenek Abigail? Sudah gila kau ya," omel Reiden tanpa merasa kasihan sedikit pun melihat Cio yang sedang kesakitan.
"Sebelum aku di bunuh oleh Kakek Mattheo, aku rasa aku akan lebih dulu mati di tanganmu, Rei!" sahut Cio sambil mengelus-elus perutnya yang terasa seperti kram. Pukulan Reiden sangat kuat, di tambah lagi posisinya sedang tidak siap. Jadilah Cio merasa kalau perutnya seperti tertusuk pedang yang sangat tajam. Memang sialan sahabatnya ini.
"Ck, tidak seru kau!"
"Tidak seru kepalamu,"
Cio berdecih jengkel. Dia kemudian memalingkan wajah ke arah lain, lalu tak sengaja melihat seorang suster cantik tengah mendorong kursi roda seorang pasien. Seketika Cio memekik kesenangan, dan hal itu membuat para sepupunya menghela nafas.
"Aku jadi heran apa di dalam otaknya Cio hanya tertanam tentang wanita cantik atau bagaimana. Dia selalu saja heboh setiap kali melihat seorang wanita cantik yang usianya jauh lebih tua darinya," ucap Karl sambil menatap kepergian Cio yang ingin menghampiri si suster cantik. Dia lalu menatap bergantian ke arah Andreas, pawangnya yang selalu mempunyai jawaban.
"Mungkin Cio mengalami penyimpangan tentang ketertarikannya terhadap lawan jenis," sahut Andreas sambil tersenyum kecil. "Biarkan saja. Selagi bukan istri orang, terserah dia mau melakukan apa. Kita semua cukup memantaunya saja dari jauh!"
__ADS_1
"Tapi kan dia ....
"Karl!"
"Ya?"
Karl langsung melihat ke arah sang kakak yang tiba-tiba memanggilnya. Dia yang sedang membicarakan Cio dengan Andreas seketika lupa saat mendapati sang kakak tengah menatapnya datar.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu, Kak?"
"Saat kita di sana kau mengatakan padaku untuk tetap tenang karena kau yang akan mengurus semua masalah ini. Lalu kenapa saat di depan Nenek Liona kau mengamuk seolah aku sengaja membiarkan Flowrence terluka dan tak ada niatan untuk membantumu? Apa maumu sebenarnya?" cecar Bern yang memang sudah merasa curiga sejak tadi.
Astaga, ternyata Kak Bern masih belum lupa dengan kekhilafanku. Bagaimana ini ya? Menjelaskan salah, tidak di jelaskan apalagi. Memangnya tadi Kak Bern tidak dengar ya saat Cio menanyaiku. Aneh.
"Kak, tadi kan aku sudah menjelaskan kalau itu terjadi karena aku khilaf. Oke aku salah, aku minta maaf. Tapi jujur, aku sama sekali tidak ada niat untuk menyalahkanmu atau apapun itu. Semuanya terjadi begitu saja. Tolong percayalah, ya?" ucap Karl berusaha keras meyakinkan kakaknya agar tidak menaruh curiga.
"Bern, aku tidak ingin membela siapapun di antara kalian. Tapi apa yang Karl katakan cukup masuk akal karena keadaan Flowrence tadi sangat mengkhawatirkan. Sebagai seorang kakak yang juga adalah saudara kembar, aku bisa memaklumi reaksinya Karl tadi. Jadi aku harap kalian jangan lagi memperpanjang masalah ini atau kita semua akan kena imbasnya. Lebih baik sekarang kita pikirkan bagaimana cara menghadapi kemarahan dari para orangtua kita. Aku yakin setelah Russel dan Flowrence keluar dari rumah sakit, kita semua pasti akan di sidang!" lerai Andreas tak membiarkan Karl dan Bern sampai salah paham.
"Aku setuju!" timpal Oliver. "Di bandingkan kalian semua, nasibku lah yang paling parah karena singa betina di rumahku sangat galak. Kalian tahu sendiri kan seperti apa sayangnya Ibuku pada Flowrence? Yakinlah. Jika setelah ini aku tidak muncul lagi di depan kalian, segeralah pergi ke pemakaman lalu cari batu nisan atas nama Oliver Dishi. Di sana aku bersemayam!"
Hening. Tak ada lagi yang berani bersuara setelah Oliver mengatakan tentang keganasan ibunya. Masing-masing dari mereka sebenarnya juga memikirkan hal yang sama, tapi dengan kadar hukuman yang berbeda.
Flowrence, kenapa kau begitu istimewa sekali sayang?
__ADS_1
*******