
Elea berjalan dengan sangat anggun saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam Group Ma. Siang ini dia berniat mengajak Gabrielle untuk makan bersama, Elea rindu menghabiskan waktu dengan suaminya yang tampan itu.
“Selamat siang, Nyonya Elea,” sapa beberapa karyawan yang baru saja keluar dari dalam lift.
“Selamat siang kembali,” sahut Elea ramah. “Apa kalian sudah makan siang?”
“Kami baru saja istirahat dan akan pergi ke kantin, Nyonya Elea. Terima kasih sudah begitu perhatian pada kami. Anda yang terbaik, Nyonya.”
Elea terkekeh saat para karyawan itu mengacungkan jempol ke arahnya. Dia memang tak pernah membangun jarak dengan orang-orang yang bekerja pada keluarganya, jadi sudah bukan hal yang baru lagi jika para karyawan perusahaan ini memperlakukan Elea layaknya teman sendiri. Namun masih dengan batasan wajar di mana mereka tidak menyentuhnya secara sembarangan. Biasalah, keposesifan Gabrielle terlalu menyeramkan untuk dilawan hingga membuat semua orang tak berani melanggar aturannya yang terkadang masih sedikit gila.
Sambil merapihkan pakaiannya, Elea masuk ke dalam lift khusus yang akan mengantarkannya ke ruangan Gabrielle. Dan alasan kenapa Elea tidak menaiki lift yang biasa, jawabannya adalah Gabrielle tidak mengizinkannya karena di sana ada sisa nafas dari pria lain. Walaupun sedikit tidak masuk akal, Elea tetap mematuhi aturan Gabrielle. Dia sama sekali tidak merasa risih, justru malah senang karena Gabrielle begitu menjaganya. Suaminya manis sekali bukan?
Ting
“Nyonya Elea, selamat datang,” sapa penjaga sambil menundukkan kepala.
Elea mengangguk. “Apa Kak Iel ada di dalam ruangannya?”
“Tuan Gabrielle ada di dalam, Nyonya. Beliau dan Tuan Ares sedang berbincang dengan tamu yang datang berkunjung.”
“Oh, begitu. Karena sedang ada tamu sebaiknya aku menunggu di luar saja,” ucap Elea tak ingin mengganggu pekerjaan Gabrielle. Dia lalu duduk di sofa yang tak jauh dari sana.
Sambil menunggu tamunya Gabrielle pulang, Elea memejamkan mata sambil memijit pinggiran kepalanya. Hari ini pekerjaan sedang lumayan banyak, dan hal itu cukup membuat energinya banyak terkuras. Entah karena kelelahan atau karena ada penglihatan baru, perlahan-lahan kesadaran Elea mulai menghilang. Dia lalu tersentak kaget begitu tersadar kalau dirinya lagi-lagi bersama orang misterius yang waktu itu mengajaknya datang ke tempat ini.
“Takdir mereka sudah hampir tiba. Kau berhati-hatilah, tajamkan mata dan telingamu agar kau tidak salah mengenali orang!” ucap si pria misterius sambil menatap lurus ke arah depan.
“Salah mengenali orang?” tanya Elea tak mengerti. “Maksudnya apa, Tuan?”
“Saat bayang-bayang itu muncul, akan terjadi banyak kesalahpahaman di kehidupan fana kalian. Mata yang seharusnya di anggap sebagai mata, akan berubah fungsi menjadi mulut ketika lidah mulai saling membelit. Hati-hati, dia sudah semakin dekat. Waspadalah!”
__ADS_1
Mulut Elea terkatup rapat saat orang misterius ini memintanya untuk waspada. Dan Elea tahu, sangat amat tahu kalau yang sedang dibicarakan oleh orang ini adalah Bern. Siapa lagi memangnya.
“Tuan, apakah akan ada takdir baik untuk putraku kelak? Di kehidupannya yang sekarang putraku telah menanggung sesuatu yang tak seharusnya dia tanggung, tapi bukankah Tuhan itu Maha Adil dan Maha Berkuasa? Tidak mungkin selamanya putraku hanya akan hidup dalam belenggu karma itu bukan?” tanya Elea memastikan.
Tak ada jawaban yang terdengar atas pertanyaan Elea. Hanya semilir angin dingin yang kala itu menyambut kegelisahan yang sedang Elea rasa. Rasa takut dan juga cemas bercampur aduk menjadi satu, yang mana membuat benak Elea kian diselimuti kecemasan yang begitu besar.
“Langit sudah menentukan nasib baik dan juga nasib buruk bagi setiap manusia. Kau tenang saja. Setelah hutang karma ini terselesaikan, putramu akan menemukan jalan sendiri untuk mencari kebahagiaannya. Akan tetapi ….
“Akan tetapi apa?”
Lagi-lagi taka da jawaban atas pertanyaan Elea. Merasa frustasi, Elea memberanikan diri untuk meneriaki seseorang yang sedang duduk di atas kuda. Orang ini, dari orang inilah sumber masalahnya datang.
“SIAPAPUN KAU TOLONG JANGAN RENGGUT KEBAHAGIAAN PUTRAKU. DIA TIDAK BERSALAH, TAPI KAULAH YANG BERSALAH. TOLONG IZINKAN PUTRAKU MENJALANI KEHIDUPAN LAYAKNYA MANUSIA YANG TERLAHIR DENGAN MEMBAWA TAKDIRNYA SENDIRI, JANGAN MEMPERBUDAKNYA DENGAN DALIH SEBAGAI PENEBUSAN DOSA ATAS SEMUA KEKEJAMAN YANG KAU LAKUKAN DI ZAMANMU. AKU TIDAK TAHU APAKAH KAU SEORANG WANITA ATAU BUKAN, TAPI SIAPAPUN KAU TOLONG LEPASKAN PUTRAKU. AKU MOHON!!”
Bammm
“Sayang? Kapan kau datang?”
Gabrielle buru-buru menghampiri Elea saat anak buahnya melapor kalau istrinya itu datang berkunjung. Dia yang kala itu tengah berbincang dengan beberapa tamu langsung pergi keluar karena tak mau membiarkan Elea menunggu sendirian.
“Kenapa tidak menjawab, hm? Kapan kau datang?” tanya Gabrielle sembari mengelus pipi Elea penuh perasaan. Dia lalu mencium keningnya lama, merasai betapa dia selalu merindukan wanita cantik ini.
“Aku belum lama sampai di sini, Kak. Karena penjaga bilang kau sedang ada tamu, jadi aku memutuskan untuk menunggu di luar saja,” jawab Elea seraya tersenyum manis. Dia lalu melihat ke arah ruang kerjanya Gabrielle. “Apa tamu-tamunya sudah pergi?”
“Belum,” jawab Gabrielle.
“Lalu kenapa kau keluar, Kak?”
“Karena aku merindukanmu.”
__ADS_1
Hati Elea langsung menghangat mendengar jawaban Gabrielle yang begitu jujur . Sambil mengelus pipinya Gabrielle, Eleapun mengutarakan maksud kedatangannya ke perusahaan ini.
“Kak Iel, aku datang kemari sebenarnya karena ingin mengajakmu makan siang bersama. Akan tetapi karena sekarang masih ada tamu, bagaimana kalau makan siangnya kita tunda saja. Rasanya akan sangat tidak sopan kalau kau meninggalkan para tamu hanya bersama Ares di dalam. Aku takut mereka akan menganggapmu sebagai pembisnis yang tidak professional!”
“Tamu-tamu itu tidak sepenting yang kau pikirkan, sayang. Sengaja aku menjadwalkan mereka sebagai tamu khusus agar tidak ada yang curiga,” sahut Gabrielle. “Mendekatlah. Aku akan memberitahumu siapa sebenarnya mereka itu!”
Dengan patuh Elea semakin mendekatka tubuhnya pada Gabrielle. Dia lalu mendengarkan dengan seksama tentang siapa tamu yang sedang berada di dalam ruangan suaminya itu.
“Mereka adalah orang-orang dari Grisi. Aku berniat menyewa beberapa dari mereka untuk melindungi Flowrence agar kejadian seperti kemarin tidak sampai terjadi lagi. Maaf jika aku membuat keputusan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu denganmu. Tolong kau jangan marah ya?” bisik Gabrielle.
“Haruskah kita melibatkan mereka, Kak? Bern anak adalah kita, aku tidak rela jika mereka sampai menyentuh ataupun menyakiti putraku,” tanya Elea lirih. Wajahnya menyendu, dia tentu tahu kalau orang-orang Grisi bukan orang sembarangan.
“Astaga, sayang. Kenapa kau bisa berpikiran begitu jauh tentang apa yang aku lakukan?”
Tak mau Elea salah paham, Gabrielle segera memeluknya dengan erat sambil dia menjelaskan tujuan dibalik rencananya. Dan Gabrielle tentu tidak segila itu membiarkan mereka menyakiti putranya sendiri. Gabrielle tentu sangat amat sadar kalau Bern adalah putra kandungnya. Bern bukan musuh yang harus dia singkirkan.
“Sayang, tujuanku memanggil mereka hanya untuk menjaga Flowrence saja. Jika nanti Bern benar-benar mempunyai niat untuk mencelai Flowrence, mereka bisa dengan cepat melindunginya. Kau jangan takut, aku sudah berpesan agar mereka tidak menyentuh putra kita. Dan aku janji Bern kita tidak akan tersakiti oleh siapapun. I’m promise,”
“Aku sangat menyayangi Bern, Kak. Aku tidak peduli apakah nantinya dia akan berubah menjadi seorang penjahat atau tidak, yang jelas aku akan tetap mencintainya. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya meski hanya seujung kuku. Kau bisa mengerti perasaanku bukan?”
“Tentu. Aku tentu sangat amat mengerti perasaanmu, sayang. Karena bukan hanya kau saja yang menyayangi Bern, tapi aku juga,” sahut Gabrielle perih. “Sudah ya. Lebih baik sekarang kita pergi makan siang saja. Em, kau ingin makan dimana?”
“Di kantin perusahaan ini saja, Kak. Aku ingin menghemat waktu agar nanti bisa sedikit lama bersamamu. Tidak apa-apa ‘kan?"
Gabrielle mengangguk. Sebelum melepaskan pelukan, Gabrielle menyempatkan diri untuk mereguk candunya terlebih dahulu. Baru setelahnya Gabrielle menggandeng tangan Elea dan mengajaknya pergi menuju kantin.
Apa yang sedang mengganggu pikiran Elea ya? Tidak biasanya dia seemosinal ini saat membahas Bern. Hmmm, ….
***
__ADS_1