
Tidak terasa jam pertama kuliah pun usai. Setelah melewati sesi perkenalan, Lusi dan Nania langsung fokus mengejar ketertinggalan. Mereka berdua berusaha dengan sangat keras untuk memahami bahasan-bahasan yang sudah di pelajari lebih dulu oleh para mahasiswa lainnya.
"Huftt, ternyata seperti ini ya rasanya menjadi seorang mahasiswa," ucap Elea sambil meregangkan otot bahunya. "Lelah, tapi juga sangat menyenangkan."
"Iya, Elea. Cukup melelahkan tapi hati terasa sangat senang. Kita benar-benar beruntung bisa merasakan seperti apa namanya bangku kuliah," sahut Lusi ikut meregangkan otot di tubuhnya.
Jika Lusi dan Elea begitu menikmati sesi pelajaran di kelas pertama mereka, lain halnya dengan apa yang tengah di rasakan oleh Kak Ning dan Safira. Kedua guru ini keluar kelas dengan raut wajah yang begitu tegang. Jika Kak Ning tegang setelah di tegur oleh cucunya Nyonya Clarissa Wu, maka Safira merasa tegang karena frustasi. Ya, dia hampir gila karena kelakuan Elea yang lagi-lagi mampu memahami pelajaran dengan cepat meski sudah tertinggal selama satu bulan lebih. Hal ini sebenarnya sudah Safira perkirakan sejak dirinya di minta untuk menjadi guru pembimbing khusus untuk Nyonya Ma. Namun meski sudah melakukan persiapan, Safira tetap saja kaget dengan kemampuan yang di miliki oleh Elea. Dia sampai bingung sendiri harus membagi ilmu apalagi pada gadis jenius tersebut.
"Safira, apa sebelumnya kau sudah tahu identitasnya Elea?" tanya Kak Ning resah. "Entah kenapa aku merasa kalau gadis itu masih menyembunyikan rahasia yang jauh lebih besar lagi. Jika kau tahu, tolong beritahu aku ya. Aku ... aku takut salah bicara lagi."
Ya, Kak Ning. Elea memang masih menyimpan satu rahasia yang sangat besar tentang identitasnya. Tapi aku tidak akan pernah memberitahumu karena aku masih sayang dengan nyawaku. Batin Safira.
"Dari awal kan aku sudah bilang padamu untuk tidak bersikap semena-mena pada mereka. Sekarang kau kena batunya kan," jawab Safira pelan.
"Iya, aku tahu. Tapi siapalah orang yang akan mengira kalau gadis sederhana dan sepolos Elea ternyata berasal dari keluarga bangsawan. Semua orang pasti akan beranggapan hal yang sama sepertiku!" sahut Kak Ning masih tak mau mengaku salah.
"Itu menurutmu, Kak Ning. Tapi tidak jika menurutku. Dari awal aku bertemu dengan Elea, aku langsung bisa merasakan aura tak biasa di wajahnya. Beruntung tadi kau bukan mengajar Elea. Jika iya, kau pasti akan kembali terkejut melihat kemampuannya. Kau tahu tidak kalau dulu aku pernah menyerah saat menjadi guru lesnya?"
Kak Ning menggeleng. Dia kemudian mengajak Safira untuk duduk sebelum masuk ke kantor. Kak Ning sangat penasaran siapa sebenarnya gadis bernama Elea itu.
Safira dengan sabar menceritakan seperti apa perjuangan yang dia lakukan ketika masih menjadi guru lesnya Elea. Dia mengungkapkan betapa dulu sangat frustasi setiap kali membaca PR yang di kerjakan oleh istri dari pemilik Group Ma yang tidak memiliki kesalahan sama sekali. Saking bingungnya Safira, dia bahkan sampai bertanya langsung pada Tuan Muda Gabrielle untuk memastikan apakah benar itu adalah hasil pekerjaan Elea sendiri atau ada campur tangan orang lain. Dan jawaban dari sang Tuan Muda membuat Safira merasa seperti gagal sebagai lulusan terbaik dari luar negeri. Kepintarannya di kalahkan dengan telak oleh seorang gadis belasan tahun yang sudah lama tidak mengenyam bangku pendidikan.
Di saat Safira sedang asik mengobrol dengan Kak Ning, di kantin kampus terjadi kegaduhan. Para kakak senior tengah meminta uang pajak dari para junior yang sedang makan di sana. Lusi dan Elea yang saat itu menjadi salah satu korban palakan nampak tenang-tenang saja ketika geng rambut api ini menggebrak meja dengan sangat kuat.
"Hei kalian berdua. Kalian pasti anak baru yang sedang menjadi buah bibir para mahasiswa lain kan?" tanya Lolly, ketua geng pemalak.
"Iya, benar Kak," sahut Elea jujur.
__ADS_1
Lusi tersenyum. Dia suka sekali melihat gaya Elea yang masih bisa berkata jujur ketika ada ancaman dari singa betina.
"Kalau begitu beri kami semua uang yang kau punya!" palak Lolly sambil menyodorkan tangan ke arah si murid baru.
"Oke!"
Dengan santainya Elea mengeluarkan semua uang yang ada di dalam tasnya. Pertama-tama dia menyusun uang pemberian kakaknya. Setelah itu dia kembali menyusun uang pemberian suaminya. Lalu setelahnya lagi Elea menata belasan blackcard yang selama ini dengan susah payah dia kumpulkan.
"Sudah, Kak. Ini semua uang yang aku bawa. Sebenarnya di rumah masih banyak, tapi aku lupa dimana menyimpannya. Kalau Kakak mau, besok aku akan meminta sopir untuk membantuku membawanya ke kampus. Bagaimana?" tanya Elea sambil mengerjapkan mata ke arah Lolly.
Glukkk
Suasana kampus yang tadinya ramai mendadak sunyi saat si murid baru menyusun bertumpuk-tumpuk uang di atas meja. Berbagai macam ekspresi muncul di wajah para mahasiswa yang tidak bisa berhenti menelan ludah ketika melihat banyaknya black card yang tersusun rapi di sana. Bahkan para senior yang tadi memalak Lusi dan Elea mematung dengan mulut ternganga lebar. Mungkin mereka sangat syok karena telah salah memalak orang.
"Lho, kenapa diam saja, Kak? Ayo ambil!" desak Elea dengan sengaja menekan mental para pemalak ini.
"Aku Elea, anak dari jurusan desain. Dan ini Kak Lusi, dia sahabatku," jawab Elea polos. "Ngomong-ngomong, casino itu apa Kak? Apakah itu sejenis makanan atau ...
"Hah!!!! Jangan bilang kau tidak tahu casino itu apa. Ya Tuhan, bagaimana mungkin masih ada orang purba yang hidup di zaman modern begini sih. Kau tinggal dimana selama ini, hah!" ejek Lolly kemudian tertawa bersama teman-temannya.
"Aku tinggal di istana megah bersama seorang pangeran yang sangat tampan," jawab Elea sambil membayangkan wajah suaminya yang memang sangat luar biasa tampan.
"Oh ya? Lalu apa di rumahmu ada seekor kuda putih yang biasa di pakai oleh pangeranmu?" tanya Lolly penuh nada mengejek.
"Em, untuk sekarang belum ada, Kak. Tapi nanti aku akan membelinya. Kakak bisa lihat sendiri kan kalau uangku sangat banyak. Bahkan dengan uang-uang ini aku bisa membuat Kakak tidak berani menampakan wajah di kampus ini lagi!"
Elea langsung menatap datar ke arah Lolly yang sudah sangat kelewatan memeras para mahasiswa miskin yang sedang menuntut ilmu di universitas ini. Melihat ketidakadilan yang terjadi membuat jiwa seorang hakim di diri Elea mencuat.
__ADS_1
"K-kau, berani-beraninya kau!" amuk Lolly kemudian mengangkat tangan hendak menampar wajah si murid baru.
Melihat Elea dalam bahaya, Lusi segera mengambil tindakan. Dia dengan cepat mendorong tubuh Lolly hingga membuatnya jatuh terduduk ke lantai.
"Maaf, Kak. Apa yang ingin kau lakukan sudah masuk ke dalam pasal kekerasan. Dengan semua saksi mata dan bukti rekaman CCTV yang ada di kantin ini aku bisa menuntut pihak kampus untuk memberikan sanksi tegas pada kalian. Jadi mohon kerjasamanya untuk tidak mengganggu kami dan juga para mahasiswa junior yang ada di kampus ini!" ucap Lusi tegas, padat, dan jelas.
Lolly dan teman-temannya akhirnya pergi dari kantin setelah mendapat sorakan mengejek dari para mahasiswa yang tadi dia palak. Mereka tidak mengira akan di permalukan oleh adik kelas dan juga murid baru yang ternyata adalah anak Sultan.
"Kak Lusi, gayamu keren sekali!" puji Elea sambil bertepuk tangan.
"Gayamu tadi juga sangat keren, Elea. Aku suka!" sahut Lusi balas memuji.
"Oh, tentu saja. Aku sudah mempelajari adegan tadi dari film-film di drama. Kalau aslinya aku mana mungkin berani melawan kakak senior, Kak. Tadi itu aku hanya mencontoh peran seorang aktor favoritku saja."
Lusi menelan ludah. Untung saja geng rambut api itu sudah tidak ada di sini. Jika tidak, Lusi sangat yakin Elea pasti akan menjadi bulan-bulanan mereka.
Kau selalu saja membuat orang lain kaget, Elea. Menonton di drama? Astaga, aku bahkan tidak pernah berpikir ke arah sana, batin Lusi.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1