Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mobil Pembawa Petaka


__ADS_3

"Russell, kau mau kemana?" tanya Karl sambil menahan bahu saudaranya yang terlihat begitu buru-buru saat keluar dari kelas. Dia sampai terheran-heran melihatnya.


"Perasaanku tidak nyaman sejak tadi, Karl. Aku mengkhawatirkan Flowrence," jawab Russell jujur. "Sebenarnya aku sudah ingin membolos sehabis istirahat tadi, tapi kau dan yang lainnya malah sibuk membahas strategi. Jadi mau tidak mau aku memilih untuk mengikuti kalian dengan tetap berada di sekolah!"


"Dasar bodoh. Kenapa tidak bilang dari tadi. Awas saja ya jika adikku sampai kenapa-napa, kau adalah orang pertama yang akan aku serahkan pada Tora!"


Sebelah alis Russell terangkat ke atas. Dia merasa konyol akan ancaman yang baru saja dilontarkan oleh Karl. "Memangnya Tora berani menggigitku? Dia kan takut pada Ibuku, kau yakin ingin mengumpankan aku padanya, hem?"


"Haisshhh, sialan. Aku hampir lupa kalau Bibi Kayo hampir sama galaknya dengan Tora!" sahut Karl sambil menggaruk keningnya.


Karl sedikit melupakan fakta tentang kebringasan wanita yang telah bertahun-tahun mendapat gelar sebagai saudara kembar dari neneknya. Jika di ibaratkan, Bibi Kayo adalah indung semang dari semua binatang yang ada di rumahnya maupun di rumah sang nenek. Tora, Lan, Cuwee, dan juga cicit-cicitnya Sully cukup enggan jika berurusan dengan ibunya Russell karena wanita dingin itu mampu membungkam para binatang tersebut hanya dengan cara menatapnya saja. Tak jarang Karl merasa iba akan nasib hewan peliharaan keluarganya jika Bibi Kayo sudah memasang tampang datarnya yang sangat mirip dengan ratu vampir. Haihh.


"Kau ingin pergi bersamaku atau mau menunggu yang lain keluar dari kelas, Karl?" tanya Russell tak sabar.


"Ck, tentu saja aku harus ikut pergi denganmu, Russ. Nyawa adikku sedang di pertaruhkan. Walaupun dia sedikit menyebalkan, aku tetap tidak rela jika ada orang lain yang menyakitinya!" jawab Karl dengan pasti.


"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo cepat masuk ke mobilku!"


Karl mengangguk. Segera dia menyusul Russell masuk ke dalam mobilnya kemudian menghubungi Bern. Entah mengapa Karl merasa kalau saat ini adiknya benar-benar sedang berada dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan dari kedua saudara kembarnya.


"Halo Karl, ada apa? Kenapa kau menelponku?" tanya Bern dari dalam telepon.

__ADS_1


"Kak, sekarang aku dan Russell sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya Flowrence. Kami berdua merasa kalau Flowrence sedang tidak baik-baik saja, jadi memutuskan untuk pergi lebih dulu tanpa kalian semua. Sekarang bisakah kau dan yang lainnya pergi menyusul kami?" jawab Karl. "Kita bertiga terikat hubungan batin yang sangat kuat, Kak. Dan aku merasa kalau Flowrence sedang membutuhkan kita. Tolong datang ya. Segera!"


Klik. Panggilan langsung di putuskan oleh Bern setelah Karl memberitahunya kalau dia dan Russell sedang dalam perjalanan menuju sekolah adik mereka. Sebenarnya sekarang ini belum waktunya untuk mereka pulang, tapi Karl memutuskan untuk ikut membolos bersama Russell karena hatinya mendadak terasa tidak tenang. Biarlah jika nanti dia akan menerima hukuman berat dari ibunya karena ketahuan membolos. Karena paling-paling Karl dan kakaknya hanya akan menerima sebuah jeweran saja. Berbeda jika sang ayah yang sampai turun tangan. Bisa-bisa Karl dan kakaknya di gantung terbalik semalaman suntuk sampai mereka benar-benar merasa jera.


"Russel, kenapa mobilmu lambat sekali!" kesal Karl gelisah.


"Bukan mobilku yang lambat, tapi otakmu saja yang kecepatan berpikir. Sudah tahu jarak antara sekolah kita dengan sekolahnya Flow sangat jauh, sudah pasti kita tidak akan bisa sampai secepat itu. Dasar bodoh!" sahut Russel ikut merasa kesal.


"Tahu begini tadi kita naik mobilku saja, Russ!"


"Sama saja. Kau lupa kalau mobil kita satu merk?"


"Cihhh, menyebalkan!"


"Huh!"


Russel fokus mengendarai mobil begitu Karl benar-benar menutup mulutnya. Pikirannya kalut, semakin merasa cemas setelah mendengar perkataan Karl yang menyebutkan kalau Flowrence sedang tidak baik-baik saja. Aneh, sebenarnya posisi ini sangatlah aneh. Bagaimana tidak! Yang seharusnya bereaksi khawatir seperti ini adalah Oliver, bukannya Russel. Akan tetapi rasa tak lazim yang dimiliki oleh Russel membuatnya jadi mengkhawatirkan Flowrence secara berlebihan. Russel sungguh tidak paham mengapa dirinya bisa secinta ini pada saudarinya sendiri walaupun dia tahu kalau rasa cinta yang dia miliki tidak akan pernah mungkin terwujud.


Umurku masih belum genap lima belas tahun, tapi kenapa aku bisa merasakan rasa yang begitu besar pada seorang gadis? Tidakkah ini adalah sebuah kutukan, Tuhan? Menyedihkan sekali.


Tak lama kemudian sampailah Karl dan Russell di sekolah Flowrence. Namun mereka berdua menjadi sangat kaget begitu tahu kalau sekolah ini telah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Panik, keduanya pun segera memutuskan untuk menelpon Andreas.

__ADS_1


"Halo, Yas. Flowrence sudah pulang sejak tadi, dan kami tidak melihatnya di mana-mana. Apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Karl sambil menelan ludah. Bayangan yang tidak-tidak mengenai adiknya langsung membayang jelas di dalam matanya.


"Tidak apa-apa. Saat ini Flowrence sedang bermain dengan salah satu temannya di jalanan menuju taman kota. Tapi Karl, seingatku jalanan di sana ada turunan yang cukup tajam di mana di ujung turunan tersebut ada sebuah jurang yang lumayan terjal. Sekarang aku dan yang lainnya sedang menuju ke sana lewat jalan lain, kau dan Russell cepatlah datang karena posisi kalian jauh lebih dekat ketimbang kami. Cepatlah!"


Tanpa babibu lagi Russell dan Karl bergegas pergi menuju tempat yang di maksud oleh Andreas. Wajah keduanya terlihat tegang dengan keringat mulai bermunculan di kening masing-masing meski suhu di dalam mobil sudah lumayan dingin.


"Sial! Aku tidak bisa fokus!" umpat Russell jengkel karena tangannya seakan menjadi lemah dan tak kuat untuk sekedar menekan klakson mobil.


"Russ, biar aku saja yang mengemudi. Aku itu ingin menyelamatkan Flowrence, jadi aku belum ingin mati gara-gara kecerobohanmu!" omel Karl. Dia lalu meminta Russell untuk menghentikan mobil. "Hei, kita ini belum memiliki SIM. Apa tidak apa-apa jika ada polisi yang sampai menilang kita berdua?"


"Ck, bukannya berpikir bagaimana cara supaya kita bisa segera sampai di sana, kenapa kau malah sibuk memikirkan tentang polisi? Aku memang sengaja mengelabui sopirku supaya bisa mengendarai mobil ini. Paham kau!"


Karl mencebik. Segera setelah dia duduk di kursi kemudi, Karl langsung unjuk kebolehannya dalam mengendarai mobil. Tinggal di keluarga yang berpengaruh seperti keluarganya memang mengharuskan Karl dan juga kakaknya mahir hampir di semua hal. Termasuk dalam hal mengemudi. Namun selama mereka belum mendapat izin mengemudi dari pemerintah, mereka sebenarnya belum di izinkan untuk membawa mobil sendiri. Akan tetapi sepertinya hari ini adalah pengecualian. Dan ... Karl pun sangat menyukainya.


"Di depan ada pertigaan. Kau pilihlah yang ke arah kanan. Hati-hati, jalanan di sana banyak turunan tajam, kurangi kecepatannya!" ucap Russell membacakan situasi dari tempat yang sedang di tuju.


"Ck, sebenarnya siapa sih yang sudah lancang membawa Flowrence ke tempat berbahaya seperti ini. Apa dia tidak tahu kalau menangisnya Flowrence bisa membawa bencana bagi banyak orang. Merepotkan saja!" keluh Karl ketika mulai melewati jalanan menurun dengan pohon-pohon tinggi di sisi kanan dan kiri jalan.


"Jangan mengomel, fokus ke jalan dulu. Masalah siapa orang yang telah membawa Flowrence kemari, kita urus nanti saja. Yang terpenting sekarang kita bisa segera sampai di sana kemudian membawa Flowrence pulang dengan selamat!"


"Oke!"

__ADS_1


Tak ada lagi percakapan ataupun keluhan yang terdengar di dalam mobil saat Karl dan Russell melihat ada beberapa mobil hitam berjejer hampir di setiap lima meter menuju lokasi tempat Flowrence berada. Mereka berdua kemudian sedikit memelankan laju mobil ketika ada sebuah mobil lain yang ingin melintas di belakang mereka. Dan sayangnya, baik Karl maupun Russell, mereka tidak ada yang menyadari kalau mobil tersebut adalah mobil yang akan membawa petaka di hidup banyak orang.


*******


__ADS_2