
Saat sore menjelang, Elea meminta izin pada Gabrielle untuk pulang terlebih dahulu karena ingin menjenguk sang nenek. Dan izin itupun berhasil Elea dapatkan setelah suaminya menanam saham untuk si calon tiga kurcaci yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kemunculannya.
"Tidak apa-apa, sayang. Mungkin Tuhan masih belum selesai membuat kupingnya Flow. Secara, dia kan satu-satunya perempuan di antara Bern dan Karl. Wajarlah jika Tuhan memakan sedikit waktu lebih lama untuk memprosesnya. Kau tahu sendiri bukan kalau perempuan itu adalah makhluk yang paling detail, apalagi soal penampilan. Jadi kita bersabar saja ya. Jangan sedih, aku yakin sebentar lagi mereka pasti akan segera tumbuh di dalam rahimmu."
Kurang lebih seperti inilah bentuk penghiburan yang Elea dapat dari suaminya. Agak ambigu memang, tapi kata-kata tersebut bisa di terima dengan sangat baik oleh Elea.
Selama dalam perjalanan menuju kediaman orangtuanya, Elea tak berhenti tersenyum malu membayangkan proses penanaman saham yang baru saja terjadi. Indah, juga selalu meninggalkan kesan yang sangat membekas di hatinya. Suaminya yang kaya itu selalu memperlakukan Elea dengan penuh perhatian setiap kali mereka selesai bercinta. Elea kemudian terpikir tentang apakah dokter Reinhard melakukan hal yang sama atau tidak pada Levita. Jika tidak, itu tandanya ada bahan lain yang bisa Elea gunakan untuk mengompor-ngompori pelakor itu.
"Nyonya Elea, kita sudah sampai."
"Ha? Sudah sampai? Cepat sekali," sahut Elea kaget. Dia kemudian menurunkan kaca jendela mobil sebelum akhirnya melongok keluar. "Wahhh benar, kita sudah sampai ternyata. Kau hebat, Paman. Kita seperti terbang di angkasa karena aku sama sekali tak merasakan guncangan apapun saat Paman mengendarai mobil. Keren!"
Penjaga yang sedang duduk di kursi kemudi hanya ternganga kaget mendengar ucapan Nyonyanya. Yang benar saja mobil yang mereka naiki terbang di angkasa, astaga. Di pikir dengan akal sehat pun rasanya sangat amat mustahil. Tapi ya sudahlah, ini adalah Nyonya Elea. Wanita mungil dengan segala keanehan yang bisa membuat siapapun yang memberontak akan kejatuhan sial. Tak ingin menjadi korban, penjaga tersebut buru-buru keluar untuk membukakan pintu mobil. Dia dengan cepat berbalik badan begitu melihat kaki mulus putih bersih terjulur memijak bumi.
Hufftt, untung Tuan Muda Gabrielle sedang tidak ada di sini. Bisa hilang kedua biji mataku jika beliau tahu aku tidak sengaja melihat aset kesayangannya. Selamat-selamat.
Setelah keluar dari dalam mobil, Elea bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lupa tadi dia mengucapkan terima kasih kepada paman penjaga yang telah mengantarkannya kemari.
"Halo sayang," sapa Yura sambil berjalan menghampiri putrinya. Segera dia datang memeluk seraya mencium pipi Elea yang entah kenapa terlihat sedikit lebih berisi. "Apa kabar, hm? Mana Gabrielle?"
"Baik, Ibu. Kalau Kak Iel sekarang dia sedang sibuk mencari uang," jawab Elea. "Oh ya, mana Kak Cia dan baby Cio? Mereka tidak di bawa kabur oleh Paman Junio kan?"
"Tidak. Baby Cio ada di dalam kamarnya, sedang di gantikan baju karena baru selesai mandi."
__ADS_1
Elea mengangguk mengerti. Setelah itu dia berpamitan pada ibunya untuk pergi mengunjungi neneknya terlebih dahulu. Namun, sesaat sebelum Elea membuka pintu kamar, dia dibuat tertegun oleh sebuah gambaran yang baru saja lewat di matanya. Seketika kakinya terasa lemas.
"Tidak apa-apa, Elea. Tenang. Oke?"
Sambil menarik nafas panjang, Elea memutar knop pintu dengan sangat hati-hati. Dia tersenyum kecil begitu melihat pemandangan indah yang akan selalu dia lihat setiap kali masuk ke kamar ini. Ya, di dekat ranjang ada Cira yang dengan begitu setia membacakan buku-buku untuk neneknya. Meski dalam kondisi hamil, Cira tetap menyempatkan diri untuk menemani sang nenek di kamar ini. Ternyata benar apa yang di katakan oleh orang kalau tidak semua anak angkat akan bersikap dingin pada orangtua angkat mereka. Buktinya Cira. Bahkan wanita hamil ini memperlakukan neneknya bak ibu kandungnya sendiri. Elea sungguh beryukur karena neneknya di jaga oleh orang yang tepat. Dia bahagia melihat hal ini.
"Oh, Elea. Kapan kau datang?" tanya Cira sedikit kaget ketika menyadari ada orang lain yang masu ke kamar ini.
"Baru saja, Kak," jawab Elea.
"Kenapa aku bisa tidak mendengar pintu yang terbuka ya?"
"Tadi aku masuk dengan cara menembus dinding. Jadi mana mungkin Kak Cira mendengar suara pintu yang terbuka."
"Grandma, apa kabar?"
Tak ada sahutan. Elea yang melihat hal itupun hanya bisa tersenyum kecut. Dia lalu menggenggam tangan tua sang nenek kemudian menciumnya penuh sayang. Mungkin jika tidak mengingat perkataan suaminya yang memberinya kekuatan secara ghaib, saat ini Elea pasti sudah menangis meraung-raung setelah melihat gambaran yang muncul sebelum dia masuk kemari. Hatinya sakit sekali.
"Grandma, apa Grandma sudah sangat bahagia bersama Mama dan Kakek Karim di sana? Jika memang benar begitu, aku mohon tunggulah sebentar lagi, Grandma. Jangan pergi sebelum aku memberikan kenangan indah untukmu dan juga untuk Mama dan Kakek Karim. Aku sangat mencintai kalian semua. Tolong bertahan demi aku ya, Grandma," ucap Elea lirih.
Cira yang tanggap kalau Elea sedang bersedih pun segera datang mendekat. Dengan penuh perhatian dia mengelus punggungnya, mencoba menyalurkan ketenangan agar perempuan mungil ini jangan sampai menangis.
"Mama Clarissa pasti akan baik-baik saja, Elea. Jangan khawatir ya, aku yakin dia pasti sembuh," hibur Cira seraya menahan kekecutan di dalam hatinya. Dia pesimis, tapi tetap berharap kalau takdir akan membuat ibu angkatnya kembali membuka mata seperti dulu.
__ADS_1
"Kak Cira, semua yang hidup suatu saat pasti akan mati. Jika seandainya Tuhan tidak mengizinkan Grandma untuk kembali lagi bersama kita, apa yang akan kau lakukan?" tanya Elea penuh maksud.
"Menangis. Karena kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidup kita adalah sesuatu yang sangat amat menyakitkan, Elea. Mama Clarissa adalah hidupku, mungkin aku akan gila jika Mama benar-benar pergi meninggalkan aku," jawab Cira dengan tatapan sendu. Setelah itu dia melihat ke arah wanita yang tengah terjebak dalam mimpi indahnya.
Elea terdiam. Akan ada banyak air mata jika gambaran itu datang menghampiri. Namun apa daya, takdir mati dan hidup sang nenek bukan Elea yang menentukan. Dia hanyalah manusia biasa yang kebetulan di pilih Tuhan untuk menerima berkatnya yang sangat luar biasa ini. Akan tetapi apa yang tadi dia lihat tidak mungkin Elea ceritakan pada Cira. Yang ada nanti wanita ini malah jatuh pingsan jika tahu kalau neneknya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.
"Kak Cira, apa kau tidak mengidam lagi?" tanya Elea mencari celah pembicaraan yang lain. Matanya terasa sangat panas karena menahan sesak dan juga tangis sejak dia melihat hal mengerikan itu.
"Em, untuk hari ini belum, Elea. Kenapa memangnya?" jawab Cira.
"Kalau bisa mengidamlah sesuatu yang bisa membuat Ares merasa sangat repot, Kak. Aku suka lho melihatnya kalang kabut mencari apa yang Kakak inginkan. Hehehe."
Cira tertawa mendengar perkataan Elea. Memang benar kalau beberapa waktu lalu Cira sempat mengidamkan sesuatu yang cukup aneh. Entah kenapa dia tiba-tiba sangat ingin mengelus dagu suaminya detik itu juga. Padahal saat itu Ares sedang berada di perusahaan. Sebenarnya Cira kasihan dan merasa tidak enak pada Gabrielle. Akan tetapi bayi di dalam perutnya benar-benar tidak bisa di ajak berkompromi. Alhasil, detik itu juga Ares akhirnya pulang ke rumah dan tak kembali lagi ke perusahaan. Untung saja suaminya itu mempunyai bos yang baik hati. Jika tidak, suaminya pasti terancam di pecat karena sudah membolos di jam kerja.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...