Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Demi Keluarga


__ADS_3

Greg menarik nafas panjang begitu mendengar laporan penjaga yang menyebut kalau Gabrielle sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Dia sudah bisa membayangkan betapa mengerikannya amukan Gabrielle pada orang yang telah membuat Elea masuk ke ruang operasi. Benar-benar to lol. Entah apa yang di pikirkan oleh orang ini sampai nekad menyerang istri dari pria yang bisa begitu rapi menyembunyikan sisi gelapnya. Gabrielle, selama ini mungkin putranya hanya di kenal sebagai sosok yang dingin dan kelewat bucin pada istrinya. Namun di balik sikapnya itu tersimpan sisi gelap yang bahkan tidak dimiliki oleh Grizelle. Gabrielle Shaquille Ma, dia adalah titisan Liona yang sebenarnya. Hanya saja Gabrielle tak suka menampakkan sisi yang ini karena dia tak mau di hantui rasa bersalah dari orang yang telah di lenyapkannya. Gabrielle memilih terlihat lemah, bahkan di hadapan adiknya sendiri.


"Tuan Greg, apa yang harus kami lakukan saat Tuan Muda sampai di rumah?" tanya Hansen. Dia sedikit cemas membayangkan kengerian yang akan segera terjadi.


"Aku bingung, Hansen. Hanya Liona yang bisa menjinakkannya ketika Gabrielle benar-benar sedang gila. Akan tetapi sekarang Liona berada di rumah sakit, kita tidak punya pawang yang kuat untuk menghadapi kemarahannya," jawab Greg pasrah. "Nanti terserah dia ingin melakukan apa pada orang itu. Lebih baik kita jangan menghalangi, takutnya nanti malah kita yang terkena imbasnya!"


"Tapi, Tuan. Sebelum masuk ke ruang operasi Nyonya Elea sempat berpesan pada Nyonya Liona agar menghentikan Tuan Muda membunuh orang itu. Beliau tidak ingin anak-anaknya mempunyai ayah seorang pembunuh. Jadi semarah apapun Tuan Muda nanti, kita harus bisa memastikan bajingan itu tetap hidup atau nanti kita malah akan berhadapan dengan Nyonya Liona. Saya tidak berani, Tuan!" sahut Hansen.


"Haaaahhhh, sial! Kenapa juga sih orang itu harus membuat menantuku celaka. Sekarang semua orang jadi berada dalam pilihan yang sulit dan juga terancam menghadapi kemarahan Gabrielle. Para penjaga yang tadi ikut ke rumah sakit, Nun, Reinhard, Jackson. Mereka semua pasti akan di hajat satu-persatu oleh Gabrielle. Membuat repot saja. Huh!" keluh Greg sambil berkacak pinggang.


Tak lama kemudian masuklah sebuah mobil yang mana langsung membuat situasi menjadi sangat tegang. Bahkan Lan dan Tora yang ketika itu sedang bermain bola dengan orang yang telah membuat kesayangan mereka celaka langsung diam dan duduk mengapit bola yang tadi dia mainkan. Semuanya takut akan aura gelap yang di bawa oleh seseorang yang kini tengah berjalan cepat menuju ....


"Kau ternyata!" ucap Gabrielle tak percaya begitu dia melihat rupa dari orang yang telah membuat Elea masuk ke ruang operasi.


Ares memejamkan mata sembari menarik nafas dalam. Dia dalam masalah besar sekarang. Rupanya orang yang telah membuat sang nyonya dan ketiga pewaris keluarga Ma celaka adalah mantan direktur keuangan Group Ma yang baru kemarin di pecat. Ini mengerikan.


"T-Tuan Muda, t-tolong m-maafkan saya. S-saya ....


Buuggggg duaaagggg


Dengan kuat Gabrielle menendang dagu dari mantan direktur keuangan di perusahaannya yang dengan begitu mudah meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya pada Elea dan ketiga calon anaknya. Andai saja Gabrielle tahu kalau dengan membiarkan sampah ini tetap hidup akan mendatangkan bahaya untuk keluarga kecilnya, sudah dari kemarin dia membunuhnya saja. Sungguh sialan.

__ADS_1


"Kau harusnya bersyukur karena kemarin aku tidak langsung mengirimmu pergi ke penjara dan membuatmu mati membusuk di sana. Namun lihatlah kelakukanmu sekarang. Berani-beraninya ya kau menyerang istri dan anak-anakku. Kau sudah gila ya, hah!" teriak Gabrielle sembari mencekik leher mantan bawahannya yang telah menjadi penyebab masuknya Elea ke ruang operasi. Mata Gabrielle menggelap, satu yang ada di pikirannya sekarang. Bajingan ini harus mati.


"M-maafkan s-saya, T-Tuan Muda. S-saya khilaf, saya frustasi. Se-setelah di pecat s-saya di tinggal pergi o-oleh anak dan istri s-saya. Lalu s-saya tidak sengaja me-melihat Nyonya E-Elea keluar d-dari dalam mobil. La-lalu ... lalu ....


Krrraaaaakkk


"Aaaarrrrrrggghhggggggg!"


Secepat kilat Greg, Ares, dan juga Hansen menahan Gabrielle yang baru saja mematahkan satu jari tangan si mantan direktur tersebut. Gabrielle yang tidak tahu kalau dirinya akan di tahan seperti itu langsung memberontak dengan sangat kuat. Saking kuatnya dia sampai tidak sengaja memukul pipi sang ayah hingga membuat ujung bibirnya robek dan mengeluarkan sedikit darah.


"Jangan pedulikan aku. Tahan, kita tidak boleh lengah!" perintah Greg ketika Hansen dan Ares menatapnya penuh rasa khawatir.


Jangan di tanya bagaimana kondisi mental si mantan direktur tersebut. Sungguh, awalnya dia sama sekali tak berniat menyerang Nyonya Elea. Akan tetapi ketika melihatnya keluar dari dalam mobil dengan kondisi perut yang besar, tiba-tiba saja benaknya diliputi perasaan dendam. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung tancap gas hendak menabraknya. Namun ketika jarak sudah begitu dekat dia baru tahu kalau orang yang ingin dia tabrak bukanlah istri dari Tuan Muda Gabrielle, melainkan orang lain yang memang mempunyai hubungan dekat dengan mantan atasannya itu. Tak mau salah sasaran, dia membanting stir mobil ke samping dengan harapan bisa mencegah kecelakaan itu agar tidak terjadi. Akan tetapi sayang, niatnya yang ingin menghindari musibah malah membuatnya benar-benar menabrak istri dari mantan atasannya sendiri. Siapa yang akan menyangka kalau wanita itu ternyata menarik tangan seseorang dari dalam mobil yang mana membuatnya tidak sengaja menabrak orang tersebut hingga membuatnya terlempar menabrak kendaraan lain yang sedang terparkir di sana.


"T-tolong ampuni saya, Tuan Muda. S-saya benar-benar khilaf, saya sudah berusaha menghindari kecelakaan itu agar tidak terjadi. T-tapi, Nona Levita tiba-tiba menarik tangan Nyonya Elea keluar dari dalam mobil juga. Dan, dan saya ... saya ....


Mendengar bajingan ini malah menyalahkan Levita, emosi Gabrielle semakin melonjak naik. Sekuat tenaga dia menghempas ketiga orang yang tengah memeganginya kemudian merebut pistol dari tangan penjaga.


"Elea akan membencimu sampai mati kalau kau membunuh bajingan itu, Gabrielle. Dia sudah berpesan pada Ibumu sebelum masuk ke dalam ruang operasi!" teriak Greg. "Demi keluargamu, Gab. Ayah mohon biarkan dia tetap hidup. Elea tidak mau anak-anak kalian mempunyai ayah yang seorang pembunuh. Tolong biarkan dia tetap hidup ya?"


Doooorrrr

__ADS_1


Satu buah peluru akhirnya bersarang di paha mantan bawahan Gabrielle yang mana langsung membuatnya berteriak kesakitan. Perkataan sang ayah ternyata mampu meredam emosi Gabrielle yang kala itu sudah tidak bisa di tahan lagi. Bayangan wajah Elea yang kecewa padanya membuat Gabrielle berhasil meredam amarah yang ada. Dia memang sangat marah, tapi rasa sayangnya pada Elea jauh lebih besar dan Gabrielle tak ingin membuatnya merasa kecewa. Dia luluh dalam kondisi hati yang hancur lebur.


"Seret dan obati lukanya. Dan jangan biarkan dia mati!" perintah Greg pada Hansen. "Satu lagi. Jangan sentuh dia semarah apapun kalian padanya. Hanya Elea yang berhak menentukan hukuman apa yang pantas untuknya!"


"Baik, Tuan!" sahut Hansen kemudian meminta dua orang penjaga menyeret bajingan itu. Setelahnya Hansen dan yang lain pergi menuju ruang bawah tanah untuk memeriksa apakah kejadian ini ada orang lain lagi yang mendalanginya atau tidak mengingat ada banyak sekali orang yang tak ingin pewaris keluarga Ma lahir.


Setelah Hansen dan para penjaga pergi, Greg segera mendatangi Gabrielle kemudian memeluknya dengan erat. Hampir saja Greg berurusan dengan Liona. Kalau tadi kata-katanya tidak berhasil menyadarkan Gabrielle, masalahnya pasti akan menjadi semakin runyam. Selamat-selamat.


"Apa sudah ada kabar dari rumah sakit?" tanya Gabrielle tanpa menyebutkan nama Elea ataupun ketiga anaknya. Terlalu sakit.


"Masih menunggu dokter keluar dari ruang operasi, Gab. Kita berdoa saja semoga operasinya berjalan lancar," jawab Greg tanggap akan kesedihan hati putranya. "Tanpa sengaja Elea telah menyelamatkan Levita dari bahaya kematian. Apakah ini pertanda kalau anak-anak kalian nantinya akan berjodoh? Jika memang benar, maka ini akan menjadi cikal-bakal di mana Levita akan meminta anaknya untuk benar-benar menjaga anakmu kelak. Dia pasti akan di hantui oleh rasa bersalah dan juga hutang nyawa yang begitu besar!"


"Aku tidak peduli dengan siapa anak-anakku akan menikah nanti. Asal Elea dan anak-anakku bahagia, maka aku sudah merasa cukup. Masalah harta bukan kendala yang akan menghambat kebahagiaan mereka, Ayah. Kalaupun memang di antara mereka memilih menikah dengan seseorang yang tidak kaya, maka aku dan Elea akan tetap menerimanya. Hanya satu syarat, mereka harus saling cinta dan sama-sama membutuhkan. Selain itu tidak ada yang menjadi masalah lagi!" sahut Gabrielle. Setelah itu dia mengurai pelukan sang ayah kemudian menatapnya sendu. "Tapi istri dan ketiga anakku pasti selamatkan, Ayah? Mereka berempat akan kembali padaku 'kan?"


Tanpa memberikan jawaban apapun Greg langsung mengajak Gabrielle pergi ke rumah sakit. Dia sendiri juga sedang cemas memikirkan apakah menantu dan ketiga cucunya akan selamat atau tidak mengingat betapa parahnya luka yang di alami oleh Elea tadi.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Greg pada Nun. "Dan kau, Res. Tolong kabari orangtua Elea dan jangan biarkan ada wartawan yang mengetahui kabar buruk ini. Jika terlanjur kecolongan, pastikan mereka tidak meng-up dulu ke media. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengambil kesempatan dari keadaan Elea sekarang. Paham?"


"Paham, Tuan Greg. Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Ares kemudian bergegas pergi menuju kediaman keluarga Young.


*****

__ADS_1


__ADS_2