
Brraaakkkkk
"Sayang!!" teriak Gabrielle begitu melihat Elea yang sedang menangis sambil duduk di lantai. Segera dia berlari ke arahnya kemudian memeluknya dengan sangat erat. "Sssttttt, tenanglah. Flowrence pasti akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat dan juga hebat, aku yakin Flowrence pasti terselamatkan!"
"Hiksss, bagaimanapun ini, Kak. Bagaimana bisa para penjaga itu kecolongan sampai seperti ini. Bukankah kau bilang padaku kalau Flowrence aman? Lalu kenapa dia bisa jatuh ke jurang? Kenapa Kak. KENAPAAAAA!" teriak Elea histeris. Dia lalu memukuli punggung Gabrielle sebagai tempat pelampiasannya.
Tadi saat Elea sedang berbincang dengan tamu, tiba-tiba saja Bern menelpon. Pikiran Elea langsung tertuju pada putrinya, dia gelisah seketika. Dan benar saja. Begitu Elea menjawab panggilan putranya, rasanya dia seperti di sambar petir saat di beritahu kalau Flowrence-nya jatuh ke dalam jurang. Detik itu juga tangis Elea langsung pecah. Dia bahkan tidak mempedulikan keberadaan si tamu saking syoknya Elea mendengar kabar tersebut.
"Flowrence, Kak Iel. Putri kita, hiksssss!" ratap Elea.
"Aku tahu, sayang. Tolong kau tenang ya, jangan menangis lagi. Aku juga sama khawatirnya sepertimu. Oke?" sahut Gabrielle sembari menahan sesak di dada.
Mungkin karena terlalu syok dengan kabar jatuhnya Flowrence ke dalam jurang, perlahan-lahan tubuh Elea pun mulai melemas. Gabrielle yang menyadari kalau Elea pingsan hanya bisa menghela nafas sambil terus mengeratkan pelukannya. Rasanya dunia Gabrielle seperti runtuh begitu dia mendapat laporan dari Ares kalau Flowrence dan temannya hampir menjadi korban penculikan yang mana kini keduanya terlempar masuk ke dalam jurang. Tahu kalau salah satu anaknya pasti akan menghubungi Elea, Gabrielle pun bergegas datang kemari. Dan benar saja, Elea sudah dalam keadaan seperti ini sekalinya Gabrielle datang. Wajarlah. Manusia mana yang tidak akan syok saat mimpi yang dilihatnya menjadi kenyataan. Namun di sini Gabrielle masih berusaha berpikir positif karena dari yang Elea katakan, tubuh gadis yang jatuh ke dalam jurang berbeda dengan bentuk tubuh putri mereka. Mungkin ini sedikit kejam, tapi Gabrielle sangat amat berharap kalau yang jatuh adalah temannya Flowrence. Ya, dia sangat amat berharap akan hal itu.
"Tuan!"
Ares bergegas menghampiri tuannya kemudian memberikan ponsel padanya. "Dokter Jackson menelpon!"
Dengan cepat Gabrielle menyambar ponsel milik Ares kemudian berbicara pada Jackson.
"Halo, Jack. Bagaimana? Flowrence kita baik-baik saja 'kan?"
"Tidak!" jawab Jackson dari seberang telepon. "Aku sarankan kau sebaiknya jangan membawa Elea datang ke tempat ini. Kau tahu bukan kalau Elea bisa menyakiti dirinya sendiri karena tertekan akan mimpinya yang menjadi kenyataan? Datang dan lihatlah kondisi Flowrence tanpa Elea. Sekarang aku masih harus menyelamatkan Russel dulu. Mungkin hari ini aku akan kehilangannya!"
Klik. Panggilan terputus. Gabrielle menelan ludah, tidak tahu harus merasa bahagia atau merasa sedih. Di satu sisi dia lega karena Flowrence berhasil selamat. Akan tetapi di sisi lain Gabrielle merasa takut saat Jackson mengatakan kalau hari ini dia bisa saja kehilangan Russel. Keadaan ini cukup pelik yang mana membuat Gabrielle memutuskan untuk segera membawa Elea pulang ke rumah.
__ADS_1
Sementara itu di rumah utama keluarga Ma, terlihat Greg yang sedang panik sambil berteriak memanggil para penjaga. Begitu mereka menerima kabar kalau Flowrence jatuh ke jurang, Liona langsung jatuh tak sadarkan diri. Sudah pasti kabar buruk ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi Liona karena lagi-lagi dia harus kehilangan cucu perempuannya setelah kejadian hilangnya Rosalinda beberapa tahun lalu. Untung saja saat itu Greg sedang bersamanya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Liona sekarang. Hmmmm.
"Panggilkan dokter. SEKARANG!" teriak Greg dengan mata berkilat marah. Satu tangannya terus menepuk pelan pipi Liona yang terlihat seperti kesulitan bernafas. "Honey, hey. Bangun, sayang. Jangan begini. Oke?"
Tidak ada sahutan. Hal ini tentu saja membuat Greg menjadi semakin panik. Tak lama kemudian dokter pun datang bersama dengan beberapa pelayan yang membawa obat di tangan masing-masing. Segera dokter memeriksa keadaan Liona, sedangkan para pelayan sibuk memoles minyak dan beberapa obat ke telapak kakinya.
"Ugghhhhh!"
Akhirnya, Liona pun sadar. Dia langsung terhenyak kaget kemudian mendorong kasar semua orang yang berada di dekatnya. Dengan raut wajah yang kebingungan Liona memperhatikan satu-persatu orang yang ada di sana. Setelah itu raut wajah Liona berubah menjadi sangat dingin dan juga bengis.
"Greg, bawa Lan ke tempat Flowrence di aniaya. Aku akan pastikan sendiri kalau bajingan itu tidak akan selamat!" perintah Liona.
"Honey, kau baru saja sadar. Duduklah dulu, biar mereka saja yang urus!" sahut Greg berusaha membujuk Liona agar tetap tenang.
"Heh, tenang?"
"Rosalinda sudah hilang dari pandanganku, apakah mungkin aku masih bisa bersikap tenang ketika cucu perempuanku yang lain kembali di usik?" ucap Liona penuh amarah. "Tidak, Greg. Yang melakukan, aku pastikan akan mati dengan cara yang sangat menyakitkan. Aku pastikan dia dan seluruh keturunannya akan mati dalam kondisi tubuh yang terpecah belah. Aku tidak rela, Greg. Aku tidak rela cucu kesayanganku di lukai seperti ini. AKU TIDAK RELA!!"
"Baiklah. Sekarang apa yang kau inginkan, hm?" tanya Greg dengan lembut. Saat dalam kondisi seperti ini sangatlah berbahaya jika sampai menyinggung Liona. Greg tentu sangat tahu apa konsekuensinya.
"Antarkan aku pergi ke sana sekarang juga. Dan pastikan para bajingan itu masih bernafas agar aku bisa membuat perhitungan dengan mereka!" jawab Liona. Matanya memerah dan wajahnya menjadi sangat bengis layaknya binatang yang sedang kelaparan.
Greg mengangguk. Dia pun segera menghubungi salah satu anak buahnya yang sedang berada di TKP.
"Halo, Tuan Greg!"
__ADS_1
"Jangan sedikit pun kalian menyentuh para bedebah itu sebelum aku dan istriku sampai di sana!" perintah Greg begitu panggilan tersambung.
"Baik, Tuan!"
Liona berdiri. Dia kemudian berjalan keluar tanpa menghiraukan Greg yang masih berbicara di telepon. Dengan raut wajah yang di penuhi aura gelap, Liona membawa Lan masuk ke dalam mobil khusus miliknya. Setelah itu Liona bergegas menuju mobil yang akan mengantarkannya menuju tempat sialan itu.
"Honey, biar aku saja yang membereskan mereka. Aku tidak ingin melihatmu kembali mengotori tangan. Ya?" bujuk Greg setelah masuk ke dalam mobil. Dia dengan penuh sayang menggenggam tangan Liona kemudian menciumnya dengan lembut.
"Siapa bilang aku akan mengotori tanganku, Greg?" sahut Liona. "Aku hanya ingin membuatnya ketakutan dengan mempertemukannya dengan Lan. Setelah itu aku akan membawanya pulang ke rumah ini lalu memintanya untuk berenang bersama para buaya di danau. Tapi itu jika cucuku selamat. Jika tidak, maka aku tidak akan ragu untuk mengumumkan pada dunia kalau kematian mereka adalah kematian terburuk yang pernah ada di muka bumi ini!"
"Baiklah. Apapun itu, aku tidak peduli!" ucap Greg menyerah untuk membujuk Liona. "Kabar ini pasti sudah merebak kemana-mana. Haruskah kita membumi-hanguskan perusahaan mereka?"
"Jangan sisakan satupun jika mereka berani mengambil keuntungan dari masalah ini. Dan untuk yang membangkang, pastikan mereka menjadi gelandangan seumur hidup!"
"Kau dengar itu?" tanya Greg pada kaki tangannya. "Habisi jika ada wartawan yang datang meliput. Masalah ini hanya boleh di ketahui oleh keluarga kita saja!"
"Tapi, Tuan Greg. Di sana ada keluarga dari teman Nona Muda yang juga ikut menjadi korban. Haruskah kami menghabisi mereka juga?"
"Masalah itu biar kami yang urus. Kau cukup lakukan apa yang di perintahkan oleh istriku!"
"Baik, Tuan!"
"Kita pergi!"
Dan mobil pun akhirnya melaju menuju tempat di mana cucu emas keluarga Ma mengalami musibah.
__ADS_1
*******