Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Butuh Teman


__ADS_3

Ddrrrttt ddrrrttt


"Jun ... Junio!"


Sambil mengusap mata, Patricia mengguncang lengan Junio yang tertidur seperti bangkai. Sejak beberapa menit yang lalu ponsel Junio terus saja bergetar, tapi si pemiliknya sama sekali tak bergeming dari tidur hingga membuat Patricia akhirnya terbangun. Setelah seharian menjaga baby Cio yang sudah semakin aktif, Patricia akan selalu merasa kelelahan di setiap malamnya. Jadi ketika tidurnya terganggu, dia akan merasa sedikit emosi. Seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Wajahnya terlihat sangat buruk saat ponsel Junio tak berhenti bergetar, di tambah lagi sekarang Junio sangat sulit untuk di bangunkan. Membuat mood Patricia semakin memburuk saja.


"Junio, cepat bangun. Ponselmu sangat mengganggu, cepat angkat!" kesal Patricia.


Masih tak ada respon. Sambil mendengus kasar, Patricia mengambil gunting dari dalam laci kemudian menempelkannya ke jakun Junio. Dia lalu menyeringai lebar, merasa sangat jengkel ketika mendapati kalau sebenarnya Junio sudah bangun. Tak terima karena di kerjai, dengan penuh emosi Patricia menggigit lengan Junio sekuat mungkin. Dia tak peduli meski sekarang suaminya menjerit-jerit sambil memintanya agar melepaskan gigitan tersebut.


"Sayang, ampun. Aku minta maaf, tolong lepaskan gigitanmu. Tulang lenganku sudah mau patah!" teriak Junio sambil meringis kesakitan.


Ah, sialan. Aku pikir akan mendapat jatah tengah malam kalau sedikit bermanja padanya, tapi kenapa Patricia malah berkamuflase menjadi seorang vampir. Tidak asik.


"Sayang, ayolah. Aku minta maaf. Aku janji lain kali aku akan langsung bangun kalau ada orang yang menelpon."


"Huh, kau benar-benar tidak ada pengertiannya sama sekali, Jun. Seharian aku lelah menjaga bayi kecambahmu, masa iya kau tega mengganggu jam istirahatku. Aku sangat lelah, Junio. Tolong berikan aku waktu sebentar untuk meluruskan tulang punggungku!" ucap Patricia setelah melepaskan gigitannya. Dia menatap sayu ke arah suaminya, Patricia mengantuk berat.


Junio tertegun melihat tatapan mata Patricia. Kini dia menyesal karena sudah mengerjainya tanpa berpikir kalau menjaga Cio adalah sesuatu yang sangat amat melelahkan. Entah apa yang terjadi dengan bayi kecambahnya itu. Mendadak Cio seperti kerasukan setan reog setiap harinya. Bayi itu tak pernah mau diam, sibuk merayap dan berguling-guling di semua tempat. Padahal seingat Junio, dulu dia adalah seorang bayi yang sangat pendiam. Tapi begitu mempunyai anak, entah kenapa sikapnya yang baik itu tidak menurun pada Cio. Sepertinya gen setan reog merupakan gen dari keluarga Patricia.


"Maaf ya. Aku terlalu egois karena tidak memikirkan keadaanmu," ucap Junio sembari mengelus pipi Patricia lembut. "Ya sudah, sekarang kau kembalilah tidur. Aku akan mengangkat telepon itu di balkon saja supaya istirahatmu tidak terganggu. Oke?"


Eh, tumben sekali laki-laki ini bisa berpikir normal. Mencurigakan.

__ADS_1


Tepat ketika Patricia ingin bicara, ponsel Junio yang berada di atas nakas kembali bergetar. Sontak saja hal itu membuat Junio langsung menjawabnya kemudian pindah menuju balkon. Sedangkan Patricia, dia hanya menghela nafas panjang kemudian melanjutkan istirahatnya. Bahagia juga rasanya kalau pria sinting itu menunjukkan perhatiannya.


"Halo, Gleen. Ada urusan apa kau tengah malam begini menghubungiku? Tahu tidak, gara-gara kelakuanmu ini aku jadi gagal mendapat jatah. Patricia bahkan memarahiku karena panggilan darimu mengganggu istirahatnya. Dasar penjahat kau!" omel Junio sambil menatap langit malam. Banyak bintang di langit, tapi sayang bintang yang ada di antara kedua kakinya tidak ikut bersinar seperti bintang-bintang itu. Bintangnya gagal mendapat jatah.


"Jun, kau bisa datang menemaniku di rumah sakit tidak? Lusi sedang berada di ruang bersalin dan dia memintaku untuk ikut masuk ke sana. Tapi Jun, aku takut. Rasanya aku seperti akan kencing di celana melihat Lusi menjerit-jerit kesakitan. Tolong aku, Jun. Aku bisa mati depresi kalau tidak ada orang yang menemani di sini. Tolong kau datang ya?"


Kedua sudut bibir Junio terangkat ke atas saat dia mengetahui kalau sahabatnya sedang ketakutan menghadapi istrinya yang akan melahirkan. Akhirnya, akhirnya Gleen merasakan juga apa yang pernah dia rasakan dulu. Saat ini suasana hatinya pasti sedang nano-nano sekali.


"Ekhmmm, Gleen. Sekarang kau sedang ada di mana?" tanya Junio iseng. Dia yakin sekali kalau sahabatnya itu pasti sedang meringkuk ketakutan di pojok ruangan tempat Lusi akan menjalani persalinan.


"Aku sedang bersembunyi di samping tong sampah, Jun. Perawat terus saja mencariku, mereka ingin aku masuk dan menemani Lusi melahirkan. Tolong aku, Junio. Aku tidak mau masuk ke sana. Aku takut!"


Junio hampir jatuh dari atas balkon begitu mendengar jawaban Gleen. Sungguh, ini sangat jauh dari yang dia pikir. Bisa-bisanya Gleen bersembunyi hanya karena diminta untuk menemani istrinya melahirkan. Ini benar-benar sangat lawak, membuat otaknya serasa tak bisa berpikir lagi.


"Tidak pernah, Jun. Aku selalu melakukannya dengan cara terbuka. Tapi kalau di atas rooftop pernah beberapa dan itu hampir ketahuan orang. Em, tapi ngomong-ngomong kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apa hubungannya?"


Kesal mendengar jawaban Gleen yang malah mengatakan kalau dia dan Lusi pernah bercinta di atas rooftop, Junio langsung mematikan panggilan begitu saja. Jujur, tubuhnya terasa sangat gerah sekarang. Dia jadi membayangkan melakukan hal yang sama bersama Patricia. Pasti rasanya sangat enak.


"Haihhh, apa yang harus aku lakukan sekarang ya. Patricia sedang kelelahan, aku tidak tega meminta jatah darinya. Tapi kalau aku tidak memintanya, kasihan juga juniorku. Sejak Cio lahir dia sama sekali belum di asah lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya? Masa iya harus bermain solo?" gumam Junio pasrah sembari menatap juniornya yang sudah menegang. Kasihan sekali.


Tanpa sepengetahuan Junio, rupanya sejak tadi Patricia berdiri di dekat jendela dan menguping pembicaraan Junio. Awalnya Patricia merasa curiga akan siapa orang yang menghubungi suaminya di tengah malam begini. Dan begitu tahu kalau orang yang menelpon adalah Gleen, sebenarnya Patricia sudah akan kembali tidur. Tapi ketika dia baru saja berbalik, tanpa sengaja Patricia mendengar gumaman Junio yang tengah meratapi nasibnya karena berpuasa sejak lima bulan lalu, atau tepatnya setelah baby Cio dilahirkan. Merasa bersalah, itu sudah pasti. Jadi Patricia memutuskan mencari cara untuk menebus rasa bersalahnya tersebut. Dan satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah mengundang suaminya untuk datang mengambil haknya. Ya, begini baru benar.


Mungkin kau adalah seorang Ibu, Patricia. Tapi kau juga tidak boleh lupa akan kewajibanmu melayani suamimu. Ingat, dosa besar kalau kau lalai pada tugasmu. Junio adalah suamimu, datangi dan bahagiakan dia sebelum dia mencari kebahagiaan dari wanita lain. Semangat, Patricia.

__ADS_1


Sambil melepaskan kancing piyama tidurnya, Patricia berjalan mendekati Junio yang masih diam sambil menatap lurus ke depan. Setelah dekat Patricia pun langsung memeluknya dari belakang, membiarkan dadanya yang hanya tertutup bra menempel dengan sangat erat di punggungnya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" kaget Junio.


"Aku merindukanmu."


Junio yang saat itu memang sedang bergairah bagai mendapat rejeki nomplok mendengar Patricia yang ternyata sedang merindukannya. Jadi tanpa mengulur waktu lagi Junio segera berbalik badan kemudian menangkup wajah Patricia yang begitu cantik meski gurat kelelahan tercetak dengan sangat jelas di sana.


"Apa kau sedang menggodaku, hem?"


"Iya."


"Why?"


"Karena kau suamiku dan aku mencintaimu."


Junio tersenyum. Dia lalu mengangkat tubuh Patricia dan membawanya masuk ke dalam rumah. Bak pengantin baru, dia mengajak Patricia untuk berpagutan mesra sebelum akhirnya mereka sama-sama berbaring di atas ranjang. Untung saja Cio di tidurkan di dalam babybox, jadi bayi reog itu tidak perlu merasa terganggu ketika Patricia mulai menggeliat hebat saat Junio mulai melakukan pemanasan.


"Sayang, kali ini aku tidak akan lama. Gleen sedang ketakutan di rumah sakit, dia butuh aku untuk menemaninya di sana," bisik Junio sesaat sebelum miliknya menyatu dengan milik istrinya.


Patricia mengangguk. Dia lalu menggigit bibir bawahnya ketika merasakan ada benda tumpul yang ingin menyeruak masuk ke dalam miliknya. Mungkin karena sudah cukup lama tidak bercinta, Patricia merasa sedikit sakit saat penyatuan itu terjadi. Namun itu hanya berjalan selama beberapa detik saja karena setelahnya Junio sudah membawa Patricia melayang ke atas nirwana. Patricia terbuai oleh semua sentuhan yang dilakukan oleh Junio pada tubuhnya. Dia terlena.


*****

__ADS_1


__ADS_2