Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Istri Simpanan


__ADS_3

"Apa jenis kelamin binatang ini, Res?" tanya Gabrielle sambil menatap datar ke arah Cuwee yang sedang duduk santai di atas rerumputan.


Begitu Gabrielle sampai di rumah, dia langsung di sambut oleh seekor binatang yang sudah dia nobatkan sebagai rival dalam memperebutkan perhatian istrinya. Dia yang tadinya sedang merasa kelelahan setelah seharian bekerja menjadi semakin lelah saat mendengar ringkikan binatang tersebut. Andai tak memikirkan perasaan istrinya, Gabrielle pasti sudah membuat binatang tak berakhlak ini pindah ke alam lain. Dia benar-benar sangat membencinya.


"Laki-laki, Tuan Muda. Dan itu sesuai dengan apa yang anda pesan," jawab Ares dengan tenang. Dia sudah sangat siap mendengar amukan dari si banteng pencemburu ini.


"Jadi aku yang salah?"


"Tidak, Tuan Muda. Anda tidak pernah salah."


"Cihhh."


Tatapan Gabrielle berubah menjadi sangat bengis ketika Cuwee menggerakkan bibir ke atas seakan sedang mengejeknya. Nafasnya sampai naik-turun saking kesalnya Gabrielle pada binatang ini.


Sementara itu di dalam rumah, Elea yang tahu kalau suaminya sudah pulang segera keluar dari dalam kamar. Dia tidak terlihat kesulitan sama sekali meski kakinya masih di balut perban.


"Nyonya, pelan-pelan. Jangan terlalu cepat, nanti luka di kaki Nyonya semakin parah," ucap salah seorang pelayan dengan wajah panik.


"Ya ampun Kak, melihatku berjalan seperti ini saja kau sudah panik begitu. Lalu apa yang akan terjadi padamu kalau kakiku tiba-tiba hilang satu?" ledek Elea. Terkadang para pelayan yang ada di rumah ini memperlakukannya dengan cara yang sangat berlebihan. Ingin rasanya Elea menolak, tapi tidak bisa dia lakukan karena itu adalah perintah langsung dari baginda. Hehehe, si suami maksudnya.


Para pelayan hanya bisa menghela nafas panjang saat mendengar ucapan nyonya kecil mereka. Lebih baik diam sebelum wanita mengerikan ini mengeluarkan bisa beracun. Begitulah kira-kira yang di pikirkan oleh para pelayan ketika sang nyonya tetap berjalan dengan langkah cepat tanpa menghiraukan luka di kaki mungilnya.


"Selamat malam, Nyonya Elea," sapa Nun sambil menundukkan kepala.


"Selamat malam juga, Pak Nun," sahut Elea. "Dimana Kak Iel? Bukankah dia sudah pulang dari kantor ya?"


"Tuan Muda masih berada di halaman depan, Nyonya. Beliau sedang mengobrol dengan Cuwee."


"Mereka mengobrol?"


Nun mengangguk.


"Apa kau yakin mereka sedang mengobrol?" tanya Elea sambil mengusap dagu bawahnya. "Aku rasa kau salah lihat, Pak Nun. Kak Iel dan Cuwee itu adalah musuh bebuyutan. Aku jadi curiga kalau mereka itu sebenarnya bukan sedang mengobrol, melainkan sedang bernegosiasi untuk menentukan dimana mereka akan baku hantam."


Nun dan para pelayan hanya diam saja tanpa berniat membalas ucapan nyonya mereka yang mulai nyeleneh. Dengan Nun yang mengatakan kalau sang majikan sedang mengobrol dengan seekor kuda saja sudah terdengar begitu aneh. Sekarang malah di tambah lagi dengan kata-kata bernegosiasi untuk menentukan lokasi baku hantam. Lama-lama penghuni rumah ini sama gilanya dengan sang nyonya yang kini sedang mengintip melalui jendela.


"Hehehe, lucu ya melihat manusia cemburu pada seekor binatang. Aku jadi gemas ingin melihat Kak Iel naik ke punggungnya Cuwee," ucap Elea kegirangan.

__ADS_1


"Ekhhm maaf Nyonya, sebaiknya anda jangan meminta Tuan Muda untuk melakukannya hal itu. Beliau adalah pengidap OCD akut, bersentuhan dengan hal asing bisa membuat mood Tuan Muda menjadi sangat buruk!" ucap Nun menyela. Dia tidak bisa membiarkan majikannya merasa tidak nyaman.


Elea menoleh ke belakang. Dia lalu menatap Nun dengan penuh curiga.


"Sebenarnya yang menjadi istrinya Kak Iel itu aku atau kau, Pak Nun? Kenapa kekhawatiranmu pada Kak Iel bisa jauh lebih besar dariku? Aku jadi curiga kalau kau itu sebenarnya adalah istri rahasianya Kak Iel. Benar tidak?" tuduh Elea spontan.


"Nyonya, harap anda tidak salah paham atas sikap saya terhadap Tuan Muda. Di antara kami tidak ada hubungan semacam itu, murni hanya hubungan antara atasan dan bawahan. Seperti itu!" tegas Nun dengan cepat memberi penjelasan.


"Aku tahu kok. Tadi kan aku hanya sedang bercanda saja denganmu, Pak Nun. Hehehe."


Para pelayan tampak menggigit bibir bawah mereka karena menahan tawa melihat Nun yang di prank oleh nyonya kecil mereka. Elea yang melihat hal itupun merasa sangat puas. Dia senang setiap kali bisa mengerjai Pak Nun, si kulkas berjalan yang selalu berpihak pada suaminya.


Bosan hanya mengintip suaminya dari dalam rumah, Elea memutuskan untuk datang menghampiri. Dia berjalan berjingkat-jingkat sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya saat Ares melirik ke arahnya. Elea berniat mengageti suaminya yang sedang sibuk berdebat dengan Cuwee.


"Dooorrrrrr!"


Hampir saja jantung Gabrielle melompat keluar dari mulut saat tiba-tiba ada orang yang menggeblak punggungnya dari belakang. Segera dia berbalik dengan menampilkan raut wajah yang begitu bengis.


"Kau ... berani-bera ... ninya!"


Perkataan Gabrielle terjeda saat dia melihat wanita cantik yang sedang tersenyum padanya sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Dalam sekejab ruh Gabrielle seakan pindah ke alam lain, dia terpesona melihat senyum manis di bibir wanita ini.


"Ha?"


Cup


"Apa Kak Iel merindukan aku?"


Ares dan para penjaga langsung berbalik badan saat nyonya mereka melakukan serangan tanpa memberi aba-aba. Untung kesadaran Tuan Muda mereka sedang tersesat di alam lain, jadi mereka tidak perlu menerima tatapan membunuh dari pria pengidap cemburu buta tersebut.


"Sayang, apa kau baru saja mencium bibirku?" tanya Gabrielle antara sadar dan tidak sadar.


"Bukan aku, tapi Cuwee. Hehehe," jawab Elea iseng.


"APA!!!!"


Mata Gabrielle langsung membelalak lebar saat Elea memberi tahu kalau yang menciumnya adalah si Cuwee-Cuwee sialan itu. Seketika bulu kuduk Gabrielle meremang saat dia menoleh ke arah Cuwee yang lagi-lagi mengangkat bibirnya ke atas.

__ADS_1


"Bunuh binatang terkutuk itu, Res!" teriak Gabrielle frustasi.


"Iihhh, jangan!" cegah Elea sambil merentangkan tangan melindungi Cuwee. "Separuh jiwaku sudah menempel di tubuh Cuwee, Kak Iel. Aku bisa mati kalau sampai berpisah dengannya."


"Tapi dia barusan menciumku, Elea."


"Bukan Cuwee, tapi itu aku yang melakukan. Makanya Kak, kalau sedang diajak bicara itu pikirannya yang fokus. Jangan malah melanglang buana ke tempat yang jauh di sana. Memangnya aku se-mempesonakan itu ya sampai-sampai Kak Iel seperti hilang kesadaran?" tanya Elea sambil mengulum senyum. Tangannya sudah sangat gatal ingin mengirim simbol cinta untuk suaminya ini.


Gabrielle mendengus pelan begitu tahu kalau dia baru saja di kerjai oleh istrinya. Malas terus melihat wajah menjengkelkan milik Cuwee, Gabrielle dengan kesal berjalan masuk ke dalam rumah. Dia merasa sangat dongkol karena Elea lebih memilih untuk tetap bersama Cuwee ketimbang menyusul masuk untuk membujuknya.


"Kak Iel!" teriak Elea dengan sangat kuat.


"Apalagi?" sahut Gabrielle sambil menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


"Aku hitung sampai tiga kalau kau tidak berbalik, malam ini aku akan menginap di rumahnya Cuwee. Satu ... tiga!"


Gabrielle gelagapan sendiri saat Elea tiba-tiba langsung menghitung ke nomor tiga. Tak ingin pisah ranjang, Gabrielle dengan cepat membalikkan badan. Tubuhnya kemudian luruh ke lantai saat Elea dengan begitu manis membuat simbol cinta menggunakan jari jempol dan jari telunjuk kemudian dilemparkan ke arahnya.


"Wo ai ni, baobei (aku cinta kamu, sayang)!" teriak Elea sambil mencium simbol cinta yang kemudian dia lemparkan lagi ke arah suaminya.


"Ahhh, astaga jantungku!" ucap Gabrielle sambil memegangi dadanya yang berdebar dengan sangat kuat.


"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" tanya Nun khawatir. Dia tak mempedulikan kelakuan sang nyonya yang sedang tertawa kesenangan dengan apa yang dia lakukan.


"Tolong tangkap perempuan nakal itu lalu bawa masuk ke kamarku, Nun. Hati-hati, pastikan tangan kalian tidak ada yang menyentuh kulitnya. Aku hampir mati gara-gara mendapat serangan cinta dari perempuan nakal yang sedang berteriak di sana!" ucap Gabrielle dengan pipi merona.


Setelah memberikan perintah pada Nun Gabrielle buru-buru masuk ke kamarnya. Dia harus sudah bersih dan wangi sebelum memberi pelajaran pada istrinya yang jahil itu.


"Hmmm, Nyonya-Nyonya. Hanya anda saja yang bisa membuat Tuan Muda melemah seperti jelly," gumam Nun sebelum akhirnya meminta para pelayan untuk menangkap si nyonya.


Sementara Ares dan para penjaga, mereka tampak menarik nafas lega karena tidak ikut menyaksikan drama perbucinan yang selalu terjadi hampir di setiap hari. Bagi yang sudah menikah, mereka tidak terlalu tersiksa batin karena memiliki tempat untuk berbagi kasih. Akan tetapi bagi yang belum menikah, mereka hanya bisa gigit jari melihat keromantisan dua majikan pemilik rumah megah ini. Miris sekali bukan? Nasib πŸ˜…


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2