Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tanduk Merah


__ADS_3

“Kak, Sisil tidak mati ‘kan?” tanya Flowrence sambil menatap Sisil yang tengan terbaring di atas ranjang khusus yang berada di kediaman sang nenek.


Walaupun luka Flowrence belum sembuh dan tubuhnya masih terbungkus perban seperti mumi, dia memaksa kedua kakaknya agar membawanya kemari guna menjenguk temannya yang di kabarkan sedang mati suri. Eh, bukan mati suri deng. Sedang koma maksudnya, hehe.


“Aku mana tahu dia sudah mati atau belum,” jawab Karl asal.


“Coba kau buka dan lihat apakah jantungnya Sisil masih berdetak atau tidak, Kak. Kalau sudah tidak berdetak, minta Nenek Liona untuk mengantinya dengan jantungmu saja. Kak Rei bilang kau itu tidak ada gunanya hidup di dunia ini. Jadi tidak apa-apa kalau jantungmu di ambil.”


Dua buah tanduk merah langsung muncul di kepala Karl saat mendengar ucapan Flowrence yang sangat amat tidak manusiawi sekali itu. Andai saja di sana hanya ada mereka berdua, Karl yakin sekali kalau sekarang mulut adiknya itu sudah dia tutup dengan lakban. Benar-benar ya.


“Sisil hanya koma, dia tidak mati. Jangan bicara yang berlebihan,” ucap Bern menengahi kedua adiknya. Dia lalu mengehela nafs panjang sambil terus menatap kelopak mata Sisil yang terpejam erat.


Kau tahu gadis kecil. Gara-gara kau, rencanaku gagal total. Tapi untunglah karena sekarang kau koma, jadi aku tidak perlu bersusah payah lagi untuk melenyapkanmu. Heh.


“Kak Bern, kapan aku bisa bersekolah lagi? Aku bosan menjadi mumi seperti ini,” tanya Flow mulai mengeluh pada kakaknya. Duduk di kursi roda dengan kondisi tubuh terbungkus seperti ini membuat Flowrence merasa sangat tidak nyaman. Jika biasanya setiap Flow datang ke rumah kakek dan neneknya dia akan sibuk mengejar Lan, kini dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Menyedihkan sekali bukan?


“Tubuhmu sedang terluka dan aroma darah masih begitu kuat menguar dari luka-luka itu. Memangnya kau mau disantap oleh Lan gara-gara dia yang merasa kelaparan setelah mencium aroma tak sedap dari tubuhmu itu? Tidak mau ‘kan?”


Kurang lebih seperti itulah ancaman Bern saat Flowrence memaksa ingin mengajak Lan untuk bermain. Gila saja. Flowrence meringik sedikit saja sudah membuat semua orang menjadi panik. Lalu apa kabar dengan nyawanya Karl dan Bern jika keluarganya sampai melihat Flowrence menjahili Lan dalam kondisi sedang terluka seperti ini. Alih-alih Flowrence yang dimakan oleh Lan, yang ada merekalah yang akan di jadikan daging panggang oleh keluarganya. Benar tidak?


“Sembuhlah dulu baru kau boleh memikirkan tentang sekolah,” jawab Bern datar.


“Kalau aku pergi ke sekolah dengan keadaan seperti ini kira-kira temanku takut tidak ya?”


“Mereka tidak mungkin takut, paling hanya mati di tempat saja!” celetuk Karl jengkel mendengar kekonyolan adiknya. “Sudah tahu sekarang kau sedang menjadi mumi, masih saja terpikir untuk menakut-nakuti temanmu. Kau ini kenapa jahat sekali sih, Flow. Anak siapa kau sebenarnya, hah!”


“Tentu saja aku adalah anaknya Ayah Gabrielle dan Ibu Elea lah,” sahut Flowrence dengan penuh bangga.

__ADS_1


Entah ada angin apa, tiba-tiba saja Bern tersenyum tipis saat mendengar ucapan Flowrence. Sebenarnya Flowrence belum di izinkan pulang dari rumah sakit, tapi karena adiknya sudah di cuci otak oleh ibunya Russel, pagi-pagi buta adiknya ini sudah merengek meminta untuk di bawa pulang ke rumah neneknya saja. Dan kebetulan sekali Bern dan Karl datang ke rumah sakit. Jadi mau tidak mau mereka berdua harus menuruti keinginan mumi nakal ini. Daripada menangis, yang ada nanti masalahnya malah akan bertambah runyam. Jadilah di sinilah mereka sekarang. Datang menjenguk Sisil yang kini berada dalam pengawasan dokter khusus di kediaman nenek mereka.


“Kak Bern?” panggil Flow takut-takut.


“Hm?”


“Aku bosan,”


“Lalu?”


“Ayo kita main,”


“Maaf aku sedang sibuk,” sahut Karl dengan sangat cepat. Firasatnya memberi tanda kalau ajakan adiknya ini akan sangat tidak menyenangkan. Jadi dia buru-buru mengatakan kalau dirinya sedang sibuk agar Flowrence tidak merengek kepadanya. Hehe, Karl cerdas sekali bukan?


Bern yang tadinya berdiri di belakang kursi roda Flowrence segera berpindah ke depan kemudian berjongkok di hadapannya. Mata yang bening itu dan tatapannya yang polos membuat Bern tanpa sadar menganggukkan kepala. Dia lalu terkesiap kaget saat Flow tiba-tiba menangkup kedua pipinya.


“Kak Bern yang terbaik. Aku tahu kalau Kak Bern akan selalu menyayangi dan mengabulkan semua permintaanku. Iya ‘kan?” ucap Flow seraya menampilkan senyum yang sangat manis.


Raut wajah Karl langsung berubah masam begitu dia melihat kedekatan antara kakak dengan adiknya. Merasa iri? Em sedikit. Catat ya, se-di-kit, hanya sedikit. Tidak banyak. Paham?


“Aku tidak sebaik yang kau pikir, Flow. Jadi jangan berharap terlalu banyak padaku,” sahut Bern sembari menepis pelan kedua tangan Flowrence dari pipinya. Setelah itu dia berdiri, memutar kursi roda kemudian membawa Flowrence pergi dari sana.


“Aku ikut!” seru Karl buru-buru menyusul kakak dan adiknya yang sedang berjalan keluar.


“Kau kan tidak di ajak, Kak Karl,” sahut Flowrence.


“Dasar pelit. Masuk neraka baru tahu kau.”

__ADS_1


“Aku itu adalah gadis yang sangat baik, Kak. Dan neraka hanyalah tempat untuk orang-orang jahat sepertimu. Iyakan Kak Bern?”


“Ya, kau benar.”


Tanduk merah kembali muncul di kepala Karl saat dia di bully oleh kakak dan juga adiknya. Kendati demikian, Karl tetap mengikuti mereka yang kini tengah menuju ke kandangnya Lan, si harimau putih kesayangan nenek dan kakeknya.


Roaaarrrrrrrrrrrr


Lan langsung mengaum dengan sangat kuat begitu melihat kedatangan majikannya. Dia yang saat itu berada di dalam kandang terlihat bergerak gelisah , membuat para penjaga yang ada di sana segera mengeluarkannya sebelum binatang besar itu semakin mengamuk.


“Jangan mendekat. Flowrence sedang terluka, dia tidak bisa bermain denganmu seperti hari biasa!” ucap Bern melarang Lan yang ingin melompat ke pelukan adiknya. Dia tak mau mati sia-sia sebelum keinginannya tercapai semua.


“Cihhh, terluka apa. Kau jangan dengarkan apa kata kakakku, Lan. Flow baik-baik saja, seret dan ajaklah dia berlarian seperti yang biasa kalian lakukan!” celetuk Karl dengan sengaja. Dia masih kesal pada ucapan adiknya yang menyebut kalau dia tak di ajak.


“Kalau aku mati bagaimana, Kak?” tanya Flow dengan polosnya.


“Ya di kuburlah,” jawab Karl dengan sangat enteng.


“Lalu kau dan yang lainnya bagaimana? Bukankah Ayah dan Ibu selalu bilang kalau aku terluka, maka kalian harus ikut terluka juga. Dan kalau aku mati, bukankah itu artinya kalian akan mati bersamaku juga?”


Gleekkk


Karl kicep. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi begitu di skak matt oleh Flowrence. Sedangkan Bern, dia hanya diam mendengarkan sebelum akhirnya mendorong kursi roda Flowrence lalu membawanya berjalan-jalan di taman belakang rumah nenek mereka. Bak seorang pengawal, Lan pun berjalan di belakang majikannya yang entah kenapa berpenampilan sedikit berbeda. Jadilah sekarang Bern seperti sedang membawa mayat yang terbungkus kain kafan dengan di ikuti oleh seekor harimau besar. Lucu, tapi sayang. Kedekatan mereka terhalang sebuah keserakahan yang di suatu saat nanti bisa mencelakai keduanya.


Tak jauh dari lokasi keberadaa Flow dan kedua kakaknya, terlihat Liona yang sedang mengawasi mereka dari balik tirai jendela. Matanya sendu, tidak setajam dan setegas biasanya. Ya, harus Liona akui kalau sekarang dia begitu lemah menghadapi kekejaman Bern. Liona terus di bayang-bayangi rasa bersalah atas apa yang pernah dilakukannya di masa lalu. Entah itu benar atau tidak, yang jelas Liona merasa sangat tersiksa setelah pemikiran ini muncul di dalam hatinya. Dia seakan merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa cucu lelakinya. Liona berdosa dan kedua telapak tangannya berdarah.


“Andai saja Tuhan tidak menyimpan karma di atas satu perbuatan, aku mungkin akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Tapi kebenaran yang terjadi adalah ... setiap kata dan perbuatan, entah itu baik ataupun buruk, akan ada hasil yang di tuai. Dan itu tidak harus yang melakukan yang menanggung karmanya. Tapi seseorang yang masih memiliki darah penerus yang akan menuai hasil dari apa yang telah dilakukan oleh leluhurnya. Contohnya aku dan Bern,” ucap Liona lirih dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


{ Jadi bestie, berhati-hatilah dalam berkata dan bertindak. Karena apapun yang kita perbuat, cepat atau lambat kita pasti akan memanen hasilnya. Jadikanlah kisah Liona sebagai pelajaran hidup kalau yang berkuasa, tidak akan pernah bisa menang melawan kehendak takdir. Tuhan adalah Maha Segala-galanya, dan hanya Dia seorang yang mampu mengatur kapan dan pada siapa karma itu akan menurun}


***


__ADS_2