Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Nasib Sang Pelakor


__ADS_3

Tok tok tok


"Maat Tuan Muda, Nyonya Elea. Di bawah ada Nona Levita, dia datang membawakan sup daging kesukaan Nyonya!"


Di dalam kamar, Gabrielle yang sedang membantu menyisir rambut Elea langsung mengumpat pelan begitu mendengar nama Levita. Sungguh, dia heran sekali kenapa wanita bar-bar itu bisa ada di rumahnya di jam begini. Masa iya Levita datang untuk meminta makan? Miskin sekali dia.


"Kak Iel, ayo turun. Cacing di dalam perutku langsung berontak begitu mendengar nama sup daging," ucap Elea sambil mengguncang lengan suaminya. Dia suka jika kedua orang ini bertemu. Levi dan suaminya pasti akan bertengkar hebat nanti.


"Sayang, bisa tidak kita sarapan di dalam kamar saja? Aku sedang tidak mood bertemu dengannya," tanya Gabrielle enggan untuk keluar.


"Em aku sih tidak masalah kalau Kak Iel ingin mengajakku makan di kamar. Akan tetapi apa Kakak yakin ingin mengabaikan keberadaan Kak Levi? Tidak takut kalau dia akan menerobos masuk ke dalam kamar kita?" tanya Elea sambil tersenyum tanpa dosa.


Gabrielle berdecak. Dia tentu tidak lupa dengan kegilaan yang bisa dilakukan oleh seorang Levita. Jengkel karena waktunya di ganggu oleh pelakor tidak berakhlak itu, dengan setengah hati Gabrielle membopong tubuh Elea kemudian membawanya keluar dari dalam kamar.


"Bukakan pintunya untukku, sayang."


"Siap bos."


Elea terus memandangi wajah suaminya yang terlihat begitu kesal karena ingin menemui Levi. Benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Kadar ketampanan suaminya kian bertambah jika sedang cemburu seperti ini.


"Nun, apa kau sudah memeriksa sup daging yang di bawa oleh Levi? Aku takut dia bukan memasukkan garam, tapi memasukkan racun ke dalamnya," tanya Gabrielle saat berada di dalam lift.


"Sudah, Tuan Muda. Dan sup itu aman untuk di makan karena saya masih hidup setelah mencicipinya," jawab Nun jujur.


"Kak Iel kenapa curiga begitu pada Kak Levi sih? Dia mana mungkin meracuni aku," protes Elea.


"Kemungkinan bisa saja terjadi, sayang. Jangan lupa ya kalau kejahatan itu bisa datang dari orang terdekat. Siapa tahu Levi memang mempunyai niat untuk menjahatimu karena sekarang dia sudah jatuh miskin," jawab Gabrielle sekenanya.


Ting


Dan begitu pintu lift terbuka, Gabrielle dan Elea rupanya telah di sambut oleh sesosok wanita yang sedang berdiri sambil tersenyum aneh.


"Astaga Kak Levi, aku pikir kau boneka Anabelle. Senyummu mengerikan sekali sih," celetuk Elea kaget.

__ADS_1


Wajah Levi langsung merah padam setelah mendengar celetukan Elea yang sangat tidak manusiawi. Sungguh, jiwa psikopatnya tiba-tiba mencuat.


"Elea, apa kau tidak mempunyai kosakata yang tidak membuat darah orang lain naik ke ubun-ubun? Bisa-bisanya ya kau menyebutku sebagai boneka Anabelle hanya karena aku sedang tersenyum?" tanya Levita naik darah.


"Tapi senyummu tadi memang benar-benar sangat mengerikan, Kak Levi. Iya kan Kak Iel, Pak Nun?" jawab Elea sepolos mungkin sambil menanyakan persetujuan dari kedua pria yang ada bersamanya.


"Ya," jawab Gabrielle dan Nun kompak menjawab.


"B ... sat!" umpat Levita melalui gerakan bibir tanpa suara.


Elea tertawa melihat Levita merajuk. Dia lalu mengajak semuanya ke ruang makan. Elea sudah tidak sabar ingin segera menikmati sup daging buatan sahabatnya ini.


"Woaaahhh, aromanya wangi sekali. Siapa yang memasaknya, Kak?" pekik Elea saat wangi dari masakan tersebut terhirup masuk ke indra penciumannya. "Kak Iel, tolong biarkan aku duduk dekat denganmu ya. Aku ingin menyuapimu makan. Boleh?"


"Tentu saja boleh, sayang. Apa sih yang tidak untukmu," jawab Gabrielle dengan senang hati. Dia lalu meminta Nun untuk mendekatkan kursi agar Elea bisa duduk dekat dengannya.


"Maaf Tuan Muda, saya ingin pamit sebentar ke belakang. Ada sesuatu yang harus saya lakukan terlebih dahulu."


Mata Levi terus memperhatikan dengan seksama betapa Gabrielle begitu menjaga keseimbangan tubuh Elea agar tidak jatuh. Dia lalu melipat tangan di dada, tak akan membiarkan virus kebucinan mengotori kedua matanya yang masih sangat suci.


"Gabrielle, istrimu itu hanya mengalami lecet di tumit kakinya. Kenapa kau memperlakukannya seolah dia sedang sakit parah?"


"Diam dan nikmati saja sarapanmu. Aku tahu kau datang kemari karena ingin minta makan di rumahku kan?" sahut Gabrielle tanpa berperikemanusiaan.


"A-apa? Meminta makan? Woaahh, mulutmu sialan sekali ya. Kau pikir aku ini tidak punya uang atau bagaimana hah!" amuk Levi tak terima. Dadanya sampai naik turun dengan cepat gara-gara di fitnah dengan begitu kejam.


Gabrielle mengendikkan bahunya acuh. Dia lalu menyendokkan nasi ke dalam piring Elea.


"Kak Iel, aku ingin mencicipi sup daging buatan Kak Levi," rengek Elea saat piringnya ingin di isi dengan makanan enam sehat sepuluh sempurna seperti yang di sarankan oleh kakaknya dan dokter Reinhard.


"Itu tidak higienis, sayang," sahut Gabrielle dengan sengaja memancing kekesalan Levi.


"Apa saat memasak Kak Levi memasukkan upil ke dalamnya?"

__ADS_1


Bola mata Gabrielle dan Levi hampir terbang keluar begitu mendengar ucapan nyeleneh Elea. Gabrielle kena mental. Niat hati ingin mengerjai Levita, sekarang dia malah termakan niat jahatnya sendiri. Sayang sekali istrinya ini tidak bisa di ajak bekerjasama. Benar-benar cita rasa seorang Elea.


"Ya Tuhan Elea, apa kau pikir aku akan sejorok itu dengan memasukkan kotoran ke dalam makanan yang aku masak? Kalau mau menghina tolong kira-kira sedikit, Elea. Aku memasak sup daging itu dengan sepenuh hati karena merasa bersalah telah membuat kakimu terluka. Kau jahat sekali," ucap Levita sambil berpura-pura memasang ekpresi menyedihkan.


"Oh, jadi kau membawakan sup ini untuk menyogok Kak Iel supaya tidak marah padamu ya, Kak? Ooo, manis sekali sih," ledek Elea sambil mengerlingkan mata ke arah suaminya.


Levita tergagap. Ini namanya senjata makan tuan. Niat hati ingin membuat Gabrielle cemburu dengan merebut perhatian Elea, tapi kenapa sekarang malah dia yang diledek? Jadi ingin menangis rasanya.


"Kau memasak makanan ini dengan benar tidak, Lev? Elea masih dalam tahap pemulihan, dia belum boleh makan sembarangan," tanya Gabrielle yang terpaksa tidak tega melihat raut menyedihkan di wajah Levi. Juga karena dia yang sudah mendapat kode dari Elea agar berhenti mengerjai si pelakor tersebut.


"Itu tentu saja. Memangnya kau lupa ya kalau calon suamiku adalah dokter yang ikut menangani pengobatan Elea," jawab Levi dengan menggebu-gebu.


"Ya ampun Kak Levi, baru menjadi calon saja kau sudah sesombong ini. Coba lihat aku. Menjadi istri dari pemilik rumah sakit tempat dokter Reinhard bekerja saja aku sama sekali tidak pernah sombong di depan orang!" sindir Elea sambil menatap berbinar ke arah sup yang baru saja di ambilkan oleh suaminya.


Ares yang saat itu baru saja datang ke ruang makan tampak menahan tawa melihat bagaimana si Levita Foster dibuat mati kutu oleh nyonya mereka. Motto yang harus selalu di ingat ketika berhadapan dengan sang nyonya. Ketika Elea melambungkanmu setinggi langit, maka bersiaplah untuk jatuh ke dasar bumi. Jadi kesimpulannya, jangan pernah percaya dengan apa yang nyonya ini katakan karena itu adalah awal dari kata depresi. 🀣🀣🀣


"Res, apa kau tahu dimana tempat yang membuka jasa memenggal kepala orang?" tanya Levita frustasi.


"Tahu, Nona Levita. Dokter Jackson sangat ahli dalam hal ini. Perlukah saya memanggilnya untuk datang kemari?" jawab Ares sambil tersenyum samar.


Sialan. Kalau Jackson yang datang bukan Elea yang akan di penggal, tapi aku. Huh, kenapa orang-orang di rumah ini tidak ada yang mau membelaku sih. Menyedihkan sekali.


Gabrielle meneguk habis air minum di dalam gelasnya saat mendengar apa yang di pikirkan oleh Levita. Dia lalu membisikkan hal tersebut pada Elea yang mana membuatnya hampir tak bisa menahan tawa. Sungguh kasihan nasib si pelakor ini. 😝


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2