Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Berebut Kaleng Bekas


__ADS_3


📢 NANIA UDAH UP DI YUTUP EMAK YA BESTIE. SILAHKAN MAMPIR BAGI YANG PINISIRIN 💜


📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretary


- Pesona Si Gadis Desa


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Jackson dan Kayo tampak berdiri di depan pintu rumah sembari menunggu putra dan putri mereka sampai. Tak lama kemudian wajah keduanya terlihat begitu bahagia ketika sebuah mobil bergerak masuk ke dalam pekarangan rumah mereka.


"Nah, itu mereka sampai!" seru Kayo sambil tersenyum lebar.


"Hmmm, aku langsung terlupakan begitu mereka datang. Sedih sekali," sahut Jackson pura-pura mengeluh sedih ketika Kayo hendak pergi meninggalkannya.


Kayo tertawa mendengar keluhan Jackson. Dia kemudian berbalik, mencium bibirnya singkat lalu mengajaknya pergi bersama-sama menghampiri Flow dan Russell.


Tidak terasa lima belas tahun sudah waktu terlewat begitu saja. Setelah Russell lahir, kehidupan rumah tangga Kayo dan Jackson semakin harmonis saja. Mereka kini juga telah resmi menjadi musuh bebuyutan Gabrielle dalam hal memperebutkan putri mereka, yaitu Flow. Bahkan Kayo yang tadinya terkesan santai, kini malah berbalik seribu kali lebih posesif ketimbang Jackson dalam hal menyangkut kebahagiaan putri mereka itu. Aneh memang karena Kayo sebenarnya bisa mengandung putri kandungnya sendiri. Namun Kayo dan Jackson memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi atas permintaan Russell. Ya, putra mereka menolak dengan sangat keras kehadiran anggota keluarga baru karena di khawatirkan akan mengurangi rasa kasih sayang yang mereka berikan untuk Flow. Sungguh, mereka adalah satu keluarga yang sangat aneh karena mencintai anak orang lain sampai seperti ini. Ya tapi mau bagaimana lagi, Flow terlalu menggemaskan untuk tidak di cintai. Jadi ya sudah, mereka lebih memilih untuk selamanya menjadi musuh abadi Gabrielle. Hehe.


"Ayah, Ibu!" teriak Flow begitu keluar dari dalam mobil.


"Halo, sayang. Kau cantik sekali malam ini," sahut Kayo sembari duduk berjongkok. Dia lalu merentangkan kedua tangannya ke depan, memberi kode pada sang putri agar segera datang memeluknya.

__ADS_1


Seperti siput yang mempunyai sepasang kaki, Flow berlari lambat saat menghambur memeluk ibunya. Dan dia langsung terbahak-bahak ketika perutnya yang buncit digelitik oleh sang ayah.


"Hahahaha, geli. Cepat hentikan, Ayah. Nanti Paman dan Bibi udang yang ada di dalam perutku keluar!" jerit Flow sambil menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.


"Paman dan Bibi udang? Makhluk apa itu?" tanya Jackson iseng.


"Astaga, jadi Ayah tidak mengenal siapa Paman dan Bibi udang?" sahut Flow tak percaya. "Ya ampun, kasihan Ayah. Padahal sekarang kan sudah zaman modern, tapi kenapa Ayah kampungan sekali. Macam orang yang baru saja keluar dari pegunungan. Iya kan, Bu?"


"Kau benar sekali, sayang. Ayahmu memang berasal dari pedalaman hutan rimba, makanya dia tidak tahu siapa Paman dan Bibi udang," jawab Kayo dengan penuh semangat membela putrinya.


"Nah, benar 'kan? Ayah-Ayah, kasihan sekali hidupmu. Tapi Ayah jangan sedih ya. Nanti saat aku kaya, aku akan memboyong Ayah dan Ibu pergi ke sarang Paman dan Bibi udang. Di jamin kalian pasti akan betah berada di sana!" ucap Flow dengan mimik wajah yang begitu serius. Dia amnesia kalau sendirinya adalah anak dari konglomerat yang di kelilingi oleh banyak ATM berjalan.


"Benarkah? Woaahhh, sayang. Kau dengar sendiri kan apa yang di katakan oleh princes kesayangan kita?"


"Tentu saja aku mendengarnya, sayang," sahut Kayo.


Jackson tersenyum. Dia lalu mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Flow yang masih betah berada di pelukan Kayo. "Mari kita buat janji kalau setelah kau kaya nanti, kau akan membawa Ayah dan Ibu pergi menemui Paman dan Bibi udang. Bagaimana?"


"Baiklah. Siapa takut,"


Flow sangat manis dan dia begitu di sayang oleh Ayah dan Ibu. Hmmm, apakah mungkin ada celah untukku bisa menjalin hubungan lebih dengannya? Astaga, baru permulaan saja kenapa nasibku sudah suram begini. Kasihan sekali kau Russell Eiji Wang. Sepertinya takdir percintaanmu tidak akan berakhir baik.


"Flow-Flow, kenapa sih kau harus menjadi saudariku?" gumam Russell sedih.


Pikiran Russell melayang pada kejadian di mana dia dan Flow masih berusia sembilan tahun. Pernah suatu kali Russell di hukum gantung oleh ayahnya gara-gara hampir membuat Flow mati terlindas truk. Sebenarnya waktu itu Russell sama sekali tidak melakukan kesalahan apa-apa. Awalnya dia hanya tak sengaja melihat Flow yang sedang bertengkar dengan anak pemulung karena memperebutkan kaleng bekas. Mungkin karena ukuran tubuh Flow yang pendek, dia tidak bisa memenangkan pertengkaran tersebut. Flow jatuh menggelinding ke pinggir trotoar, yang mana membuat Russell merasa sangat kesal. Tak terima Flow di perlakukan kasar seperti itu, Russell dengan penuh kemarahan merebut kaleng bekas dari tangan si anak pemulung. Namun sialnya kaleng itu malah terlempar ke tengah jalan saat anak pemulung itu melakukan perlawanan. Dan ternyata, tanpa di sangka-sangka Flow langsung berlari ke tengah jalan untuk mengambil kaleng bekas tersebut. Lalu setelahnya ... kalian bisa bayangkan sendirilah apa yang terjadi. Kalau saja waktu itu sopir truk tidak banting stir ke seberang jalan, mungkin kepalanya Flow sudah menjadi keripik kriuk di jalanan. Untungnya musibah itu berhasil di hindari dan sebagai hukumannya ... Russell, Bern, Karl, Reiden, Cio dan juga Andreas harus rela di hukum gantung oleh ayah masing-masing. Kalian pasti bingung bukan kenapa bisa semua orang terkena hukuman? Jawabannya adalah karena yang hampir terluka bernama Flowrence Wufien Ma. Kalian tahu kan siapa gadis ini? Ya, gadis bantat menggemaskan itu adalah pemegang kasta tertinggi di keluarga mereka. Jadi wajar saja jika sekalinya dia terluka, maka semua orang akan terkena imbasnya.


"Russell, kau kenapa melamun di sana? Sedang meratapi nasib ya?" tanya Flow.


"A-ah, tidak. Aku hanya sedang melihat pemandangan langit malam saja," jawab Russell kaget saat Flow membuyarkan lamunannya.


Flow mengerutkan keningnya. Dia lalu menengadah ke atas, kemudian menatap Russell dengan pandangan aneh.

__ADS_1


"Langit itu kan di atas, tapi kenapa kau melihat ke arah depan? Bola matamu baik-baik saja kan, Russell?" tanya Flow khawatir. Dia yakin ada yang salah dengan mata saudaranya ini, makanya Russell sampai bilang sedang menatap langit yang bukan berada di atas.


Hening. Baik Russell maupun kedua orangtunya mereka sama-sama tak ada yang bisa membalas perkataan Flow. Ketiga hanya bisa diam sambil saling melempar pandangan.


"Ekhmmm, Flow. Besok pagi kau sekolah 'kan?" tanya Kayo memecah keheningan. Dia lalu menoleh ke arah Russell, memberi kode agar putranya itu datang mendekat.


"Sekolah, Bu," jawab Flow dengan tampang polosnya. "Aku ini kan murid teladan. Para guru dan teman-temanku pasti akan merasa sangat kehilangan jika aku tidak datang ke sekolah!"


"Benarkah?"


Kayo dan Jackson menahan tawa. Yang benar saja. Dari sekian banyak siswa yang ada di sekolah buangan itu, putri mereka adalah yang paling bodoh. Bahkan ketika Bern dan Karl sudah berada di kelas sembilan, Flow masih mempertahankan diri dengan tetap berada di kelas tujuh. Kendati demikian, semua anggota keluarga tidak ada yang membully-nya karena mereka semua tahu memang hanya sebatas inilah kemampuan Flow di sekolah.


"Oh iya Bu, Ayah. Salah satu temanku besok ada yang berulang tahun. Dia mengajak teman satu kelas untuk makan mie bersama," ucap Flow memberitahu kedua orangtuanya tentang ajakan salah satu temannya.


Russell langsung waspada.


"Di mana kalian akan pergi makan?"


"Di kedai mie yang tak jauh dari sekolah kami. Kenapa memangnya? Kau mau ikut juga?" tanya Flow dental bijak menawarkan.


"Kau yakin mereka bukan sedang mengerjaimu, Flow? Teman-temanmu itu kan sangat nakal, aku khawatir mereka hanya ingin mempermainkanmu saja," sahut Russell cemas.


"Jangan cemas, Russell. Paling-paling mereka hanya akan meninggalkan aku sendirian di sana. Mereka baik kok!"


Jackson menggelengkan kepala saat Russell ingin kembali berbicara. Dia lalu meminta Kayo agar membawa Flow masuk ke dalam rumah. Setelah itu Jackson mengajak Russell untuk bicara sebentar.


"Kabari semua saudara-saudaramu agar sepulang sekolah besok mereka pergi menjemput Flow di sekolahnya,"


"Apa tidak bisa hanya aku saja yang pergi, Ayah?" tanya Russell sedikit tak rela berbagi kesempatan menjaga Flow dengan ke enam saudaranya yang lain. Terutama Oliver.


"Flow bukan hanya menjadi tanggung jawabmu sendiri, Russell. Tolong mengerti itu ya?"

__ADS_1


Russell terdiam lama. Namun setelahnya dia pun akhirnya patuh akan apa yang di perintahkan oleh sang ayah. Mau bagaimana lagi, Flow memang adalah peri mini yang harus selalu di jaga oleh tujuh pangeran yang salah satunya adalah dirinya sendiri. Istimewa sekali bukan gadis itu? Tentu saja, saudara siapa dulu. Russell, 😁


*******


__ADS_2