Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sudah Lahir


__ADS_3

Di rumah sakit, Junio sudah hampir mati gara-gara melihat Patricia yang terus menjerit kesakitan sambil meremas tangannya kuat. Ini sudah beberapa jam berlalu sejak Patricia mengalami kontraksi, tapi si bayi kecambah masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Junio jadi curiga kalau bayi kecambah itu hanya ingin main-main saja.


"Uuggghhh ... sakiiittt, Jun! Tolong aku!" teriak Patricia dengan suara gemetaran. Rasa sakit ini tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Seakan ada batang pohon besar yang ingin keluar dari dalam perutnya.


"A-aku harus menolong dengan cara apa, sayang? Aku sudah mencoba bernegosiasi dengan bayi kecambah kita, tapi sepertinya tidak mempan. Dia bebal!" sahut Junio yang mana membuat dokter dan perawat yang ada di sana tercengang dengan mata membelalak lebar.


"Arrrggghhh ... sakiittt!" teriak Patricia lagi. Dia lalu menatap Junio dengan mata menyala-nyala. "Semua ini gara-gara perbuatanmu, Junio. Kau yang membuat aku jadi seperti ini. Dasar sialan, awas saja kau ya. Aku akan meminta bayi kecambah untuk membuat perhitungan denganmu setelah dia lahir. Tunggu saja! Aakhhhh, sakit dokter. Perutku seperti akan pecah. Tolong aku!"


"Tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan dengan perlahan, Nyonya. Tidak apa-apa, rasa sakitnya hanya sebentar. Setelah bayinya lahir, nanti rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya!" sahut salah satu perawat sembari memeriksa tekanan darah di tubuh wanita yang belum juga melahirkan.


Wajah Junio pucat pasi. Dia terus menelan ludah, tak tega melihat kesakitan yang tengah di tanggung oleh istrinya. Junio kemudian menatap jengkel ke arah dokter yang terlihat santai-santai saja tanpa melakukan tugas apapun. Sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah, Junio tentu tidak terima melihat dokter yang hanya berdiri diam tanpa melakukan tindakan apapun di saat istrinya sendiri terus menjerit kesakitan. Dia kemudian terfikir untuk memberikan perintah agar dokter tersebut tidak makan gaji buta.


"Dokter, kenapa kalian tidak tarik saja kepala bayi kecambah itu? Mungkin di dalam sana tangannya sengaja berpegangan erat di tali pusar, makanya dia tidak keluar-keluar. Kasihan istriku, dia sudah seperti akan mati gara-gara terus berteriak kesakitan!" ucap Junio sambil menatap tajam ke arah dokter yang hanya menunggu di samping ranjang.


Raut aneh muncul di wajah dokter dan para perawat setelah mereka mendengar permintaan konyol dari pria yang menjadi ayah dari bayi yang sedang dalam proses kelahiran ini. Sungguh, ini adalah pertama kalinya mereka mendengar seorang ayah yang meminta agar bayinya di tarik paksa karena tak tega melihat istrinya kesakitan. Romantis memang, tapi tidak begitu juga cara menunjukkan kasih sayang, bambang.


"Tuan, jika saya menarik paksa kepala bayi anda, apa anda tidak takut kalau kepala bayinya akan peyot sebelah? Setiap wanita yang ingin melahirkan pasti akan merasakan rasa sakit yang sama seperti istri anda. Jadi saya sarankan anda sebaiknya tenang dan tetap memberikan semangat untuk istri anda agar beliau tidak merasa berjuang sendirian. Melahirkan memang sangat sakit. Akan tetapi setelah bayi kalian lahir, rasa sakit itu akan langsung tergantikan dengan rasa kebahagiaan. Percayalah!" ucap dokter memahami kepanikan yang sedang terjadi di diri pria yang wajahnya sudah seputih kertas.


"Tapi dokter, ini sudah beberapa jam terlewat. Aku takut istriku mati lemas gara-gara kelelahan berteriak. Tolonglah bujuk bayi kami agar segera keluar dari dalam perutnya. Katakan padanya kalau Daddy-nya sudah menyiapkan banyak mainan mahal di rumah. Tolong dokter, aku seperti tercekik melihat istriku seperti ini. Aku tidak kuat!"

__ADS_1


Mendengar perkataan suaminya yang sangat tidak masuk akal, membuat tubuh Patricia seperti kehilangan tenaga. Junio benar-benar sangat bodoh. Memangnya bayi mana yang bisa di bujuk dengan mainan di saat bayi itu sendiri masih berada di dalam perut. Kesal karena keberadaan suaminya tidak membantu sama sekali, Patricia meminta perawat untuk mengusir Junio dari dalam ruangan. Dan sebagai gantinya, dia meminta agar perawat membawa ibunya masuk kemari.


Sambil menggumam tidak jelas, Junio mengikuti langkah perawat yang mengajaknya keluar dari ruang persalinan. Dia kemudian berdiri di sebelah ayah mertuanya yang terlihat tegang dengan keringat bercucuran di keningnya.


"Ayah, apa kau tahu cara membujuk si bayi kecambah agar mau segera keluar dari dalam perut Patricia? Di dalam tadi aku sudah melakukan berbagai macam bujukan, tapi tetap saja dia tidak luluh. Apa bayiku tidak mempunyai telinga ya? Makanya dia bersantai-santai di dalam sana," tanya Junio penasaran.


"Kau jangan sembarangan bicara, Junio. Kau pikir bayimu itu sudah bisa mengerti apa yang kau mau. Di dalam sana dia juga sedang berjuang untuk menemukan jalan keluar. Jadi jangan kau kira kalau bayimu hanya santai-santai saja di sana. Dia juga ingin segera lahir ke dunia agar bisa bertemu dengan Mommy dan Daddy-nya. Paham tidak?" omel Bryan tak habis pikir dengan jalan pikiran menantunya.


"Aku mana mungkin tahu apa yang sedang dia lakukan di dalam perut Patricia, Ayah. Lagipula saat aku datang menjenguknya dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Coba saja kalau bayi kecambah berpesan untuk membukakan jalan, dia pasti tidak akan kesulitan seperti sekarang. Benar tidak?"


Kalau saja tidak mengingat pria di sebelahnya adalah menantunya, Bryan pasti sudah menggetok kepala pria ini menggunakan sepatu yang dia pakai. Seumur-umur Bryan hidup, baru kali ini dia bertemu manusia yang pemikirannya benar-benar sangat konyol. Bryan jadi bertanya-tanya akan seperti apa cara Junio mendidik cucunya nanti jika dalam hal seperti ini saja dia tidak tahu. Malah dengan begitu gamblang bicara tentang kelakuannya dalam mengunjungi si bayi saat masih berada di dalam perut Patricia. Sepertinya urat malu pria ini sudah putus sampai-sampai berani bicara seperti itu di hadapan mertuanya sendiri.


"Sejak tadi aku juga selalu berdo'a, Ayah. Tapi ya itu, bayinya tidak keluar-keluar juga."


"Sudah diam. Kepala Ayah sakit gara-gara mendengar ocehanmu."


Junio mendengus. Dia berjengit kaget saat mendengar suara teriakan Patricia yang begitu kencang dari dalam ruangan bersalin. Seketika Junio langsung menelan ludah, takut dan juga cemas.


Kenapa menunggu orang melahirkan rasanya bisa setegang ini ya? Ini hanya aku yang merasakan atau semua para suami di muka bumi ini juga merasakan hal yang sama? Mengerikan. Ternyata mempunyai anak itu hanya enak saat membuatnya saja. Saat ingin melahirkan, aku dan Patricia sama-sama kesakitan lahir batin. Apa ini sebabnya mengapa surga hanya ada di telapak kaki ibu?

__ADS_1


Saat Junio sedang melamunkan sesuatu yang tidak karu-karuan, dia di kejutkan oleh suara tangis seorang bayi yang begitu menggema dari dalam ruangan. Junio gelagapan, dia bingung harus melakukan apa sekarang.


"Ayah, bagaimana ini? Bayinya sudah lahir, apa yang harus aku lakukan?"


"Tenanglah. Nanti perawat pasti akan memberitahu hal apa yang harus kau lakukan," jawab Bryan seraya mengusap sudut matanya yang meneteskan air mata. Dia telah menjadi seorang kakek sekarang.


"Wahh, aku sekarang resmi menjadi Daddy. Aku sudah punya anak, Ayah. Bayi kecambahku sudah lahir."


Setelah berkata seperti itu Junio langsung menghubungi semua nomor yang ada di ponselnya. Dia tidak peduli apakah panggilannya akan mengganggu orang-orang tersebut atau tidak. Ya, Morigan Junio junior lahir tepat ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi dimana semua orang masih berada di alam mimpi.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...YEYYY.... SATU PENJAGA CALON ANAK-ANAKNYA ELEA SUDAH HADIR... SELAMAT YA JUNIO DAN PATRICIA...... GENGSSS... AYO MANA BOM KOMENTAR KALIAN, EMAK LESU NIH......


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2