
Jackson dengan hati-hati membantu Elea turun dari ranjang. Dia lalu membawanya duduk dimana Gabrielle sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Jangan pegang-pegang istriku!" omel Gabrielle sembari menepis tangan Jackson dari bahu istrinya. Dia sangat cemburu, itu tentu saja.
"Kalaupun kupegang memang apa masalahnya. Lagipula aku ini kan kakaknya, bukan virus yang mudah menyebar," sahut Jackson sedikit tersinggung dengan ucapan Gabrielle.
"Oh, tentu saja itu masalah. Kau mungkin memang bukan virus, tapi di dalam hatimu pernah ada sesuatu yang spesial untuk istriku. Wajarlah jika aku merasa cemburu," ucap Gabrielle. Dia tak ingin kalah dengan alasan Jackson. Gabrielle mana mungkin rela membiarkan istri kesayangannya di sentuh oleh pria lain, sekalipun Jackson adalah kakaknya.
Elea santai-santai saja melihat suami dan kakaknya bertengkar hebat. Hal biasa, begitu pikirnya. Sekalian untuk latihan mental jika nanti Elea punya anak. Karena jika penglihatannya tidak meleset, satu dari ketiga anaknya akan menjadi anak angkat kakaknya. Dan dari bayangan yang Elea rasakan, kakak dan suaminya ini akan memperebutkan baby Flow, si cantik yang akan hidup dengan di kelilingi oleh pria-pria posesif. Membayangkan hal itu membuat Elea tanpa sadar tersenyum senang. Hidup putrinya pasti akan sangat bahagia karena akan di jaga oleh banyak pria tampan nan kaya raya.
"Sayang, aku dan Jackson sedang bertengkar tapi kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Gabrielle curiga.
"Iya. Harusnya kau itu melerai kami, bukan malah bersikap acuh begini," imbuh Jackson ikut merasa curiga akan sikap sang adik.
"Kenapa juga aku harus melerai kalian berdua. Kan malah bagus kalau Kak Iel dan Kak Jackson bertengkar seperti tadi. Kalian terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat romantis," ledek Elea dengan santainya.
Bola mata Jackson dan Gabrielle hampir meloncat keluar saat Elea menyebut mereka sebagai pasangan suami istri. Mereka kemudian sama-sama membuang muka ke arah lain untuk menutupi kekesalan masing-masing.
"Hmm, begitu saja marah," goda Elea sambil tertawa cekikikan. "Kalau tadi kalian terlihat seperti pasangan yang romantis, sekarang kalian malah terlihat seperti anak kecil yang sedang bertengkar karena memperebutkan balon. Lucu sekali."
"Elea!" teriak Gabrielle dan Jackson bersamaan.
"Hahahaa.. iya-iya maaf."
Elea terus terkikik lucu melihat kakak dan suaminya yang masih merajuk. Benar-benar pemandangan yang sangat menggemaskan. Seorang dokter ahli yang merangkap sebagai mantan pembunuh bayaran, juga seorang pewaris besar yang mempunyai sikap datar nan dingin seperti kulkas dua pintu, tiba-tiba berubah seperti kucing perajuk ketika berada di dekatnya. Andai saja ada orang lain yang melihat pemandangan ini, mereka pasti tidak akan mempercayainya. Sungguh, suami dan kakaknya ini lucunya sangat tidak ada obat. Membuat Elea jadi tertantang untuk kembali menggoda mereka.
"Jangan mulai lagi, Elea!" cegah Gabrielle saat mendengar isi pikiran sang istri.
"Jangan memulai apa maksudnya, Kak?" tanya Elea pura-pura sok polos.
"Elea," ....
"Apa sayang?"
__ADS_1
Jackson bergidik geli melihat Gabrielle yang langsung meleleh seperti es krim ketika di panggil sayang oleh adiknya. Sungguh, kebucinan pria ini sangat tidak memandang tempat. Bisa-bisanya Gabrielle berlagak seperti putri malu hanya karena di goda seperti itu oleh Elea. Dan tiba-tiba saja benak Jackson terbersit tentang Ares yang setiap saatnya ada di sisi Gabrielle, yang kemungkinan besar selalu menyaksikan kebucinan dua sejoli ini.
Res, kau beruntung karena sekarang tidak ada di sini. Setelah melihat betapa menyebalkannya reaksi Tuan Muda-mu, aku sedikit paham akan penderitaan yang selama ini kau pendam. Andai aku jadi kau, aku pasti akan memilih untuk berhenti menjadi seorang sekertaris daripada harus menyaksikan kegilaan Gabrielle yang tidak ada obat ini. Hiii...
"Ekhmm sudah cukup bercandanya. Sekarang saatnya kita mendengar penjelasan tentang hasil pemeriksaanmu tadi," ucap Gabrielle sambil berpangku dagu menatap wajah Elea. Istrinya ini sangat cantik, apalagi jika sedang menggodanya seperti tadi. Hmm.
"Ah, benar juga. Aku sampai lupa kalau kita sedang berada di rumah sakit, Kak," sahut Elea tanpa merasa bersalah pada sang kakak yang kini sudah memasang wajah masam.
"Anggap saja kalau kalian sedang pergi bulan madu. Menyebalkan!" gerutu Jackson.
Elea dan Gabrielle terkekeh. Setelah itu mereka fokus mendengarkan penjelasan Jackson mengenai hasil pemeriksaan Elea.
"Ginjal baru yang ada di tubuhmu sudah bisa bekerja dengan baik seperti organ yang lainnya. Sekarang kita hanya perlu memantau kesehatanmu saja dan juga luka bekas operasi kemarin. Sedangkan untuk kista yang kau idap itu sepertinya tidak akan terlalu berpengaruh asalkan kau rutin melakukan pemeriksaan setiap minggunya. Semoga saja untuk ke depannya nanti keadaanmu bisa jauh lebih baik dari hari ini," ucap Jackson sambil menarik nafas lega. Dia lalu menatap sang adik dengan penuh suka cita. "Kau adalah gadis yang sangat kuat, Elea. Kakak bangga padamu."
"Waahhh, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan, Kak Jackson. Terima kasih banyak ya sudah merawatku selama ini," sahut Elea dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, kenapa kau hanya berterima kasih pada dia saja? Aku juga kan ikut merawatmu dari mulai kau sakit sampai detik ini. Tolong jangan abaikan aku!" protes Gabrielle cemburu. Dia lalu melirik tajam ke arah Jackson.
Dasar dokter sialan. Gara-gara kau aku jadi yang kedua mendapat ucapan terima kasih dari Elea. Huh.
Meleleh. Lagi-lagi Gabrielle di buat meleleh oleh ketulusan cinta istrinya. Saat ini hati Gabrielle sedang di tumbuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Membuatnya seperti sedang berada di musim semi.
"Haiiisshhhh, kenapa ruangan ini jadi gerah sekali ya. Aku bisa mati jika tetap berada di sini!" sindir Jackson yang kembali menjadi korban dari kebucinan Gabrielle dan Elea.
"Kalau begitu kau pergi saja. Tidak ada gunanya juga kau ada di sini!" usir Gabrielle tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah Elea.
"Benar, Kak Jackson pergi saja. Jangan jadi pengganggu," imbuh Elea dengan kejam.
Andai saja yang bicara bukan adiknya, Jackson pasti sudah melubangi kepala perempuan ini. Bisa-bisanya mereka mengusirnya keluar dari ruangannya sendiri. Sumpah, keberadaan Jackson benar-benar tidak di anggap oleh kedua manusia ini. Sangat kejam.
"Aku mencintaimu," ucap Gabrielle sambil menggerakkan bibir seperti orang yang sedang berciuman.
"Aku juga, Kak. Sangat malah," sahut Elea mengikuti apa yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
"Dan aku sangat membenci kebucinan kalian. Huhh, dasar brengsek!" umpat Jackson kemudian kabur dari sana sambil bersungut-sungut.
Ares yang saat itu menunggu di luar tampak kaget saat pintu ruangan di tutup dengan sangat kuat. Dia lalu memandang heran ke arah dokter Jackson yang terlihat begitu emosi.
"Apa yang terjadi di dalam, dokter Jackson?" tanya Ares penasaran.
"Kedua manusia dajjal itu sedang menabur kebucinan di ruanganku. Benar-benar sangat menjengkelkan. Bisa-bisanya mereka bermesraan ketika aku masih ada di sana!" jawab Jackson mengomel. "Res, bagaimana bisa kau masih baik-baik saja menghadapi kegilaan Gabrielle dan Elea?"
Ares menyeringai.
"Siapa bilang aku baik-baik saja? Asal dokter tahu ya, aku bahkan pernah mati sebanyak tujuh kali semenjak Tuan Muda Gabrielle tergila-gila pada Nyonya Elea."
"Jadi kita ini adalah korban?"
"Benar."
"Sungguh kasihan," ucap Jackson sambil tertawa kecut.
"Sangat."
"Apa kau ingin mati?"
"Tentu. Tapi Tuhan tidak akan mengizinkan karena nanti kita akan kembali hidup untuk menyaksikan kebucinan Tuan Muda Gabrielle pada Nyonya Elea."
Jackson menarik nafas panjang. Sia-sia. π€£
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...