Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Hilang Satu Tumbuh Seribu


__ADS_3

Setelah agak baikan, Gabrielle memutuskan untuk membawa Elea pulang ke rumah. Dia bisa menjadi gila sendiri jika tetap membiarkan istrinya berada di kampus dalam kondisi pucat pasi seperti mayat. Meski awalnya menolak, Elea akhirnya berhasil di bujuk untuk pulang setelah Gabrielle mengiming-imingi kalau di perjalanan pulang nanti mereka akan mampir ke rumah Ibu Yura untuk menjenguk Grandma Clarissa.


"Pelankan kecepatan mobilnya, Res. Ingat, kau sedang membawa lima orang penumpang dengan tiga ekor bayi yang baru sebesar kacang polong. Guncangan sedikit bisa membuat mereka berteriak kesakitan nanti!" tegur Gabrielle terus mewanti-wanti Ares agar hati-hati.


"Baik, Tuan Muda," sahut Ares dengan sangat patuh.


Jika biasanya waktu yang di tempuh untuk menuju kediaman keluarga Young hanya selama lima belas atau dua puluh menit, kali ini Ares memerlukan waktu hingga hampir satu jam setengah untuk mereka sampai di sana. Yura yang sebelumnya sudah mendapat kabar kalau anak dan menantunya akan datang berkunjung terlihat sedang berdiri menunggu di luar gerbang. Wanita cantik ini langsung ternganga kaget begitu melihat ada empat buah mobil yang bergerak dengan sangat lambat menuju ke arahnya.


Apa-apaan itu? Bukannya itu mobil yang biasa di pakai Ares dan Gabrielle ya? Tapi kenapa mobilnya bergerak seperti keong? Aneh. Apa jangan-jangan bahan bakarnya habis ya. Ah, tidak mungkin. Gabrielle kan mempunyai tambang bahan bakar sendiri, mustahil mobilnya bisa sampai kekeringan.


"Wahhh, ada Ibu Yura di sana. Ibu pasti sangat kaget melihat rombongan mobil kita, Kak," ucap Elea kegirangan. Setelah itu dia membuka kaca jendela lalu sedikit mencondongkan tubuhnya sambil melambaikan tangan ke arah sang ibu. "Ibu Yura, kenapa Ibu melamun di pinggir jalan. Awas, nanti kerasukan setan!"


Yura tergagap. Segera dia menyadarkan diri dengan meminta Elea agar kembali duduk dengan baik. Yura khawatir terjadi sesuatu pada calon cucunya.


"Elea, kembalilah duduk bersama Gabrielle. Hati-hati, kau itu sedang hamil, sayang!"


Dan benar saja. Elea langsung kembali duduk dengan baik begitu mendapat peringatan dari sang ibu. Dia lupa kalau di dalam perutnya ada tiga ekor kepala yang bisa saja menjadi gepeng kalau tadi dia terus menekannya ke bagian pintu mobil. Untung saja ibunya itu segera mengingatkan. Jika tidak, entahlah, Elea tak berani membayangkan.


"Hmmm, jangan takut. Semua bagian yang keras di mobil ini sudah di lapisi dengan busa yang sangat empuk, sayang. Jadi bayi-bayi kita tidak akan gepeng saat kau lupa menekankan perut ke bodi mobil," ucap Gabrielle sambil membelai-belai rambut istrinya.


"Benarkah? Woaahhh, Kak Iel benar-benar suami yang sangat siaga. Aku jadi semakin mencintaimu, Kak!" sahut Elea dengan leganya.


Jika Gabrielle di buat meleleh seperti jelly gara-gara perkataan Elea, lain halnya dengan yang di rasakan oleh Ares. Ya, mobil ini bisa terlapisi busa adalah karena saran darinya. Sengaja dia memberitahukan pada Tuan Muda-nya agar tidak terlalu membatasi ruang gerak sang nyonya ketika berada di dalam mobil. Namun seperti biasa, banteng pencemburu mengambil kesempatan untuk menaikan pamor kesiagaan di hadapan sang istri tercinta. Ares bisa apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah tetap diam sambil terus membatin agar kelak anaknya tidak terlahir dengan sikap dan prilaku seperti Tuan Muda-nya.


Amit-amit, amit-amit. Cira, semoga kelak anak kita terlahir dengan hati sebaik dirimu.

__ADS_1


Gabrielle menatap tajam ke arah Ares yang baru saja membatin. Namun ketika dia hendak menegurnya, mobil sudah lebih dulu berhenti di mana Elea langsung keluar untuk menghampiri sang ibu.


"Sayang, hati-hati. Kalau kakimu tersangkut lalu anak-anak terpental keluar dari dalam perutmu bagaimana!" teriak Gabrielle dengan sangat panik.


Elea, Ares, Yura, dan juga para pengawal menatap heran ke arah Gabrielle setelah dia berteriak seperti itu. Lalu setelahnya semua orang mengabaikannya, malas meladeni kesintingan Gabrielle yang suka berkata seenaknya tentang bayi-bayi yang di kandung oleh Elea.


"Bu, apa Kak Cia ada di sini?" tanya Elea setelah melepaskan pelukan dari tubuh ibunya.


"Ada, sayang. Ayahmu tidak membiarkan Junio membawa kakak dan keponakanmu pergi dari rumah ini. Ayahmu juga bilang kalau Junio harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu jika tetap nekad menculik Cia dan baby Cio," jawab Yura.


Deg deg


Jantung Elea tiba-tiba berdebar dengan sangat kuat ketika dia mendengar kata mayat. Wajah yang tadinya sudah tidak terlalu pucat kini kembali memucat yang mana membuat sang ibu sampai terkaget-kaget.


Gabrielle? Jangan di tanya lagi. Dia dengan sigap membalik tubuh Elea agar menghadap ke arahnya kemudian menangkup kedua pipinya. Dingin, itu yang Gabrielle rasakan ketika kulit tangannya menyentuh kulit wajah Elea.


Ada yang tidak beres. Apa mungkin Elea telah melihat sesuatu yang sangat mengerikan? Tapi apa? Arrgggggghg, sial! Dia sedang hamil, pikirannya mana boleh terbebani. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


"Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja," ucap Elea mengulang kata dengan bibir gemetar.


"Sayang, apa kau ingin pulang ke rumah? Kau tidak sehat, sebaiknya istirahat saja bersamaku. Oke?" bujuk Gabrielle penuh kekhawatiran.


Hilang satu tumbuh seribu. Setiap insan yang mendapat kebahagiaan besar dari Tuhan, biasanya Dia akan mengambil sesuatu yang besar juga dari hidup insan tersebut. Ak hamil, kembar tiga. Tapi Grandma? Kak Iel, aku tidak sanggup. Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku tidak bisa ....


Mendengar kalau putrinya sedang tidak sehat, Yura pun menjadi sangat kaget. Dia lalu berinisiatif untuk mengajak Elea masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita istirahat di dalam saja. Ibu khawatir kau dan bayimu kenapa-napa."


"Ibu Yura, tidak usah. Sebaiknya aku membawa Elea pulang ke rumah Ibu Liona saja. Tadi di kampus dia mengalami muntah-muntah sampai di lahirkan ke ruang kesehatan. Aku khawatir dia akan kembali muntah yang mana bisa membuat Grandma merasa khawatir. Ibu tidak keberatan bukan kalau kami tidak mampir?" tanya Gabrielle mencari alasan agar Elea tidak sampai masuk ke dalam rumah.


"Ya Tuhan, Elea sampai masuk ke ruang kesehatan?" kaget Yura. "Ya sudah kalian sebaiknya pulang saja. Tidak apa-apa tidak mampir, masih ada banyak kesempatan di lain hari. Sekarang yang jauh lebih penting adalah kesehatan Elea dan juga ketiga bayinya. Biar nanti Ibu dan Ayah saja yang datang berkunjung. Ya?"


Tanpa pikir panjang lagi Yura segera membantu Gabrielle membimbing Elea masuk ke dalam mobil. Dia dengan sangat hati-hati memastikan kalau putrinya ini sudah duduk dengan posisi yang sangat nyaman.


"Istirahat yang banyak ya, sayang. Nanti malam Ayah dan Ibu pasti akan datang menjengukmu. Kau ingin di bawakan makanan tidak?" tanya Yura tak tega melihat wajah putrinya yang semakin memucat.


"Aku ingin makan mie goreng buatan Ibu. Harus pakai telur mata sapi, sayuran dua biji, harus pedas dan ada sayap ayamnya. Bisakah?" tanya Elea berusaha untuk tersenyum meski hatinya sudah hancur berkeping-keping.


"Sangat bisa. Nanti Ibu akan membuatkannya khusus untukmu," jawab Yura.


"Kalau begitu kami pulang dulu, Ibu," pamit Gabrielle.


"Iya. Ares, hati-hati ya. Kau tenang saja, Cira dan anakmu aman di tangan Bibi," ucap Yura sebelum menutup pintu mobil.


"Terima kasih banyak, Bibi Yura. Kalau begitu kami permisi dulu."


Ares segera menjalankan mobil dengan kecepatan sedang setelah mendapat perintah kalau mereka harus secepatnya sampai di rumah. Dia sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi karena mendadak sang nyonya jadi sebegini pucat. Padahal saat berangkat tadi nyonya-nya terlihat begitu bahagia.


Aneh.


*****

__ADS_1


__ADS_2