
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Bughhhh
Dengan marah Karl meninju stir mobil begitu anak buahnya melapor tentang aset berharga yang telah di jual oleh sang nenek. Murka, itu sudah pasti. Sejak awal Karl memang telah mengincar aset tersebut. Karena dari yang Karl tahu aset tersebutlah yang paling di sayang oleh sang nenek. Entah apa alasannya, Karl tidak tahu. Yang jelas kini dia benar-benar marah karena gagal memilikinya.
“Kau benar-benar brengsek, Liang Zhu. Beraninya kau menjual tempat itu. Apa kau tidak tahu kalau di sana tertanam beberapa peninggalan dari dinastimu, hah! Dasar bodoh. Kalau semua aset yang disana menjadi milikku, kekayaanku bisa melebihi kekayaan yang keluarga Ma miliki. Arggghhhh, kep*rat!” amuk Karl sambil terus meninju stir mobil.
Muak, Karl pun bergegas keluar kemudian melangkah masuk ke dalam labolatoriumnya. Dia butuh tempat ini untuk memelampiaskan emosinya yang sedang membara. Namun, saat Karl hendak memasukkan sidik jari untuk membuka gerbang baja yang melindungi ruangan paling penting dimana Karl menyimpan lukisan jendral Liang Zhu, tubuhnya dibuat menegang oleh suara seseorang. Segera dia berbalik menghadap belakang untuk memastikan kalau dugaannya tidaklah salah.
“Karl!”
Liona tersenyum. Dia kemudian berjalan menghampiri cucunya yang terlihat kaget begitu berbalik menghadapnya. “Kau baru pulang, Nak?”
__ADS_1
“N-Nenek?” Karl tergagap. Ekor matanya kemudian melirik ke arah belakang sang nenek dimana semua anak buahnya duduk bersimpuh di lantai dengan mutan berdiri di samping mereka sambil mengacungkan senjata. Seketika giginya menggeretak. “Apa-apaan ini, Nek? Kenapa Nenek datang kemari dan menyandera semua anak buahku? Apa tujuan Nenek?”
“Jangan marah dulu. Mari kita duduk dan bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Oke?” jawab Liona dengan sabar membujuk Karl. Dia dengan penuh sayang hendak meraih tangan Karl, tapi ditepisnya. Penolakan ini sesaat membuat dada Liona terasa sesak, hatinya sedih dan juga merasa bersalah. Tak putus asa, Liona kembali mencoba untuk meraih tangan Karl. Dan kali ini berhasil, Karl hanya diam membiarkan. “Karl, apa kau marah karena Nenek melakukan bazar amal?”
“Tidak ada urusannya denganku. Semua aset itu milik Nenek, aku tidak berhak berkomentar,” sahut Karl dingin. Dia lalu menyeringai. “Nek, aku tahu tujuan Nenek datang kemari bukan untuk membahas hal ini. Ada apa? Katakan saja!”
Tatapan Liona menyendu. Dia kemudian melihat ke arah ruangan rahasia yang terkunci dengan sidik jari khusus. Sebenarnya Liona bisa saja memaksa masuk ke dalam ruangan tersebut, tapi entah mengapa hatinya mengatakan untuk tidak melakukannya. Jadilah dia menunggu Karl saja yang mengajaknya masuk ke sana.
“Bisakah kita bicara di dalam ruangan itu saja, Karl? Ada beberapa hal yang ingin Nenek sampaikan, dan itu hanya boleh kau saja yang mendengar. Bisa?”
“Masuk ke sana? Nenek yakin?"
Klik.
Pintu terbuka. Dan pemandangan yang pertama kali dilihat oleh Liona adalah sebuah lukisan dimana itu adalah dirinya sewaktu menjalani hidup sebagai Jendral Liang Zhu. Gugup, tentu saja tidak. Liona sudah menebak kalau Karl pasti memiliki lukisan ini mengingat kalau cucunya mempunyai kemampuan berlebih untuk melihat ke masa lalu. Sambil tersenyum kecut, Liona melangkah pelan menuju lukisan tersebut. Dia lalu mengelusnya, meresapi bagaimana dulu wanita di dalam lukisan ini harus mati setelah menyaksikan kejadian yang sangat amat memilukan. Liang Wei, adiknya. Kenangan menyakitkan itu tanpa terasa membuat air mata Liona menetes keluar.
“Maaf,”
__ADS_1
Kening Karl mengerut. Dia lalu tersenyum licik. “Oh, jadi Nenek sudah sadar ya siapa orang yang ada di dalam lukisan itu? Bagaimana? Apa sekaranag Nenek merasa senang? Pasti senang. Iya ‘kan? Secara, Nenek jadi bisa bernostalgia dengan seorang jendral pembantai manusia bernama Liang Zhu. Aku benar bukan?”
“Kau benar, tapi tidak sepenuhnya Nenek bersalah. Waktu itu Nenek hanya terbebankan tugas, Nenek memikul tanggung jawab besar dimana Nenek diminta untuk menjaga kemakmuran rakyat yang hidup di masa Dinasti Ming. Semuanya tidak mudah, Karl. Andai bisa memilih, Nenek tidak akan mau hidup dengan memikul tanggung jawab seperti itu. Nenek pasti akan lebih memilih untuk hidup sebagai orang biasa agar cucu-cucu Nenek tidak ada yang menderita. Nenek menyesal, Nenek menyesal sekali!”
Setelah berkata seperti itu Liona berbalik menghadap belakang. Tanpa dinyana-nyana, untuk pertama kalinya Liona duduk bersimpuh memohon ampun pada orang lain. Dan hal ini dia lakukan di hadapan cucunya sendiri.
“Begitu besar rasa bersalah yang Nenek pikul setelah tahu kalau kau menderita karma buruk atas apa yang telah Nenek lakukan di masa lalu, Karl. Nenek … Nenek merasa sangat berdosa. Nenek menyesal, Karl. Hiksssss,” ucap Liona sambil berurai air mata. “Saat pertama kali Nenek tahu kalau kaulah yang terlahir dengan kutukan karma buruk itu, Nenek merasa kalau dunia Nenek menjadi sangat gelap. Nenek sungguh tidak menyangka semua hal yang pernah Nenek lakukan akan berdampak sampai seperti ini. Tolong maafkan Nenek karena sudah membuat hidupmu menderita ya. Nenek tidak sengaja.”
Karl diam mematung di tempatnya berdiri. Dia … dia tidak menyangka kalau sang nenek ternyata telah mengetahui siapa dirinya. Karl tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Haruskah dia merasa senang atau malah marah karena rahasianya telah di ketahui oleh orang lain. Dia linglung seketika.
“Hikss, Karl. Tolong jangan diam seperti ini, sayang. Beritahu Nenek apa yang harus Nenek lakukan untuk menebus kesalahan itu? Nenek benar-benar minta maaf kepadamu. Nenek sungguh tidak memiliki niat untuk menyengsarakan hidupmu sampai seperti ini. Bicaralah, Karl. Katakan apa yang harus Nenek lakukan sekarang. Ya?” ucap Liona meminta agar Karl membuka suara. Dadanya sakit melihatnya yang hanya berdiri diam tanpa berkata apa-apa.
Dari dalam sebuah mobil, Greg yang tengah mendengarkan percakapan antara istri dan cucunya tak henti menghela nafas. Kedatangan Liona ke labolatoriumnya Karl adalah saran dari Greg. Dia berpikir jika mereka bertemu dan bicara empat mata, maka kesalahpahaman ini bisa terselesaikan dengan baik. Namun, sepertinya rencana yang Greg buat akan berakhir alot karena Karl masih belum mau memberikan respon atas permintaan maaf yang dilayangkan oleh Liona. Dan jujur ini membuat Greg merasa khawatir. Dia takut Karl khilaf kemudian melakukan hal buruk pada istrinya. Itu bisa saja terjadi bukan?
“Liang Zhu, apa kau kira permintaan maafmu bisa mengobati kesengsaraan yang telah kurasakan selama ini?” tanya Karl tanpa ragu memanggil sang nenek dengan sebutan Liang Zhu. Dia lalu menatap sinis ke arah sang nenek yang masih bersimpuh di hadapannya. “Apa kau kira dengan aku memaafkanmu itu bisa mengobati luka yang selama ini aku rasa? Kau … kau dan Ayah selalu saja membanggakan Bern dan juga Flowrence di hadapan semua orang. Kalian tidak ada yang berpikir apakah aku akan sakit hati atau tidak melihat kelakuan kalian itu. Oke, awalnya aku tak berniat untuk menghabisi kalian semua, terutama kau, Bern dan juga Flowrence. Tapi kelakuan tak adil kalian membuatku berubah pikiran. Aku mengubah Bern menjadi seseorang yang sangat tamak akan harta dan kekuasaan. Setelah itu aku akan membuat kalian semua mengusir Bern dari keluarga Ma, bahkan jika bisa membunuhnya sekalian. Sedang Flow, dia akan segera mati setelah itu. Sampah sepertinya tidak akan kubiarkan tetap hidup. Dan terakhir, itu kau. Kau harus mati menyusul para ruh yang sebelumnya telah kau bunuh. Tahu kau. Hah?!”
Dengan amarah yang berapi-api, Karl mencekik leher neneknya dengan sangat kuat. Matanya memerah, menandakan betapa dia sangat benci dengan keadaannya yang sekarang.
__ADS_1
Karl, jika dengan membunuh Nenek itu bisa membuatmu merasa tenang, maka lakukanlah. Kau pantas jika ingin membunuh Nenek. Nenek dengan senang hati akan menerimanya. Nenek sangat menyayangimu, Karl. Sangat amat menyayangimu. Kau kebanggaan Nenek. Tolong maafkan wanita tua ini yang secara tak sengaja telah menjadi penyebab kau hidup menderita. Tolong maafkan Nenek ya. Nenek mencintaimu.
***