
Sekembalinya dari universitas, Elea memutuskan untuk menjenguk sang nenek di rumah orangtuanya. Ya, bagai mendapat keajaiban, usaha Elea dalam bernegosiasi dengan Tuhan benar-benar di kabulkan meski dia harus berjuang mati-matian mengumpulkan pahala dengan cara menyenangkan hati suaminya. Dan hasilnya cukup membahagiakan. Keadaan sang nenek berangsur-angsur membaik meski masih dalam keadaan koma.
"Kak, sudah dulu ya. Aku sudah sampai di rumah Ibu, nanti jangan lupa jemput aku ya?" ucap Elea sambil tersenyum manis pada suaminya. Dia tengah melakukan video call sekarang.
"Hmm, aku masih rindu padamu, sayang. Jangan di matikan dulu ya?"
"Mana bisa seperti itu, Kak. Sekarang kan Kakak sedang meeting, nanti klien-klien Kak Iel muntah darah melihat kebucinan kita. Aku kan jadi tidak enak pada mereka, Kak. Di lanjut di rumah saja ya nanti? Oke?" bujuk Elea sambil terkikik pelan.
Teman-teman, percaya tidak kalau sekarang nasib orang-orang yang ikut mendengar percakapan Tuan Muda kita dengan istri kecilnya sedang terancam bahaya? Seperti biasa, Tuan Muda kita pasti akan menyalahkan semua orang yang berani mengusik kesenangannya. Apalagi barusan nama klien-klien Tuan Muda kita secara langsung di sebut oleh Elea. Bisa kalian pastikan sendiri bukan betapa mencekamnya keadaan di ruang meeting? Tolong komentar di sini sebanyak mungkin ya biar emak mood buat crazy up lagi. π₯³
"Sayang, lanjut di rumah saja ya?"
"Haihh, mengganggu saja. Ya sudah sayang, nanti aku akan langsung pergi ke rumah Ayah untuk menjemputmu setelah semua pekerjaan di kantor selesai. Kalau kau merasa lapar, jangan menungguku pulang. Makan yang banyak supaya tubuhmu semakin berisi!"
"Bilang saja kalau Kak Iel sangat suka menyentuhku jika aku mempunyai banyak lemak. Iya kan?"
Gabrielle dan Elea sama-sama tertawa setelah mengobrol seperti itu. Mereka benar-benar mengabaikan keberadaan sopir dan juga para klien yang saat itu tengah berkumpul di ruang meeting. Ibarat kata saat Gabrielle dan Elea sedang bermesraan, dunia adalah milik berdua. Sedangkan orang-orang yang berada di sekeliling mereka hanyalah alien yang tak kasat mata. Sungguh kejam bukan efek samping dalam dunia perbucinan? π€£π€£π€£π€£
"Ya sudah, kau masuklah ke dalam. I love you, my little wife."
"I love you too, hubby."
Setelah berpamitan, Elea bergegas keluar dari dalam mobil. Dia melambaikan tangan ke arah ibunya yang ternyata sudah menunggu di depan pintu masuk.
"Halo sayang!" sapa Yura sembari memeluk erat putrinya yang baru saja datang.
"Halo juga, Ibu," sahut Elea.
__ADS_1
Sambil mengurai pelukan, Yura membimbing Elea agar masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian duduk di ruang tengah sembari berbincang hangat.
"Bu, Ayah di mana?" tanya Elea sambil celingukan mencari keberadaan sang ayah.
"Ayahmu sedang pergi ke rumah sakit. Sore ini kakak dan keponakanmu sudah boleh di bawah pulang, jadi Ayahmu pergi ke sana untuk membantu membawakan barang-barangnya baby Cio," jawab Yura.
"Yey, akhirnya aku bisa mempunyai teman untuk berkelahi di rumah ini. Hehehe."
Yura tergelak. Setelah itu dia terkekeh sambil mengusap rambut panjang putrinya. Selalu, selalu saja Yura mengucap syukur pada Tuhan akan segala kebahagiaan yang dia rasakan sekarang. Rumah tangga yang sempurna, kedua putri yang sangat cantik dan juga akur, dan sekarang kehadiran sang cucu. Sungguh, dulu secuilpun tak pernah Yura berani membayangkan hal-hal manis seperti ini. Karena baginya dulu, yang begitu dia inginkan hanyalah kesediaan Bryan untuk mengakuinya. Namun sayang, di saat kebahagiaannya terasa begitu sempurna, ibu mertua yang sangat dia kasihi jatuh koma. Keadaannya memang semakin membaik, tapi mata tua itu seperti enggan untuk terbuka. Seolah ruh ibu mertuanya tengah tersesat di suatu tempat yang sangat indah yang mana membuatnya menolak untuk kembali pulang.
"Bu, apa Kak Cira ada di kamar Grandma?"
"Ha?"
"Kak Cira sedang di kamar Grandma atau tidak?" ucap Elea kembali mengulang pertanyaannya.
"Baik, Bu."
Tanpa menunggu lama lagi, Elea langsung beranjak menuju kamar sang nenek. Dadanya berdebar kuat, dan wajahnya juga terlihat cemas. Tapi Elea segera menguatkan hati untuk ikhlas menerima kenyataan kalau sang nenek masih koma. Dia lalu tersenyum seperti biasa saat akan memasuki kamar tersebut.
Ceklek
"Hai, Kak Cira."
Cira yang saat itu sedang membacakan majalah fashion di samping mama angkatnya yang sedang koma, segera menoleh ke belakang saat mendengar suara yang sangat familiar. Dia tersenyum.
"Hai juga, Elea. Masuklah."
__ADS_1
Elea mengangguk. Dia melangkah masuk ke dalam kamar seraya memandangi wajah sang nenek yang sedang terlelap di atas ranjang. Seketika dadanya sesak, tapi dia berusaha kuat dengan tetap tersenyum ke arah Cira.
"Kabar keponakanku bagaimana, Kak? Apa dia sudah bisa main bola di dalam sini?" tanya Elea sambil duduk berjongkok di samping kursi yang di duduki oleh Cira. Dia kemudian mendongak. "Kak Cira, kau harus menjaga keponakanku dengan sangat baik. Hatimu boleh bersedih, tapi kau harus ingat kalau kau mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga seorang malaikat kecil yang hidup di dalam rahimmu. Aku tahu kau menyayangi Grandma, aku pun begitu. Kita sama-sama terluka melihat Grandma koma seperti ini. Tapi Kak, kau memiliki suami dan juga calon bayi yang harus kau perhatikan juga. Walaupun Ares ikhlas dan mengizinkan, dia tetaplah orang yang membutuhkanmu. Kau tidak boleh sampai mengabaikan kewajibanmu hanya demi Grandma saja. Itu namanya egois, bukan kasih sayang!"
Deg
Kata-kata Elea rupanya begitu menohok hati Cira. Ya, tanpa Cira sadari, Cira memang telah mengabaikan tugas-tugasnya sebagai seorang istri. Karena semenjak wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri jadi seperti ini, Cira memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tetap berada di dalam kamar ini. Dia seakan lupa kalau suaminya sudah sangat kelelahan setelah seharian penuh bekerja yang mana saat pulang ke rumah masih harus mengurus keperluannya sendiri. Menyadari betapa besar dosa yang tidak sengaja dia lakukan, membuat mata Cira jadi berkaca-kaca. Dia merasa sangat amat bersalah terhadap suaminya itu meski dalam pengabaian ini Ares tak pernah mengeluh sedikitpun. Bahkan suaminya itu malah memberikan izin untuknya menghabiskan waktu bersama Mama Clarissa. Tapi setelah mendengar teguran dari Elea, Cira sadar kalau dia tidak seharusnya bersikap seperti ini meski Ares sendiri telah mengizinkan.Ini tidak adil.
"Maafkan kelalaianku, Elea. Aku tidak sadar sudah melupakan kewajibanku mengurus Ares. Terima kasih sudah menegurku ya!" ucap Cira tulus mengucapkan terima kasih.
"Itulah gunanya saudara, Kak. Sebisa mungkin aku akan memperingatkan jika ada orang terdekatku yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Mari kita sama-sama saling menjaga dan mengingatkan ya, Kak. Aku, Kakak, dan juga yang lainnya hanyalah manusia biasa yang selalu di kejar dosa. Alangkah baiknya jika kita bisa saling mengingatkan agar ke depannya nanti di antara kita tidak merasakan apa yang di sebut penyesalan. Karena apa? Karena penyesalan selalu datang di belakang saat nasi sudah menjadi bubur. Jika di depan, itu namanya pendaftaran. Benar tidak, Kak?"
Suasana yang tadinya penuh haru seketika berubah lawak saat Cira menertawakan kata-kata absurd Elea. Sambil terus bercanda, mereka berdua saling menceritakan hal-hal lucu yang pernah mereka alami di samping Grandma Clarissa. Dan tanpa di sadari oleh mereka, dari sudut mata Clarissa meneteskan air mata. Mungkin dia terharu melihat keakraban di antara cucu dan juga putri angkatnya.
"Tuhan selalu adil pada setiap hamba-hambanya karena Dia tak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan umatNya. Percayalah, jika kalian mampu melewati cobaan-cobaan tersebut dengan hati sabar dan ikhlas, maka kebahagiaan besar tengah menantimu di masa depan.
"Teruntuk pembaca terkasih, kisah perjalanan hidup seorang gadis cantik yang bernama Elea sarat akan pesan moral dan juga nasehat. Mungkin dari kalian ada yang bertanya-tanya kalau ide yang tertuang dalam novel ini di alami sendiri oleh penulis. Jawabannya iya, tapi tidak semuanya. Dalam menulis, author selalu berusaha menyajikan tulisan yang di ambil dari kisah sehari-hari beberapa orang agar bisa menyampaikan kesan jika novel ini bukan hanya sekedar tulisan kosong belaka. Author ingin para pembaca mengambil hikmah dari setiap kejadian yang di tulis walaupun sebagian merupakan fiksi/tidak nyata. Ada salah satu dari kalian yang mengirim DM dengan bahasa yang sangat liar dan kasar. Author terima masukan dan juga kritikan dari pembaca. Tapi jujur, rasanya sedih banget saat hubungan antara Gabrielle dan Elea di sebut hanya seputar tentang ****. Begini, di ceritakan kalau Gabrielle dan Elea adalah pasangan suami istri. Mereka sah melakukan hubungan b*dan, jadi tidak ada unsur yang berbelok di cerita ini. Kecuali untuk pasangan Patricia dan Junio, mereka memang di pertemukan dengan cara yang tidak benar. Tapi itu dulu, sekarang pun mereka sudah sah menjadi suami istri. Bukannya author ingin memprotes kritik yang coba di sampaikan kalian. Author hanya ingin kalian jangan salah paham dengan adegan 21++ yang ada di novel ini, khususnya Gabrielle dan Elea. Author sedih di sebut sebagai penulis mesum, yang tahunya hanya tentang ****, ****, dan ****. Tidak begitu konsepnya, BAMBANG. Kisah ini tentang percintaan rumah tangga, bukan tentang detektif yang kerjanya memutar otak para pembaca. Jadi tolong banget, emak emang suka yg 21++ π€£π€£π€£, tapi gk sampe yang bikin kalian kelonjotan kok. Jadi untuk yang udah DM, maaf, Gabrielle dan Elea bukan hanya tentang ****, tapi lebih ke kebahagiaan dalam berumah tangga. Andai kamu baca tulisan ini, emak minta maaf kalo tersinggung. Nggak niat nyinggung, cuma niat kasih pengertian aja. Gara-gara baca DM kamu, emak ampe demam. Saking sedihnya karakter fiksi yang emak buat di sebut mesum dan hanya tahu tentang ranjang. Untuk para kapalnya Gabrielle dan Elea.... SELAMAT. Karena sebentar lagi tiga kurcacinya Elea akan segera di hadirkan. Siap-siap dengan segala kejutan yang akan emak hadirkan ya???
(MAAF CURHAT SEDIKIT π)
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...