Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mengulur Waktu


__ADS_3


📢 Gengss, jangan lupa bom komentarnya ya 💜


Ceklek


Jackson keluar dari dalam ruang operasi dengan wajah yang cukup pucat. Kemudian di susul oleh Reinhard yang juga terlihat sedikit pucat dan kelelahan. Kedua laki-laki ini baru saja bertarung dengan waktu untuk menyelamatkan banyak nyawa, jadi wajar jika tampilan mereka begitu mengerikan. Di tambah lagi karena Jackson yang terus men-tranfusikan darah di tubuhnya demi agar para dokter tidak mengulur waktu untuk mencari pendonor bagi adiknya yang memang kehilangan banyak darah setelah kecelakaan itu terjadi. Dia sekarang terlihat seperti zombie hidup yang lumayan tampan.


"Elea seharusnya selamat bukan?"


Deg deg deg


Suara dingin ini langsung menyapa indra pendengaran Jackson dan Reinhard begitu mereka menutup pintu ruangan. Jantung mereka sama-sama berdebar kuat karena mereka sadar orang yang baru saja bertanya pada mereka merupakan sosok lain yang belum pernah mereka hadapi. Gabrielle, pria bucin ini mendadak menebar hawa ketakutan di diri semua orang begitu pawangnya terkena musibah seperti ini. Sungguh mencekam.


"Bisu? Atau sengaja berpura-pura bisu?" sindir Gabrielle. Dia melirik sekilas ke arah Levita dan juga Kayo yang seperti akan bicara pada suami mereka. "Diamlah di tempat kalian berdiri sekarang. Atau aku akan membuat kalian berada di dalam ruangan yang sama dengan istriku!"


Jackson langsung menggelengkan kepala pelan ke arah Kayo yang terlihat begitu khawatir padanya. Saat ini Gabrielle benar-benar sedang menjadi sosok orang lain, dan akan sangat berbahaya jika sampai ada orang yang memprovokasi kemarahannya. Jika kalian penasaran darimana Jackson bisa mengetahui hal ini, jawabannya adalah dari kekhawatiran yang dia lihat di wajah kedua orangtua Gabrielle. Paman Greg dan Bibi Liona terlihat tak tenang, raut wajah mereka seolah menggambarkan kalau situasi sekarang benar-benar sangat tidak baik. Sebagai seseorang yang pernah berada dalam dunia hitam, sudah pasti Jackson bisa langsung tanggap dan secepat mungkin memperingatkan istrinya agar jangan memantik api. Karena pada dasarnya, diam adalah jalan terbaik untuk melindungi diri di saat-saat genting seperti ini.


"Kalian berdua ... masih belum mau bicara juga, hem?" tanya Gabrielle lagi.


"Em, G-Gabrielle. Elea ... Elea ... Dia," ....


"Rein, bicaralah yang benar. Oke?" sela Gabrielle sembari mengelap tangannya yang terkena percikan darah dari tubuh para penjaga yang kini terkapar di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Memang tidak sampai mati sih, tapi cukup membuat ruangan depan pintu operasi ini bak kolam renang berwarna merah.


"Dua bayi Elea berhasil di selamatkan. Tapi karena sebelumnya Elea mengalami dua kali benturan keras di bagian perut dan pinggangnya, kedua bayi kalian harus mendapatkan perawatan khusus dari para dokter. Jadi sekarang kau belum boleh melihat mereka dulu," ucap Jackson menggantikan Reinhard bicara. Tengkuknya sedikit meremang melihat Gabrielle yang tersenyum aneh setelah mendengar kalau kedua bayinya selamat.


Liona, Greg, Bryan dan yang lainnya nampak menghela nafas lega begitu tahu kalau cucu mereka sudah lahir. Bahagia, itu sudah pasti. Akan tetapi suasana mencekam belum sepenuhnya hilang karena aura kegelapan di diri Gabrielle masih begitu kuat. Hal ini tentu saja membuat semua orang merasa sangat stres karena dengan tidak sadarnya Elea akan membawa dampak yang sangat mengerikan di diri orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan pagi tadi.

__ADS_1


"Lalu Elea dan satu anak kami ... di mana? Apa kalian dan para dokter itu hanya fokus menyelamatkan kedua bayi itu saja, hem?"


"Bukan begitu, Gab. Saat ini tim dokter sedang berusaha mengembalikan detak jantung Elea. Saat anak keduamu berhasil di selamatkan, tiba-tiba saja Elea terkena serangan jantung yang membuat berhenti bernafas. Tapi kau jangan panik, sebisa mungkin para dokter akan mengusahakan yang terbaik untuk Elea. Kau harus percaya itu!"


"Yang terbaik?"


Mata Gabrielle memerah. Dia menengadahkan wajahnya ke atas kemudian tertawa. Jantungnya seperti di pelintir paksa mendengar kenyataan kalau istri kesayangannya tak lagi bernafas.


"Gab, tenanglah. Kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin!" sahut Jackson.


"Nun?"


"Iya, Tuan Muda!" sahut Nun seraya berjalan mendekat ke arah Tuan Muda-nya.


"Berikan pistolmu padaku!" ucap Gabrielle seraya mengulurkan tangan pada Nun. Mata tajamnya terus tertuju pada Jackson, dia tidak terima ketika diminta untuk tenang.


Kayo langsung memejamkan mata ketika Gabrielle tiba-tiba menempelkan ujung pistol ke keningnya. Levi yang tidak siap dengan kejadian ini pun akhirnya jatuh terduduk di lantai dengan mata membelalak lebar. Ini gila, benar-benar sangat gila. Kayo adalah adik sepupunya Gabrielle, bagaimana bisa Gabrielle melakukan hal ini padanya. Tidak masuk akal.


"Oke, Gab. Kau boleh melakukan apapun padaku tapi tolong jangan sakiti anak dan istriku. Kau ingin aku mati? Silahkan. Silahkan lakukan apapun yang kau mau tapi tolong jauhkan pistol itu dari kepala Kayo. Aku minta maaf kalau kata-kataku tadi ada yang menyinggungmu. Oke?" bujuk Jackson panas dingin melihat keselamatan Kayo yang terancam bahaya.


"Jack, tenanglah. Kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," ucap Gabrielle menirukan kata-kata Jackson. Dia lalu terkekeh.


Tak tahan melihat Gabrielle yang seperti hilang kewarasan, Liona akhirnya memutuskan untuk menghentikan kegilaan ini. Sudah cukup semua orang di buat panik memikirkan keadaan Elea, tidak dengan kelakuan Gabrielle yang seperti ini.


"Cukup, Gabrielle. Sekarang bukan waktunya untuk bermain-main seperti ini. Sadarlah, Kayo adalah adikmu. Dan apa yang sedang kau lakukan padanya sekarang itu bisa mempengaruhi kehamilannya. Paham?" bujuk Liona dengan sabar. Dia masih menjaga jarak, khawatir kalau-kalau Gabrielle berontak kemudian menyakiti Kayo. Bisa ricuh keadaan di sini nanti.


"Aku sadar akan apa yang aku lakukan, Bu. Dan aku hanya ingin memberi pelajaran pada orang yang sudan berani memintaku untuk tenang di saat nyawa istri dan anak-anakku berada di ambang kematian!" sahut Gabrielle dingin. "Dan apa Ibu lihat seperti apa reaksi Jackson tadi? Dia memintaku untuk tenang tapi dia sendiri tak bisa tenang melihat ujung pistol ini menempel di kepala Kayo. Dunia ini lawak sekali bukan?"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Gabrielle menurunkan pistol dari kening Kayo kemudian mengelus pipinya pelan. Dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk, Gabrielle membimbing adik sepupunya itu untuk duduk kemudian dia berjongkok di hadapannya.


"Aku tahu kau tidak takut padaku. Tapi kau juga harus tahu kalau aku tidak akan takut pada Ibumu sekalipun jika kalian sampai membuatku marah. Jadi tetaplah duduk di sini dan jangan mencampuri urusanku. Bisa?"


"Jackson baru saja mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan kakak ipar, Kak. Tolong sedikit berbaik hatilah padanya. Ya?"


"Tergantung!"


Reinhard kembali menahan nafas saat Gabrielle tiba-tiba menatapnya. Dia serasa pindah ke alam lain.


Astaga, kenapa dia bisa menggila sampai seperti ini sih? Sungguh, keadaan sekarang seribu kali lebih mencekam ketimbang keadaan di dalam tadi.


Tepat ketika Gabrielle hendak menghampiri Reinhard, pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter langsung jatuh terduduk di lantai ketika mendapati genangan darah yang berada tepat di hadapannya. Dengan wajah yang pucat pasi dokter tersebut meminta agar dokter Reinhard kembali masuk ke dalam ruangan karena denyut jantung menantu dari pemilik rumah sakit ini sudah kembali berdetak.


"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Greg spontan.


"Kami masih belum tahu, Tuan. Permisi,"


Entah karena terlalu senang atau karena memang sudah menjadi takdirnya, Levi yang kala itu masih terduduk di lantai langsung berdiri tanpa berpegangan. Namun licinnya lantai membuat keseimbangan kakinya menjadi tidak stabil. Dan ....


Brruuuukkkk


"LEVITA!"


Semua orang langsung lari berhamburan ke arah Levita yang sudah terkapar di lantai. Kecuali Gabrielle tentunya. Pria dingin ini hanya berdiri diam sambil menatap cairan pekat yang mulai mengalir keluar dari tubuh si pelakor itu. Gabrielle tersenyum.


"Sayang, apa kau sengaja mengulur waktu demi agar Flow bisa lahir bersamaan dengan anaknya Levita? Kalau begitu kau berhasil. Dan ... segeralah kembali padaku. Yang kau inginkan sudah tercapai, anaknya Levi akan menjadi menantumu," gumam Gabrielle kemudian berbalik menatap pintu ruangan operasi.

__ADS_1


****


__ADS_2