Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Penyakit Gila


__ADS_3

"Uwaaahhhh, lucu sekali!" teriak Elea kegirangan begitu penutup matanya di buka.


Tadi setelah Elea dan ibu mertuanya selesai menikmati pancake dan juga dessert box, Gabrielle langsung menculik dan membawanya kemari. Awalnya Elea berontak karena suaminya itu tiba-tiba menutup matanya menggunakan kain hitam, tapi setelah tahu ada kejutan seperti ini Elea jadi berharap kalau matanya akan kembali di tutup dengan kain hitam. Ya, Elea ingin mendapat kejutan lagi.


"Apa kau senang, hm?" tanya Gabrielle sembari memeluk Elea dari belakang. Dalam hatinya dia sedang harap-harap cemas kalau tidak ada siapapun yang akan menyebut nama Dora di hadapan istrinya. Ya, DORA. Entah kenapa Gabrielle merasa sangat benci dengan nama tersebut.


"Senang, sangat senang," jawab Elea kegirangan.


Greg yang baru saja kembali dari luar sedikit kaget melihat Lan yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Binatang besar ini menggeram kuat, seolah ingin menyampaikan bahwa hatinya tidak sedang baik-baik saja.


"Dia cemburu melihat ada harimau lain datang ke rumah ini, Greg. Makanya dia langsung datang padamu dengan maksud untuk mengadu," ucap Liona merasa tergelitik melihat kelakuan Lan yang tengah merajuk.


"Oh, jadi harimaunya sudah datang ya?" tanya Greg maklum. Setelah itu dia mengelus kepala Lan yang tengah mengendus kakinya. "Hei kau bayi besar. Kau itu sudah tua, masa iya tidak malu merajuk di hadapan harimau kecil itu. Sudahlah, berdamai saja dengannya."


Seakan mengerti kalau majikan satu ini tidak juga mempedulikan perasaannya, Lan beralih dengan pergi menghampiri Cuwee. Kedua binatang itu saling bersuara pelan, seakan tengah menggibahkan penghuni baru yang kemungkinan besar akan menggeser posisi mereka di hati sang nyonya kecil. Sungguh sangat kasihan sekali bukan?


"Astaga, ada-ada saja binatang itu," ucap Greg sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Lan dan juga Cuwee. Setelah itu dia berjalan menghampiri istri kesayangannya. "Honey?"


"Aku tahu kau merindukanku," sahut Liona dengan tanggap masuk ke dalam pelukan suaminya.


"Hmmm, kau memang yang paling tahu."


Gabrielle dan Elea tidak mempedulikan kemesraan orangtua mereka karena sekarang mereka tengah sibuk memperhatikan harimau kecil yang terlihat seperti malu-malu saat ingin memakan daging yang ada di dalam wadah. Elea yang merasa gemas pun akhirnya tak tahan untuk tidak datang menghampiri. Dia dengan cepat melepaskan diri dari pelukan suaminya kemudian berlari ke arah harimau tersebut.


"Sayang, hati-hati. Jangan berlarian begitu, nanti kepala bayi kita saling bertabrakan!" teriak Gabrielle kaget melihat Elea yang tiba-tiba berlari pergi darinya.


Seperti ada rem cakram di kedua kakinya, Elea langsung berjalan dengan sangat lambat. Bahkan suara langkah kaki Elea nyaris tak terdengar saking takutnya dia setelah mendengar teriakan suaminya.

__ADS_1


"Gab, kau tahu tidak kalau bayi yang sedang di kandung Elea itu masih berbentuk gumpalan darah?" tanya Greg seraya menarik nafas. Entah kenapa putranya ini jadi seribu kali lebih bodoh jika di bandingkan dengan kebodohannya dulu ketika Liona tengah mengandung si kembar.


"Tahulah, Ayah," jawab Gabrielle sambil terus memperhatikan Elea yang masih belum sampai di dekat Dora. Astaga, bukan, maksudnya harimau kecil itu.


Brengsek! Kenapa aku jadi latah memanggilnya Dora sih.


"Kalau tahu lalu kenapa kau meneriaki Elea seperti itu? Sadar tidak kalau tadi itu kau terlihat seperti pria idiot yang tidak bisa membedakan mana kepala dan mana gumpalan darah!"


"Ck, sudahlah, Ayah. Jangan mengomel terus hanya gara-gara perkara kecil seperti itu. Lagipula tidak ada salahnya bukan kalau aku mencemaskan istri dan anak-anakku sendiri? Bayangkan, Ayah. Dengan tubuh semungil itu Elea harus menanggung beban dengan membawa tiga ekor kepala di perutnya. Masa bodo aku di anggap idiot atau apapun itu, yang jelas aku hanya tidak mau Elea kenapa-napa. Titik!"


Liona mengelus tangan Greg ketika suaminya ini ingin kembali berdebat dengan Gabrielle. Percuma. Liona bukannya tidak tahu kalau putranya ini akan bersikap seperti orang tidak waras jika sudah bersangkutan dengan Elea, jadi ya sudah. Lebih baik di biarkan saja karena Liona yakin Gabrielle akan tetap kekeh pada pemikirannya. Toh tidak ada salahnya juga dia bersikap seperti itu karena memang benar itu kenyataannya.


Saat Gabrielle sibuk berdebat dengan ayahnya mengenai kepala, Elea malah sudah terlihat akrab dengan harimau kecil tersebut. Dia dengan telaten membantu menyuapkan daging ke dalam mulutnya meski sesekali binatang lucu ini tampak menggeram marah padanya.


"Hei, namamu siapa?" tanya Elea.


Bukannya takut, Elea malah terkikik lucu ketika harimau tersebut menggeram sambil memperlihatkan gigi taringnya yang masih kecil. Gemas melihat tingkahnya, dengan jahil Elea menarik kedua telinga harimau tersebut kemudian mengangkat dan mengarahkan pada suami dan keduanya mertuanya.


"Lihat, kuping harimau ini sangat lucu. Bagaimana kalau aku memberinya nama Tora? Bagus tidak?" teriak Elea dengan sangat antusias menciptakan nama untuk binatang peliharaan miliknya.


Whhaaaattttt?? Tora? Kenapa hanya huruf T-nya saja yang membedakan dari nama asli harimau itu? Wahh, ini kacau. Apa jangan-jangan ada yang memberitahu Elea ya kalau nama harimau itu adalah Dora? Tapi siapa? Sejak tadi kan Elea hanya bersama Ibu. Arrrggghhh ....


"Ibu tidak tahu-menahu tentang Dora dan Tora ya, Gab. Kau jangan sampai menuduh Ibu yang memberitahu Elea," ucap Liona begitu mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh putranya.


"Hon, siapa Dora?" tanya Greg bingung.


"Kau tanya pada Gabrielle saja. Dia yang lebih tahu siapa pemilik nama tersebut," jawab Liona kemudian berjalan menghampiri menantunya yang sedang asik bermain dengan Tora, si harimau kecil yang akan menjadi saingannya Lan dan Cuwee.

__ADS_1


Gabrielle hanya bisa pasrah saja ketika di tatap oleh ayahnya. Sambil menggaruk rambutnya, dia akhirnya memberitahukan tentang siapa Dora.


"Paman Hansen bilang harimau itu sebelumnya di beri nama Dora, Ayah. Tapi karena aku merasa keberatan dengan nama tersebut, jadi aku mengatakan pada semua orang agar jangan memberitahu Elea tentang nama aslinya si Tora-Tora itu," ucap Gabrielle dengan lesu. "Siapa yang akan tahu kalau Elea malah memberinya nama yang jauh lebih mengerikan lagi daripada nama yang pertama. Tora, astaga. Bulu kudukku sampai berdiri semua, Ayah."


"Ya sudahlah terima saja. Ibumu membeli harimau itu kan memang untuk Elea, jadi ya sudah terserah dia ingin memberi nama apa. Tapi jika di pikir-pikir lagi nama Dora itu jauh lebih bagus ketimbang nama Tora. Benar tidak, Gab?" tanya Greg sambil memperhatikan harimau putih yang bernasib apes karena tengah di gantung terbalik oleh menantunya. Tidak di sangka rupanya Elea cukup kejam juga pada binatang. Greg jadi tak tega sendiri melihatnya.


"Bagus darimananya, Ayah? Dora Tora, astaga. Lama-lama aku bisa gila!" jawab Gabrielle resah.


"Hei, bukankah kau itu sudah lama menjadi gila ya?"


Greg menaikkan satu alisnya ke atas saat Gabrielle menatapnya tajam. "Kau sudah menjadi orang yang tidak waras semenjak bertemu dengan Elea. Lupa ya?"


"Tidak!" jawab Gabrielle singkat.


"Kalau tidak kenapa kau menatap Ayah sampai seperti itu?"


Sebelum menjawab Gabrielle mendekat ke arah ayahnya terlebih dahulu. Setelah itu dia menepuk bahunya pelan.


"Apa Ayah dulu juga merasakan hal yang sama sepertiku saat pertama kali bertemu dengan Ibu?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu kita sama, Ayah. Sama-sama gila karena satu wanita."


Greg cengo. Tapi sedetik kemudian dia menganggukkan kepala. Ternyata yang gila itu bukan hanya putranya saja, tapi sendirinya juga begitu. Astaga, tidak di sangka dialah yang menurunkan penyakit gila ini.


Ini rekor atau aib ya?

__ADS_1


*****


__ADS_2