Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Cira Kritis


__ADS_3

Junio terus berada di samping Ares begitu mereka sampai di rumah sakit. Saat ini tim dokter sedang berusaha menyelamatkan Cira dan bayinya, jadi mereka diminta untuk menunggu di luar ruangan saja.


"Tenanglah. Anak dan istrimu pasti baik-baik saja, Res," ucap Junio mencoba untuk menenangkan Ares yang terlihat sangat syok atas apa yang baru saja terjadi.


"Aku akan memilih untuk mati jika salah satu dari mereka sampai kenapa-napa, Jun. Aku lalai, aku lengah. Harusnya tadi itu aku langsung datang saat Cira memanggilku, tapi aku malah sibuk sendiri dengan terus berbicara pada klien. Aku seorang suami yang sangat to lol bukan?" tanya Ares dengan suara tercekat.


"Jangan menyalahkan diri seperti ini, Res. Kau melakukan hal itu pasti karena tidak tahu kalau endingnya akan seperti ini. Dan aku rasa Cira juga tidak sengaja terjatuh tadi. Dia pasti memahami kalau saat itu kau sedang sibuk dengan pekerjaan, makanya dia memilih untuk melakukannya sendiri," jawab Junio merasa iba mendengar Ares yang menyalahkan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian datanglah Bryan dan juga Yura di rumah sakit. Kedua orang ini pun langsung menanyakan keadaan Cira pada Ares dan Junio.


"Di mana Cira sekarang Res, Jun? Dia sudah di tangani atau belum?" tanya Bryan memastikan.


"Sudah, Ayah. Cira sedang di tangani oleh tim dokter di dalam ruangan itu," jawab Junio sambil menunjuk ke arah ruangan tempat Cira berada.


"Syukurlah. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang membahayakan pada mereka berdua," ucap Bryan sedikit lega begitu tahu kalau Cira telah di tangani oleh para dokter. "Res, sebenarnya apa yang terjadi pada Cira. Bagaimana bisa dia mengalami pendarahan seperti itu. Apa yang sedang kau lakukan sampai-sampai Cira terjatuh di kamar mandi?"


Menyadari nada suara suaminya yang sedikit meninggi, dengan sabar Yura mengelus dada Bryan. Cira sudah seperti anak kandung mereka, jadi Yura bisa maklum kalau sekarang Bryan merasa tidak terima akan kelalaian yang telah dilakukan oleh Ares. Kendati demikian, Yura tidak mungkin membiarkan Bryan menyalahkan Ares hanya dari sudut pandangnya saja. Bisa saja kan saat kejadian naas itu terjadi Ares sedang melakukan sesuatu yang lain?


"Tenang, Bry. Jangan langsung mencecar Ares seperti itu, kasihan. Dia pasti masih sangat syok setelah melihat pendarahan yang terjadi pada Cira. Bicaralah dengan tenang, aku yakin Ares pasti tidak menginginkan kejadian seperti ini di alami oleh istri dan anaknya. Jadi tolong kendalikan emosimu ya," bisik Yura.


Bryan membuang nafas kasar setelah di tenangkan oleh Yura. Sambil menatap nanar ke arah pintu ruangan tempat Cira berada, dia menunggu penjelasan dari Ares.


"Aku sedang berbicara dengan klien di telepon saat Cira memanggilku dari dalam kamar mandi. Dia sedang berendam dengan air hangat di dalam bathup," ucap Ares mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar mandi. "Sebelum sempat aku datang, dia sudah lebih dulu terjatuh ke lantai. Sepertinya Cira tahu kalau aku sedang sibuk jadi memutuskan untuk keluar sendiri dari sana. Dan sialnya lantai kamar mandi kami licin, lalu ....


Bulu kuduk Junio berdiri semua setelah dia mendengar cerita Ares. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Cira saat tubuhnya jatuh terbanting di atas lantai.Dengan kondisi perut besar pula. Junio sampai bergidik membayangkannya.

__ADS_1


Ceklek


"Dokter bagaimana ist ....


"Tuan, istri anda kritis. Kita harus melakukan operasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan bayi dalam perutnya!" sela dokter menyampaikan pada semua orang bahwa saat ini kondisi pasien sangat buruk.


"A-apa, dok? K-kritis?"


Cira hanya terjatuh di kamar mandi, tapi kenapa bisa seburuk ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Lakukan yang terbaik untuk anak dan cucuku, dokter. Kalau memang harus operasi, segera lakukan saja. Yang penting mereka selamat!" ucap Bryan mengambil keputusan setelah melihat Ares yang malah terlihat linglung. Dia sangat maklum kenapa Ares bisa jadi seperti ini.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi!"


Tanpa menunggu apapun lagi Bryan langsung mewakilkan Ares untuk mengurus semu hal yang di butuhkan untuk operasinya Cira. Sedangkan Yura, wanita itu hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk Junio. Yura lemas, dia takut Cira kenapa-napa.


"Res, tenangkan dirimu. Yakinlah kalau Cira pasti akan baik-baik saja!" ucap Junio cemas melihat keadaan Ares yang mulai tak terkendali.


"Istriku, Jun. Dia hanya jatuh, tapi kenapa dokter bilang dia kritis? Apa maksudnya?" tanya Ares tercekat. Perlahan-lahan air mata yang sudah di tahannya sejak tadi mulai turun membasahi wajahnya. Ares kalut, dia merasa sangat amat bersalah atas apa yang terjadi pada istrinya.


Tepat ketika Ares mulai histeris, Gabrielle dan Elea sampai di rumah sakit. Di susul dengan kedatangan Maria dan Digo, kemudian Greg beserta Liona. Ares yang menyadari kedatangan orangtuanya pun langsung jatuh terduduk di lantai. Dia merasa gagal menjalankan amanah mereka yang memintanya agar menjaga Cira dengan baik.


"Ayah, Ibu. Aku gagal. Aku tidak berguna, aku lalai!"


"Sayang," ....

__ADS_1


Hati orangtua mana yang tidak hancur melihat keadaan anaknya yang begitu rapuh. Dan itulah yang sedang dirasakan oleh Maria dan Digo sekarang. Mereka lalu membantu Ares agar berdiri kemudian memeluknya dengan sangat erat, membiarkan pundak mereka basah oleh air matanya.


"Ibu, mana Ayah?" tanya Gabrielle.


"Ayahmu sedang pergi mengurus berkas untuk operasinya Cira, Gab. D-dia kritis," jawab Yura sambil menangis.


"Kritis?"


Bibir Elea gemetar. Dia lalu mencengkram kuat lengan Gabrielle saat tubuhnya serasa lemas begitu mendengar kondisi Cira. Sebagai seseorang yang memiliki kelebihan, ini adalah hal terberat yang harus Elea tanggung setiap kali orang di sekitarnya mengalami suatu masalah. Entah itu tentang musibah ataupun tentang kematian, Elea akan selalu menjadi orang pertama yang paling menderita. S ekarang contohnya.


Kak Iel, aku ingin mati saja. Aku tidak kuat menahan beban ini, Kak. Aku tidak sanggup.


Tatapan Gabrielle dan Liona langsung tertuju pada Elea begitu mereka mendengar apa yang dia pikirkan. Setelah itu mereka saling memandang, kemudian beralih melihat ke arah Ares yang sedang menangis di pelukan orangtuanya.


Haruskah itu terjadi?


"K-Kak Iel, a-aku tidak bisa bernafas," ucap Elea lemas. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar hebat.


"Kita cari udara segar di luar saja ya? Di sini terlalu ramai, kau mungkin merasa pusing," sahut Gabrielle mencari alasan agar bisa membawa Elea pergi dari sana. Gabrielle tahu kalau Elea membutuhkan tempat untuk bicara.


Liona segera mengalihkan perhatian Ares yang tengah menatap kepergian Gabrielle dan Elea. Dia tak mau Ares berpikiran buruk melihat sikap Elea yang memang sedikit aneh setelah sampai di rumah sakit. Bukannya apa, selama ini Ares tahu kalau Elea memiliki kelebihan mampu melihat masa depan orang lain. Sudah pasti sikap aneh di diri menantunya itu bisa mengundang kecurigaan tersendiri bagi Ares yang notabenenya sedang mengalami musibah. Liona tak mau hal tersebut membuat suasana menjadi semakin tidak karu-karuan.


"Kapan operasinya akan dilakukan, Junio?" tanya Liona memecah kesunyian.


"Secepatnya, Bibi Liona. Dokter bilang kondisi Cira sudah sangat kritis, jadi harus sesegera mungkin di tindak untuk menyelamatkan bayi dalam perutnya," jawab Junio. Posisinya sekarang masih memeluk ibu mertuanya yang sedang menangis. Suasana di sini benar-benar membuat Junio parno dan terbayang akan kejadian menyedihkan saat dirinya masih kecil dulu.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Junio Liona dan Greg langsung mendekat ke arah Ares. Mereka lalu mengelus punggungnya pelan, ikut merasa terenyuh akan apa yang sedang dia rasa sekarang. Hingga pada akhirnya semua orang hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas ketika dokter mendorong keluar ranjang tempat Cira terbaring tak sadarkan diri.


****


__ADS_2