
📢📢📢 BESTIE, MAMPIR KE NOVEL BARU EMAK YA. INI KISAH TENTANG ANAKNYA ROSE DAN ADAM. KLIK PROFIL EMAK KARENA DI PENCARIAN BELUM MUNCUL. JANGAN LUPA KOMENTARNYA YA BESTIE 💜
***
Hoshh hoshh hoshhh
Di tengah malam Flowrence terbangun dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya di banjiri keringat dingin, membuat Flowrence terlihat seperti orang yang baru saja mengikuti lomba maraton ribuan kilometer. Sambil menyeka wajah pucatnya dari keringat yang terus saja mengalir, Flowrence menyalakan lampu kamar. Setelah itu Flowrence menangis dengan suara tertahan. Mimpi buruk, ya, dia melihatnya. Di dalam mimpi itu Flowrence melihat satu kejadian yang sangat mengerikan di mana ada seorang gadis yang terkapar dengan tubuh bersimbah darah. Dan gadis itu … meninggal.
“Kak Bern, aku mohon sadarlah. Selama ini kau hanya dimanfaatkan saja oleh Kak Karl. Tolong berhenti mempercayainya. Dia sangat jahat, dia akan membuatmu terperosok dalam jurang penyesalan yang sangat dalam. Tolong sadarlah, Kak Bern. SADAARRRRRRRR!” teriak Flowrence frustasi menghadapi kenyataan mengerikan yang sudah lebih dulu dilihatnya.
Ya, kalian benar. Flowrence sudah lama tahu kalau orang yang terlahir dengan membawa karma buruk itu adalah kakak keduanya. Itulah kenapa Flowrence lebih manja pada kakak pertamanya karena Flowrence tahu kalau kakak pertamanya hanya digunakan untuk menutupi topeng iblis di diri kakak keduanya. Dan untungnya kamar Flowrence kedap suara, jadi suara teriakannya tadi tidak sampai terdengar keluar. Karena jika ada yang mendengarnya, semua orang pasti akan bertanya-tanya mengapa Flowrence berteriak kencang dan meminta kakak pertamanya untuk sadar. Jadilah sekarang Flowrence menangis ketakutan di dalam kamar sambil menjambaki rambutnya sendiri. Posisinya benar-benar sangat sulit. Dia tertekan memikirkan bagaimana cara memberitahu keluarganya tentang semua ini. Perasaan Ayah dan Ibunya pasti akan sangat hancur jika Flowrence memberitahu mereka kalau orang yang menghadirkan karma tersebut adalah Nenek Liona, yang tak lain adalah seorang jendral perang yang datang dari masa lalu. Keadaan ini terkadang membuat Flowrence depresi. Bahkan Flowrence sempat terpikir untuk bunuh diri saja agar dia tidak terus-terusan di hantui oleh perasaan ini. Dia sudah hampir gila sekarang.
“Hikssss, Ayah … Ibu. Aku takut. Tolong aku,” rintih Flowrence sambil memukuli dadanya sendiri. Dia kemudian membenamkan wajahnya ke atas kasur saat wajah wanita itu kembali melintas di pikirannya. “Kak Bern, jangan lakukan itu. Ini semua sudah direncanakan oleh Kak Karl, wanita itu tidak boleh ada di dekatmu. Kau harus segera mengusirnya. Dia bisa mati!”
Entah karena ada ikatan batin atau karena apa. Saat Flowrence hampir gila karena ketakutan, tiba-tiba saja ponselnya bordering. Awalnya panggilan itu di abaikan saja oleh Flowrence, tapi di panggilan kedua Flowrence memutuskan untuk menjawabnya. Cepat-cepat dia membersihkan dan merubah ekpresi di wajahnya begitu tahu kalau Oliver ingin melakukan panggilan video.
__ADS_1
“Kak Oli, kau merindukan aku ya? Makanya malam-malam begini kau mengajakku video call,” tanya Flowrence sambil mengedip-ngedipkan mata, menunjukkan sikap seperti biasanya.
Tapi … kali ini sepertinya Flowrence benar-benar kehilangan kontrol atas emosinya. Hal itu terbukti dari sikap Oliver yang hanya diam menatapnya tanpa ada niat untuk bicara. Sadar kalau Oliver menyadari kebohongannya, Flowrence segera memikirkan alasan yang kiranya tidak membuat pria tampan ini semakin curiga.
“Kak Oli, aku baru saja mimpi buruk. Buruk sekali sampai rasanya aku ingin kencing di celana,” ucap Flowrence seraya menampilkan raut wajah yang sangat memungkinkan. Dia bahkan tak ragu mencebikkan bibir mirip orang yang sedang menahan tangis demi agar bisa membuat Oliver mempercayai kebohongannya.
“Astaga, Flow. Aku pikir tadi kau kenapa. Ternyata karena mimpi buruk ya,” sahut Oliver sembari menghembuskan nafas panjang. Raut wajahnya menunjukkan sebuah rasa kelegaan setelah tahu penyebab Flowrence menangis adalah mimpi buruk, bukan karena sesuatu hal yang membahayakan keselamatannya.
“Iya, Kak. Aku bermimpi melihat seekor cicak mati dengan tubuh bersimbah darah. Kasihan sekali bukan? Itulah kenapa aku terbangun kemudian menangis. Aku tidak tega melihat cicak itu mati dengan cara mengenaskan.”
“Flow-Flow, kau ini kenapa menggemaskan sekali sih. Sayang sekali kita sedang berjauhan. Kalau dekat, aku pasti sudah menggigit bibirmu yang mungil itu. Kau ini ya,”
“Raga kita boleh saja jauh, Kak. Tapi hati kita kan selalu dekat. Benar tidak?”
Ketakutan dan kegelisahan di diri Flowrence secara perlahan mulai terlupakan saat dia dan Oliver mulai saling melemparkan godaan. Flowrence sungguh merasa sangat beruntung karena Tuhan mengirimkan Oliver untuk menjadi obat penenang di kala dia tengah tertekan seperti sekarang. Meskipun sikap yang Flowrence tunjukkan adalah sebuah kebohongan, Oliver dengan tulus bersedia menerimanya. Bahkan memperlakukan Flowrence layaknya gadis dewasa. Terkadang Flowrence berpikir takdir cinta macam apa yang pernah terjalin pada leluhur mereka dulu sehingga dia dan Oliver bisa terikat oleh rasa yang begitu dalam. Dan yang lebih lucunya lagi, mereka telah di jodohkan sejak mereka masih berbentuk embrio di dalam perut ibu mereka. Sungguh suatu kebetulan yang tidak bisa hanya di anggap kebetulan semata bukan? Entahlah, Flowrence tidak tahu. Yang jelas dia sangat mencintai Oliver, juga sangat membutuhkan keberadaan Oliver di sisinya.
“Flow, ini sudah malam. Lebih baik kau tidur ya sekarang. Aku tidak mau melihatmu sakit gara-gara kurang tidur. Oke?”
__ADS_1
“Tapi, Kak Oli. Aku takut mimpi buruk itu datang lagi. Aku tidak mau sendirian tidurnya,” sahut Flowrence menolak untuk tidur. Tangannya langsung mengeluarkan keringat, padahal suhu kamar sudah lumayan dingin. Rasa takut nan mencekam itu kembali datang begitu Oliver memintanya untuk istirahat.
“Jangan takut, aku akan menemanimu lewat video ini. Sekarang kau berbaringlah, lampunya tidak usah dimatikan. Aku akan menjagamu dari sini,” ucap Oliver tetap memberikan perhatiannya meskipun dia jauh. Baginya adalah kesenangan tersendiri bisa menjaga Flowrence meski hanya lewat panggilan video.
Flowrence dengan patuh menuruti apa kata Oliver. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu berbaring menyamping agar tetap bisa memandang wajah Oliver di layar ponsel yang kala itu dia senderkan ke bantal. Ingin rasanya Flowrence bercerita kalau saat ini hati dan perasaannya sedang tidak tenang ketika dia melihat senyum tulus di bibir calon suaminya ini. Namun, lagi-lagi Flowrence berusaha menahan diri untuk tidak mengungkapkan semua itu.
“Kak Oli?”
“Hem, ada apa?”
“Jika suatu saat nanti aku melakukan kebohongan apa kau akan memaafkan aku?” tanya Flowrence. Sengaja dia bertanya seperti itu karena setelah rentetan karma ini berakhir, Flowrence akan kehilangan semua ingatannya. Termasuk kenangannya bersama Oliver. Jadi Flowrence memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu sebelum itu semua terjadi.
Cukup lama Oliver memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Flowrence. Dan hal itu membuat kedua mata Flowrence terasa sangat berat. Sebelum sempat Oliver memberikan jawaban, Flowrence sudah lebih dulu terlelap ke dalam dunia mimpinya. Sontak saja kelakuan Flowrence membuat Oliver tertawa gemas.
“Berani-beraninya ya kau tertidur tanpa mengucapkan kata selamat malam padaku. Dasar gadis nakal. Awas saja kau besok. Aku pasti akan memberikan hukuman padamu,”
***
__ADS_1