
"Sweety, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Gleen ketika melihat istrinya masih berada di ruang tengah.
Lusi menoleh. Dia tersenyum kecil melihat suaminya yang begitu segar setelah mandi. Saat ini Lusi sedang sibuk melatih tangannya untuk menggambar. Dia juga ingin menghasilkan sebuah karya yang bisa membuat suaminya merasa bangga.
"Bukannya menjawab kenapa kau malah tersenyum seperti itu, hm? Sedang menggodaku ya?"
"Aku mana pernah menggodamu, Gleen. Kau saja yang mata keranjang," jawab Lusi sambil menggelengkan kepala.
"Siapa suruh kau begitu cantik. Kan aku jadi jatuh cinta setiap saat," sahut Gleen kemudian duduk di sebelah istrinya. "Kau sedang menggambar apa sih?"
Gleen mendekatkan wajahnya ke arah kertas putih dimana ada satu coretan yang berupa sepasang pakaian. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, bangga karena di bawah kertas tersebut tertulis namanya dan juga nama istrinya.
"Apa pakaian couple ini untuk kita?"
"Iya. Tiba-tiba aku ingin membuat sepasang pakaian couple untuk menyambut hari anniversary pernikahan kita nanti, Gleen. Meskipun harinya masih sangat jauh, aku tetap ingin mempersiapkannya dari sekarang. Juga karena aku perlu banyak berlatih agar tanganku tidak kaku saat sedang menggambar," jawab Lusi terus terang. "Lihat, bentuk pakaiannya masih belum rapi. Aku harus bekerja keras agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan."
"Tidak apa-apa. Lama-kelamaan hasil gambarmu pasti akan rapi dengan sendirinya. Tetap semangat ya. Aku tidak sabar untuk memakai pakaian ini saat hari anniversary pernikahan kita nanti," sahut Gleen bangga akan perjuangan istrinya. Dia lalu mengusap puncak kepala Lusi penuh sayang.
Saat Gleen sedang menemani Lusi merapihkan hasil gambarnya, tiba-tiba saja dia terpikir untuk menjahili Gabrielle. Dia yakin kalau pria tengik itu pasti akan merasa sangat iri jika tahu kalau dia dan Lusi memiliki pakaian couple.
"Sweety, biarkan aku mengambil hasil gambarmu sebentar. Aku ingin memanas-manasi seseorang."
"Gleen, jangan begitu. Aku malu, gambarnya kan masih sangat jelek!" tolak Lusi. Dia belum percaya diri dengan hasil karyanya.
"Malu kenapa, Sweety. Gambar pakaian couple ini adalah yang terbaik dari yang pernah aku lihat. Tidak apa-apa ya, please," sahut Gleen memohon.
Melihat suaminya merengek seperti itu membuat Lusi menjadi tidak tega. Dia akhirnya mengizinkan Gleen untuk mengambil gambar itu.
"Nah, sudah selesai."
"Memangnya kau ingin mengirim gambar itu pada siapa sih. Semangat sekali," tanya Lusi penasaran.
"Aku ingin mengirimnya pada Gabrielle. Pria itu pasti akan langsung kebakaran jenggot jika tahu kalau kita mempunyai pakaian couple. Hehehe," jawab Gleen sambil mengirimkan foto itu pada Gabrielle.
__ADS_1
Lusi meringis pelan begitu tahu kalau orang yang ingin di pameri oleh Gleen adalah Gabrielle dan Elea. Sebagai mantan pelayan yang pernah bekerja di sana, Lusi tentu saja tahu barang couple apa saja yang di miliki oleh pasangan fenomenal itu. Mulai dari gelang, baju berwarna merah muda, sepatu, jam tangan, bahkan mereka juga memiliki ikat rambut dan bando yang sama juga. Kali ini suaminya salah masuk ke kandang buaya. Lusi yakin sekali kalau sebentar lagi Gleen pasti akan langsung gigit jari begitu Gabrielle membalas pesan yang di kirimkannya.
Ting
"Wahhh, cepat sekali dia merespon. Gabrielle pasti sangat panas setelah melihat gambar milikmu, Sweety," ucap Gleen penuh bangga.
Dan di saat Gleen hendak membuka pesan masuk di ponselnya, tiba-tiba saja ponselnya kembali menerima notif pesan yang banyaknya tidak terhitung. Merasa ada yang tidak beres, Gleen langsung melihat ke arah Lusi. Dia menelan ludah ketika istrinya memperlihatkan raut wajah yang sedikit aneh.
"Aku aku salah mengerjai orang?" tanya Gleen.
"Iya Gleen. Kau memantik api pada orang yang tidak tepat," jawab Lusi prihatin akan nasib suaminya. "Kak Gabrielle begitu tergila-gila pada Elea sejak pertemuan pertama mereka. Dan sudah ada puluhan barang couple yang mereka miliki sebelum ini. Kau sangat salah dengan memamerkan hasil gambarku padanya. Seharusnya kalau kau ingin pamer, kirimlah pada Junio saja. Bukan pada orang yang tingkat kebucinannya sudah tidak ada obat."
"Sweety, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal tentang semua itu? Aku jadi malu kan sekarang."
"Memangnya kau tidak ingat darimana aku berasal sebelum kita menikah? Kau saja yang sok percaya diri. Malu sendiri kan sekarang?"
Lusi menertawakan Gleen yang terlihat panik saat ponsel miliknya tidak berhenti menerima notifikasi pesan. Dia yakin sekali kalau Gabrielle pasti mengirim ratusan gambar dengan berbagai macam barang couple miliknya dan Elea.
"Ya Tuhan, ini sudah pesan yang ke 200. Tapi kenapa pria tengik itu masih belum berhenti juga?" keluh Gleen tak percaya dengan apa yang dia lihat di layar ponselnya.
"Hmmm ... lain kali aku tidak akan pernah mengganggunya lagi. Aku jera,"
"Hahahahahaha," ....
Kesal karena pesan tidak berhenti masuk, Gleen akhirnya memilih untuk mematikan ponselnya. Dia lalu menatap sedih ke arah Lusi yang masih menertawainya.
"Sweety, kau jahat sekali. Suamimu sedang di bully kau malah asik tertawa. Dasar kejam."
"Lagipula kau sendiri yang datang mencari masalah, Gleen. Kenapa jadi aku yang di salahkan."
"Aku tidak menyalahkanmu, Sweety. Tapi aku sedang cemas. Gabrielle pasti tidak akan membiarkan masalah ini lewat begitu saja, aku yakin besok pagi dia pasti akan langsung membuat perhitungan denganku. Huh, nasib-nasib," keluh Gleen menyesali kebodohannya yang berani menyinggung pasangan fenomenal itu.
Lusi baru berhenti tertawa saat Gleen tiba-tiba menindih tubuhnya. Dia menjadi sangat gugup saat suaminya ini menatapnya dengan sangat intens.
__ADS_1
"Kau cantik sekali jika sedang tertawa seperti tadi. Aku jadi menginginkanmu, Sweety," bisik Gleen sembari menelan ludah. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat.
"Gleen, kita tidak sedang di kamar sekarang," sahut Lusi pelan. Bulu kuduknya sudah berdiri semua akibat kelakuan Gleen yang kini tengah menciumi pinggiran telinganya.
"Memangnya kenapa kalau kita tidak sedang di dalam kamar, hm? Di apartemen ini hanya ada kau dan aku, Sweety. Siapa yang akan mengganggu kita?"
"Tapi Gleen, bercinta juga harus pada tempatnya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang datang sementara kita sedang dalam posisi tidak berpakaian. Pasti akan sangat memalukan bukan?"
Dan benar saja. Begitu Lusi selesai bicara, mendadak ada orang yang mengetuk pintu apartemen mereka.
"Brengsek!! Orang mana yang berani datang bertamu malam-malam begini. Dasar sialan!" amuk Gleen sambil memukuli lantai.
"Sabar, jangan marah-marah begitu, Gleen. Mungkin orang itu ada urusan penting dengan kita," ucap Lusi menenangkan kekesalan suaminya sembari merapihkan kancing baju. "Kau atau aku yang akan membukanya?"
"Kau masuk ke dalam kamar saja, Sweety. Aku tidak mau wajah cantikmu di lihat oleh orang lain."
Sambil menggerutu Gleen berjalan menuju pintu. Dia lalu melayangkan tatapan membunuh pada pria yang kini tengah tersenyum tanpa dosa di hadapannya.
"Malam ini aku akan menginap di rumahmu, Gleen. Patricia dan bayi kecambahku sedang merajuk. Mereka tidak ingin mencium aroma tubuhku," ucap Junio kemudian memaksa masuk ke dalam apartemen sahabatnya ini.
"Jun, kau kan bisa menginap di hotel. Kenapa malah datang kemari sih? Seperti orang miskin saja!" kesal Gleen sambil berjalan masuk ke dalam. Dia lalu menutup pintu dengan sangat kuat.
Junio menyeringai. Dia dengan santainya berbaring di sofa kemudian memakai selimut yang dia bawa dari rumah.
"Aku tidak akan membiarkanmu bersenang-senang dengan Lusi di saat aku sedang menderita seperti ini. Sebagai sahabat dekat, sudah sewajarnya bukan kalau kita saling berbagi suka dan duka?"
Wahai para pembaca yang budiman, adakah dari kalian yang ingin meminjamkan palu pada Gleen? Saat ini emosinya sudah naik ke ubun-ubun, dan Gleen sangat ingin memecahkan kepala sahabatnya itu. Tolong bantu di jawab ya? π€£
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...