Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Macan Bantat


__ADS_3

"E-Elea, kau kenapa?"


Mulut Levi terbuka lebar begitu melihat Elea datang sambil bergandengan tangan dengan Gabrielle. Akan tetapi bukan itu yang membuat Levi merasa sangat kaget dan juga heran, melainkan kondisi rambut Elea yang pitak sebelah.


"Aku baik-baik saja kok, Kak. Kenapa memangnya?" jawab Elea. Setelah itu Elea langsung melepaskan gandengan tangan Gabrielle kemudian berlari memeluk ibunya. "Ya ampun, Ibu Yura. Kenapa tidak bilang kalau mau datang ke sini? Tahu begitu kan aku tidak minggat ke rumahnya Kak Jackson."


"Tadinya Ibu dan yang lain ingin memberi kejutan padamu. Siapa yang menyangka kalau kamilah yang akan terkejut begitu tahu kalau semalam kau minggat dari rumah," jawab Yura sembari mengelus punggung Elea pelan. "Ada apa, hm? Kenapa kabur-kaburan seperti itu. Kau itu kan sedang hamil, tidak baik seorang wanita hamil berada di luar rumah di malam hari. Nanti ada aura negatif yang mengikuti."


"Benarkah?"


Yura mengangguk. Dia menghentikan elusan tangannya saat Elea mengurai pelukan mereka.


"Memangnya aura negatif seperti apa yang akan mengikuti wanita yang sedang hamil, Bu? Apakah seram sekali?"


Elea bertanya dengan raut wajah yang sangat amat penasaran. Dia lalu menoleh ke samping saat mendengar celotehan baby Cio yang tidak jelas menggumamkan sesuatu.


"Lihat, bayi saja tahu kalau apa yang kau lakukan semalam sangatlah tidak benar, Elea!" celetuk Levi gemas. "Dasar nakal. Kau itu sedang hamil tiga ekor bayi, Elea. Bisa tidak jangan seperti ulat bulu yang suka berjengit ke sana kemari. Begatal sekali kau!"


"Jangan sembarangan mengatai istriku!" sahut Gabrielle langsung menegur Levita. Dia tidak suka ada orang yang mengejek istrinya.


"Haisss, kumat lagi dia!"


"Terserahku."


Liona, Patricia, dan juga Yura hanya tersenyum kecil melihat perdebatan antara Gabrielle dengan Levita. Sudah bukan hal baru lagi kalau pelakor ini mencari masalah dengan sengaja memancing kekesalan si Tuan Muda bucin ini.


"Kak Levi, sebenarnya kau itu sedang hamil tidak sih. Aku perhatikan tenagamu semakin kuat saja saat bertengkar dengan Kak Iel. Apa jangan-jangan kau itu tidak hamil, tapi sedang menimbun batu gunung di dalam perutmu. Iya?" tanya Elea ketika melihat lubang hidung Levita mulai kembang kempis menahan kekesalan karena kalah bertengkar dengan suaminya.


Plaaaakkkk


"Elea, apa aku boleh membedah kepalamu? Bisa-bisanya kau menuduhku hamil batu gunung. Kau pikir Reinhard itu apa hah?" murka Levi.

__ADS_1


"Dokter Reinhard ya dokter Reinhard, Kak. Tidak mungkin kan dokter Reinhard adalah jelmaan ular piton?"


Dan begitu Elea selesai bicara, dia langsung meringis kesakitan saat lengannya kembali di geplak oleh Levita untuk yang kedua kali. Seperti biasa, membuat pelakor ini marah-marah adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Elea bahagia sekali.


"Gabrielle, di mana Nun?" tanya Liona yang tidak melihat kedatangan Nun.


"Nun masih ada di rumah Jackson, Bu. Elea memintanya untuk menyirami bunga-bunga yang dia tanam semalam. Nanti setelah selesai dia baru akan kembali ke rumah ini," jawab Gabrielle.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Pandangan Liona kemudian terfokus pada perut Elea yang masih terlihat datar. Wajarlah, usia kandungannya baru menginjak enam minggu. Meskipun di dalam tubuh mungil tersebut ada tiga janin, tapi nyatanya ketiga janin tersebut belum ingin membuat perut menantunya membesar. Membayangkan betapa sulitnya Elea nanti jika usia kandungannya semakin membesar, tanpa sadar membuat Liona menghela nafas panjang. Dulu saja saat Liona hamil kembar dia sering sekali kesulitan bernafas. Bahkan Greg sampai menyediakan dokter khusus di rumah saking khawatirnya kalau Liona akan mati kehabisan nafas. Sementara Elea, dengan tubuhnya yang mungil ini dia akan membawa beban yang jauh lebih berat dari yang pernah Liona rasakan dulu. Diam-diam benak Liona jadi diliputi perasaan gelisah. Dia takut tulang punggung Elea patah.


"Kak Cia, apa kau sudah berenang di kolam yang aku sarankan waktu itu?" tanya Elea iseng. Sekarang Levi tak lagi bermain dengannya karena pelakor itu sedang sibuk menjawab panggilan dari suaminya.


"Hmmm, Elea. Kalau aku berenang di kolam itu, lalu siapa yang akan merawat Cio dan Junio?" sahut Patricia balik bertanya.


Astaga. Aku pikir aku tidak akan menjadi korbannya Elea, ternyata aku salah. Dasar adik nakal, kakak sendiri pun di nistakan.


Tidak ada satupun orang yang mau menjawab pertanyaan Elea. Semuanya diam, kecuali Lan dan Cuwee yang langsung bersuara ketika melihat Tora berjalan dengan begitu santai menuju kandangnya. Jika kalian penasaran darimana Tora datang, jawabannya adalah karena tadi Gabrielle sengaja menghukumnya dengan cara di kunci di dalam bagasi mobil. Ya, Gabrielle geram. Benar-benar sangat geram karena bahkan binatang semengerikan Tora pun tidak bisa melindungi istrinya. Jadi Gabrielle merasa kalau anak baru ini perlu di beri pelajaran agar ke depannya nanti dia bisa di andalkan untuk menjaga ketiga anak-anaknya kelak.


"Yaa, lihatlah macan bantat itu. Dia berjalan seolah dialah raja di rumah ini. Menyebalkan!" gerutu Levi jengkel melihat gaya berjalan Tora. Ingin rasanya dia mendepak binatang kecil itu supaya tidak terlihat lagi dalam pandangan matanya. Levi mual.


"Jangan terlalu membenci Tora, Kak Levi. Nanti kau bucin padanya," sahut Elea. "Benci dan cinta itu bedanya sangat tipis setipis kertas. Jadi kau harus berhati-hati dengan lidahmu. Tahu tidak?"


"Apa kau sedang menceramahiku, Elea?" tanya Levi.


"Anggaplah memang seperti itu, Kak. Lagipula yang aku katakan memang benar kalau benci dan cinta itu bedanya sangat tipis. Kau buktinya."


"Aku?"


Levi bicara sambil menunjuk hidungnya sendiri. Mendadak perasaannya menjadi tidak enak, Levi tahu kalau Elea pasti akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak.

__ADS_1


"Dulu saat pertama kali kita bertemu kau begitu membenciku, Kak. Masih ingat tidak saat kau memukul wajahku gara-gara aku yang tidak sengaja menumpahkan makanan ke atas gaunmu? Padahal aku sudah meminta maaf, tapi kau tetap saja memukul dan menghinaku. Untung saja saat itu Kak Iel dan Ares muncul lalu menolongku. Jika tidak, aku pasti sudah menjauh bahan olok-olokan semua tamu yang ada di sana. Benar tidak?"


Nah, benarkan? Baru juga Levi membatin, sekarang malah sudah menjadi kenyataan. Gara-gara curhatan Elea itu kini semua orang menatap datar ke arah Levita. Dan tentu saja hal ini membuat sang pelakor menjadi sangat kikuk. Levi takut akan dilemparkan ke danau yang di penuhi oleh anak dan juga induk buaya.


"Bibi Liona, Bibi Yura, Patricia. Kalian jangan salah paham dulu. Apa yang terjadi di awal pertemuanku dengan Elea itu sama sekali di luar dugaan. Saat itu ... saat itu aku sedang lelah setelah menyelesaikan pemotretan untuk salah satu produk di Group Ma. Jadi aku sedikit naik darah saat Elea menumpahkan makanan ke atas gaun yang aku pakai!" ucap Levita dengan cepat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Oh."


Whaaattt?? Susah payah aku menjelaskan dan tanggapan mereka hanya oh saja? Ini gila.


"Aaa, satu lagi, Kak. Saat itu kau bilang gaunmu itu adalah satu-satunya di dunia. Tapi kenyataannya itu adalah bohong. Gaun yang kau pakai adalah gaun rancangan perusahaan milik Kak Iel yang di produksi cukup banyak dan sedang dalam masa promosi. Iya 'kan?" lanjut Elea kembali membongkar kejadian di awal pertemuannya dengan sang pelakor.


Jika tadi semua orang bersikap dingin saat Elea mengatakan kalau Levi telah memukul dan menghinanya, kini wajah semua orang terlihat semringah setelah Elea membuat wajah Levi memerah karena malu. Skak matt untuk Levita. Dan ini membuat semua orang merasa sangat puas melihatnya menjadi malu sekaligus kesal.


"Oke, semuanya tenang. Sebaiknya kita semua pergi istirahat di dalam sembari menunggu Cira selesai melepas rindu dengan kedua mertuanya!" ucap Liona mengajak semua orang agar masuk ke dalam rumah.


"Ibu Liona, jadi Kak Cira datang ke sini juga ya?" tanya Elea.


"Iya. Dan sekarang Cira sedang bersama Bibi Maria dan Paman Digo di ruang bawah tanah. Kenapa?Apa kau ingin pergi ke sana?" jawab Liona.


"Tidak. Aku mau bersama kalian saja di dalam rumah. Sekalian aku ingin membuat jadwal aktifitas para ibu hamil untuk beberapa hari ke depan. Benar kan Kak Levi?"


"Aku ikan, aku tidak bisa mendengar."


"Hehehehe."


Gabrielle? Dia mendadak berubah menjadi batu tak kasat mata karena merasa tak di anggap berada di antara para wanita. Ingin pergi, tapi dia berat meninggalkan istrinya. Tidak pergi, tapi Gabrielle serasa menjadi b*nci berada dalam perkumpulan wanita yang selalu saja mempunyai topik pembicaraan. Benar-benar suasana yang sangat mencekam.


Wanita sangat mengerikan. Aku rasa di dunia ini wanita adalah ras yang tidak terkalahkan. Jika pun kalah, aku yakin mereka pasti akan kembali melakukan balas dendam dengan membawa pasukan yang sangat banyak. Astaga, tolong maafkan aku, Ibu. Aku terpaksa mengeluarkan unek-unek di dalam pikiranku karena tidak berani mengungkapkannya langsung di hadapan kalian semua. Aku takut menjadi target mereka. 😭


*****

__ADS_1


__ADS_2