
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
“Dimana Amora? Suruh dia menghadap padaku!”
Amora yang kala itu tengah membantu para pelayan membersihkan dapur terlihat cemas saat mengetahui ada seseorang yang mencarinya. Tubuhnya yang kurus nampak gemetaran hingga membuat pelayan yang ada di sana segera datang mendekat.
“Amora, jangan takut ya. Kami akan berusaha melindungimu.”
“Bibi, sepertinya Ayah sedang marah besar. Suaranya terdengar sangat lantang tadi,” cicit Amora ketakutan.
“Sttt, jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Mungkin Tuan hanya sedang kelelahan saja, makanya beliau berteriak seperti itu.”
“Aku takut.”
Apa yang akan kalian pikirkan jika di dalam satu keluarga yang cukup terpandang ada salah satu anggota dari keluarga tersebut yang berpenampilan jauh dari kata layak? Apa kalian akan berpikir kalau dia adalah anak tiri? Atau malah kalian akan berpikir kalau anak tersebut adalah anak angkat? Hmmmm, kalian salah besar jika memiliki dugaan seperti kedua hal tersebut.
Namanya Amora Shin. Putri bungsu dari Kendra Shin, pemilik Airan Group. Meski memiliki marga Shin, tapi di dalam kartu keluarga hanya tertulis nama Amora saja. Kenapa bisa begitu? Karena Amora terlahir dari sebuah luka besar yang mana membuat ayah dan ketiga kakaknya membencinya sedari bayi. Menyedihkan sekali bukan? Bahkan penjaga dan para pelayan di keluarga ini dilarang keras memperlakukan Amora layaknya tuan putri seperti kebanyakan gadis yang terlahir di keluarga kaya. Dan tidak hanya itu saja. Amora juga harus berpuas diri mengenyam pendidikan hanya sampai di sekolah menengah atas, berbeda dengan ketiga kakaknya yang semua-muanya adalah lulusan dari luar negeri. Kendati tak menerima keadilan dari keluarganya, Amora tetaplah sangat menyayangi mereka. Sekejam apapun perlakuan ayah dan kakak-kakanya, Amora pantang menyerah untuk mendapatkan secuil saja kasih sayang yang tak pernah dia rasakan sejak terlahir ke dunia ini. Amora luka, luka di dalam tawa keluarga Shin.
“Amora, Tuan Kendra ingin bertemu denganmu. Cepat pergi ke ruang kerjanya sebelum Tuan Kendra murka. Cepatlah!” ucap seorang penjaga sambil menatap tak tega ke arah anak majikannya yang sedang berada dipelukan para pelayan. Dia bisa melihat dengan jelas betapa gadis ini sangat takut menemui ayahnya sendiri. Miris.
__ADS_1
“Paman, apakah Ayah sedang ada masalah?” tanya Amora lirih. Amora tahu, sangat amat tahu begitu dia masuk ke ruang kerja sang ayah, dia tidak hanya akan dimarahi saja. Tapi akan menerima kekerasan secara fisik juga. Dan hal inilah yang membuta tubuhnya gemetaran hebat sejak dia mendengar suara sang ayah tadi.
“Airan Group terancam bangkrut. Dan sepertinya Tuan Kendra marah karena hal ini. Cepat pergi temui ayahmu, Amora. Aku takut kemarahannya akan semakin besar kalau kau membiarkannya menunggu terlalu lama,” jawab penjaga setengah mendesak agar Amora bergegas pergi.
“Tapi … aku takut.”
Penjaga dan para pelayan hanya bisa menatap iba ke arah Amora. Mereka bingung, tak tahu harus melakukan apa agar ketakutan di diri gadis ini bisa sedikit berkurang. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba putri ketiga di keluarga Shin muncul. Ruth, dia langsung menatap nyalang ke arah Amora yang tak kunjung menemui ayah mereka.
“Apa yang sedang kalian lakukan,hah! Kalian ingin membuat Ayah semakin marah atau bagaimana. Cepat seret gadis sialan itu dan bawa dia ke hadapan Ayah!” amuk Ruth pada pelayan dan penjaga.
“Nona Ruth, kami ….
“Amora, dalam lima detik aku masih melihatmu di sini, percaya tidak kalau aku akan meminta Ayah untuk memecat mereka semua dari rumah ini. Ayah sedang menunggumu, bodoh. Cepat pergi ke ruang kerja Ayah. Sekarang!”
Tuhan, aku selalu percaya kalau Kau tidak akan memberikan cobaan di luar batas hamba-Mu. Dan aku yakin Kau pasti telah menyiapkan rencana indah untuk membalas semua kesedihan yang kurasakan selama ini.
“A-Ayah, Ayah memanggilku?” tanya Amora setelah membuka pintu ruang kerja sang ayah. Dia menelan ludah saat ayahnya menatapnya dingin.
“Bersiaplah. Besok pagi kau akan dikirim ke rumah Tuan Muda Bern sebagai jaminan untuk menyelamatkan Airan Group,” jawab Kendra tanpa merasa iba sama sekali. Masa bodo meski harus menjual putrinya sekalipun. Selama itu bisa menyelamatkan Airan Group dari kebangkrutan, maka Kendra akan menyanggupi semua persyaratan yang diminta oleh Tuan Muda Bern dan Tuan Muda Karl.
“Aku dijadikan jaminan?”
__ADS_1
Suara Amora bergetar. Amora tidak bodoh, dia jelas tahu apa arti dari menjadi seorang jaminan. Bukankah itu sama artinya kalau dia telah di jual oleh ayahnya sendiri?
“Selama ini kau selalu berkora-koar mengatakan kalau kau sangat menyayangi keluarga ini. Dan inilah saatnya kau membuktikan ucapanmu itu!” sahut Kendra seraya menghela nafas panjang. Amora memang putri kandungnya. Namun gara-gara anak ini, Kendra dan ketiga putrinya yang lain harus rela kehilangan wanita yang begitu mereka cintai. Ya, istrinya Kendra meninggal karena bersikeras mempertahankan bayi ke empat mereka, yaitu Amora. Dan yang membuat Kendra sangat membenci Amora adalah karena Amora masih tetap hidup meski Kendra telah diam-diam memberikan obat penggugur kandungan pada istrinya. Hingga pada akhirnya Kendra kehilangan wanita yang begitu di cintainya itu. Dari sanalah awal mula kebencian Kendra berasal. Dia bahkan setengah menganggap kalau Amora adalah orang asing di hidupnya. Amora hanya sampah tak berguna, dia pembawa sial.
“Ayah, aku memang sangat menyayangi Ayah dan ketiga kakak perempuanku. Tapi haruskah sampai dengan Ayah menjualku untuk dijadikan bahan jaminan? Aku tahu kalian sangat membenciku, tapi aku ini masih anak Ayah juga. Apakah tidak ada secuilpun rasa kasihan di diri Ayah melihatku di perlakukan seperti ini?” tanya Amora dengan air mata berlinang. Dia lalu melangkah pelan menghampiri ayahnya, menatap dalam sosok tua yang begitu di sayanginya. “Ayah, aku sangat sayang Ayah. Aku sedih jika sampai di buang dari rumah ini. Tolong pertimbangkan lagi keputusan Ayah ya. Aku mohon!”
“Amora, kau jangan tidak tahu diri begini. Ini semua dilakukan demi mempertahankan agar Airan Group tidak gulung tikar dan aku tidak di penjara. Anggaplah pengorbananmu ini sebagai balas budi atas kemewahan yang kau terima ini. Kau harus tahu kalau hanya ini satu-satunya jalan agar kita semua bisa mempertahankan perusahaan yang dulu begitu di agung-agungkan oleh mendiang Ibumu. Kau akan membuatku merasa kecewa kalau sampai menolak tugas ini. Paham kau?” ucap Kendra berusaha melunak dalam membujuk Amora agar bersedia menjadi miliknya Tuan Muda Bern. Walaupun sebenarnya dia sangat jijik berkata seperti ini, tapi harus tetap dia lakukan demi Airan Group. Kendra tak mau jatuh miskin, dia tak sanggup jika harus menyaksikan ketiga putrinya hidup kekurangan. Dia tidak bisa.
Amora terdiam. Lama dia merenung, memikirkan makna dari ucapan sang ayah barusan. Tak lama setelahnya Amora tiba-tiba tersenyum sambil menyeka air matanya. Kendra yang melihat hal itupun sempat terpaku sejenak. Senyum itu terlihat begitu perih dan kesakitan, membuat dadanya terasa sesak seakan dihimpit oleh sesuatu yang besar. Tak mau terbawa perasaan, Kendra segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak boleh kalah dari perasaan ini. Tidak boleh.
“Apa Ayah akan bahagia jika aku pergi kesana?”
“Ya. Aku dan kakak-kakakmu akan sangat bahagia jika kau bersedia menjadi jaminan demi menyelamatkan Airan Group dari kebangkrutan,”
Kendra kembali menatap Amora. Dan lagi-lagi dia di buat terpaku saat Amora menatapnya sambil tersenyum. Aneh, rasanya benar-benar aneh.
“Baiklah. Kalau begitu besok pagi aku akan pergi kesana,” ucap Amora. “Dengan siapa aku akan pergi, Ayah? Aku tidak mengenal siapa orang itu dan juga tidak tahu di mana dia tinggal.”
“A-ada penjaga yang akan mengantarmu pergi ke sana besok pagi. Kau … kau bersiap saja,” jawab Kendra tergagap.
Amora mengangguk. Setelah itu dia berbalik hendak keluar dari ruang kerja sang ayah. Namun sebelum melangkah keluar, Amora terhenti di depan pintu. Dia kemudian menoleh. “Ayah, seberapapun Ayah dan ketiga kakakku membenciku, kalian harus tahu kalau aku sangat menyayangi kalian semua. Aku bahkan rela menantang bahaya asal bisa melihat kalian berempat hidup dengan bahagia. Andai saja aku tahu kalau kehadiranku di rumah ini hanya membawa luka untuk kalian semua, sejak masih dalam kandungan aku akan meminta Tuhan agar tidak membiarkanku ke dunia ini. Namun aku bisa apa. Ibu ingin aku hidup. Aku tidak berdaya, Ayah. Sungguh,” ….
__ADS_1
Apa ini? Perasaan aneh macam apa ini? Kenapa Amora bersikap seolah dia ingin pergi dari dunia ini? Apa yang terjadi?
***