Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Di Antara Dua Pilihan


__ADS_3

"Nah, sudah beres!" ucap Jackson sembari menyeka keringat yang mengucur deras di keningnya. Dia menatap penuh kepuasan ke arah taman bunga yang baru saja di buatnya untuk sang adik.


"Ahh, lucunya. Aku suka sekali, Kak," pekik Elea begitu senang melihat tamannya yang begitu indah. Dia kemudian menoleh ke arah Nun yang masih dengan setianya tertanam di bagian pojok taman ini. "Pak Nun, taman ini sangat cantik, bukan? Menurutmu bagus tidak jika malam ini kita bertiga berkemah di sini?"


Jackson menelan ludah. Sekarang sedang musim dingin, bisa mati jadi batu mereka bertiga jika tidur di luar ruangan seperti yang di inginkan oleh Elea. Akan tetapi melihat bagaimana cara Elea membalas sakit hatinya pada Nun, Jackson jadi tidak berani protes apa-apa. Biarlah, menjadi batu juga bukan masalah asalkan bukan hanya Jackson saja. Bukannya tidak sayang pada calon keponakan dan juga adiknya, Jackson hanya tidak kuasa menerima cara nyeleneh Elea dalam memberi hukuman. Dia tidak mau kalau harus berakhir sama dengan Nun yang di tanam hidup-hidup di taman ini. Jackson tidak mau.


"Nyonya Elea, saya minta maaf jika jawaban saya nanti tidak berkenan di hati anda. Akan tetapi jika saya boleh memberi saran, sebaiknya anda dan dokter Jackson tidur di dalam rumah saja. Cuaca sudah mulai dingin sekarang, saya khawatir keadaan ini akan berimbas pada kesehatan anda dan juga bayi-bayi anda," sahut Nun menjawab dengan sangat hati-hati. Dia begitu takut menyinggung perasaan wanita hamil ini. "Sekarang anda tidak hanya membawa tubuh anda saja, Nyonya. Ada tiga bayi yang sedang hidup di dalam rahim anda. Jadi anda harus sangat berhati-hati dalam berbuat sesuatu. Anda bisa mengerti maksud perkataan saya kan, Nyonya?"


"Pak Nun, apa kau sedang memarahiku?" tanya Elea dengan mata berkaca-kaca. Lagi-lagi hormon ini datang kembali. Elea jadi penasaran akan semanis apa nanti saat baby Flow setelah lahir ke dunia ini. Karena melihat dari ketengilannya sejak dalam kandungan, Elea yakin sekali kalau calon putrinya itu pasti akan tumbuh menjadi seorang gadis yang saaangaaaaatt baik. Benar kan man-teman? 😅


"Tidak sama sekali, Nyonya Elea. Saya hanya berniat mengingatkan anda agar menjaga kesehatan anda dan juga kesehatan para bayi. Itu saja. Sungguh," jawab Nun sedikit panik.


"Benarkah?"


Nun mengangguk dengan sangat cepat. Ekor matanya melirik ke arah dokter Jackson yang lebih terkesan cari aman alih-alih membantu menjelaskan pada nyonya kecilnya. Sungguh, untuk pertama kalinya Nun menyimpan dendam pada manusia karena merasa tidak mendapat pertolongan di saat-saat genting seperti ini. Nun bahkan bersumpah dalam hati kalau dia akan berpura-pura mati saja saat dokter Jackson berada dalam posisi yang sama sepertinya. Nun tidak akan sudi untuk menolongnya. Tidak akan.


"Hmmm, ya sudahlah kalau begitu. Aku tidak akan menangis lagi, Pak Nun," ucap Elea sembari menyeka air mata di pipinya.


"Terima kasih karena sudah mau mengerti, Nyonya."

__ADS_1


"Iya, Pak Nun."


Melihat Nun yang sudah selamat dari kekesalan adiknya, Jackson pun akhirnya bisa bernafas lega. Dia kemudian mengambil cangkul dari tangan Elea kemudian meletakkannya tak jauh dari sana. Setelah itu Jackson menyalakan air kran karena ingin menyirami bunga-bunga liar yang baru saja selesai di tanam.


"Jangan di siram, Kak Jackson. Nanti bunga-bunga ini jadi membeku. Kan kasihan. Mereka itu tidak punya selimut!" cegah Elea khawatir.


"A-apa?"


Nun menyeringai licik. Akhirnya tiba juga waktunya untuk dia melihat dokter Jackson berurusan dengan Nyonya-nya. Rasakan. Hahahaha.


"Ekhmm, Elea. Sebelum kubawa mereka pulang kemari, bunga-bunga ini sudah terbiasa hidup dalam semua cuaca yang ada di negara kita. Mereka sama sekali tidak bermasalah dengan cuaca dingin seperti sekarang karena setiap hari tubuh mereka selalu di selimuti dengan embun dan juga salju. Jadi kau jangan khawatir ya. Mereka pasti akan baik-baik saja setelah aku menyiramnya," ucap Jackson dengan sabar membenarkan pemahaman Elea.


Setelah berkata seperti itu Elea langsung meminta kakaknya agar memberikan selang air padanya. Dia ingin menyirami bunga-bunga miliknya ini.


"Biar aku saja, Elea. Kau tidak boleh kelelahan!" ucap Jackson. "Nanti ka ....


Jackson tidak jadi melanjutkan kata-katanya begitu dia melihat tatapan mata Elea yang terlihat errrr ... mengerikan. Tatapan mata itu sebenarnya biasa saja, tapi Jackson tahu kalau ada ancaman mematikan di baliknya. Tak mau berakhir tragis seperti Nun, Jackson dengan terpaksa akhirnya menyerahkan selang tersebut pada adiknya. Dia lalu memilih untuk pergi membersihkan tangan dan juga kakinya yang di penuhi tanah beserta pupuk bunga.


Syuurrr syuurrr

__ADS_1


Sembari bersenandung kecil, Elea dengan penuh semangat menyirami bunga-bunga yang baru di tanamnya. Sesekali bibirnya juga menyunggingkan senyum manis saat terkenang dengan gambaran indah yang dia lihat begitu tangannya menyentuh salah satu bunga yang sudah tertanam di taman ini.


"Apa putriku nanti benar-benar akan bernasib baik seperti itu? Ah, aku jadi tidak sabar ingin segera melihatnya lahir ke dunia ini. Flow pasti akan sangat di sayangi oleh semua orang," gumam Elea dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia.


Di pojok taman, Nun memperhatikan nyonyanya yang entah kenapa terlihat begitu berseri-seri saat menyiram bunga. Nun juga terus memperhatikan bibir nyonya nya yang terus bergerak-gerak seperti sedang menggumamkan sesuatu. Sayang jarak di antara mereka sedikit jauh, jadi Nun tidak bisa mendengar jelas apa yang dia gumamkan. Setelah Nun mengetahui kalau nyonya kecilnya bisa melihat sesuatu yang belum terjadi, Nun menjadi sangat antusias mengawasi hari-hari sang nyonya. Tapi bukan untuk niat yang tidak-tidak ya. Nun hanya ingin tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti.


"Pak Nun, kau sudah lelah belum? Kakimu kram tidak?" tanya Elea sembari mengusap-usap tenggorokannya. Elea haus, tapi tidak rela menghentikan pekerjaannya.


"Saya tidak lelah, Nyonya. Ada apa? Apa anda membutuhkan sesuatu?" jawab Nun tanggap kalau sang nyonya membutuhkan sesuatu.


"Aku lapar, aku ingin makan coklat. Tapi karena kau belum lelah, aku tidak jadi lapar. Kau terlihat begitu sempurna di tanam di sebelah situ, Pak Nun. Membuat taman ini jadi terlihat semakin cantik," sahut Elea tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Baiklah, Nyonya."


Jika kalian semua penasaran kenapa Nun bisa di tanam di sini, jawabannya adalah karena Elea yang merasa kesal setelah Nun berpura-pura di gigit serangga. Malas berkata-kata, tanpa pikir panjang Elea langsung meminta kakaknya untuk menjadikan Nun sebagai bunga yang di tanam di taman ini. Awalnya sang kakak menolak, tapi setelah di ancam oleh Elea kakaknya itu dengan cepat langsung membuat lubang dan meminta Nun untuk masuk kemudian menimbun kakinya hingga sebatas paha. Dan apa kalian ingin tahu ancaman apa yang Elea katakan? Baiklah, emak akan menjawab 😅


"Kak Jackson, kalau kau menolak untuk menanam Pak Nun di taman ini, maka aku akan meminta Pak Nun untuk menanammu. Kau bilang kau sayang padaku dan pada anak-anakku, tapi kenapa melakukan hal seperti ini saja kau tidak mau? Kenapa? Apa karena aku dan anak-anakku rewel? Jika iya, maka aku bisa pergi ke rumahnya dokter Reinhard saja. Di sana ada Kak Levi, dia pasti akan menjagaku dengan sangat baik. Jadi sekarang tolong Kakak pilih. Ingin menanam Pak Nun atau kau yang di tanam lalu aku akan pergi ke rumahnya Kak Levi. Pilih satu, Kak!"


*****

__ADS_1


__ADS_2