
Drrrtt drrrttt
Bern yang tengah memperhatikan Amora menyiapkan makan malam tampak mengerutkan kening saat mendengar suara getaran ponsel. Dia kemudian menghela nafas, malas-malasan ketika akan melihat siapa orang yang telah mengirim pesan.
"Nomor baru. Siapa?" gumam Bern. Dia lalu memutuskan untuk membaca pesan tersebut.
"Selamat malam, Tuan Muda Bern. Maaf jika saya lancang mengganggu waktu istrahat anda. Saya Tina, kakak sulung Amora. Sekali lagi saya ingin meminta maaf jika permintaan saya akan membuat anda merasa tidak senang. Tapi Tuan Muda, bisakah anda mengizinkan saya untuk bertemu dengan Amora walaupun sebentar saja? Saya sangat merindukan Amora, Tuan Muda. Jadi tolong izinkan kami untuk bertemu. Saya mohon!"
Terdengar suara geretakkan gigi begitu Bern selesai membaca isi pesan tersebut. Marah, dia sangat amat marah sekali. Seenaknya wanita ini mengemis ingin bertemu dengan Amora setelah mereka menjualnya demi untuk menyelamatkan Airan Group. Enak saja. Sampai menangis darahpun Bern tidak akan rela mengizinkan Amora bertemu dengan orang-orang yang telah dengan kejam membuangnya. Tidak akan.
"Jangan kalian pikir aku akan membiarkan kalian bisa bertemu dengan Amora lagi. Cihh, menjijikkan. Harusnya kalian itu sadar kalau hak untuk bertemu dengan kekasihku sudah hilang sejak ayah kalian menandatangani perjanjian itu. Membuat jengkel saja!" gerutu Bern sambil menonaktifkan ponsel. Dia tak mau di ganggu.
"Bern, kau sedang memarahi siapa?"
Amora yang baru selesai memasak hidangan makan malam merasa sangat heran saat mendapati Bern sedang menggerutu tidak jelas. Di tatapnya lekat-lekat wajah tampan pria ini sembari menunggu jawaban darinya.
"Anjing tak berguna yang ingin kembali menjilat tulang," sahut Bern asal. Dia kemudian berdiri, berjalan menghampiri Amora kemudian memeluknya erat. "Dan aku tidak akan membiarkan anjing itu bisa kembali menjilat tulang yang telah di buangnya. Tidak akan pernah kubiarkan itu terjadi!"
"Apa anjing itu adalah keluargaku?"
Amora langsung tanggap. Dia kemudian tersenyum saat pelukan pria ini terasa semakin bertambah erat. Amora tahu Bern tersinggung, dan dia juga paham alasan mengapa Bern mengatai keluarganya sebagai anjing.
"Siapa dia? Ayah atau salah satu dari saudariku?" tanya Amora dengan lembut.
"Sayang, jangan bahas mereka saat sedang bersamaku. Aku tidak suka," jawab Bern seraya mendengus kasar. "Mereka telah memberikanmu padaku demi menukar kenyamanan hidup tanpa memikirkan apakah di sini kau akan bahagia atau tidak. Jadi begitu aku memutuskan untuk bertanggung jawab atas hidupmu, maka sejak saat itu mereka telah kehilangan hak atas dirimu. Kau milikku, dan akulah yang akan menggantikan posisi mereka sampai selamanya!"
__ADS_1
"Iya aku tahu itu, Bern. Terima kasih atas kebaikan dan juga cinta tulusmu padaku," ucap Amora sembari mengelus-elus punggung pria ini supaya lebih tenang. Dia kemudian mendongak, menatap seksama ke wajah tampan yang kini terlihat begitu dingin. "Tapi tidak bisakah kau mengizinkan kami untuk bertemu sebentar saja? Aku tahu mereka jahat, tapi aku tetaplah sangat menyayangi Ayah dan ketiga kakakku. Boleh ya? Aku janji tidak akan lama. Oke?"
"Jangan memaksa, Amora!"
"Bern, please. Aku hanya ingin tahu kabar mereka saja. Sungguh!"
"Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa! Kau dengar itu?!"
Dengan kasar Bern mendorong tubuh Amora dari pelukannya. Setelah itu Bern berjalan menuju balkon, dia butuh udara segar untuk meredam kemarahannya.
Menerima perlakuan kasar seperti itu tak serta-merta membuat Amora merasa tertekan. Dia malah tersenyum tipis sambil memperhatikan punggung belakang Bern yang terlihat begitu kokoh. Pria itu ... seposesif inikah terhadapnya? Padahal jelas-jelas Amora telah sepenuhnya menyerahkan tubuh dan juga perasaannya kepada pria itu. Haihhh, menggemaskan. Tak mau berlarut-larut, Amora memutuskan untuk menghampiri Bern. Dia akan membujuknya supaya berhenti merajuk.
Greeeeppp
"Aku merindukanmu, Bern. Seperti ini. Aku sudah sangat bahagia sekali," sahut Amora lirih. "Kalau tidak di izinkan ya sudah tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Tapi bisakah kau berhenti merajuk? Rasanya aneh melihatmu mengabaikan aku seperti ini. Hatiku sedih."
Dan begitu mendengar perkataan Amora, secepat kilat Bern langsung berbalik menghadap ke belakang. Di tanggupnya lembut kedua sisi rahang wanita ini kemudian di kecupnya bibir ranum itu penuh perasaan mendamba. Ah, bagaimana bisa Bern mengabaikan gadis cantik ini hanya karena merasa kesal setelah membaca pesan dari Tina? Omong kosong. Bern bodoh sekali.
"Maaf,"
Bern menghela nafas. "Aku hanya terlalu takut kehilanganmu, sayang. Aku tidak mau melihatmu bersedih apalagi jika sampai mereka membujukmu agar meninggalkan aku. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu, hem?"
"Bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu tentang perasaan seseorang yang adalah satu-satunya yang mau memperlakukan aku dengan begitu terhormat? Kau sangat berharga untukku, Bern. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Terkecuali jika Tuhan yang menggariskan!" jawab Amora dengan lembut.
"Adakah cara bernegosiasi dengan Tuhan?" Bern menggila. Dia berniat melakukan tawar-menawar dengan Tuhan supaya tidak mengambil Amora darinya.
__ADS_1
"Hmmm, sepertinya ada orang yang mulai tidak beres gara-gara perutnya merasa lapar. Ayo ayo, aku sudah membuatkan makan malam yang enak untukmu," seloroh Amora merasa tergelitik mendengar perkataan Bern yang ingin melakukan negosiasi dengan Tuhan. Ada-ada saja kelakuan pria satu ini. Hmmm.
Amora dengan penuh hangat menggandeng tangan Bern kemudian mengajaknya masuk menuju ruang makan. Setelah itu Amora dengan telaten menata piring lalu mulai mengambil nasi dan juga lauk untuk pria yang sudah sibuk menatapnya.
"Amora, ayo kita menikah besok pagi!" ajak Bern sambil meraih pinggang Amora yang hendak duduk di kursi sebelahnya. Setelah itu Bern menyentak pelan tubuhnya hingga kini Amora telah berada di atas pangkuannya. "Aku tidak tahan dengan hubungan ini. Aku ingin kejelasan. Kita menikah saja ya?"
"Bern, lebih baik sekarang kita bereskan dulu makan malamnya. Setelah itu baru kita membahas masalah ini. Oke?" sahut Amora.
"Tapi kau maukan menikah denganku?"
"Jika aku menjawab tidak apa kau akan membiarkan?"
"Omong kosong!"
Amora terkekeh. Dia mencium bibir Bern kemudian mengalungkan kedua tangan ke lehernya. "Sejak awal aku memang sudah di takdirkan untuk menjadi milikmu. Jadi apapun yang kau inginkan, aku akan berusaha untuk memenuhi. Termasuk dengan menjadi istrimu. Tapi alangkah baiknya sebelum itu terjadi kau bicarakan hal ini dulu dengan keluargamu. Kalian adalah orang-orang dari keluarga terpandang, aku tidak mau kalau kalian sampai merasa terbebani karena mempunyai anggota baru yang bukan siapa-siapa. Tanpa harus ku jelaskan ulang kau pasti sudah tahu sendiri bukan apa maksud perkataanku?"
"Flow sudah mengenalmu. Dia yang akan membuat semuanya berjalan lancar!"
"Iya aku tahu. Tapi tetap saja kau harus berbicara dengan keluargamu dulu. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, Bern. Ada janji sakral yang akan kita ucapkan di hadapan Tuhan kelak. Tahu?"
Bern mengangguk. Dia lalu meminta izin untuk pergi ke kamar mandi sebentar. Mendengar hal itupun Amora bergegas turun dari atas pangkuannya. Dia lalu terkekeh saat Bern masih sempat mencuri kesempatan untuk mel*mat bibirnya sebelum pergi ke kamar mandi. Sembari menunggu Bern kembali, Amora mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dan di saat itulah hati Amora tergerak untuk mengambil benda pipih yang tergeletak di atas meja makan.
Haruskah aku mengabari mereka?
***
__ADS_1