Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Rasa Jeruk


__ADS_3

"Sayang, kau darimana saja, hm? Ibu sampai panik mencarimu tadi," tanya Elea sambil menatap cemas ke arah Flowrence yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf ya, Bu. Tadi aku lupa berpamitan karena aku pikir Ibu sedang sibuk. Makanya aku pergi saja langsung tanpa meminta izin terlebih dahulu," jawab Flowrence sembari berjalan mendekat pada sang ibu. Dia lalu memeluknya dengan erat. "Ibu, aku baru saja pulang dari rumah sakit. Aku merindukan Sisil, jadi aku pergi mengunjunginya sebentar. Tadi di sana aku juga bertemu dengan Russel, dan akhirnya kami bertiga makan siang bersama setelah membujuk Sisil supaya tidak merajuk lagi. Begitu!"


Dengan penuh sayang Elea membelai rambut panjang Flowrence yang begitu lembut dan juga wangi. Sebenarnya Elea tidak mempermasalahkan kemana putrinya ingin pergi. Namun yang menjadi masalah adalah Flowrence pergi tanpa ada penjaga yang menemaninya. Bukannya apa. Sekarang status ketiga anaknya telah di ketahui oleh publik. Jadi tidak menutup kemungkinan akan ada seseorang yang melakukan tindak kejahatan pada putrinya ini meskipun ada bayang-bayang anggota Grisi yang mengawasi. Elea tetap merasa tak tenang. Terutama jika memikirkan Bern, putra sulungnya.


"Sayang, kalau boleh tahu tadi bagaimana caramu keluar dari butik ini sampai-sampai para penjaga di luar tidak ada yang menyadari kepergianmu. Ibu jadi penasaran,"


"Oh, itu. Baiklah, dengan senang hati aku akan memberitahu Ibu bagaimana caraku kabur dari para Paman penjaga. Hehehe, tapi Ibu janji jangan memarahiku ya?"


"Iya Ibu janji tidak akan marah. Nah, ceritakanlah sekarang. Ibu sudah tidak sabar ingin mendengar kenakalanmu itu!"


Sebelum bercerita, Flowrence mengurai pelukannya terlebih dahulu. Dia berbicara tanpa memperhatikan apakah di ruangan ibunya ada orang lain atau tidak. Trabas saja pokoknya. Yang penting ceritanya selesai.


"Penyebab kenapa paman penjaga tidak ada yang menyadari kepergianku adalah karena aku bersembunyi di dalam kereta milik bibi cleaning servis. Tubuhku ini kan kecil, Bu. Jadi bukan hal yang sulit untuk bersembunyi di sana. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu tanyakan saja pada bibi cleaning servis. Dia pasti akan menjawab dengan jujur kok," ucap Flowrence dengan polosnya menceritakan kenakalan yang tadi dilakukannya.


"Ya ampun, Flow-Flow. Kau ini kenapa sih selalu saja mempunyai cara-cara aneh saat ingin melarikan diri. Ibu kan jadi gemas," sahut Elea sambil menertawakan kelakuan putrinya yang ternyata bersembunyi di rak dorong tempat cleaning servis menyimpan ember dan alat pengepel. Ada-ada saja.


"Kalau sepuluh menit lagi kau masih belum kembali, jangan salahkan aku kalau aku merantai kakimu, Flow."


Elea hanya tersenyum saja saat ada seseorang yang mengancam ingin merantai kaki putrinya. Sedangkan Flowrence sendiri, dia nampak mengerutkan kening saat mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.


"Ibu, aku seperti mendengar suaranya Kak Oli. Aku sedang berhalusinasi atau tidak sih?" tanya Flowrence.


"Entahlah, Ibu juga tidak tahu," jawab Elea sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Ahhh, sepertinya aku sedang merindukan Kak Oli. Makanya aku sampai berhalusinasi begini. Aku aneh ya Bu?"


Gemas melihat Flowrence yang malah beranggapan sedang berhalusinasi, Oliver akhirnya beranjak dari duduknya. Tadi itu dia berniat membawa Flowrence pergi makan siang bersama ibunya. Tapi begitu dia sampai di butik ini, kekasihnya itu malah hilang tak berjejak. Bahkan Bibi Elea dan para penjaga sempat dibuat panik saat Oliver menanyakan keberadaan Flowrence. Namun setelah mereka tahu dimana keberadaan anak ini, Oliver memutuskan untuk menunggunya kembali. Dia ... merindukan gadis minionnya. Hehe.


"Apakah hari ini agendamu adalah menjadi gadis yang nakal, hem?" tanya Oliver. "Dasar jahil. Lain kali jangan membuat orang menjadi panik ya. Kalau mau pergi, biasakan untuk izin dulu pada Ibu. Oke?"


Flowrence berbalik. Dia diam tertegun begitu melihat sosok tampan yang tengah tersenyum di hadapannya. Saking terpesonanya, Flowrence sampai menggumam tak sadar. "Haa, tampan sekali. Dewa dari negara mana ini?"


Oliver dan Elea sama-sama tergelak mendengar gumaman Flowrence. Setelah itu mereka tertawa, gemas melihat Flowrence yang langsung bersikap malu-malu kucing begitu sadar kalau orang yang dia anggap sebagai dewa adalah calon suami masa depannya.


"Kak Oli, kenapa kau tampan sekali sih. Aku kan jadi kaget melihatnya," ucap Flowrence sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Masa begitu saja kaget?" ledek Oliver. Dia lalu mengulurkan tangannya ke arah Flowrence, bermaksud untuk mengajaknya duduk di sofa.


Sadar kalau calon mantunya ingin bermesraan, Elea dengan senang hati keluar dari dalam ruangannya. Dia cukup mengerti kalau pasangan itu ingin menghabiskan waktu berdua.


"Sudah," jawab Flowrence. Dia lalu menepuk perutnya pelan. "Lihat, sekarang perutku sudah terlihat seperti perut orang yang sedang cacingan. Lucu 'kan?"


"Bukan cacingan, Flow. Tapi ini adalah perut orang yang sedang kekenyangan. Memangnya tadi apa saja yang kau makan sampai perutmu membesar seperti ini, hem?"


"Em, apa saja ya. Aku lupa, Kak."


"Bagaimana bisa lupa sih. Lalu dengan siapa saja kau makan tadi?"


Sebenarnya Oliver sudah tahu kalau Flowrence makan siang bersama Sisil dan Russel. Tapi entah kenapa Oliver ingin mendengarnya lagi sekarang. Merasa cemburu? Hohoho, tentu saja. Oliver jelas tahu kalau Russel masih menyimpan rasa pada Flowrence sampai saat ini. Namun karena memandang persaudaraan dan juga persahabatan mereka, Oliver berusaha sabar dalam menyikapi sikap Russel yang sedikit tak lazim karena menyukai sepupunya sendiri.

__ADS_1


"Tadi aku makan siang bersama Sisil dan Russel, Kak. Gratis," jawab Flowrnce seraya tersenyum lebar.


"Gratis? Lalu siapa yang membayar semua makanannya?"


"Sisil."


"Hmmm, kau ini ya. Sisil itukan hanya seorang perawat, nanti uang gajinya habis kalau kau selalu meminta makanan gratis darinya. Lain kali kau jangan begitu lagi ya. Kalau kau ingin pergi makan bersamanya, mintalah uang padaku dulu. Kasihan, nanti Sisil kehabisan uang," ucap Oliver mencoba mematahkan paham sesat yang dianut oleh Flowrence di mana kekasihnya ini selalu berangapan kalau uangnya Sisil adalah uangnya juga. Agak sedih sih saat memikirkan nasibnya Sisil. Dan Oliver diam-diam menyiasati masalah ini dengan mengganti semua uangnya Sisil yang telah dirampok oleh Flowrence. Oliver calon suami yang baik hati bukan?


"Sebentar lagi sudah akan akhir bulan, Kak Oli. Biasanya saldo di rekeningnya Sisil akan bertambah sendiri nanti. Jadi dia tidak mungkin kehabisan uang."


Flowrence tiba-tiba tersenyum sambil menatap aneh ke arah Oliver. Oliver yang memang sudah tahu kebiasaan Flowrence yang suka memalak Sisil di akhir bulan, hanya tertawa saja melihat senyum aneh tersebut. Dengan gemas akhirnya Oliver menarik wajah Flowrence agar mendekat ke wajahnya, sebelum akhirnya Oliver mulai menyesap bibir tipis berwarna merah muda milik gadis minion ini.


"Eummmm,"


Suara decapan bibir yang saling menyecap terdengar cukup jelas di ruangan tersebut. Meskipun Oliver telah mendapat sertifikat resmi sebagai calon suaminya Flowrence, dia tak serta merta menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan perbuatan tak senonoh yang bisa mencemari kehormatan Flowrence sebagai seorang gadis. Paling jauh Oliver hanya akan memeluk dan mencium Flowrence seperti yang sedang dia lakukan sekarang. Lalu selebihnya ... nanti dulu. Tunggu setelah mereka resmi menjadi suami istri Oliver baru akan meng-unboxing semuanya. Hehe.


"Bibir Kak Oli rasa jeruk. Aku suka sekali," ucap Flowrence dengan wajah merona. Dia malu, tapi sangat suka setiap kali Oliver mencium bibirnya.


"Benarkah?" tanya Oliver sambil mengusap bibir bawah milik Flowrence yang sudah berubah menjadi warna merah. Sepertinya dia terlalu bersemangat saat berciuman tadi.


"Iya,"


"Lalu kau mau apa sekarang?"


"Boleh minta lagi tidak?"

__ADS_1


Oliver menyeringai. Ini yang paling di tunggu-tunggu oleh Oliver dimana Flowrence tidak akan ragu untuk mengajaknya berciuman kembali. Kepolosan Flowrence membuat Oliver kian menggila saja. Sungguh.


***


__ADS_2