
"Cio, hari ini kau masuk sekolah tidak?" tanya Bryan. Dia dan keluarganya kini tengah sarapan bersama.
"Tidak, Kek. Ratuku sedang terluka parah, jadi aku mana mungkin berani berangkat ke sekolah. Tidak di cincang oleh Ibu saja aku sudah sangat bersyukur. Jadi aku mengambil keputusan lebih baik menjadi anak bodoh dari harus menjadi korban keganasan Ibu," jawab Cio tanpa berani melirik ke arah sang ibu. Dia sedang protes sekarang.
"Sekolah juga apa gunanya kalau di dalam otakmu itu hanya ada dada dan pantat wanita saja. Lebih baik kau mengajak para sepupumu yang lain untuk menjaga Flowrence dan Russel di rumah sakit. Begitu baru berguna!" sahut Patricia dengan kejam.
Bryan langsung tersedak mendengar kata-kata frontal yang di ucapkan oleh Patricia. Setelah itu dia menerima air minum yang di sodorkan oleh Yura kemudian meneguknya perlahan.
"Terima kasih,"
Yura mengangguk. Dia mengambil gelas dari tangan Bryan lalu kembali duduk dan menikmati sarapan paginya. Sementara Junio, pria cabul itu hanya diam tak mengindahkan pembicaraan antara istri dan anaknya. Lebih baik cari aman saja daripada nanti dia kena sembur juga.
"Bu, aku tahu Flowrence itu adik sepupuku. Tapi apa perlu aku menjaganya sampai seperti ini. Di rumah Paman Gabrielle kan ada banyak sekali penjaga, belum lagi di rumah Nenek Liona. Apa pasukan mereka masih kurang juga sampai harus melibatkan kebebasan kami sebagai seorang remaja?" tanya Cio. Kali ini dia memberanikan diri untuk menatap wajah sang ibu. Namun sedetik kemudian dia buru-buru melihat ke arah lain ketika mendapati mata sang ibu tengah melotot ke arahnya.
Matilah. Setelah ini aku pasti akan dijadikan hidangan untuk makan siang nanti. Ya ampun, kenapa Ibuku mengerikan sekali sih.
"Di antara kalian ber-tujuh adakah yang berani melakukan protes sepertimu, hm? Coba katakan sekali lagi, Cio. Ibu ingin mendengarnya!" tanya Patricia kesal. Putranya ini semakin besar jadi semakin pandai melawan saja. Patricia jadi curiga jangan-jangan Junio yang telah mengajari putra mereka sampai jadi pembangkang seperti ini. Awas saja jika dugaan ini sampai benar. Pisah ranjang, titik.
"Bu, ayolah. Tolong berikan keadilan untuk kami. Lagipula siapa suruh Flowrence bersekolah jauh dari kami ber-tujuh, kan kami jadi sulit untuk mengawasinya. Tidak mungkin juga kan kami harus membelah diri menjadi dua?"
Patricia kicep. Benar juga ya. Cio dan sepupunya yang lain pasti merasa kerepotan karena mereka tidak berada dalam satu sekolah yang sama dengan Flowrence.
__ADS_1
"Cia, Ibu sebenarnya tidak ingin mengatur ataupun mencampuri caramu dan cara Elea mendidik anak-anak. Akan tetapi dari kejadian ini mungkin ada baiknya juga kalau Flowrence di satukan saja dengan kakak-kakaknya. Dengan begitu musibah seperti ini tidak akan terjadi. Benar tidak?" ucap Yura dengan lembut.
"Aku setuju dengan Ibu," tambah Junio. "Lagipula Bern dan Karl tidak akan mungkin berani menyakiti gadis cebol itu jika dia di jaga oleh para sepupunya yang lain. Jadi aku rasa ide yang Ibu sampaikan barusan adalah yang paling benar!"
Seketika nasi yang tengah di kunyah oleh Junio berubah menjadi bola api neraka begitu dia menyadari telah kelepasan bicara. Dia lalu berusaha dengan sangat keras untuk menelan bola api neraka tersebut sebelum akhirnya menatap satu-persatu wajah keluarganya.
"Maaf. Sepertinya aku perlu pergi ke bengkel untuk memasang rem baru di dalam mulutku," ucap Junio sambil menelan ludah.
"Ayah, apa maksud Ayah bicara seperti itu? Bern dan Karl adalah kakaknya Florence, mereka kembar. Jadi mana mungkin mereka tega menyakiti saudaranya sendiri!" cecar Cio merasa heran akan ucapan sang ayah.
"Ah, itu ya. Em ... Ayah hanya asal bicara saja, Cio. Kau tidak perlu menganggapnya serius," sahut Junio salah tingkah sendiri begitu di cecar oleh Cio. Jujur, saat ini Junio benar-benar merasa sangat terancam. Kepalanya bahkan tidak bisa di gerakkan saking takutnya dia pada Patricia yang kini tengah menatapnya dengan begitu galak.
"Asal bicara?"
Heh, bukan Cio Morigan Stoller namanya jika tidak bisa menemukan alasan kenapa Ayah menyebut kalau Bern dan Karl tidak mungkin berani menyakiti Flowrence. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan di sini. Ya, aku yakin sekali.
"Oh ya, Cio. Dengan siapa kau akan pergi ke rumah sakit? Di antar sopir atau ....
"Nanti Bern dan Karl yang datang menjemputku, Nek. Baru setelahnya kami akan menghampiri Andreas dan Oliver kemudian bersama-sama pergi ke rumah sakit," jawab Cio.
"Wahhh, jadi mereka akan datang ke sini dulu ya? Kebetulan Nenek sangat merindukan Karl dan Bern, nanti kau beritahu mereka untuk singgah sebentar disini yai. Nenek ingin bertemu," ucap Yura sambil tersenyum semringah. Dia sudah sangat merindukan anak-anak dari putri bungsunya meski sebelumnya Yura sempat bertemu mereka di rumah sakit.
__ADS_1
"Baik, Nek. Kalau begitu aku izin ke kamar dulu untuk mengirim pesan pada mereka ya,"
Yura mengangguk. Sepeninggal Cio, Bryan langsung meletakkan sendok di atas piring lalu menatap dalam ke arah Yura yang terlihat begitu bahagia.
"Bryan, siapapun Karl dan Bern mereka tetap cucu kita. Dan aku yakin Elea pasti akan sangat sedih jika tahu kalau kita memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda," ucap Yura tanggap akan apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya. "Yang seharusnya terjadi biarkanlah terjadi. Tuhan sudah terlanjur menarik garis takdir buruk untuk mereka, kita bisa apa. Dan satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanyalah tetap mencintai mereka agar nantinya mereka tidak merasa terasingkan. Ingat, Bry. Dendam tidak akan padam jika salah satunya tidak ada yang mau mengalah. Begitu pula dengan karma yang di tanggung oleh salah satu dari mereka. Entah siapa yang akan menjalani, aku harap kita semua tetap menyayangi dan mencintai mereka. Jangan menghakimi. Karena di sini orang yang akan merasa sangat tersakiti bukan mereka, tapi Elea. Sudah cukup baginya menanggung semua beban ini, tidak dengan sikap kita terhadap kedua putranya. Kalian bisa memahaminya 'kan?"
"Bu, maaf menyela. Aku tahu maksud Ibu baik, tapi tetap saja hal ini sangat membahayakan. Kita tidak tahu karma itu hanya akan menyasar pada anak-anaknya Elea saja atau tidak. Bagaimana jika salah satu dari mereka sampai mengancam keselamatan Cio dan yang lainnya? Bukan ingin membedakan, tapi lebih ke mawas diri. Ibu tidak lupa kan kalau karma itu membawa aura yang sangat buruk bagi penerimanya?" tanya Patricia kembali mengingatkan sang ibu tentang karma buruk yang di bawa oleh salah anaknya Elea.
"Patricia, bukankah kau juga adalah seorang Ibu? Jika Cio berada di posisi yang sama seperti Karl atau Bern, apa hatimu tidak akan merasa sakit melihat Cio di bedakan dari yang lain ketika kami semua tahu kalau Cio melakukan sebuah kejahatan bukan atas keinginannya sendiri. Apa yang akan kau lakukan, hm? Mungkin bibirmu bisa berkata semua akan baik-baik saja, tapi Ibu lebih percaya kalau seorang pembunuh masih memiliki hati nurani. Ibu yakin kau pasti akan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa saat putramu tidak mendapat perlakuan yang sama hanya karena terlahir dengan memangku sebuah karma yang sangat buruk. Coba kau pikirkan baik-baik. Apakah salah jika Ibu meminta kalian semua untuk tetap menyayangi mereka? Apa salah jika Ibu meminta kalian untuk mengerti kesedihan yang dirasakan oleh Elea? Apa salah?" sahut Yura dengan mata berkaca-kaca.
Suasana ruang makan mendadak terasa sunyi saat Yura mengucapkan kata yang begitu mengena di hati. Patricia yang merasa bersalah pun segera berjalan menghampiri sang ibu kemudian memeluknya dengan erat.
"Maaf,"
"Jangan meminta maaf, kau tidak salah. Kau hanya perlu mengubah cara pandangmu terhadap kedua putra Elea. Kasihan mereka, Cia. Mereka tidak tahu apa-apa,"
"Iya, Ibu. Ini adalah kali terakhir aku berpikiran seperti ini tentang Karl dan Bern. Mereka adalah keponakanku, dan aku akan memperlakukan mereka sama seperti caraku memperlakukan Cio dan yang lainnya!" sahut Patricia. Dia lalu mengurai pelukan, menatap wajah sedih sang ibu kemudian kembali duduk ke kursinya. "Sebentar lagi anak kurang ajar itu akan segera datang. Lebih baik kita jangan membahas masalah ini lagi. Oke?"
Bryan dan Yura mengangguk setuju. Sedangkan Junio, dia malah menatap Patricia sampai lupa untuk berkedip.
Apakah benar ini adalah istriku? Luar biasa. Bagaimana bisa aku menikahi wanita sebaik Patricia? Kadang dia terlihat seperti ratu iblis, tapi kadang dia juga terlihat baik dan bijaksana seperti dewi bulan. Ah, aku jadi semakin mencintainya. Hmmmm ....
__ADS_1
***