Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Memutuskan Untuk Bertanggung Jawab


__ADS_3

📢📢📢 Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.



***


📢📢📢 BESTIE, LAPAKNYA BABANG GERALD + MAS ELAND SUDAH UP LAGI YA. YUK MAMPIR




***


Bern duduk di tepi kasur sambil memandangi bahu Amora yang terbuka. Tadi saat Bern bangun, dia kaget sekali mendapati tubuhnya yang polos tengah memeluk tubuh Amora yang juga tidak mengenakan apapun. Syok, itu sudah pasti. Bern kemudian diam memikirkan apa yang telah dia lakukan sampai kelepasan kontrol seperti ini.


Seingatku aku tidak memakan apapun saat di rumah sakit. Mustahil aku menelan makanan ataupun minuman yang sudah tercampur dengan obat perangsang. Tapi kalau bukan karena itu lalu kenapa aku bisa meniduri Amora? Tidak-tidak. Pasti ada yang salah di sini.


Eugghhhhh


Sebuah lenguhan pelan membuyarkan pikiran Bern yang sedang melamun. Dan beberapa saat kemudian, pandangan matanya Bern bertatapan dengan pandangan mata Amora yang baru saja terbuka. Keduanya diam, sama-sama saling mengunci rapat mulut masing-masing.


“Aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat semalam,” ucap Bern dengan tiba-tiba. Perbuatannya sudah sangat kelewatan, jadi mau tidak mau Bern harus mau bertanggung jawab karena telah merenggut kesucian Amora. Bern tidak sekejam itu untuk melarikan diri dari perbuatannya. Dia tidak di didik untuk menjadi pria yang bejad.


Amora hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Bern. Sambil menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya, Amora memberi kode agar Bern mengambilkan air minum untuknya. Setelah itu Amora mengernyit, merasa tak nyaman akan rasa perih yang muncul di area bawah sana. “Tuan Muda, saya ini sudah menjadi milik anda sepenuhnya. Jadi anda tidak perlu merasa bersalah ataupun ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kita semalam. Lagipula … saya juga sangat menikmatinya. Terima kasih karena anda telah memperlakukan saya dengan begitu lembut.”


Bert tertegun.


“Tapi aku tidak pernah membelimu.”


“Lupakan saja apakah anda telah membeli saya atau tidak. Yang jelas saya sudah menjadi milik anda. Terserah anda ingin melakukan apa, saya terima dan berjanji tidak akan mengungkit.”

__ADS_1


Kali ini tidak ada desakan ataupun perasaan aneh yang mendorong Bern untuk memeluk Amora. Hatinya serasa seperti sedang di iris-iris melihat kepasrahan di diri gadis ini. Sembari membelai-belai rambutnya, Bern berbicara dengan nada suara yang sangat lembut seolah Amora ini adalah kekasihnya.


“Tetaplah tinggal di rumah ini agar aku bisa menjalankan tanggung jawabku dengan benar. Terlepas bagaimana cara kau bisa sampai di rumahku, aku pastikan kau tidak akan kelaparan dan tidak mempunyai tempat tinggal sampai Ayahmu sendiri yang datang menjemput. Jadi anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri. Oke?”


“Benarkah?”


“Emmm.”


Amora mendongakkan wajah. Dia kemudian tersenyum manis saat Bern menatapnya. “Anda sungguh baik hati sekali, Tuan Muda. Saya senang karena mulai hari ini saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang tempat tinggal lagi. Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Bern mungkin tidak sadar kalau orang yang telah membuatnya kehilangan kontrol adalah Karl. Namun, di sini Karl sepertinya kurang memprediksi akan kedalaman hatinya Bern yang ternyata mampu terketuk oleh kepasrahan Amora. Karl pasti tidak pernah menduga kalau Bern akan semudah ini menyatakan tanggung jawabnya kepada gadis yang memang sengaja di siapkan oleh Karl untuk menghancurkan hidupnya. Dan semoga saja Karl tidak akan pernah mengetahui hal ini karena akibatnya akan sangat fatal bagi Amora.


“Tuan Muda, jam berapa sekarang?” tanya Amora. Dia ingat dengan pekerjaannya untuk menyiapkan sarapan.


“Hari masih sangat pagi. Kau sebaiknya istirahat saja,” jawab Bern. “Dan Amora. Mulai sekarang bicaralah dengan bahasa yang biasa saja. Jangan membangun jarak di antara kita.”


Bern mengurai pelukannya kemudian memegang pundak Amora dengan lembut. Di tatapnya wajah pucat gadis ini sebelum Bern menjelaskan maksud ucapannya. “Bukankah tadi aku sudah memberitahumu kalau aku akan bertanggung jawab pada hidupmu? Jadi aku ingin kau bicara seperti orang normal biasa saat sedang berbincang denganku. Tidak apa-apa, keputusan ini aku yang buat. Kau tidak perlu merasa tak enak hati padaku.”


“Tapi, Tuan Muda. Aku ….


“Amora?”


“Ya?”


“Aku tidak suka orang yang membantah.Turuti saja apa kataku lalu jalanilah hidupmu dengan tenang bersamaku. Oke?”


Entah harus merasa terharu atau malah panik, Amora tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Dan dia hanya bisa pasrah saja saat Bern mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin bagi orang lain adalah hal yang sangat memalukan membiarkan tubuh polos kita dilihat oleh orang yang bukan suami sendiri. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk Amora. Entah harus bagaimana cara menjelaskannya. Yang pasti Amora sudah tidak merasakan rasa malu lagi meski sekarang Bern tengah menyabuni punggung bagian belakangnya.


“Tuan Muda, saya ….

__ADS_1


“Ekhmmm.”


Amora keki. Rasanya sungguh canggung sekali jika harus memanggil namanya Bern tanpa ada embel-embel tuan muda di depannya. Namun karena Amora tak mau di anggap sebagai gadis yang tidak tahu diri, dia kembali mengulangi ucapannya dengan mengganti nama tuan muda menjadi Bern.


“B-Bern, a-aku ingin meminta izin untuk melayani kebutuhanmu saat akan berangkat ke kantor. Maaf jika ini lancang. Akan tetapi Ayah telah berpesan agar aku bisa berguna untukmu. Apa boleh?” tanya Amora dengan sangat hati-hati.


“Kau bisa membuat sarapan?” sahut Bern balik bertanya. “Saat pagi aku tidak terbiasa mengkonsumsi nasi ataupun bubur. Aku lebih suka sarapan jenis salad dan roti bakar, itupun tidak setiap hari. Apa kau bisa melakukannya?”


“Tentu saja aku sangat bisa, Bern. Saat masih tinggal di rumah Ayah dulu, setiap pagi aku bersama para Bibi pelayan yang menyiapkan sarapan untuk keluargaku. Dan tentu saja aku sangat tahu jenis sarapan yang kau mau,” jawab Amora dengan sangat antusias.


Bern tersenyum. Ternyata Amora adalah tipe gadis yang periang. Bern jadi teringat dengan adik perempuannya. Apa dia pertemukan mereka saja ya supaya Amora tidak terlalu merasa kesepian di rumah sendirian? Dan Bern yakin Flow pasti bisa merahasiakan keberadaan Amora dari kedua orangtua mereka.


“Nanti siang akan ada seorang gadis cantik datang ke rumah ini. Kau sambut dan ajaklah gadis itu untuk bermain. Usianya memang setara denganku, tapi dia sedikit mengalami keterbelakangan mental. Gadis itu tidak gila. Sikap dan prilakunya hanya masih seperti kanak-kanak saja. Apa kau keberatan bertemu dengannya?” tanya Bern sambil menyiram busa sabun dengan air. Matanya kemudian menyipit mendapati banyaknya bekas luka di punggung Amora. Kejam sekali.


“Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Tapi siapa gadis itu, Bern? Perlukah aku membuatkan makanan atau cemilan khusus untuknya?” jawab Amora dengan senang hati mengiyakan pertanyaan Bern.


“Gadis itu adalah adik bungsuku. Namanya Flowrence. Kau bisa memanggilnya Flow,” sahut Bern memberitahukan nama panggilan adiknya. “Dia gadis yang berisik dan tidak bisa diam. Bersabarlah.”


Amora dengan patuh mengangguk. Dia lalu terkesiap kaget saat Bern tiba-tiba memeluknya dari belakang.


“B-Bern, kau kenapa?”


“Aku suka pada gadis yang patuh sepertimu. Teruslah seperti ini agar aku tidak merasa bosan,”


“B-baiklah.”


“Ayo keluar. Kau bisa masuk angin jika tidak segera memakai baju,” ucap Bern mengajak Amora keluar dari dalam kamar mandi.


Ada apa denganku? Kenapa Amora bisa semengena ini di hatiku? Mungkinkah aku jatuh cinta kepadanya?


***

__ADS_1


__ADS_2