Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Push-Up


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Ah Bern, apa-apaan ini!” pekik Amora kaget saat tubuhnya tiba-tiba di angkat dan di baringkan di lantai. Dia yang kala itu sedang sibuk menyiapkan sarapan hanya bisa menahan nafas saat Bern merangkak naik ke atas tubuhnya. “B-Bern, apa yang sedang kau lakukan? Bi-biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Nanti aku terlambat menyiapkan sarapan untukmu.”


“Tetaplah seperti ini sejenak. Aku ingin berolahraga,” sahut Bern sambil menempelkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Amora. Dia kemudian tersenyum saat pipi gadis ini merona. “Kau cantik saat sedang malu seperti ini. Aku suka.”


Blussshhhh


Di detik selanjutnya mata Amora langsung tertutup rapat saat Bern mulai melakukan gerakan push-up di atas tubuhnya. Saat Bern membuat gerakan naik, Amora akan menghembuskan nafasnya dengan kuat. Dan ketika Bern menurunkan tubuhnya, Amora akan menahan nafas karena wajahnya Bern akan sangat dekat dengan wajahnya. Jujur, hati Amora sekarang seperti sedang di jungkirbalikkan. Berbaring telentang di lantai dengan seorang pria yang tengah melakukan push-up di atas tubuhnya. Bisa kalian rasakan sendiri bukan seperti apa sensasinya?


“Buka matamu, Amora. Tatap aku,” bisik Bern.


“Aku … malu,” sahut Amora pelan.

__ADS_1


“Malu karena apa, hem? Kita bahkan pernah saling menyaksikan tubuh kita yang tidak tertutup pakaian. Ayo tatap aku, sayang. Tatap dan resapi betapa aku sangat ingin kau membalas perasaanku. Ayo buka matamu.”


Sengaja Bern tidak menaikkan tubuhnya sampai Amora bersedia untuk membuka mata. Dan kedua sudut bibirnya langsung terangkat ke atas saat kelopak mata Amora mulai bergerak. Kalian sudah tahukan kalau Bern tidak main-main dengan tanggung jawab yang dia ucapkan? Walaupun Amora masih belum memberikan jawaban atas perasaannya, Bern tidak akan membuang waktu dengan percuma. Dia akan terus mendekati gadis ini sampai bersedia untuk menerima perasaannya.


“Nah, bagaimana? Apa yang kau rasakan ketika melihat ada seorang pria tampan saat membuka mata? Apakah senang?” goda Bern saat mata Amora benar-benar sudah terbuka lebar.


“Jangan menggodaku, Bern. Kau itu sudah tua. Tidak sepantasnya menggoda gadis berusia dua puluh tahun dengan kata-kata semacam itu. Tahu?” sahut Amora sambil menyeka keringat yang mulai bermunculan di wajah pria tampan ini. “Beruntung hanya ada kita berdua di sini. Kalau tidak, orang pasti akan berpikir kalau kau sedang melakukan tindakan tak senonoh pada gadis di bawah umur.”


“Kalau gadis di bawah umurnya itu adalah dirimu, aku tidak keberatan bahkan jika harus diteriaki sebagai pria cabul sekalipun. Kau manis saat sedang malu-malu seperti tadi. Aku suka,” sahut Bern membalas ejekan Amora dengan pujian. “Sekarang bisakah aku melanjutkan olahragaku? Pria tua ini harus tetap sehat agar bisa terus menjaga dan mencintai si gadis di bawah umur. Bisakah?”


“Dasar,” cibir Amora. Dia lalu menganggukkan kepala.


“Bern, ini sudah siang. Nanti kalau kau telat bagaimana?” tanya Amora sambil menahan bibirnya Bern yang ingin kembali mencium keningnya.


“Tidak akan ada yang marah meskipun aku datang terlambat, Amora. Kau jangan khawatir. Perusahaan tempatku bekerja adalah milik keluargaku, jadi kau tenang saja. Oke?” jawab Bern kemudian menyingkirkan tangan Amora agar tidak menghalangi bibirnya lagi.


Cup

__ADS_1


Sekali. Cup cup, dua kali. Dan lagi, lagi, lagi. Bern sepertinya benar-benar sudah kecanduan cintanya pada Amora. Padahal mereka baru saling mengenal beberapa hari, tapi anehnya Bern bisa berubah drastis dari dia yang selalu bersikap dingin pada semua wanita selain adik dan ibunya, menjadi pria bucin yang serupa dengan ayahnya. Luar biasa sekali bukan? Dan Bern bisa pastikan kalau rasa ini hanya muncul saat sedang bersama Amora saja. Jika itu wanita lain, bahkan anak burungnya Bern enggan bangun meski wanita itu memakai pakaian yang mengundang n*fsu sekalipun.


“Bern, sudah. Aku harus segera menyiapkan sarapan. Tolonglah. Ya?” bujuk Amora yang sudah ketir-ketir menerima serangan ciuman fajar dari Bern. Meski hatinya berteriak agar terus berada di posisi ini, tapi akal Amora masih bisa berjalan sehat dengan tidak membiarkan perasaannya terus berkembang.


“Hmmmm, apa sarapan jauh lebih penting jika di bandingkan denganku?” tanya Bern memprotes sikap Amora yang tak henti membujuk. Dengan berat hati Bern akhirnya berhenti melakukan gerakan push-up kemudian berbaring di sebelah Amora. Dan ketika Amora hendak bangun, Bern dengan sengaja menahannya dengan cara menarik tangan Amora agar memeluknya. Dia lalu tertawa saat tak sengaja mendengar gerutuan gadis ini. “Hei, apa yang salah jika pasangan saling memeluk?”


“Pasangan?” beo Amora. “Kapan kita menjadi pasangan, Bern? Jangan mengada-ada. Nanti orang bisa salah menanggapi perkataanmu lho.”


“Kita sudah resmi menjadi pasangan sejak kita menghabiskan malam bersama. Dan jikapun ada orang yang mendengar perkataanku barusan, aku malah akan langsung memberitahunya kalau kau adalah gadis yang sangat jahat karena telah menggantung perasaanku. Mudah ‘kan?” sahut Bern dengan santainya. Dia lalu sedikit menarik tangan Amora agar semakin melingkar di perutnya. “Amora, apapun tujuanmu datang ke rumah ini aku sama sekali tidak peduli. Yang aku tahu sekarang aku menyukaimu dan aku ingin kita menjadi pasangan kekasih. Aku tahu ini terlalu awal untuk aku menyatakan perasaan, tapi rasa sayangku padamu benar-benar tulus dari dasar hati. Tidak apa-apa jika di hatimu belum tumbuh rasa untukku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun, bisakah kau jangan membangun jarak dariku? Aku sedih, Amora. Aku tidak mau patah hati di pertama kaliku jatuh cinta pada seorang gadis. Kau wanita pertama yang pernah kusentuh, dan kupastikan kalau kau juga yang akan menjadi wanita terakhir di hidupku.”


Tanpa terasa mata Amora berkaca-kaca saat mendengar perkataan Bern. Hatinya tersentuh seakan tak percaya ada pria yang mau mencintainya sampai sedalam ini meskipun tahu kalau hidup Amora sebelumnya cukup kelam. Dan entah dorongan keberanian darimana, Amora tiba-tiba bangun kemudian menangkup wajahnya Bern. Setelah itu Amora memejamkan mata saat bibirnya hampir menempel di bibirnya Bern. Mereka lalu berciuman dengan hangatnya.


Tuhan, berhakkah aku merekam kebahagiaan ini di dalam hati? Aku dan Bern sama-sama baru saling mengenal, tapi kenapa perasaan yang kami rasakan bisa sebegini dalamnya? Mungkinkah ini takdir indah yang telah kau persiapkan untukku? Jika benar, apakah nantinya keluarga Bern bisa menerima aku yang hanya pembawa sial ini? Aku dilema, Tuhan. Tapi sungguh, aku tidak ingin kehangatan ini berakhir. Mengenal Bern aku seperti menemukan hidup yang baru. Berhakkah aku untuk mencintainya?


“Don’t cry,baby. Tersenyumlah. Kau cantik saat sedang tersenyum,” bisik Bern menyudahi ciumannya saat dia mendengar suara isakan tertahan di dalam mulut Amora. Dia lalu mencium airmata yang mengalir membasahi pipinya. “Airmatamu terlalu berharga untuk kau buang percuma. Simpan saja. Keluarkan nanti saat kau sedang merasa sangat bahagia. Oke?”


Amora mengangguk patuh. Dia lalu tersenyum saat tangisnya perlahan-lahan mulai mereda. Tak rela kehangatan ini berlalu dengan cepat, Amora kembali berbaring di sebelah Bern kemudian melingkarkan tangan untuk memeluknya. Dia lalu memejamkan mata saat Bern mencium puncak kepalanya sambil membisikkan sesuatu.

__ADS_1


“I love you, Amora,” ….


***


__ADS_2