Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tak Rela


__ADS_3

OLIVER DISHI




🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Tok tok tok


"Bi, tolong lihat siapa yang datang ya. Aku sedang tidak sempat untuk membukanya!" perintah Kayo pada bibi pelayan. Dia kini sedang sibuk mengikat rambut panjang milik Flowrence.


"Baik, Nyonya."


Russell yang sejak tadi terus memperhatikan cara ibunya mengikat rambutnya Flow nampak tersenyum samar. Sungguh, ini adalah pemandangan yang sangat indah menurutnya. Andai saja Flowrence bukan saudarinya. Hmmmm.


"Flowrence, kau di mana, Nak? Ayo pulang bersama Ayah!"


Gabrielle langsung mencari keberadaan putrinya begitu masuk ke dalam rumah Jackson. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari-cari di mana putrinya berada sekarang.


"Kak, ini masih jatahnya Flow menginap di rumahku. Kau mana boleh membawanya pergi dari sini!" kesal Kayo jengkel begitu melihat kemunculan Gabrielle. Tadi anaknya, sekarang malah bapaknya yang ingin membawa Flow pergi dari rumah ini. Menjengkelkan sekali sih.


"Jangan banyak bicara. Mana anakku?" sahut Gabrielle tak mau tahu.


"Aku di sini, Ayah!" teriak Flow sambil mengacungkan tangannya ke atas. Posisinya yang sedang duduk di lantai membuat sang ayah tak bisa melihat keberadaannya.


Gabrielle langsung tersenyum semringah begitu mendengar suara lucu milik putrinya. Segera dia datang menghampiri tanpa mempedulikan bola mata Kayo yang hampir terbang keluar karena terus memelototinya.


"Russell, panggil Ayahmu kemari. Katakan kalau ada perampok datang ke rumah kita dan ingin menculik Flowrence. Cepat!" perintah Kayo semakin kesal melihat kakak sepupunya ingin menggendong Flowrence. Kayo takut putrinya di bawa lari.


Tanpa babibu Russell langsung berlari pergi menuju kamar ayahnya. Dia sama tak relanya seperti sang ibu jika Flowrence sampai di bawa pergi dari sini. Russell belum puas menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengannya.


"Ayah, Ayah. Cepat buka pintunya, Ayah. Ayah!" teriak Russell sambil terus menggedor pintu kamar ayahnya.


Ceklek


"Ayah, Paman Gabrielle datang hendak membawa Flowrence pulang. Cepat selamatkan dia, Ayah!" ucap Russell begitu sang ayah membuka pintu kamar.

__ADS_1


Jackson terdiam. Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Khawatir terjadi sesuatu, Jackson pun bergegas turun ke bawah untuk mencaritahu penyebab kenapa Gabrielle ingin melanggar perjanjian di antara mereka.


"Gab, berikan Flowrence pada Kayo. Kita bicara di luar!" ucap Jackson begitu melihat Gabrielle dan Kayo tengah berebut Flowrence. Sedangkan gadis manis itu, dia hanya diam memperhatikan ulah kedua orangtuanya.


"Ayah Jackson, apa tubuhku di belah menjadi dua saja ya supaya Ayah Gabrielle dan Ibu Kayo mau berhenti bertengkar. Mereka seperti anak-anak yang sedang berebut mainan," ucap Flowrence sambil mengerjap-ngerjapkan mata.


Gabrielle dan Kayo kicep. Mereka tidak ada yang berani berulah lagi setelah di katai mirip anak-anak. Sedangkan Jackson, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan Flowrence yang begitu lucu. Dia lalu mengambil alih Flowrence dari gendongan Gabrielle kemudian mencium pipinya penuh sayang.


"Sekarang princes Ayah main bersama Ibu dan Russell dulu ya. Ada hal penting yang ingin Ayah bahas dengan Ayah Gabrielle. Oke?"


"Tapi Ayah harus janji dulu kalau besok Ayah akan memberiku uang saku," ucap Flowrence merengek. Dia sudah bertekad akan mentraktir teman-temannya menggunakan uang asli.


"Baiklah. Besok Ayah akan memberimu uang saku yang sangat banyak. Senang tidak?" sahut Jackson gemas sendiri mendengar rengekan Flowrence yang sangat lucu.


Mata Flowrence langsung bersinar cerah mengalahkan cahaya mentari pagi begitu ayahnya bersedia memberikan apa yang dia mau. Setelah itu Flowrence meminta untuk turun, kemudian mengajak Russell dan Ibu Kayo untuk pindah ke ruangan lain. Flowrence tahu kalau orang-orang dewasa butuh ruang jika ingin bicara serius.


"Ada apa?" tanya Jackson sambil menatap seksama ke arah Gabrielle.


"Elea melihat sesuatu yang kurang baik siang tadi," jawab Gabrielle lesu. "Jack, kita semua harus waspada karena Elea tidak bisa memastikan siapa yang akan terkena musibah itu. Dan ini alasanku ingin membawa Flow pulang ke rumah. Aku yakin besok pagi Elea pasti akan sangat mengkhawatirkan Flow jika tidak bisa menemukan keberadaannya!"


Jackson menelan ludah. Tanpa banyak bicara lagi dia langsung mengirim pesan pada Gleen, Junio, dan juga Reinhard. Jackson meminta semua orang untuk menasehati putra masing-masing agar waspada saat berada di luar rumah. Tak lupa juga Jackson mengingatkan mereka untuk memberi arahan pada masing-masing anak kalau mulai besok semuanya akan lebih ketat lagi dalam mengawasi Flowrence karena entah kenapa pikiran Jackson langsung tertuju pada putrinya itu.


"Tentu saja aku akan memperketat pengamanan untuk semua anak-anak, Jack. Terutama Flowrence. Karena di antara yang lain, dialah yang memiliki resiko paling tinggi mudah terkena masalah," jawab Gabrielle.


"Kau benar, Flowrence lah yang paling mengkhawatirkan di sini. Tapi ...


Gabrielle memicingkan mata ketika Jackson menggantungkan ucapannya.


"Tapi Elea baik-baik saja kan sekarang? Kenapa tadi kau tidak membawanya kemari. Siapa tahu dengan kita saling bicara hatinya bisa merasa jauh lebih tenang," ucap Jackson mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Kalau dia baik-baik saja, aku tidak mungkin datang kemari hanya bersama Ares. Elea pingsan setelah menyampaikan tentang apa yang dilihatnya. Dia sangat tertekan sejak mimpi itu datang!"


Setelah itu Gabrielle dan Jackson sama-sama terdiam. Mereka tidak ada yang menyadari kalau ada seseorang yang sedang menguping dari balik tembok. Russell, dialah pelakunya.


( Seven bodyguard )


Russell : Flow sedang berada dalam bahaya sekarang. Kita tidak boleh lengah.

__ADS_1


Oliver : Bahaya apa maksudmu? Kau tahu darimana?


Karl : APA? Wahh, pantas saja tadi Ibuku di bawa pulang dalam keadaan pingsan. Jadi ini penyebabnya. Sialan, siapa yang sudah begitu berani ingin menyentuh gadis bantat itu? Cari mati.


Bern : Gadis bantat itu adikmu, bodoh.


Oliver : Russell, kau belum menjawab darimana kau mengetahui hal ini. Cepat katakan!


Russell : Aku baru saja menguping pembicaraan Ayahku bersama Paman Gabrielle.


Cio : Ckck, apa sekarang kau masih berpose seperti seekor cicak?


Reiden : Pertahankan posisimu, Russ.


Oliver : Kalian jangan bercanda. Nyawa kita semua akan jadi taruhan jika benar ada orang yang ingin mencelakai Flowrence. Ingat itu!


Andreas : Kalian semua pergilah tidur. Siapa tahu malam ini akan menjadi malam terakhir kalian memeluk guling.


Group langsung sepi begitu Andreas muncul. Sedangkan Russell, dia memilih untuk menyudahi acara mengupingnya. Sebenarnya sudah lama Russell mengetahui kalau ayahnya Flowrence bisa membaca pikiran orang lain, dan Russell memutuskan untuk menyimpan rahasia ini sendirian. Itulah kenapa dia bisa tidak ketahuan ketika sedang menguping karena Russell sudah mengosongkan pikirannya terlebih dahulu supaya ayahnya Flowrence tidak mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.


"Jackson, ini sudah semakin malam. Aku harus segera kembali ke rumah untuk menjaga Elea," ucap Gabrielle. "Bisakah kau membujuk Kayo untuk menyerahkan Flowrence padaku? Kau tadi lihat sendiri kan bagaimana Kayo menatapku seperti singa yang kelaparan. Istrimu benar-benar sangat mengerikan!"


"Seorang Ibu wajar bersikap seperti itu jika ada yang ingin mengambil anaknya," seloroh Jackson. Dia lalu pergi meninggalkan Gabrielle yang mulai kesal setelah mendengar perkataannya.


Sementara itu di ruangan lain, Kayo tengah memeluk Flowrence dengan sangat erat. Dia benar-benar tidak rela jika kakak sepupunya itu membawa Flowrence pergi dari rumah ini. Kayo tidak ikhlas lahir batin.


"Sayang, Elea sedang tidak baik-baik saja di rumahnya. Gabrielle bilang dia ingin bertemu dengan Flowrence," ucap Jackson mencoba membujuk Kayo.


"Cihhh, alasan. Jika memang benar begitu kenapa bukan kakak ipar saja yang datang kemari?" sahut Kayo penuh emosi.


"Elea pingsan!"


Kayo terhenyak kaget. Dia langsung menatap seksama ke arah Jackson untuk memastikan kebenarannya.


"Ayah, Ibu. Pingsan itu artinya sama dengan mati ya?" celetuk Flowrence bingung.


Jackson dan Kayo kompak menggaruk kepala saat mendengar celetukan Flowrence. Setelah itu mereka segera membawa Flowrence menemui Gabrielle dan membiarkan banteng pencemburu itu yang menangani kepolosan putri mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2