Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Buaya Dungu


__ADS_3

"Flow, ayo naik!" ajak Sisil dengan semangat. Dia sudah tidak sabar ingin segera tahu di mana Russell bersekolah.


Flowrence yang sedang berjalan menuju gerbang langsung menoleh begitu mendengar ajakan Sisil. Hari ini entah kenapa para guru meminta murid untuk pulang lebih awal. Dan kebetulan sekali Sisil mengajaknya untuk menumpang, jadi Flowrence tidak harus berjalan seperti gelandangan di pinggir jalan karena menunggu jemputan.


"Ck, cepat naik. Apalagi yang kau tunggu!" kesal Sisil saat Flowrence hanya menatapnya dalam diam.


"Sisil, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Flowrence.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu padaku?" jawab Sisil terheran-heran akan pertanyaan temannya satu ini.


"Kau tiba-tiba menjadi sangat baik padaku. Em, kau tidak sedang merencanakan niat jahat untuk menjualku 'kan?"


Sisil tergelak. Dia lalu memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, Sisil sudah tidak tahan melihat kebodohan Flowrence yang begitu mendarah daging. Dan begitu Sisil memijak bumi, Sisil langsung mendekatkan wajahnya ke depan wajah Flowrence.


"Bisa-bisanya ya Tuhan menciptakan lelembut yang sangat bodoh sepertimu, Flow. Bukankah sejak tadi pagi aku sudah mengatakan ingin mengajakmu pergi jalan-jalan dulu sebelum pulang? Kau itu lupa apa memang benar-benar bodoh sih. Membuat orang jengkel saja!"


"Oh,"


Hanya sesingkat itu jawaban Flowrence. Dan setelahnya dia langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan Sisil sendirian memijak bumi.


"Sisil, katanya kau ingin mengajakku pergi jalan-jalan. Ayo cepat masuk!" teriak Flowrence dari dalam mobil.


Ya Tuhan, Russell benar-benar kakaknya Flowrence 'kan? Tapi kenapa mereka bisa terlahir sebagai saudara di mana Flowrence tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat amat bodoh. Ini aku tidak sedang di permainkan bukan?


Dengan wajah yang begitu menderita, Sisil akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian melirik ke arah Flowrence yang terlihat begitu senang. Aneh, benar-benar sangat aneh. Bahkan mobilnya masih kalah mewah dengan mobil yang pagi tadi mengantarkan Flowrence ke sekolah. Tapi kenapa ekpresi anak ini bisa terlihat begitu gembira? Seperti orang yang tidak pernah naik ke mobil saja. Huh.


"Kita kemana, Nona?"


"Jalan-jalan saja dulu, Pak," sahut Sisil.

__ADS_1


"Kita ke taman saja, Sil. Dengar-dengar di sana ada pertunjukan buaya. Kita ke sana ya?" rengek Flowrence.


Sebenarnya Flowrence sudah sering melihat buaya di danau belakang rumah milik neneknya, tapi dia merasa tidak seru karena buaya di sana sangatlah dungu. Bahkan ketika Flowrence berenang di danau tersebut, tidak ada satupun buaya yang berniat untuk memakannya. Jadilah Flowrence merasa kecewa lalu tertantang untuk melihat buaya yang tinggal di luar danau. Siapa tahu nanti di sana Flowrence bisa mendapat pengalaman baru. Benar tidak kawan-kawan?


"Flow, kau mau apa datang ke tempat sirkus begitu. Ingin di telan buaya atau bagaimana, hah?" tanya Sisil tak habis pikir akan apa yang di inginkan oleh temannya ini.


"Aku hanya penasaran saja apakah buaya di luar sana sama dungunya dengan buaya yang ada di rumah Nenekku atau tidak. Dan jika aku tidak segera mendapat jawabannya, malam ini aku pasti tidak akan bisa tidur tenang. Mau ya pergi ke taman? Ya?" jawab Flowrence sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di depan dada. Dia sangat amat berharap kalau Sisil akan mengabulkan apa yang dia mau.


"Ck, kau ini aneh-aneh saja. Eh, tapi ngomong-ngomong apa benar di rumah Nenekmu ada buayanya?" tanya Sisil penasaran.


"Tentu saja benar. Kenapa memangnya? Apa kau tertarik untuk menjadi bahan makanan mereka? Kalau memang benar, nanti aku akan memberitahu Nenekku kalau kau bersedia menjadi cemilan buaya peliharaannya. Para buaya itu pasti akan sangat senang sekali mendapatkan cemilan sehat segemuk dirimu. Sungguh!"


Kriik krriik krikkk


Saking frontalnya perkataan Flowrence, sopirnya Sisil sampai terbatuk-batuk karena kaget mendengar ucapannya. Sedangkan Sisil sendiri, dia langsung ternganga syok mendengar tawaran Flowrence yang sangat amat tidak manusiawi. Benar-benar ya anak satu ini. Sisil sampai tidak bisa berpikir karenanya.


"Diam!" sergah Sisil ketika melihat Flowrence hendak bicara lagi. Dia sudah hampir stres hanya dalam hitungan menit.


"Karena kau sangat berisik!" jawab Sisil cetus.


"Aku tidak berisik, Sisil. Aku hanya ingin menarik nafas saja."


Sisil mengerjap-ngerjapkan mata. Dia lalu melihat ke arah jalanan, merasa sedikit canggung karena ternyata Flowrence hanya ingin bernafas, bukan ingin kembali mengeluarkan kata-katanya yang mematikan itu.


Baik Sisil maupun Flowrence, keduanya sama-sama diam saat dalam perjalanan menuju taman. Tak lama kemudian sampailah mereka di jalanan yang di sisi kanan dan kirinya banyak di tumbuhi pohon-pohon besar nan rindang. Seketika Sisil dan Flowrence meminta agar sopir menghentikan mobil di sana. Mereka ingin bersantai sambil bermain di bawah pohon besar tersebut.


"Nona Sisil, Nona Flowrence, hati-hati. Tempat ini rawan kecelakaan dan juga perampokan, tolong kalian jangan terlalu jauh ya bermainnya. Nanti Tuan bisa marah!" ucap si sopir memberi peringatan. Raut wajahnya menunjukkan ekpresi penuh kekhawatiran, seolah bisa merasakan kalau ada bahaya besar yang sedang mengancam keselamatan anak majikannya.


"Iya, Pak. Aku dan Sisil hanya akan bernafas saja di sini. Benar kan, Sil?" sahut Flowrence dengan entengnya.

__ADS_1


Jtaaakkkk


"Aw,"


"Bisa tidak kau itu bicara yang benar!" omel Sisil setelah menjitak kepala Flowrence. Bisa-bisanya anak ini menjawab kalau mereka hanya akan bernafas di tempat ini. Benar-benar kelewatan.


"Bisa!"


"Awas saja kalau sampai terulang. Akan ku gelindingkan kau ke dalam jurang itu. Mau?"


Flowrence menggeleng. Setelah itu dia segera mengikuti Sisil keluar mobil sambil mengelus kepalanya yang terasa nyeri. Jitakan Sisil sangat kuat, Flowrence jadi penasaran makanan apa yang di konsumsi oleh temannya ini.


"Eh, kenapa mobil itu seperti sedang mengawasi kita ya, Flow?" tanya Sisil sambil menatap penuh heran ke arah mobil hitam yang berhenti tidak jauh dari posisinya sekarang.


"Mobil kan tidak punya mata, Sil. Lalu bagaimana caranya mobil itu mengawasi kita?" sahut Flowrence balik bertanya.


"Astaga, Flowrence. Bisa tidak sih kau itu pintar sedikit. Aku juga tahu kalau mobil tidak memiliki mata, aku tidak sebodoh itu. Yang aku maksudkan adalah orang yang berada di dalam mobilnya. Ihhhh, mengesalkan sekali sih!" teriak Sisil frustasi sendiri bicara dengan Flowrence. Darahnya seperti naik ke ubun-ubun semua sekarang.


"Oh, bilanglah kalau yang kau maksud adalah pengendaranya. Begitu saja repot!"


Kalau saja Flowrence tidak segera menariknya menuju pepohonan, Sisil pasti sudah membenturkan kepala anak ini ke pintu mobil. Sungguh, mentalnya seperti di jungkir-balikkan sejak dia berada dalam satu mobil yang sama dengan Flowrence. Sisil bahkan hampir gila karenanya. Sungguh kelewatan.


Sementara itu di dalam mobil hitam, terlihat dua orang pria dengan seragam khas penjaga di mana salah satu dari mereka sedang sibuk menelpon seseorang. Sedangkan yang satunya lagi terus memperhatikan kedua gadis belia yang sedang asik berlarian ke sana kemari sambil membawa sesuatu di tangan mereka. Tak lama kemudian kedua orang tersebut tersenyum, merasa lucu ketika gadis kecil yang tubuhnya sedikit bantat jatuh tersungkur kemudian menggelinding seperti bola di jalanan. Maklumlah, jalanan ini sedikit menurun di mana ada sebuah jurang terjal di ujung turunan ini.


"Kalian jangan sampai lengah. Sedikit saja kulit Nona Muda lecet, maka habislah nyawa kalian!"


"Baik, Tuan Ares. Akan tetapi kami tidak bisa menjamin tubuh Nona Muda tidak lecet karena dia baru saja jatuh tersungkur di jalanan. Nona Muda dan temannya terlihat sangat bahagia saat sedang berlarian. Terlepas dari luka lecet itu, kami pastikan Nona Muda tidak akan mengalami hal yang buruk. Nyawa kami taruhannya!"


"Baiklah. Terus pantau kemanapun Nona Muda pergi dan segera laporkan padaku jika terjadi sesuatu di sana. Oh, satu lagi. Nanti ke tujuh saudara Nona Muda juga akan datang membantu kalian mengawasi keadaan. Aku tutup dulu panggilannya!"

__ADS_1


"Baik, Tuan Ares!"


*******


__ADS_2