
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
"Ck, Karl. Aku itu memintamu untuk menyuapi Flow, kenapa kau malah sibuk makan sendiri!" tegur Bern seraya menatap tajam ke arah Karl yang terus saja menjejalkan roti ke dalam mulutnya.
"Hanya sedikit, Kak. Lagi pula roti di dalam mulutnya Flow masih belum di telan, masa iya aku harus menambahkan makanan ke dalam mulutnya. Kalau dia tersedak kemudian mati suri bagaimana? Memangnya kau sudah siap di hukum pancung oleh semua orang?" tanya Karl. Dia lalu dengan cepat menangkup kedua pipi Flow ketika hendak kepalanya hampir oleng ke samping.
Oh ya, mungkin kalian ada yang penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Bern dan Karl di kamar adik mereka. Setelah insiden bibi tak kasat mata itu, mereka memutuskan untuk tidur bertiga. Dan begitu bangun, Bern dan Karl sangat syok mendapati Flowrence yang tertidur sembari duduk di pojokan. Mereka lalu dengan hati-hati berniat memindahkan Flowrence agar tidur dengan posisi benar. Akan tetapi ketika mereka baru akan menyentuh kakinya, gadis bantat ini sudah lebih dulu membuka mata. Dan begitu tahu kalau hari sudah pagi, Flow langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi yang mana membuat Karl dan Bern syok setengah mati. Mereka seperti melihat mayat yang tiba-tiba hidup kemudian berlari pergi begitu saja. Sangat mengejutkan.
Flashback
"Kak, apa memang seperti itu ya cara tidur adik kita? Sungguh, baru kali ini aku melihat manusia kelelawar seperti Flowrence," tanya Karl keheranan.
"Siapapun dia, Flowrence adalah adik kita. Jadi kau jangan banyak mengeluh. Biarkan saja dia mau bagaimana, yang penting dia sehat dan tidak menangis," jawab Bern.
"Huh, salah aku bertanya padamu."
"Pergi mandi dan segeralah kembali kemari!"
"Kemari lagi? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk menyelesaikan tugas kita. Kau lupa ya tentang pembicaraan kita di group seven bodyguard?"
Sudut bibir Karl terangkat. Bukan tersenyum, tapi kesal karena dia akan kembali berurusan dengan adiknya yang menyebalkan itu.
__ADS_1
Flashback Now
"Ummm, ingin tidur," gumam Flow dengan mata terpejam.
"Hei, buka matamu lebar-lebar bodoh. Kau yang bilang ingin tetap pergi ke sekolah 'kan? Ayo cepat bangun. Lihat, Kak Bern dengan suka rela menguncir rambutmu seperti bibi pengasuh. Cepat lihat itu sebelum dia selesai dengan tugasnya," bisik Karl sambil memegangi kepala adiknya yang terus oleng ke kanan dan ke kiri.
Bern yang memang tengah mengikat rambut Flowrence hanya bisa menghela nafas kasar ketika mendengar bisikan Karl yang di ucapkan dengan suara yang sedikit keras. Yap, benar. Saat ini posisinya Bern tengah duduk di tepi ranjang dengan Flowrence yang duduk di lantai. Sedangkan Karl, dia duduk di hadapan Flowrence sambil membawa roti di tangannya. Sebenarnya sih tugas Karl itu untuk menyuapi adiknya, tapi apa mau di kata, roti yang dia bawa hampir habis dimakan olehnya sendiri. Karena Bern yang sedang repot mengurus rambut panjangnya Flowrence, dia hanya bisa menegur Karl saja ketika jatah sarapan untuk adik mereka hampir habis dimakannya.
"Karl, pegangi kepala Flowrence dengan benar. Bagaimana sih!" kesal Bern saat ikatan rambutnya hampir terlepas ketika kepala Flowrence terantuk ke depan.
"Ini sudah yang paling benar, Kak. Jangan marah-marah teruslah, sebelumnya kan kita tidak pernah melakukan tugas seperti ini. Jadi wajar saja kalau aku tidak bisa membantumu mengikat belut-belut kurus itu," sahut Karl mulai jengah karena terus mendapat omelan.
"Belut kepalamu. Ini rambut, mahkotanya para wanita. Tahu kau?"
Saat besar nanti aku sebaiknya tidak usah menikah saja. Karena jika menikah, hidupku pasti akan di penuhi oleh banyak drama dimana istri dan anak-anakku merengek meminta agar aku mengikat rambut mereka. Hii, menggelikan.
Tanpa di sadari oleh ketiga bocah itu, sebenarnya sejak tadi ada dua orang yang sedang berdiri mengintip kelakuan mereka dari celah pintu. Gabrielle dan Elea, ya, mereka di sana. Gabrielle sengaja membawa Elea pergi ke kamar ini guna memberikan kejutan kecil kalau putri mereka ada di rumah. Dan lebih lucunya lagi, tanpa Gabrielle sangka Bern dan Karl kini tengah melakukan hal yang begitu manis pada adik mereka. Yah meskipun di barengi dengan perdebatan yang sangat tidak ada faedahnya, setidaknya hal ini bisa memberikan sedikit ketenangan untuk Elea yang memang tengah dilanda ketakutan dan kegelisahan.
"Manis sekali mereka, Kak Iel," ucap Elea lirih sembari menyeka air mata di wajahnya. Dia sangat amat terharu melihat kepedulian putra pertama dan keduanya terhadap Flowrence yang notabennya masih seperti bocah.
"Iya, sayang. Mereka bertiga benar-benar sangat manis," sahut Gabrielle membenarkan. Dia lalu mengusap bahu Elea sembari berbisik. "Apa kau senang melihat putri kita ada di rumah?"
"Sangat. Aku benar-benar sangat senang dan juga tenang, Kak. Karena apapun yang terjadi nanti, setidaknya aku sudah melihat ketiga anakku berkumpul bersama seperti itu. Aku senang," jawab Elea.
Gabrielle langsung mengerutkan kening mendengar jawaban Elea yang begitu ambigu. Khawatir terjadi sesuatu, Gabrielle pun segera mencecar Elea dengan beberapa pertanyaan.
__ADS_1
"Sayang, maksud di balik perkataanmu tadi apakah Flow yang akan masuk ke jurang?"
"Entahlah, Kak. Itu tidak terlalu jelas, tapi yang pasti dia perempuan," jawab Elea lirih. "Tapi, Kak. Perempuan yang aku lihat memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan Flow, aku benar-benar sangat bingung sekarang. Aku takut, teka-tekinya sangat sulit untuk di tebak karena aku biasanya hanya akan melihat kejadian yang di alami oleh orang-orang di sekitarku. Tapi anak perempuan ini ....
"Jangan terlalu di pikirkan dulu ya. Nanti kau pingsan lagi seperti semalam. Entah itu Flowrence atau bukan, hari ini aku akan mengerahkan semua orang untuk menjaga keamanannya dengan sangat ketat. Kau jangan khawatir. Semalam aku sudah bilang kan kalau hanya Tuhan saja yang mampu membuat putri kita celaka?" sahut Gabrielle langsung memotong perkataan Elea. Dia tidak akan membiarkannya kalut lagi seperti yang terjadi semalam. "Kita masuk dan temui anak-anak saja ya. Kasihan Bern, dia pasti kesulitan mengurus adiknya yang nakal itu!"
Elea menarik nafas dalam-dalam kemudian menganggukkan kepala. Setelah itu dia dan Gabrielle membuka pintu kamar, lalu tersenyum ke arah Bern dan Karl yang kini tengah melihat mereka sambil tersenyum juga.
"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Ibu!" sapa Bern dan Karl berbarengan.
"Selamat pagi kembali, sayangku," sahut Elea. Dia lalu menatap Flowrence yang sedang tertidur dengan mulut tersumpal roti. "Apakah sangat sulit merawat adik kalian, hem?"
"Sulit sih tidak, Bu. Flowrence hanya tidak mau di ajak bekerja sama saja. Lihat, susah payah Kak Bern mengumpulkan belut-belut kurus di kepalanya, tapi Flowrence tidak mau duduk diam. Harusnya sih pekerjaan ini sudah selesai dari tadi, tapi karena dia yang tidak mau diam sekarang aku dan Kak Bern terjebak di posisi ini. Ibu bisa lihat sendiri 'kan?" jawab Karl mengeluhkan kelakuan adiknya pada sang ibu. Tubuhnya sudah mati rasa separuh gara-gara terus memegangi pipi adiknya dan juga menyuapkan sarapan untuknya. Tapi ... Karl senang. Hehehe.
"Selesai," ucap Bern sambil menarik nafas lega setelah berhasil memasangkan pita di rambut adiknya.
"Bern, darimana kau mempelajari hal seperti ini? Biasanya yang mengikat rambut adikmu kan Ibu dan bibi pelayan, tapi kenapa hasil kerjamu bisa begitu rapi?" tanya Gabrielle penasaran.
"Inilah gunanya otak, Ayah. Orang cerdas sepertiku tidak harus kursus dulu hanya demi bisa mengikat rambut. Benar kan, Flow?"
Suara dengkuran keras terdengar dari arah lantai ketika Bern menanyakan persetujuan Flowrence tentang definisi orang cerdas. Lalu setelahnya suara dengkuran tersebut langsung berganti dengan teriakan Karl yang mendapat jeweran di kedua kupingnya gara-gara membiarkan adiknya jatuh tersungkur ke depan. Elea yang melihat kelakuan Gabrielle dan Bern yang tengah menganiaya Karl hanya bisa tertawa saja. Dia lalu berjalan mendekat untuk membantu membangunkan putrinya yang masih terlelap nyenyak meski suasana kamar begitu berisik.
Anak Ibu, putri kesayangan Ibu. Tolong berjanjilah untuk tetap baik-baik saja meski nanti musibah itu datang menghampirimu, Nak.
*******
__ADS_1