Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Pasukan Merah


__ADS_3

Di kediaman Reinhard, terlihat Levita yang sedang sibuk menata bajunya di dalam koper. Malam ini adalah malam resepsi pernikahannya dengan Reinhard, jadi untuk sementara mereka akan menginap di hotel sebelum pergi ke Maldives untuk bulan madu.


"Sayang, kenapa tidak menyuruh orang lain saja yang membereskan baju-baju kita?" tanya Reinhard sambil mengelap rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai mandi.


"Kalau orang lain yang membereskan, yang ada bukan baju yang di masukkan, Rein. Tapi lingerie seksi. Percaya padaku," jawab Levita.


"Lingerie seksi?"


"Iyalah. Memangnya kau pikir mereka akan membiarkan aku memakai piyama tidur di saat status kita sudah resmi menjadi suami istri? Tentu saja tidak. Kemarin aku bahkan sempat tidak sengaja mendengar gunjingan Ayah dan Ibu kalau mereka telah memesan lingerie yang sangat luar biasa seksi agar bisa membantumu menikmati malam pertama dengan cepat. Mereka sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu katanya. Jadi sekarang kau paham kan kenapa aku sampai repor-repot menyiapkan pakaian kita sendiri?"


Reinhard menelan ludah. Dia kemudian menunduk, menatap juniornya yang perlahan-lahan mulai menegak. Sungguh malang, harusnya Reinhard dan juniornya sudah merasakan yang namanya belah duren. Tapi sayang, gara-gara kedatangan pasukan merah, belah duren yang harusnya berakhir indah itu harus tertunda untuk sementara waktu. Kini Reinhard dan juniornya hanya bisa pasrah menunggu pasukan merah mengangkat bendera putih kemudian pergi meninggalkan benteng yang menjadi tempat persembunyian mereka. Setelah itu ... hehehe.


"Kenapa kau tersenyum, Rein? Kau tidak gila karena memikirkan acara resepsi pernikahan kita, kan?" tanya Levita heran melihat senyum aneh di bibir suaminya.


"Sembarangan. Aku tersenyum karena merasa bahagia memiliki istri multitalent seperti dirimu. Kau cantik, pandai membaca situasi dengan baik dan juga pintar. Pria mana yang tidak akan merasa bahagia jika mempunyai istri sepertimu, sayang," jawab Reinhard berkilah. Padahal tadi otaknya sedang memikirkan suatu hal mesum yang akan dia lakukan pada istrinya begitu pasukan merah menyerah.


Blussshhh


Pipi Levita langsung merona setelah mendengar pujian yang di lontarkan oleh suaminya. Entahlah, Levita akan selalu salah tingkah jika Reinhard sampai mengatakan sesuatu tentangnya. Lebai bukan? Masa bodo. Toh kenyataannya memang seperti itu. Daun telinga Levita seperti mengeluarkan sayap setiap kali Reinhard melakukan sesuatu yang jarang sekali dia dengar. Misalnya seperti semalam. Levita langsung menjadi batu sesaat setelah Reinhard melakban mulutnya dengan cara yang tidak biasa. Membayangkan betapa malunya Levita semalam, wajahnya sampai memanas seperti terbakar api. Sungguh, ternyata suaminya itu bisa bertingkah mesum juga. Sangat di luar dugaan.


"Sayang, kenapa wajahmu merah sekali? Kau sedang memikirkan apa, hm?" tanya Reinhard penasaran.


"A-aku ... aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Wajahku memerah karena suhu di ruangan ini terasa panas. Makanya aku gerah," sahut Levita tergagap. Baju di tangannya sampai terlepas saking gugupnya dia ketahuan sedang membayangkan kemesuman Reinhard semalam.


Sadar kalau istrinya sedang berbohong, Reinhard terpikir untuk sedikit mengerjainya. Dia yang saat itu hanya mengenakan handuk sebatas pinggang segera berdiri tepat di hadapan Levita yang masih asik menata baju di dalam koper. Sebelum melancarkan aksinya, Reinhard tersenyum aneh ke arah istrinya terlebih dahulu. Dan senyumnya kian melebar saat Levita menatapnya penuh kebingungan.


"Kenapa kau berpose seperti itu di hadapanku, Rein? Ingin goyang dumang kau?" tanya Levita bingung.


Sreeetttttt


Mata melotot lebar, mulut ternganga, dan jantung berdegup dengan sangat kuat. Itu yang terjadi pada diri seorang Levita Foster saat dia menyaksikan pemandangan yang begitu menggugah iman terpampang jelas di depan matanya. Ya, suaminya yang tampan ini dengan tidak tahu malunya membuka handuk yang menutupi aset berharga miliknya. Tergoda, itu sudah pasti. Bahkan air liur Levita seakan ingin menetes keluar saat biji matanya menangkap pergerakan tidak biasa pada benda kenyal yang menggunduk di balik celana pendek yang di pakai suaminya.


"Suka?"

__ADS_1


"Sangat suka," jawab Levita tanpa sadar.


Sedetik kemudian, Levita langsung memekik kencang sambil melemparkan baju yang sedang dia pegang ke dada Reinhard. Wajahnya yang tadi sudah memerah, kini semakin memerah karena menahan rasa malu yang sangat luar biasa.


"YAAAKKK Reinhard, apa-apaan kau hah! Kau pikir lucu menggodaku sampai seperti itu. Dasar mesum!"


"Hahahahahaa," ....


Reinhard tertawa terbahak-bahak melihat wajah Levita yang begitu merah seperti buah tomat yang hampir busuk. Dia bahkan sampai jatuh terduduk di lantai saking lucunya melihat keterlambatan Levita dalam menyadari keterpesonaannya pada aset yang hanya tertutup celana pendek.


"Aduh-aduuhh perutku sakit sekali. Hahahaha!" ucap Reinhard di sela-sela tawanya.


"Terus saja tertawa seperti itu, Rein. Kalau kesabaranku sampai habis, kau pasti akan sangat menyesal!" amuk Levita sambil bernafas terengah.


Sialan. Kenapa aku bisa terjebak permainannya Reinhard, sih. Kalau begini kan dia jadi tahu kalau aku sangat mengagumi juniornya. Aaaaa, malu sekali.


"Kenapa? Apa kau berharap kalau di dalam handuk tadi tidak ada pakaian yang menghalangi, hm?" tanya Reinhard setelah tawanya berhenti. Dia menatap gemas ke arah istrinya yang terlihat jengkel.


"Apa kau pikir aku adalah wanita mesum yang begitu ingin melihat barang milikmu?" sahut Levita balik bertanya.


"Tentu saja apa? Kalau bicara jangan setengah-setengah."


"Tentu saja tidak, sayang. Ya ampun, kau galak sekali sih. Tadi itukan aku hanya bercanda saja. Kenapa seemosi ini?"


Paham kalau istrinya kesal karena menahan malu, Reinhard pun memutuskan untuk menyudahi kegilaannya. Dia kemudian mengambil handuk yang teronggok di lantai sebelum akhirnya berdiri dan memakainya kembali. Sambil menahan tawa, Reinhard mendekati Levita kemudian mengecup bahunya. Dia sayang sekali pada wanita galak ini.


"Maaf."


Sebenarnya hati Levita sudah meleleh saat Reinhard mengecup bahunya. Akan tetapi demi menjaga gengsinya yang setinggi langit, dia berpura-pura tetap marah. Biar saja, sekalian ingin melihat bagaimana cara Reinhard membujuknya.


"Sayang, jangan marah lah. Ya?"


"Biar saja. Siapa suruh kau keterlaluan tadi," sahut Levita cetus.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang kalau itu hanya bercanda saja. Lagipula tidak ada yang salah kan? Kita sudah menikah, halal hukumnya bagimu melihat juniorku. Coba saja kau tidak sedang di serang oleh pasukan merah, kita berdua pasti sudah belah duren. Tapi tidak apa-apa. Nanti saat kita pergi honeymoon, aku pastikan kau akan melihat seluruh benda-benda lucu yang ada di tubuhku. Gratis. Tidak di pungut biaya apapun!"


Levita tergelak mendengar ucapan gila suaminya. Sambil mengulum senyum, Levita mencubit pelan pinggang Reinhard. Kemarahannya langsung hilang entah kemana. Murahan sekali bukan? πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


"Mandilah. Sebentar lagi kita harus sudah berada di hotel untuk persiapan," ucap Reinhard sembari menciumi puncak kepala istrinya.


"Hmmmm ... tidak terasa ya Rein kita akhirnya berada di titik seperti ini. Aku benar-benar sangat bahagia menjadi istrimu," ucap Levita yang tiba-tiba ingin meluapkan isi hatinya.


"Sama, sayang. Aku juga tidak pernah menyangka akan menikah dengan wanita terhormat sepertimu. Terima kasih ya karena sudah bersedia menerima pria sebatang kara ini. Aku mencintaimu."


Dan pada akhirnya, percakapan romantis mereka berakhir dengan sebuah ciuman yang begitu menggelora. Mereka baru berhenti saat nafas keduanya sama-sama terengah.


"Astaga, aku bisa gila jika harus menahannya lebih lama lagi," keluh Reinhard yang mulai kesakitan menahan desakan sang junior dari bawah sana.


"Rein, apa aku perlu melakukan sesuatu yang bisa membantumu merasa sedikit lebih baik? Kau pasti kesakitan, aku tahu itu," ucap Levita tak tega.


"Tidak usah, sayang. Kau terlalu berharga untuk melakukan hal seperti itu. Biarlah, sebentar lagi semuanya pasti akan kembali seperti semula. Sekarang kau pergilah mandi. Aku akan menggantikanmu membereskan baju-baju kita. Oke?"


"Baiklah."


Sepeninggal Levita, Reinhard langsung melakukan push-up sebanyak mungkin untuk meredakan ledakan birahi yang tidak sengaja bangkit saat dia mencium bibir Levita. Hal itu terus dia lakukan sampai tubuhnya kembali di banjiri keringat.


"Gabrielle, sekarang aku tahu kenapa kau sering uring-uringan tanpa sebab saat Elea sedang datang bulan. Rupanya ini penyebabnya," gumam Reinhard sembari menatap tak berdaya ke arah sang junior yang masih mengacung tegak meski dia sudah hampir mati kehabisan nafas karena melakukan push-up.


Juniornya Reinhard meresahkan ya bun? 🀣


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2