
Bern Wufien Ma
Karl Wufien Ma
Di depan pintu masuk rumah sakit, tim dokter sudah berjejer rapi menunggu kedatangan menantu keluarga Ma. Wajah para dokter itu terlihat tegang, mereka juga tak henti menghela nafas saking gugupnya. Bagaimana tidak gugup! Saat tim dokter sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, rumah sakit tiba-tiba menyalakan alarm tanda darurat yang di khususkan untuk keluarga inti. Sontak saja alarm tersebut langsung membuat semua orang panik dan bertanya-tanya siapa gerangan yang tengah tertimpa kemalangan. Namun begitu mereka di beritahu kalau yang sedang tidak baik-baik saja adalah menantu kesayangan keluarga inti, seketika mereka semua menjadi sangat gugup. Bayangkan! Yang akan mereka tangani adalah seorang paling spesial di keluarga inti yang mana kini tengah mengandung tiga pewaris sekaligus. Sudah pasti karir para dokter akan di pertaruhkan dalam hal ini. Terutama dokter kandungan yang selama ini bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan Nyonya Elea dan juga ketiga bayinya.
"Hei, kakiku tidak bisa berhenti gemetar. Bagaimana denganmu?" bisik salah satu dokter sambil terus memperhatikan ke arah jalanan di mana terdapat deretan mobil yang sedang bergerak hendak memasuki halaman rumah sakit.
"Tubuhku bahkan sudah hampir mati rasa sekarang. Sebenarnya aku merasa senang jika Nyonya Elea akan melahirkan sekarang. Akan tetapi aku juga takut dengan amarah keluarga Ma jika kita sampai salah mengambil tindakan,"
"Sama. Ini juga yang sedang aku pikirkan sejak tadi. Tapi ya sudahlah, lebih baik kita berdoa saja supaya tidak ada kendala dalam hal ini!"
Di saat tim dokter sedang berbisik tentang kecemasan mereka, di dalam mobil Elea tampak tenang-tenang saja di antara Levi dan ibu mertuanya. Nun yang saat itu mengemudikan mobil pun terlihat biasa saja, dia fokus melihat kiri kanan ketika akan menyebrang jalan.
"Elea, apa kau akan melahirkan hari ini?" tanya Levi dengan dada berdebar-debar.
"Aku tidak tahu, Kak Levi. Anak-anakku tidak ada yang memberitahu kapan mereka mau lahir," jawab Elea.
Levi menghela nafas. Harusnya tadi dia tidak perlu bertanya apapun pada makhluk kecil ini. Menyesakkan hati saja.
"Oh ya, Kak. Sepertinya seru kalau anak-anak kita lahir di hari dan tanggal yang sama. Benar tidak?" ucap Elea seraya menatap lekat ke arah Levita. Dia kemudian tersenyum, merasa senang dengan keinginannya itu.
"Seru apanya. Usia kandunganku masih belum cukup untuk melahirkan sekarang, Elea. Kau jangan mengada-adalah," sahut Levita panik sendiri mendengar keinginan Elea. Apa jadinya nanti kalau dia benar-benar melahirkan di hari dan tanggal yang sama dengan Elea. Bisa-bisa makhluk kecil ini akan langsung menjodohkan anak mereka sedari dini. Kan tidak lucu.
"Bukan mengada-ada, tapi aku hanya berharap saja. Tidak ada larangan untuk aku berharap bukan?"
"Haih, terserah kau sajalah. Aku malas berdebat denganmu. Kasihan urat leherku, nanti tegang!"
Liona hanya diam mendengarkan percakapan antara Levita dengan Elea. Perasaan Liona saat ini benar-benar sedang tidak menentu setelah dia mendengar apa yang telah dilihat Elea dalam mimpinya. Bayangkan, menantunya ini melihat seseorang berperut besar di dorong masuk ke dalam ruang operasi. Dan jika di perhatikan, seseorang yang berperut besar tersebut ada tiga orang. Elea, Levita, dan juga Kayo. Ketiga wanita ini benar-benar membuat Liona merasa resah. Bola matanya tak henti bergerak mengawasi pengamanan di belakang mobilnya. Liona ingin terus memastikan kalau anak dari menantu, keponakan, dan juga pelakor ini akan baik-baik saja sampai hari melahirkan tiba. Semoga saja.
__ADS_1
"Nyonya Liona, kita sudah sampai. Tolong jangan ada yang keluar dari dalam mobil sebelum saya memastikan keamanannya terlebih dahulu!" ucap Nun tanpa melihat ke belakang. Matanya yang dingin terus saja memperhatikan sebuah mobil yang berada tepat di depan mobilnya terparkir.
"Nun, semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Liona langsung tanggap kalau mutan ini tengah mencurigai sesuatu hal.
"Akan saya pastikan terlebih dahulu, Nyonya. Mohon anda dan yang lainnya tetap berada di sini. Demi keselamatan semua orang," jawab Nun kemudian buru-buru keluar dari dalam mobil.
Elea tersenyum samar. Namun Elea tidak memikirkan apapun karena dia tahu ibu mertuanya bisa mendengar apa yang dia pikirkan. Sedangkan Levita, dia tak henti menelan ludah. Selalu saja adrenalinnya terpacu setiap kali keluarganya Elea bersikap waspada seperti ini.
Dulu aku hampir mati gara-gara di kejar Jack-Gal. Masa iya sekarang aku akan menyapa malaikat maut lagi gara-gara ada orang yang ingin mencelakai Elea. Ya Tuhan, bagaimana bisa makhluk sekecil Elea mempunyai banyak musuh? Apa jangan-jangan di masa lalu Elea adalah orang yang sangat jahat? Makanya reinkarnasi para korban memburunya sampai ke zaman ini. Hiii, mengerikan sekali.
Liona berusaha untuk tidak ambil pusing akan apa yang di pikirkan oleh Levita. Dia memilih fokus memperhatikan Nun yang sedang berjalan menuju sebuah mobil merah yang berada tepat di depan mobilnya.
Tok tok tok
"Maaf, Tuan. Bisa tolong beritahu saya kenapa anda memarkirkan mobil di sini?" tanya Nun langsung bertanya pada pemilik mobil begitu kaca jendelanya terbuka.
"O-oh. Maafkan saya, Tuan. Saya baru saja keluar dari dalam rumah sakit untuk menebus obat. Dan tiba-tiba saja dada saya sangat sakit ketika ingin keluar dari parkiran, jadi saya memutuskan untuk istirahat sejenak sembari menunggu keadaan jantung saya membaik. Tolong maafkan saya jika mobil saya menghalangi jalan anda, Tuan. Saya tidak sengaja!" jawab si pemilik mobil tak enak hati karena mendapat teguran.
Nun menatap lekat wajah pria si pemilik mobil yang memang terlihat sangat pucat. Dia berusaha meyakinkan diri kalau apa yang di katakan olehnya adalah benar. Untuk memastikan kalau orang ini tidak akan mengancam keselamatan nyawa majikannya, ekor mata Nun menelisik ke bagian dalam mobil. Dan benar saja, ada bungkusan obat yang sepertinya baru di tebus dari rumah sakit ini.
"Tidak usah, Tuan. Terima kasih banyak atas tawarannya, tapi saya hanya butuh sedikit waktu untuk beristirahat dulu. Ini sudah sering terjadi, dan saya akan lekas membaik setelah meminum obat!"
"Benar tidak membutuhkan bantuan?"
"Tidak Tuan, terima kasih."
Nun segera berbalik menuju mobil ketika melihat dokter Jackson keluar menghampiri para dokter. Dia lalu membuka pintu samping kemudian memberitahu Nyonya Liona kalau semuanya sudah aman.
"Dia siapa?" tanya Liona penasaran akan pemilik mobil yang tadi di hampiri oleh Nun.
"Hanya seorang pasien rumah sakit yang sedang mengalami sesak nafas, Nyonya. Dia baru saja menebus obat," jawab Nun.
"Kau yakin dia tidak memiliki niat buruk?"
__ADS_1
"Seharusnya sih tidak. Akan tetapi jika dia nekad menyentuh para ibu hamil, saya sendiri yang akan mengirimnya pergi ke neraka!"
Liona menyeringai tipis.
"Lalu setelahnya kau bersiaplah menerima amukan dari Gabrielle!"
"Saya siap bertanggung jawab jika memang orang itu adalah bajingan, Nyonya!"
"Aku pegang janjimu, Nun!"
Sambil terus menatap ke arah mobil mencurigakan itu, Liona melangkah turun dari dalam mobil. Dia lalu mengulurkan tangan pada Elea, bermaksud membantunya keluar dari dalam mobil.
"Ibu Liona, aku lewat pintu sebelah sini saja," ucap Elea menolak bantuan dari ibu mertuanya.
"Tapi sayang, lewat sebelah sini lebih aman," sahut Liona resah.
"Di sini lebih aman, Bu. Ada calon besan yang akan memastikan keselamatan calon menantunya. Iya kan, Kak Levi?"
Levi mendengus sambil memutar bola matanya jengah. Jengkel sekali dia menghadapi keinginan makhluk kecil ini yang entah kenapa begitu ngotot ingin anaknya menjadi menantunya. Menyebalkan sekali bukan?
"Ayo cepat keluar, Kak. Kasihan para dokter itu, mereka sudah tidak sabar ingin segera memeriksa pasien," ucap Elea sembari mendorong pelan punggung Levi agar segera keluar dari dalam mobil.
"Haih, alasan. Bilang saja kau ingin segera bertemu dengan dokter brondong itu. Iya 'kan?" omel Levita sambil membuka pintu samping mobil. Dia lalu melangkah keluar sambil mengulurkan tangan pada Elea.
Aral tak dapat di tebak, dan sial tak bisa di tolak. Begitu tangan Levi menggandeng tangan Elea, tiba-tiba saja mobil yang tadi di hampiri oleh Nun melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Elea yang tahu kalau mobil tersebut hendak menuju Levi dengan cepat mendorongnya ke arah depan. Namun sayang, tangan mereka yang sudah terlanjur bergandengan membuat Elea ikut tertarik keluar. Dan ....
Brraaaaakkkkkkk
"ELEAAAAAAAAAAA!!!"
Darah segar langsung mengucur deras dari tubuh Elea ketika pinggangnya menabrak mobil penjaga yang berada di samping mobilnya. Matanya langsung berkunang-kunang dan dia merasakan sakit yang sangat luar biasa dari arah perut. Elea sekarat.
Ternyata aku orangnya. Nak, kalian sangat baik. Tidak apa-apa ya sakit sedikit, yang penting saudara kalian baik-baik saja. Jangan takut, Ayah pasti tidak akan membiarkan kita tidak selamat. Sekarang kita istirahat dulu ya, Ibu mengantuk.
__ADS_1
******