Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Perkara Variasi


__ADS_3

Saat Reinhard dan Levita tengah menikmati pesta pernikahan mereka, di rumah sakit Patricia sedang sibuk mengurus bayinya yang mendadak rewel. Sebagai ibu baru, dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman untuk menenangkan baby Cio yang terus menangis kencang. Untung saja saat Patricia sedang kesusahan, Junio datang.


"Astaga, sayang. Kenapa bayi kecambah kita menangis sekencang itu? Apa kau memukulnya?" tanya Junio sambil mencuci tangan. Dia harus dalam keadaan steril sebelum menyentuh bayi kecambahnya. Takut jamuran, begitu pikir Junio.


"Aku hampir mati saat ingin melahirkan Cio. Apa kau pikir aku akan semudah itu untuk memukulnya? Yang benar saja kau, Jun!" sahut Patricia jengkel.


"Aku hanya bertanya saja, sayang. Kenapa kau kerasukan."


Junio tak menghiraukan Patricia yang terus saja mengomel. Setelah memastikan kalau tangannya bersih, Junio bergegas mengambil Cio dari tangan Patricia. Dia dengan sangat hati-hati menimangnya, berusaha untuk membuatnya berhenti menangis.


"Cup cup cup, sayang. Sudah, jangan menangis terus. Nanti urat lehermu tegang kalau kau tidak berhenti tancap gas begini. Sisakan suara tangismu untuk besok, jangan di habiskan sekarang. Oke?" ucap Junio.


Bak terkena sihir, baby Cio langsung diam setelah mendengar kata-kata gila ayahnya. Sepertinya ikatan batin antara Cio dan Junio sangat kuat. Buktinya sekarang bayi kecambah itu memilih untuk patuh dengan menghemat energinya agar besok masih bisa menangis.


"Wahhh, jagoan Daddy pintar sekali. Kalau begini kan tidak sia-sia Daddy menyemai bibit di perut Mommymu. Kau mau punya adik tidak?"


"Jangan gila, Junio. Kalau mau bicara itu yang benar, jangan mengajarkan hal-hal sesat pada putraku!" omel Patuh.


"Dia juga putraku, sayang. Memang apa salahnya sih mengajarkan ilmu kanuragan sejak dini pada putra kita. Toh nantinya Cio juga akan menjadi pemimpin dalam olahraga ranjang bersama istrinya. Iya kan?" tanya Junio.


"Olahraga ranjang kepalamu, Jun. Dia itu masih bayi, bahkan kencing saja masih harus kita yang menggantikan. Bisa-bisanya ya kau mengajarkan hal sesat seperti itu kepadanya. Kau masih mau hidup apa tidak, hah!"


Junio berdecak. Dia kemudian membisikan sesuatu ke telinga Cio, mencoba menghasutnya agar kelak tidak mencari istri yang galak seperti ibunya.


Drrtt ddrrttt


"Siapa yang menelepon?" tanya Junio dengan cepat. Dia curiga jangan-jangan ada pria gatal yang ingin menggangu istrinya.


"Lusi yang menelepon," jawab Patricia sembari mengarahkan layar ponsel ke wajah Junio.


"Kenapa dia menelpon?"


"Aku mana tahu, Morigan Junio."


Sambil menahan kesal, Patricia menjawab panggilan tersebut. Tak lupa juga dia meloudspeaker agar Junio bisa langsung mendengar percakapannya dengan Lusi.


"Halo Lusi, ada apa?"

__ADS_1


"Maaf menggangu, Kak Cia. Gleen menyuruhku bertanya padamu apakah Kak Junio akan menghadiri pesta pernikahan Kak Levi dengan dokter Reinhard atau tidak. Kalau iya, Gleen ingin mengajaknya berangkat bersama."


Patricia langsung melihat ke arah Junio untuk meminta jawabannya.


"Aku sebenarnya ingin pergi. Tapi aku tidak tega meninggalkanmu hanya dengan baby Cio saja, sayang. Ayah dan Ibu sedang berbagi tugas menjaga Grandma, kau pasti akan kerepotan kalau bayi kecambah ini kembali rewel seperti tadi!" ucap Junio keberatan untuk pergi meninggalkan anak dan istrinya di rumah sakit.


"Jadi?"


"Aku akan pergi."


"Sialan kau!"


Junio terkekeh. Dia kemudian meminta ponsel Patricia untuk bicara dengan Gleen.


"Gleen, aku tidak tega meninggalkan anak dan istriku sendirian di sini. Tadi saja saat aku datang istriku sedang kewalahan menenangkan bayi kecambah kami. Aku khawatir nanti dia akan menangis lagi kalau aku pergi. Jadi tolong sampaikan pada Levita dan Reinhard, aku minta maaf karena tidak bisa datang menghadiri pesta mereka. Keadaan sedang sangat tidak mendukung sekarang!"


"Oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Nanti aku akan menyampaikannya pada Reinhard. Dia dan Levita pasti maklum dengan ketidakhadiranmu di sana."


"Kalau begitu aku tutup dulu panggilannya. Kau hati-hati di sana. Pasti ada banyak wanita cantik dan seksi yang datang menghadiri acara itu. Secara, Levita dan Reinhard mempunyai nama besar di bidang masing-masing. Jaga matamu, Gleenn. Jangan sampai tergoda, karena aku pasti akan ikut tergoda juga. Hahahaha!"


"Kenapa tidak pergi saja kau ke pesta itu, Jun. Siapa tahu di sana nanti kau bisa menemukan wanita cantik dan seksi yang bisa kau tiduri!" sindir Patricia sinis.


"Untuk apa aku pergi jauh-jauh ke sana kalau di depan mataku saja sudah ada wanita cantik dan seksi yang tidak ada tandingannya? Kan itu namanya to lol bin bodoh. Membuang rejeki mantap di depan mata hanya demi seonggok barang rongsok yang sudah di pegang sana sini. Jadi kau tenang saja, sayang. Sekhilaf apapun nanti, aku berani jamin kalau kau adalah wanita terakhir yang aku sentuh. Sumpah!" sahut Junio dengan raut wajah yang begitu serius.


"Dasar pembual!"


"Eh, tidak percaya. Aku tidak bicara bohong, sayang. Paling aku hanya akan menoel sedikit bokong mereka. Untuk variasi saja. Hehehe."


Mata Patricia langsung memicing tajam. Entah darimana Junio menemukan variasi gila semacam itu. Menyebalkan sekali dia.


"Kalau begitu artinya aku juga boleh kan menoel dada pria lain? Untuk variasi juga!"


Glukkkk


Senjata makan tuan. Niat hati ingin mengerjai saja, sekarang Junio malah kena batunya. Tak mau istrinya jatuh hati pada pria lain, cepat-cepat Junio meminta maaf pada Patricia. Dia merengek seperti anak anjing yang ingin menyusu.


"Sayang, tadi itu aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar ingin menoel bokong wanita lain. Tolong jangan marah ya, jangan terpikir juga untuk menoel dada pria lain. Ya ya ya."

__ADS_1


"Hih, lihatlah Daddymu, Cio. Sendirinya yang bicara, sendirinya juga yang kelabakan. Makanya jangan main-main dengan wanita yang baru saja melahirkan, Jun. Sekalinya kau bertemu dengan wanita yang bisa melawan, habislah kau. Sudah diam, tadi aku juga hanya bercanda. Memilikimu saja sudah membuatku sakit kepala. Apa kabar dengan jantungku kalau aku sampai main mata dengan pria lain. Yang ada aku malah mati muda karenanya!" sahut Patricia yang tidak tahan melihat raut memelas di wajah suaminya.


Junio mengerucutkan bibir setelah tahu kalau Patricia ternyata tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Karena bayi kecambahnya sudah terlelap, dia segera membaringkannya di box bayi. Setelah itu Junio menatap lama ke arah istrinya yang tengah tersenyum sambil memandangi bayi mereka.


Tidak bisa. Aku bisa gila jika sampai di tinggal Patricia. Kira-kira apa yang harus aku lakukan ya supaya dia tidak berfikir untuk melarikan diri? Masa iya aku paksa dia untuk hamil lagi seperti dulu. Dia kan baru saja melahirkan. Bisa kena gampar nanti.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Jun. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu," ucap Patricia langsung paham arti kebungkaman suaminya. Dia menghela nafas untuk menambah stok kesabaran menghadapi sikap suaminya yang semakin posesif.


"Sayang, kau tahu kan kalau aku tidak bisa hidup tanpa kalian berdua? Aku sangat takut kau kabur dengan pria lain," sahut Junio jujur mengakui ketakutannya.


Sudut bibir Patricia berkedut. Dia kemudian menepuk ranjang sebelahnya.


"Kemarilah. Kau pasti lelah kan setelah bekerja seharian?"


"Sangat lelah, sayang."


Dengan patuh Junio duduk di sebelah Patricia kemudian merebahkan kepala ke pangkuannya. Sambil menengadahkan wajah, Junio menatap penuh kagum pada wanita cantik yang telah melahirkan satu putra untuknya.


"Aku, kau, Cio, selamanya akan terus bersama. Kita akan menua bersama sampai maut memisahkan. Jadi kau jangan pernah berburuk sangka seperti tadi. Aku mencintaimu, juga mencintai keluarga kecil kita. Kalian permata hatiku yang akan kujaga sampai nyawa terlepas dari ragaku. Aku mencintaimu, Morigan Junio. Ayah dari anak-anakku," ucap Patricia sembari membelai wajah suaminya penuh cinta.


"Aku akan mati jika tidak ada kalian bersamaku, sayang. Janji ya kita akan terus bersama sampai Tuhan memutuskan untuk memanggil kita ke surganya?"


Patricia mengangguk.


"Iya, Junio. Aku janji."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...BOM KOMENTAR GENGSS BIAR ENTAR SORE EMAK CRAZY UP LAGI... πŸ’œ...


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2