
Acara pemberkatan pernikahan Levita dengan Reinhard berjalan dengan begitu khidmat. Semua orang terlihat sangat bahagia akan penyatuan kedua insan tersebut. Meskipun Reinhard tak di dampingi oleh satupun keluarganya, tapi dia mempunyai Gabrielle dan seluruh keluarga besarnya yang datang mewakili almarhum dan almarhumah ayah dan ibunya. Setelah mengucap ikrar janji pernikahan, Reinhard terlihat menitikkan air mata saat pendeta memberikan petuah-petuah dalam menjalani rumah tangga.
"Tidak apa-apa, Rein. Meskipun Ayah dan Ibumu tidak ada di sini, aku yakin mereka pasti ikut mendoakan kebahagiaan kita dari atas surga sana. Jangan sedih ya, nanti aku jadi ikut menangis. Dan kalau aku menangis, dandananku bisa luntur. Memangnya kau mau melihat pendeta lari terbirit-birit karena melihat wajah asliku? Tidak kan?" bisik Levita yang dengan entengnya bicara seperti itu.
Reinhard tidak tahu harus berhenti menangis atau malah semakin kencang menangis begitu mendengar cara Levita menghiburnya. Hampir saja tadi Reinhard tersedak ingusnya sendiri gara-gara Levita yang mengatakan kalau dandanannya akan luntur jika dia tidak segera berhenti menangis. Di antara kalian semua, adakah yang bicara seperti itu ketika suami kalian sedang bersedih? Tidak ada kan?
Di deretan kursi yang telah di hias sedemikian indah, terlihat Gabrielle yang tengah menenangkan Elea yang ingin naik ke altar. Istrinya yang cantik itu terus merengek dengan mengatakan kalau dirinya ingin tidur di atas gaun bolong milik Levita yang ekornya menjuntai panjang ke belakang.
"Kak Iel, ayo cepat baringkan aku di sana. Aku mengantuk, aku ingin tidur!" rengek Elea dengan wajah yang sudah tidak karu-karuan. Dia menguap, kemudian kembali merengek dengan suara yang tidak jelas.
"Sayang, Levita bisa menjadikanmu sebagai kambing guling kalau kau tetap ingin tidur di atas gaunnya. Kau tahu kan kalau dia itu sangat galak?" tanya Gabrielle sambil menahan gemas melihat tingkah istrinya yang begitu lucu ketika mabuk. Sungguh ini adalah pertama kalinya Gabrielle menyaksikan Elea yang bertingkah konyol dengan perkataan-perkataan anehnya ketika menyebut sesuatu hal.
Elea menggumam tak jelas saat mendengar perkataan suaminya. Dengan tatapannya yang sudah sangat sayu, dia melihat ke arah depan dimana ada sepasang manusia yang tengah berdiri dengan pakaian serba putih.
"Kak Iel, apa kedua orang itu adalah malaikat? Tapi kenapa punggung bolong? Apa bajunya tersangkut batang pohon sebelum datang kemari? Iyuhhh, itu benar-benar baju terburuk yang pernah aku lihat. Jelek!"
Andai saja pelakor itu mendengar apa yang di ucapkan oleh Elea, Gabrielle berani jamin kalau di kepala Levita akan langsung keluar tanduk yang merah membara. Bahkan di saat mabuk pun Elea tahu bagaimana cara untuk menjahili pelakor tersebut. Sayang tadi Gabrielle tidak terfikir untuk merekam semua perkataan Elea. Hal itu pasti akan mengguncang malam pertama Levita dan Reinhard jika dia mengirimkannya di waktu yang tepat.
"Iel, bagaimana bisa Elea mabuk seperti ini? Apa kau meninggalkannya sendirian?" tanya Liona sambil menatap tajam ke arah putranya yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas. Dia sangat kaget saat tahu kalau menantu kesayangannya mabuk bahkan sebelum acara pemberkatan di mulai.
"Tadi itu Elea mengajak Cira untuk menikmati makanan yang di sediakan di sini, Bu. Saat mereka masuk ke dalam, aku dan Ares masih berada di luar untuk sedikit berbincang. Tak lama kemudian Cira menelpon Ares dan meminta kami untuk segera masuk. Dan begitu kami datang, Elea sudah dalam kondisi mabuk. Tanpa di sadari oleh Cira dia telah meminum segelas alkohol yang membuatnya jadi seperti ini," jawab Gabrielle menjelaskan situasi yang terjadi. "Dia berubah menjadi semakin imut ketika sedang mabuk begini, Bu. Aku suka."
__ADS_1
"Kasihan dia, Iel. Nanti kepalanya pasti akan sangat pusing setelah efek dari alkohol itu hilang. Lain kali berhati-hatilah jika mengajak Elea datang ke pesta seperti ini. Bukannya apa, Ibu hanya tidak mau dia kehilangan momen penting jika sebelum acara pikirannya sudah lebih dulu di kuasai oleh efek minuman alkohol!" ucap Liona memberi teguran pada putranya seraya membelai pipi menantunya yang benar-benar sangat merah. Dia lalu tersenyum kecil.
Gabrielle mengangguk. Dia kemudian melihat ke arah altar dimana pendeta telah selesai dengan ritualnya. Tak ingin membuat Elea bersedih karena kehilangan moment penting, Gabrielle meminta salah satu penjaga agar merekam pasangan pengantin itu dari jarak dekat. Dia bermaksud menunjukkan video tersebut pada Elea setelah dia tersadar nanti.
"Cium ... cium ... cium!" ....
Wajah Levita memerah saat semua orang bersorak agar Reinhard menciumnya. Meskipun itu bukanlah ciuman yang pertama untuk mereka, tapi tetap saja Levita merasa gugup. Biar bagaimana pun ini akan menjadi ciuman pertama mereka setelah sah menjadi suami istri. Dan ada kegugupan tersendiri yang di rasakan oleh Levita saat suara sorakan orang-orang terdengar semakin kuat.
"Sayang, hei, apa kau malu?" tanya Reinhard yang merasa lucu melihat gelagat istrinya. Dia lalu menangkup kedua sisi rahang Levita agar melihat ke arahnya.
"Tentu saja aku sangat malu, Rein. Lihat semua orang, mereka terus saja bersorak meminta agar kita berciuman sekarang juga. Inikan privasi, kenapa mereka jadi garuk sekali sih!" jawab Levi.
"Ini sudah tradisi kalau para tamu akan bersorak meminta kita agar segera berciuman. Lagipula tidak ada yang salah juga kok. Kita kan sekarang sudah sah menjadi suami istri, kita bebas untuk melakukan sentuhan fisik, sayang."
Di saat Levi dan Reinhard tengah tawar-menawar tentang ciuman, Elea yang tadinya tidur jadi terbangun karena mendengar suara berisik di sekelilingnya. Dia kemudian mengerjapkan mata, menatap sayu ke arah pasangan pengantin yang sedang berbisik-bisik di hadapan para tamu.
"Cium ... cium ... ciummm," ....
"Kak Levi, Kak Reinhard, kenapa kalian lama sekali sih ciumannya? Apa tadi sebelum berangkat kemari kalian lupa gosok gigi, makanya sekarang tidak mau berciuman di depan banyak orang. Aneh, padahal dulu Kak Iel langsung menciumku dengan ganas setelah kami resmi menikah. Masa iya kalian kalah dari suamiku?"
Suasana di dalam gereja langsung sunyi seketika begitu Elea selesai bicara. Semua mata tertuju ke arah perempuan yang kini sudah kembali terlelap di pelukan suaminya. Ekpresi Levi dan Reinhard, jangan di tanya lagi. Sungguh tidak di sangka kalau Elea akan menuduh mereka tidak gosok gigi hanya gara-gara mengulur waktu untuk berciuman.
__ADS_1
Kesal karena di anggap kalah romantis dari Gabrielle, tanpa aba-aba Levita langsung mencium bibir Reinhard dengan beringas. Dia bahkan tidak mempedulikan tatapan kaget pak pendeta yang terkejut akan tindakan tiba-tibanya.
Prook prookk prokk
"Selamat Nona Levita dan Tuan Reinhard. Semoga pernikahan kalian selalu mendapat rahmat dari Tuhan. Amiinnn!"
Para tamu segera ikut bertepuk tangan begitu mendengar ucapan pendeta. Sementara Gabrielle, dia tak henti-hentinya mengulum senyum setelah Elea membanggakan di depan semua orang tentang apa yang pernah dia lakukan di pernikahan mereka dulu.
"Gabrielle, apa sebelumnya Elea sudah pernah mabuk?" tanya Bryan sembari menatap wajah putrinya yang begitu merah. Lucu, tapi juga kasihan karena putrinya ini telah melewatkan sebuah moment penting yang terjadi di gereja ini.
"Ini yang pertama, Ayah. Dan ternyata dia adalah peminum yang sangat buruk," jawab Gabrielle.
"Hmmm, apa tadi dia mendatangi Levita?"
Gabrielle mengangguk. Dia tak lagi bicara karena ayah mertuanya sudah lebih dulu menghela nafas berat. Gabrielle yakin ayah mertuanya pasti sudah tahu apa yang terjadi antara Levi dan Elea. Pelakor dan istri sah yang sama-sama gila, tapi unik.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...