Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Gara-gara Sabun


__ADS_3

Levita menatap datar ke arah suaminya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Pikirannya aneh, tiba-tiba saja dia merasa iri karena Reinhard sampai saat ini masih belum menghamilinya juga. Levi tak mau kalah dari Elea, dia ingin memiliki anak.


"Rein?"


"Ya, sayang. Ada apa?" tanya Reinhard sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil di tangannya.


"Hamili aku sekarang juga."


Uhuk uhuk uhukkk


Rasanya Reinhard seperti menelan racun yang begitu pahit setelah mendengar perkataan Levita. Meminta agar segera dia segera membuatnya hamil detik ini juga. Bukankah permintaan ini terlalu frontal dan juga tidak masuk akal? Astaga.


"Kenapa diam saja, Rein? Kau bisakan membuatku hamil?" desak Levi resah.


"Sayang, perkara hamil itu bukan sesuatu yang bisa kita buat kemudian langsung jadi. Ada waktu tersendiri untuk kita mempunyai anak. Aku ini bukan Tuhan yang bisa mengabulkan semua permintaan dalam sekejap mata. Ingat itu!" sahut Reinhard pelan.


"Tapi Elea sedang hamil."


Nah kan, ternyata ada bibit yang membuat Levi bersikap seperti ini. Gabrielle-Gabrielle, sebenarnya ada dengan istrimu itu? Jika Elea sedih, semua orang ikut terkena imbasnya. Dan sekarang di saat Elea sedang bahagia karena akan mempunyai anak, kenapa aku harus kebagian sialnya juga? Lihatlah sekarang. Istriku merengek tidak jelas gara-gara istrimu hamil lebih dulu. Aku jadi penasaran sebenarnya ada hubungan apa di masa lalu Levi dan Elea sampai mereka selalu ingin apa-apanya harus sama dan bersamaan. Tolong aku, Gabrielle.


"Sayang, kau tahu sendiri bukan berapa lama mereka menantikan kebahagiaan itu? Satu tahun, sayang. Satu tahun. Dan itu juga di hiasi dengan berton-ton air mata juga kesedihan. Kita ini baru saja menikah, tolong bersabarlah sedikit. Ya?"


"Ck, kau ini bagaimana sih, Rein. Harusnya kau itu merasa senang karena aku ingin segera memiliki anak denganmu. Yang artinya kalau aku akan mengajakmu untuk sering-sering bercinta!"


"Iya aku tahu itu, sayang. Tapi tetap saja kalau Tuhan belum memberikan rezeki anak untuk kita, mau sebanyak apapun kita bercinta kau tetap tidak akan hamil. Paham?"


Sepertinya kata-kata yang di ucapkan oleh Reinhard sedikit menyinggung perasaan Levi. Terbukti karena sekarang wanita cantik itu langsung beranjak pergi menuju balkon dengan mata berkaca-kaca. Reinhard yang melihat istrinya pergi dengan cara seperti itu merasa sangat amat menyesal. Dia kemudian bergegas menyusul Levi setelah mengambil pakaian dari dalam lemari.


"Hiksss, menyebalkan sekali. Apa Reinhard sama sekali tidak memikirkan perasaanku saat bicara seperti itu? Memangnya salah ya kalau aku ingin punya anak? Salah kalau aku mengajaknya untuk bercinta?" ujar Levi sambil terisak sedih.


Greeeeppp

__ADS_1


"Jangan marah, hm. Aku minta maaf kalau kata-kataku tadi sudah menyakiti perasaanmu. Aku sama sekali tidak ada niat untuk melakukannya. Sungguh," bisik Reinhard sembari mencium bahu istrinya yang sedang menangis. Dia benar-benar merasa sangat berdosa karena sudah membuatnya bersedih hati.


"Kalau tidak ada niat kenapa kau menolaknya, Rein? Bukankah jauh lebih baik kalau aku meminta suami sendiri untuk menghamiliku daripada meminta pada pria yang jelas-jelas tidak mempunyai hubungan resmi denganku? Kau sangat kejam, Reinhard. Aku benci padamu," sahut Levi merajuk.


Kenapa Levi sikapnya jadi kekanakan begini ya? Aku pikir dia akan langsung membantingku ke lantai saat aku meminta maaf padanya. Aneh sekali.


"Rein, Elea akan segera menjadi ibu. Dan aku juga ingin merasakan hal yang sama seperti dia. Tolonglah kau buat agar aku menjadi calon ibu juga. Kau kan punya pupuknya, Rein," rengek Levi.


"Hahahahahaha!"


Reinhard tertawa terbahak-bahak saat Levi menyebut jika dirinya mempunyai pupuk yang bisa membuatnya hamil. Coba kalian bayangkan, kira-kira kalian akan tertawa atau tidak jika mendengar kalimat ambigu seperti itu? Bahkan usus-usus yang ada di dalam perut Reinhard saja sampai berguncangan saking lucunya mendengar hal tersebut. Ada-ada saja istrinya ini.


"Tertawalah lebih keras lagi, Reinhard. Agar aku bisa jauh lebih mudah memasukkan sekop ke dalam mulutmu itu," geram Levi kemudian mendorong Reinhard agar menjauh. Andai bisa terlihat, saat ini di kepala Levi sudah tumbuh dua buah tanduk berwarna merah menyala. Dia begitu emosi karena keinginannya malah di tertawakan oleh suaminya sendiri. Sangat menyebalkan.


"Ekhmm, hehehe. Maafkan mulut suamimu ini, sayang. Remnya mendadak blong gara-gara kau menyebut kalau cairan surga milikku sebagai pupuk kehamilan. Kau sangat lucu, membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa," sahut Reinhard berusaha keras menghentikan tawanya.


Tak mau kesalahpahaman ini kian berlanjut, Reinhard kembali mendekati Levi seraya menatapnya dengan penuh cinta. Dia kemudian mengelus pelan pipi wanita cantik yang kini masih betah merajuk dan bibir mengerucut.


"Aku tidak mau melihat wajah dokter," sahut Levi acuh.


"Lalu aku?"


Levi mengerjapkan mata. Dia lupa profesi apa yang di geluti oleh suaminya.


"Kau pengecualian, Rein. Kau suamiku, jadi apapun profesimu itu tidak masalah untukku. Paham?" jelas Levi tegas.


"Baiklah, sayang. Apapun itu terserah kau saja, yang penting kau bahagia."


Dada Levi berdesir. Dia mulai merasa malu saat Reinhard mencium bibirnya kilat. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba saja Levi merasa kalau tubuh suaminya sedikit berbau tumbuh-tumbuhan. Dia kemudian berpikir apakah saat mandi tadi Reinhard menggunakan sabun yang berbeda dari yang biasa mereka pakai atau tidak. Tapi kenapa? Bukankah peralatan mandi yang mereka pakai sudah melewati persetujuan bersama? Kenapa tiba-tiba ganti tanpa ada konfirmasi. Ini salah, ada yang tidak beres dengan suaminya.


"Rein, apa kau sedang menyukai wanita lain?" tanya Levi penuh selidik.

__ADS_1


"A-apa sayang. Wanita lain?"


Paru-paru Reinhard sampai kembang kempis ketika di tuduh menyukai wanita selain istrinya. Kali ini entah fitnah apalagi yang akan dia terima. Reinhard bingung kenapa Levi bisa menuduhnya seperti itu. Aneh, benar-benar sangat aneh.


"Iya, wanita lain. Aroma sabun yang kau pakai sangat berbeda dengan wangi sabun yang sudah kita sepakati bersama. Ada apa? Apa kau mulai bosan padaku? Iya?"


"Sayang, kenapa kau tiba-tiba menuduhku seperti itu? Meskipun Tuhan mengutus semua bidadari yang tinggal di surga untuk datang menggodaku, aku tidak akan pernah mungkin bisa berpaling darimu. Kau sempurna, aku sangat bersyukur bisa memilikimu di hidupku. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku ya. Aku mencintaimu, selamanya akan terus seperti itu!" jawab Reinhard.


"Bohong!" teriak Levi. Dia kemudian menangis terisak-isak.


Mungkin karena suara teriakan Levita cukup kuat, hal itu membuat kedua orangtuanya menjadi khawatir. Segera setelah itu pintu kamar di ketuk dari luar. Reinhard yang tahu kalau dirinya akan terlibat masalah besar, hanya bisa menghela nafas sambil menggaruk rambutnya ketika akan membuka pintu.


"Rein, kenapa Levi berteriak? Apa dia kerasukan?" tanya Samuel penasaran.


"Iya, Rein. Suaranya sangat kuat sampai terdengar keluar. Kalian ... tidak sedang bertengkar kan?" tanya Lolita ikut menimpali.


"Ayah, Ibu. Reinhard selingkuh dengan wanita lain. Dia mendua!"


Suasana langsung berubah horor begitu Samuel dan Lolita mendengar aduan Levi. Mereka kemudian menatap tajam ke arah Reinhard yang terus saja menarik nafas.


"Apa kau berniat menjandakan putriku, Rein?"


"Ayah, aku lebih memilih mati daripada harus berselingkuh di belakang Levita. Mari kita keluar, aku akan menjelaskan kenapa Levi menuduhku seperti itu," jawab Reinhard lesu. Kemudian dia dengan sangat sabar menggiring kedua mertuanya keluar dari kamar. Reinhard frustasi.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2