Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Sadar


__ADS_3


📢 Jangan lupa bom komentarnya ya bestiiee 💜


"Gabrielle?"


Tak ada sahutan yang terdengar ketika Liona memanggil nama putranya. Dia lalu melongokkan kepala, menarik nafas pelan saat mendapati putranya tengah melamun sambil menatap ke arah ranjang. Ya, ini sudah dua hari berlalu sejak Elea melahirkan ketiga anaknya. Akan tetapi menantunya itu tak kunjung membuka mata. Hal ini membuat semua orang menjadi sangat khawatir, terlebih lagi pada Gabrielle. Pria dingin itu sama sekali tak pernah keluar dari ruangan ini setelah menjenguk ketiga anaknya. Dan tidak hanya itu saja, Gabrielle juga menolak untuk makan tak peduli seperti apaLiona membujuknya.


"Aku hanya akan makan jika Elea sadar. Karena jika dia tidak sadar, maka aku akan mempunyai alasan untuk bisa mati bersamanya!"


Kurang lebih seperti itulah jawaban yang keluar dari mulut Gabrielle setiap kali ada orang yang memaksanya untuk makan. Berlebihan memang, tapi siapalah yang tahu betapa hancurnya perasaan Gabrielle sekarang.


"Gab, apa kau tidak mau menjenguk anak-anakmu lagi? Kasihan mereka. Mereka juga pasti ingin dimanja oleh ayahnya. Jangan begini lah, ya?" bujuk Liona sembari mengelus pelan punggungnya Gabrielle. Dia lalu menarik nafas menyaksikan keadaan putranya yang benar-benar sangat berantakan. Kumis yang mulai tumbuh, rambut lepek, wajah kusam, juga dengan penampilan yang sangat kacau karena Gabrielle tidak mandi sejak dua hari lalu. Anaknya benar-benar tenggelam oleh kesedihan sampai-sampai melupakan penyakitnya yang seorang OCD akut akan kebersihan.


"Bu, yang ku inginkan sekarang hanyalah Elea seorang. Aku tahu kalau Bern, Karl, dan juga Flow membutuhkan aku. Tapi di sisi lain aku merasa seperti tercekik saat mengunjungi mereka tanpa ada Elea bersamaku. Rasanya aku hanya seperti seorang pecundang bodoh yang gagal menyelamatkan istriku sendiri. Jadi tolong, jangan memaksaku untuk meninggalkan Elea sendiri. Masalah anak-anak aku serahkan semuanya pada Ibu dan juga pada Ibu Yura," jawab Gabrielle dengan suara lirih.


Uggghhh


Tepat ketika Gabrielle selesai bicara tiba-tiba saja dari arah ranjang terdengar suara lenguhan yang sangat pelan. Gabrielle yang pertama kali mendengar hal itupun langsung menekan tombol intercom berulang kali, sedang matanya terus tertuju pada Elea.


"Gabrielle, ada apa? Kenapa kau memanggil dokter?" tanya Liona panik.


"Bu, tadi aku mendengar Elea melenguh. Sangat pelan," jawab Gabrielle.


"Benarkah?"


"Iya. Argh, dimana para dokter itu. Apa telinga mereka sudah tuli. Haissshhhh!"


Tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki beberapa dokter berlarian masuk ke ruangan khusus milik keluarga inti. Di susul oleh Jackson dan juga Reinhard yang langsung meminta izin pada Gabrielle untuk memeriksa keadaan Elea.


"Elea tadi melenguh. Aku mendengarnya!" ucap Gabrielle pada semua orang. Dia lalu mengusap wajahnya, merasa sangat gembira karena akhirnya Elea terbangun dari tidurnya.


"Kalian keluarlah. Beri ruang yang banyak untuk Elea!" ucap Jackson mengusir para dokter agar keluar dari sana. Elea butuh banyak udara yang segar.


"Baik, dokter Reinhard!"


Liona harap-harap cemas melihat Jackson dan Reinhard yang terus memeriksa keadaan Elea. Dia kemudian melihat ke arah Gabrielle yang ternyata sama gugupnya dengan yang dia rasa.


"Elea kita sudah kembali, Gab,"

__ADS_1


"Iya, Bu. Dia tahu kemana harus pulang," sahut Gabrielle semringah.


Kurang lebih sepuluh menit Jackson dan Reinhard melakukan pemeriksaan hingga akhirnya perlahan-lahan mata Elea mulai terbuka. Jika saja Jackson tak ingat kalau Gabrielle ada di ruangan ini, dia pasti sudah akan memeluk adiknya yang baru saja tersadar. Sungguh, dua hari ini Jackson merasa seperti sedang menaiki rollcoster. Dia terus saja di buat panik dan ketakutan setiap kali mendengar suara interkom yang berasal dari ruangan ini. Jackson takut Tuhan mengirim malaikat mautnya untuk menjemput Elea. Dia tidak siap jika adiknya harus pergi.


"Ummm, apa ini di surga?" tanya Elea dengan suara yang sangat kecil. "Malaikatnya tampan-tampan sekali,"


Sriiingggg


Reinhard langsung mundur menjauh sambil mengusap tengkuk belakangnya ketika dia merasa ada hawa dingin begitu kuat menyergap kulit tubuhnya. Dan Reinhard yakin kalian semua pasti sudah tahu apa penyebabnya. Iya 'kan?


"Minggir kau!" kesal Gabrielle seraya mendorong Jackson agar menjauh dari Elea. Darahnya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun karena bukan dia orang yang pertama kali dilihat oleh Elea, melainkan Jackson dan juga Reinhard. Wajarkan kalau dia sedikit kesal?


"Nah, datang satu lagi malaikat tampannya. Namamu siapa?" tanya Elea.


"Sayang, ini aku Gabrielle. Suamimu," jawab Gabrielle sembari menciumi tangan Elea yang ingin mengajaknya berkenalan.


Gabrielle, Elea tidak mungkin amnesia gara-gara kecelakaan itu 'kan?


"Dia belum sepenuhnya sadar. Jiwanya masih terjebak dalam halusinasi yang dia rasa setelah di suntik obat bius," ucap Jackson ketika Gabrielle dan Bibi Liona menatapnya.


"Benar dia tidak apa-apa?" tanya Gabrielle memastikan.


Gabrielle menautkan kedua alisnya. Setelah itu dia, Jackson dan juga Reinhard sama-sama tertawa. Hampir saja Gabrielle lupa kalau kata-kata pertama Elea tadi sudah sangat mencerminkan kebiasaannya yang suka bicara ceplas-ceplos.


"Elea, kau baik-baik saja kan, Nak?" tanya Liona sambil merapihkan rambut yang menutupi wajah menantunya.


Lama Elea menjawab pertanyaan tersebut hingga akhirnya dia sadar kalau orang yang baru saja bertanya adalah ibu mertuanya. Dengan suara yang masih sedikit lemas, Elea pun memberitahukan tentang keadaanya.


"Ibu Liona, aku pikir tadi itu Ibu adalah bidadari yang tinggal di surga. Ternyata bukan ya," ucap Elea. "Ibu tenang saja. Sekarang keadaanku sudah baik-baik saja kok. Hanya tulang-tulang di tubuhku saja yang masih terasa lemas."


"Syukurlah kalau memang benar begitu. Ibu lega mendengarnya," sahut Liona.


"Bu, kenapa perutku kempes ya? Pergi kemana bayi-bayiku yang sebelumnya tinggal di sini?" tanya Elea panik ketika meraba perutnya yang tak lagi menggunduk. Dia kemudian mencoba untuk bangun, tapi gagal karena di bagian belakang lehernya terasa sangat sakit.


"Hati-hati, sayang. Kecelakaan itu membuatmu mengalami patah tulang, jadi kau jangan bergerak sembarangan dulu ya?" ucap Gabrielle sembari membantu Elea kembali berbaring. Dia lalu mengecup keningnya lama. "Jangan khawatir. Bern, Karl, dan juga Flow baik-baik saja. Mereka sekarang berada di ruangan lain,"


"Oh, begitu ya, Kak. Aku pikir mereka pergi kemana tadi. Kaget sekali aku,"


"Kau dan anak-anak kita tidak akan pergi kemana-mana tanpa aku. Jadi tenang saja, selamanya kita berlima tidak akan pernah terpisah!"

__ADS_1


Reinhard dan Jackson hanya bisa mencebikkan bibir melihat Gabrielle yang langsung kumat membucin begitu Elea sadar. Sangat berbeda jauh dengan sikapnya dua hari lalu ketika mengamuk pada semua orang. Wajah yang beringas, tatapan mata yang begitu dingin, juga dengan kata-katanya yang seakan mampu mencabut nyawa orang lain detik itu juga. Sungguh, Gabrielle adalah manusia dengan dua kepribadian yang sangat mengerikan. Sedang waras saja terkadang membuat orang lain merasa ketar-ketir, apalagi ketika kesurupan setan reog seperti kemarin. Membuat orang parno saja.


"Oh ya, Kak Iel. Kak Levi dan bayinya tidak mati 'kan? Mereka baik-baik saja 'kan?" tanya Elea langsung teringat dengan keadaan pelakornya yang waktu itu sempat dia dorong agar terhindar dari kecelakaan.


"Yak Elea, bisakah kau bertanya menggunakan kalimat yang normal seperti pada umumnya? Astaga, apa Kak Levi dan bayinya tidak mati? Kata-kata ini lebih terdengar seperti sumpah serapah kalau kau mau tahu!" protes Reinhard. Dia tak habis pikir kenapa Elea bisa langsung membuat darah orang lain naik ke ubun-ubun begitu membuka mata.


"Jangan memarahi istriku, dia baru saja tersadar dari tidurnya. Lagipula menurutku tidak ada yang salah dengan kata-kata yang Elea ucapkan. Iya kan, Bu?" sahut Gabrielle tak terima Reinhard memarahi Elea.


"Ekhmmm, sayang ... kau tahu tidak kalau Levita telah melahirkan anak pertamanya di hari dan di jam yang sama dengan baby Flow? Tapi sayang, bayinya terlahir prematur. Jadi kita tidak bisa sembarangan untuk menjenguknya," ucap Liona menengahi.


Gabrielle-Gabrielle, bagaimana bisa Elea langsung memancing keributan begitu membuka mata? Apa jangan-jangan saat dia tidak sadarkan diri di sana dia sedang tawuran? Ibu heran sekali.


Gabrielle hanya tersenyum samar mendengar isi pikiran sang ibu. Masa bodo. Mau Elea memancing keributan kek, Elea tawuran kek, yang terpenting sekarang Elea-nya sudah sadar. Itu yang paling utama.


"Woaahh, luar biasa. Jadi anakku dan anak Kak Levi benar-benar terlahir di hari dan tanggal yang sama ya, Bu? Woaaahhh, ini sangat keren. Akhirnya Kak Iel, cita-citaku untuk berbesan dengan pelakor kita tercapai juga. Senangnya dalam hati!" pekik Elea kesenangan. Dia lalu meringis kesakitan saat luka di belakang kepalanya kembali berdenyut.


Jackson melirik ke arah Reinhard yang terlihat pasrah saat Elea menyebut kalau mereka akan menjadi besan. Untung saja sekarang pelakor berisik itu tidak ada di sini. Kalau ada, dia pasti sudah mengamuk karena kerasukan setan wewe gombel. Hahaha, lucu sekali.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Reinhard. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Putranya yang tampan telah di klaim menjadi calon mantu dari ibu seorang peri mini yang sangat lucu. Ingin menolak, tapi Reinhard tak berani melakukannya. Tidak di tolak, ya ampun. Reinhard tak bisa membayangkan bagaimana nasib putranya di tangan baby Flow kelak. Miris sekali.


"Nasib anakmu. Siapa namanya?" olok Jackson sambil menahan tawa.


"Oliver Dishi,"


"Nah ya, Oliver."


"Kau jangan senang dulu, Jack. Siapa tahu nanti anakmu juga akan jatuh cinta pada anaknya Gabrielle. Ingat, tertawa di atas penderitaan orang lain suatu saat pasti akan mendapat karma dari Tuhan. Catat itu baik-baik!"


"Sialan kau!"


"Biar saja. Yang penting aku bisa berbagi kesengsaraan denganmu. Haha,"


"Tidak akan!" ucap Jackson.


"Jack, kita mana tahu bagaimana Tuhan akan mempermainkan takdir anak-anak kita nanti. Berdoa saja supaya omonganku tidak menjadi kenyataan," sahut Reinhard kemudian pamit pergi untuk mengabari semua orang kalau Elea telah sadar.


Tidak mungkin anakku akan jatuh cinta pada anaknya Elea. Mereka saudara, mana boleh saling cinta-cintaan. Tapi kalau Tuhan yang menginginkan ... aku bisa apa? Ya Tuhan, kenapa takdirmu begitu mengerikan? Hmmmm,


*****

__ADS_1


__ADS_2