Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Baju Haram


__ADS_3

"Tidak boleh!"


Gabrielle langsung panik begitu Elea memperlihatkan sepotong pakaian dimana di bagian belakang pakaian tersebut memiliki lubang yang sangat besar. Dia yang saat itu sedang duduk di kursi kerjanya segera berpindah tempat dengan berdiri di samping jendela. Kesal, itu sudah pasti. Bagi Gabrielle, setiap jengkal tubuh Elea hanya dia saja yang boleh melihat. Hanya dia satu-satunya manusia yang berhak menikmati keindahan tersebut.


"Meski aku dipukul sekalipun aku tidak akan pernah mengizinkanmu memakai baju haram itu, sayang. Tidak akan!" ucap Gabrielle lagi.


"Baju haram?" beo Elea.


"Iyalah. Pakaian yang tidak dibuat dengan benar menurutku masuk dalam kategori baju haram yang tidak layak pakai."


"Berarti lingerie yang dulu sering aku pakai itu termasuk dalam kategori baju haram juga ya, Kak?"


Hehe, skak mat. Elea mengulum senyum melihat suaminya yang terlihat kikuk karena terjebak dalam julukan yang dibuatnya sendiri. Seperti yang di takutkan oleh nenek dan ibunya, suaminya ini pasti tidak akan mengizinkannya untuk memakai pakaian tersebut. Kalian juga pasti sudah menebak hal yang sama seperti Ibu Yura dan Grandma Clarissa bukan?


"Kak Iel, aku tahu kalau tidak sepantasnya seorang wanita yang sudah memiliki suami mengumbar aurora-nya di hadapan khalayak ramai. Akan tetapi di balik pakaian ini ada sebuah makna yang sangat ingin di sampaikan oleh Grandma kepada para designer yang nanti akan datang ke peragaan. Grandma menunggu dengan begitu lama saat dimana Mama Sandara akan pulang dan memakai pakaian ini. Namun semua penantian yang sangat di harapkan olehnya harus berakhir dalam sebuah kenyataan yang begitu pahit. Hingga pada akhirnya Grandma menemukan aku. Dia menciptakan karya ini dengan segala perasaan rindu dan juga rasa bersalah akan kegagalan yang pernah dia lakukan di masa lalu. Sebenarnya tadi Ibu Yura sudah menegur Grandma agar tidak memintaku untuk memakai baju ini besok. Dia tahu kalau Kak Iel pasti tidak akan mengizinkan. Tapi Kak, aku mana tega melihat Grandma bersedih hanya karena apa yang dia impikan tidak bisa terwujud. Grandma sudah tua, bagaimana kalau tiba-tiba Tuhan meminta malaikat menjemput Grandma agar bisa berjumpa dengan Mama Sandara di surga? Bukankah aku akan menjadi cucu yang paling menyesal di dunia karena tidak bisa mewujudkan keinginan neneknya sendiri?"


Saat bicara seperti itu mata Elea nampak berkaca-kaca. Tangannya juga meremas ujung pakaian yang dia pegang dengan sangat kuat. Mungkinkah di antara kalian ada yang menyadari mengapa Elea bisa sesedih ini? Jika iya, tolong tulis jawaban kalian di kolom komentar.


"Sayang, aku ....


Gabrielle dengan cepat berbalik badan kemudian memeluk erat tubuh Elea. Sungguh, dia tidak menyangka kalau pakaian haram tersebut memiliki makna yang begitu menyedihkan. Gabrielle jadi merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa memahami perasaan istrinya. Dia benar-benar to lol karena sudah begitu egois dengan menjatuhkan larangan tanpa menanyakan dulu apa alasannya.


"Sayang, maafkan aku ya. Aku tidak tahu kalau Grandma begitu ingin makna dari pakaian ini di sampaikan pada dunia. Aku-aku pikir kalau pakaian itu hanyalah pakaian yang terbuat dari kain biasa. Maafkan aku ya, aku menyesal bicara seperti itu padamu tadi," ucap Gabrielle sambil menciumi puncak kepala istrinya berulang kali.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku sangat maklum mengapa Kakak melarangku memakai pakaian yang terbuka seperti ini. Wajarlah. Karena tidak seharusnya aku mengumbar tubuh di hadapan orang lain. Yang Kak Iel lakukan adalah untuk menjaga harga diriku sebagai seorang wanita, jadi tidak perlu merasa bersalah. Oke?" sahut Elea dengan bijak. Dia lalu menyeka sudut matanya yang sedikit basah.


"Kau menangis?"

__ADS_1


Dalam pelukan suaminya Elea menganggukkan kepala. Dia kemudian mendongak, menyampaikan lewat hati hal menyedihkan apa yang semalam dia impikan.


"Hiksss," ....


"Ssstttt, tidak apa-apa. Semua sudah ada yang mengatur, mungkin ini juga adalah jalan yang terbaik untuk semuanya. Jangan sedih, hm?" hibur Gabrielle tak tega.


"Haruskah secepat ini, Kak? Kami baru saja bertemu, masih ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamanya. Tolong minta Tuhan untuk tidak mengambil kebahagiaan itu dariku, Kak. Aku masih membutuhkan kasih sayangnya," ucap Elea sambil terisak-isak.


"Sayang, jangan terlalu percaya pada apa yang kau lihat di dalam mimpi karena semua itu bisa saja datang dari sebuah halusinasi. Tapi kalaupun benar akan ada kejadian seperti itu, maka kau harus kuat dan ikhlas untuk menerimanya. Aku sangat ingin membantumu, tapi aku tidak mampu jika harus melawan takdir Tuhan. Jadi lebih baik kita pasrah padanya dan berdo'a agar apapun yang terjadi nanti itu adalah jalan terbaik untuk kita semua. Ya?"


Saat Gabrielle sedang menenangkan Elea yang tengah bersedih, Ares masuk setelah mengetuk pintu ruangan. Wajahnya terlihat cemas melihat sang nyonya yang sedang menangis di pelukan Tuan Muda-nya.


"Maaf Tuan Muda. Kenapa Nyonya Elea menangis? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apa?" cecar Ares khawatir.


"Tidak ada apa-apa, Res. Dia menangis karena baru saja aku marahi," jawab Gabrielle berkilah. Dia tidak mungkin memberitahu Ares penyebab istrinya menangis seperti ini.


"Benarkah?"


"Hikss Ares, lihat ini. Kak Iel bilang pakaian ini adalah baju haram. Majikanmu benar-benar sangat kejam. Padahal Grandma membuat baju ini khusus untukku, tapi Kak Iel malah menghinanya. Dia jahat sekali, Res. Tolong bela aku," ucap Elea segera mengambil alih keadaan saat menyadari kalau Ares mulai curiga.


"Baju haram? Maksudnya bagaimana?"


Sambil menyedot ingusnya agar kembali masuk ke dalam hidung, Elea memperlihatkan baju haram yang sedang dia pegang. Dia hampir saja tertawa melihat wajah Ares yang langsung memerah begitu melihat penampakan baju tersebut.


"Ekhmmm, saya rasa itu lebih buruk dari sekedar baju haram, Nyonya. Tapi itu adalah jenis pakaian yang belum selesai di jahit," ucap Ares. "Jika Cira yang memakainya, maka saya akan langsung merantai kakinya di rumah. Bagian punggungnya terlalu terbuka, pasti nanti akan ada banyak bola mata laki-laki yang menyangkut di sana. Jadi maaf Nyonya Elea, untuk yang satu ini saya sangat setuju dengan sikap Tuan Muda Gabrielle. Sudah sangat benar dengan beliau yang langsung memarahi anda tadi."


Gabrielle membuang muka ke arah lain sambil menahan tawa saat Ares menyatakan keberpihakannya. Sungguh, wajah istrinya sekarang terlihat begitu pias. Elea pasti kesal sekali pada asistennya itu.

__ADS_1


"Hehe, rupanya aku mengadu pada orang yang salah ya. Sedih sekali," rajuk Elea sambil mengerucutkan bibir.


"Maafkan saya, Nyonya. Namun yang saya katakan tadi adalah fakta," sahut Ares yang merasa menang karena telah berhasil membuat nyonyanya kalah telak.


Tapi ....


Bukan Elea namanya jika tidak bisa membuat orang lain mati kutu. Kepasrahannya barusan hanyalah sandiwara kecil yang sengaja dia mainkan demi agar perasaan Ares melambung tinggi ke angkasa. Karena setelah ini, Ares akan langsung ditarik pada kenyataan yang membuatnya merasa menyesal setengah mati akibat mencari masalah pada orang yang tidak tepat.


"Karena kau berada di pihaknya Kak Iel, itu artinya Kak Cira akan berada di pihakku. Baiklah, setelah ini aku akan memohon padanya agar besok dia saja yang memakai baju ini. Tadi kan kau sendiri yang bilang setuju begitu tahu Kak Iel memarahiku gara-gara baju ini. Jadi ya sudah, aku rasa Kak Cira akan seribu kali lebih baik jika yang memakainya!" ucap Elea dengan santai. "Kak Iel, aku pamit pulang dulu ya. Aku sudah ada janji dengan Kak Levi dan Ibu Liona untuk pergi ke salon bersama-sama."


Cup


Setelah mencium bibir suaminya, Elea melenggang pergi begitu saja. Dia lalu mengedipkan mata pada suaminya sesaat sebelum pintu ruangan tertutup.


"Tuan Muda, ini bagaimana bisa?" tanya Ares frustasi.


"Salahkan saja dirimu kenapa berani menyalahkan Elea. Sudah tahu kalau dia itu berlidah jahat, masih juga kau ingin menang darinya. Rasakan! Untuk kali ini aku tidak bisa membantu!" jawab Gabrielle sambil terkekeh senang.


Ares, jangan tanya lagi bagaimana keadaannya sekarang. Dia sudah ketar-ketir sendiri membayangkan istrinya yang sedang memakai baju haram tersebut.


Arrghh, kenapa malah Cira sih yang jadi korban. Ya Tuhan Nyonya Elea, tolong jangan membuatku mati berdiri. Aku mohon.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2